Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Juli 2018

[ jemaatgpmsilo.org – Ambon ]

Minggu, 22 Juli 2018

bacaan : Mazmur 82 : 1-8

Allah dalam sidang ilahi

Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi: 2 “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Sela 3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! 4 Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” 5 Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. 6 Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. — 7 Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.” 8 Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa.

Allah, Hakim Yang Adil

Dari suatu hasil penelitian sederhana yang dilakukan pada salah satu lembaga pemasyarakatan, seorang warga bina (narapidana) mengungkapkan kekecewaannya sekaligus harapannya untuk ditopang dengan doa. Katanya, jangan hanya warga bina yang mendapat perhatian dan dibina oleh gereja, tapi lakukanlah pembinaan dan pendampingan juga kepada mereka yang bekerja di dunia pengadilan karena terkadang bukan keadilan yang mereka perjuangkan, tapi ketidakadilan. Hukum disuap dan diperjualbelikan. Siapa yang memiliki uang dapat menjaminkan hukumannya ringan bahkan bebas. Tolonglah hal ini patut juga didoakan supaya tidak terjadi ketidakadilan terus menerus dalam dunia yang mana mestinya kami peroleh keadilan”. Seperti warga bina tersebut yang memperjuangkan. keadilan baginya, demikian pula pemazmur memperjuangkan keadilan bagi orang yang lemah, anak yatim, orang sengsara dan orang yang kekurangan. Bagi Pemazmur keadilan harus ditegakkan supaya orang lemah dan orang yang sementara mengalami kesengsaraan dapat menjalani kehidupannya dengan lebih kuat dan berdaya. Situasi saat itu memang memperlihatkan keadilan sangatlah sulit terjadi, sebab orang-orang yang mestinya bekerja untuk mewujudkan keadilan yakni hakim dan para penguasa dengan seenaknya memutarbalikan keadilan. Mereka bukan membela orang benar, namun orang fasik untuk memenuhi kepentingan dan kepuasan diri mereka. Oleh karena itu menurut pemazmur, pengharapan akan keadilan sebaiknya diletakkan kepada Tuhan Allah; Hakim yang adil. Sebab Allah akan bertindak adil bagi mereka yang lemah dan bagi mereka yang telah berlaku tidak adil. Dalam keadilan Allah, kehidupan yang benar dan berdamai sejahtera tentunya akan berwujud.

doa : berilah keadilanMu dalam kehidupan kami, ya Tuhan, Amin

Senin, 23 Juli 2018

bacaan : Markus 10 : 13-16

Yesus memberkati anak-anak

13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” 16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Keberanian Perempuan Kanaan

Kisah perempuan Kanaan ini merupakan satu kisah yang baik untuk kita teladani. Kisah ini menceritakan bagaimana Yesus memulihkan seseorang yang dianggap tidak layak, dipinggirkan dan ditindas. Yang menarik dari kisah ini adalah keberaniannya untuk menjumpai Yesus dan mendapatkan solusi bagi anaknya yang kerasukan setan. Ia berani keluar dari kampungnya dan datang ke tempat yang beresiko untuk berjumpa dengan Yesus. Ia beresiko diusir dan ditolak bahkan ketika Yesus mengujinya dengan mengasosiasikan perempuan Kanaan ini dengan “anjing” yang tidak layak mendapatkan pertolongan, tetapi pada akhirnya perempuan Kanaan ini dapat merebut posisinya bukan dengan marah atas perkataan Yesus dan perlakuan murid­-murid, bukan dengan marah atas penghinaan tetapi dengan berargumen. Itulah sebabnya Yesus memuji keberanian dan imannya sehingga apa yang diharapkan oleh perempuan Kanaan itu dilakukan oleh Yesus. Belajar dari keberanian perempuan Kanaan ini kita diingatkan untuk memiliki keberanian untuk memperjuangkan hak kita sebagai manusia yang seringkali diinjak-injak hanya karena sesuatu hal. Kita harus berani untuk tetap memperjuangkan apa yang menurut kita benar. Tentu saja kita harus melakukannya dengan cara-cara yang baik, kita mengatakannya dengan tanpa kekerasan, diatas semuanya itu kita berdoa kepada Tuhan agar apa yang kita perjuangkan itu pada akhimya akan terjawab.

doa : Tuhan, berilah aku keberanian untuk memperjuangkan apa yang benar dalam hidup ini, amin

Selasa, 24 Juli 2018

bacaan : 2 Samuel 15 : 1-12

Absalom mengadakan persepakatan gelap

Sesudah itu Absalom menyediakan baginya sebuah kereta serta kuda dan lima puluh orang yang berlari di depannya. 2 Maka setiap pagi berdirilah Absalom di tepi jalan yang menuju pintu gerbang. Setiap orang yang mempunyai perkara dan yang mau masuk menghadap raja untuk diadili perkaranya, orang itu dipanggil Absalom dan ditanyai: “Dari kota manakah engkau?” Apabila ia menjawab: “Hambamu ini datang dari suku Israel anu,” 3 maka berkatalah Absalom kepadanya: “Lihat, perkaramu itu baik dan benar, tetapi dari pihak raja tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan engkau.” 4 Lagi kata Absalom: “Sekiranya aku diangkat menjadi hakim di negeri ini! Maka setiap orang yang mempunyai perkara atau pertikaian hukum boleh datang kepadaku, dan aku akan menyelesaikan perkaranya dengan adil.” 5 Apabila seseorang datang mendekat untuk sujud menyembah kepadanya, maka diulurkannyalah tangannya, dipegangnya orang itu dan diciumnya. 6 Cara yang demikianlah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan demikianlah Absalom mencuri hati orang-orang Israel. 7 Sesudah lewat empat tahun bertanyalah Absalom kepada raja: “Izinkanlah aku pergi, supaya di Hebron aku bayar nazarku, yang telah kuikrarkan kepada TUHAN. 8 Sebab hambamu ini, ketika masih tinggal di Gesur, di Aram, telah bernazar, demikian: Jika TUHAN sungguh-sungguh memulangkan aku ke Yerusalem, maka aku akan beribadah kepada TUHAN.” 9 Lalu berkatalah raja kepadanya: “Pergilah dengan selamat.” Maka berkemaslah Absalom dan pergi ke Hebron. 10 Dalam pada itu Absalom telah mengirim utusan-utusan rahasia kepada segenap suku Israel dengan pesan: “Segera sesudah kamu mendengar bunyi sangkakala, berserulah: Absalom sudah menjadi raja di Hebron!” 11 Beserta Absalom turut pergi dua ratus orang dari Yerusalem, orang-orang undangan yang turut pergi tanpa curiga dan tanpa mengetahui apapun tentang perkara itu. 12 Ketika Absalom hendak mempersembahkan korban, disuruhnya datang Ahitofel, orang Gilo itu, penasihat Daud, dari Gilo, kotanya. Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat, dan makin banyaklah rakyat yang memihak Absalom.

Tembok Yerikho Runtuh

Kisah ini bicara tentang tembok Yerikho yang runtuh bukan karena digempur dengan kekuatan manusia, tetapi oleh kuasa Tuhan sendiri. Ini adalah penggenapan janji Tuhan kepada bangsa Israel seperti yang disampaikan kepada Yosua, “Ketahuilah Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa” (6:2). Jalan Tuhan memang tidak terselami oleh pikiran manusia dan cara Tuhan bekerja tidak seperti yang dibayangkan. Dia bekerja menurut cara-Nya sendiri. Tuhan memerintahkan bangsa Israel mengelilingi tembok Yerikho selama tujuh hari sambil membawa tujuh sangkakala tanduk domba. Dan di hari yang ke tujuh mereka diharuskan mengelilingi tembok itu tujuh kali, serta mendengar perintah Yosua untuk bersorak, maka runtuhlah tembok itu dan kota tersebut menjadi milik kepunyaan mereka. Sungguh, pergulatan iman yang membebaskan Yosua bersama dengan bangsa Israel menjadi saksi iman dan ketaatan mengikuti perintah Tuhan. Karena ketaatan mereka itulah, akhirnya tembok Yerikho hancur dan kota itu bisa ditaklukan. Memang, iman bukan hanya soal percaya kepada kuasa Tuhan, tetapi iman mesti disertakan dengan sikap dan perbuatan yang taat dan setia untuk melakukan pekerjaan dan perintah Tuhan. Iman tidak menjadikan kita berdiam diri dan menunggu. Tetapi iman menggerakan kita untuk rnelakukan sesuatu yang baik sesuai dengan apa yang diimani.

doa : Tuhan, dalam iman dan ketaan kepadaMu, aku mau menjalani hari-hari hidupku, amin

Rabu, 25 Juli 2018

bacaan : Kejadian 18 : 16-21

Doa syafaat Abraham untuk Sodom

16 Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. 17 Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? 18 Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19 Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” 20 Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21 Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.”

Dipulihkan untuk Menjadi Saksi

Menjadi saksi Kristus adalah tugas setiap orang percaya tanpa terkecuali. Bersaksi berarti memberi kesaksian atas apa yang telah dialami, dilihat dan dirasakan secara pribadi, bukan menceritakan pengalaman orang lain. Tuhan Yesus pernah menyampaikan perihal seorang yang telah disembuhkan dari kuasa setan yang menguasainya begitu lama bahkan membuatnya tidak normal karena ia sering berada dikubur siang malam berteriak-teriak sambil memukul badannya dengan batu. Setelah disembuhkan dan dipulihkan, orang itu rindu untuk mengikut Tuhan Yesus, tetapi Tuhan Yesus melarangnya dan menganjurkan dia untuk pulang kerumah dan bersaksi kepada orang-orang di kampungnya. “orang itupun pergi dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan semua orang menjadi heran” (20). Dari kisah ini kita bisa belajar untuk bersaksi kepada orang lain tentang Tuhan Yesus, sebab setiap kita pasti pemah mengalami pertolongan Tuhan; dipulihkan dari sakit, dipulihkan rumah tangga dari ambang kehancuran dan dibebaskan dari cengkraman dosa dan kematian, kita punya pengalaman tentang bagaimana bisa bertahan dan hidup didalam kesesakan, penderitaan dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman ini dapat kita saksikan kepada orang lain. Karena itu, jangan menunda waktu untuk menceritakan kebaikan Tuhan atas hidup kita, atas keluarga kita, karena kesaksian yang baik sekecil apapun yang dibagikan akan sanggup memberkati hidup orang lain.

doa : Tuhan, biarlah pengalaman hidupku yang baik, dapat menjadi kesaksian yang memberkati orang lain, amin

Kamis, 26 Juli 2018

bacaan : Titus 1 : 5-14

Tugas Titus di Kreta — Syarat-syarat bagi penatua, penilik jemaat

5 Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, 6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib. 7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya. 10 Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat. Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran. 11 Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan. 12 Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri, pernah berkata: “Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas.” 13 Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, 14 dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.

Membebaskan Orang lain itu Prioritas

Kisah Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang telah delapan betas tahun dirasuki roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak pada hari sabat, memberikan makna bahwa kepedulian terhadap kemanusiaan mesti diletakkan di atas segala aturan dan tradisi. Yesus menunjukkan bahwa kuasa dan karya penyelamatan Allah terjadi setiap hari bukan pada hari tertentu saja, karena itu kita pun diwajibkan untuk berbuat baik setiap waktu, tidak terbatas pada ruang dan waktu atau situasi dan kondisi yang sulit. Prinsip iman yang benar mendorong kita berbuat sesuatu tanpa pamrih dan siap menghadapi resiko. Kemungkinan orang tidak setuju dan marah dengan perbuatan baik kita hendaknya tidak melemahkan kita untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar. Kisah ini membuat kita berefleksi akan segala aturan yang selama ini kita jalankan dalam tradisi keagamaan, dalam gereja atau dalam keluarga, nilai apa yang mau dicapai ketika kita menjalankan tradisi dan peraturan tersebut, apakah nilai yang lebih mengutamakan perbuatan baik dan benar bagi manusia dan bertujuan untuk memberikan kehidupan ataukah lebih menekankan peraturan kaku yang kebanyakan merugikan. Karena itu, seharusnya aspek kemanusiaan perlu menjadi pertimbangan prioritas di atas aturan dan tradisi keagamaan yang sedang kita jalankan, jika itu untuk sebuah pembebasan dan kebaikan.

doa : Tuhan, berilah aku kemampuan untuk melakukan kebaikan bagi kemanusian setiap hari dalam hidupku, amin

Jumat, 27 Juli 2018

bacaan : Kolose 3 : 18 – 4 : 1

Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga

18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. 22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

Berlakulah selalu sebagai Hamba Tuhan

Persekutuan keluarga memiliki dinamika yang unik, karena setiap anggota punya peran, fungsi dan tanggungjawab yang berbeda namun utuh. Keunikan itu, biasanya menjadi rumit, karena terjadinya ketidakseimbangan dalam pemberlakuan peran, fungsi dan tanggungjawab. Misalnya, para suami atau para papa, berlaku paling menentukan dan berkuasa. Sehingga, istri dan anak-anak merasa dikuasai dan kehilangan kebebasan. Atau istrilah yang dominan, sehingga suami dan anak-anak tidak berdaya. Terjadi ketimpangan dan ketidakadilan dalam kehidupan keluarga. Pertanyaan bagaimana posisi para hamba/pembantu rumah tangga ? Nasehat Paulus: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (23). Jika semua orang dalam setiap keluarga ataupun dalam persekutuan yang lebih luas menjalani peran, fungsi dan tanggungjawabnya dengan dikendalikan oleh sikap iman bahwa apapun yang dilakukannya bukanlah untuk manusia tetapi untuk Tuhan, maka sikap hati sebagai seorang hamba Tuhan itu, akan memampukan setiap orang untuk hidup saling melayani, berlaku adil, jujur dan penuh kasih.

doa : Tuhan mampukanlah kami mengerti dan berlaku sebagai hambaMu, yang melayani semua orang dengan rendah hati, berlaku adil, jujur dan rendah hati, amin

Sabtu, 28 Juli 2018

bacaan : Amsal 29 : 12-14

12 Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik. 13 Si miskin dan si penindas bertemu, dan TUHAN membuat mata kedua orang itu bersinar. 14 Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya. 15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.

Berdoa Kepada Pemerintah

Membaca bagian Firman Tuhan ini, kita semua sebagai keluarga yang merupakan unit masyarakat terkecil, diajak untuk meluaskan cakupan doa kita sampai kepada pemerintah. Kita berdoa agar pemerintah sebagai hamba Tuhan dikaruniai Roh Takut akan Tuhan, memiliki hikmat, penuh kasih dan selalu berlaku adil (bd.ay.12). Dengan begitu, besar harapan kita, semua orang akan menikmati kehidupan yang layak. Artinya, terpenuhkan kebutuhan keseharian berupa makan, pakai, kesehatan, pendidikan serta memiliki peluang untuk membangun kekuatan ekonomi keluarga masing-masing. Sehingga jarak sosial antara yang kaya dan miskin diperkecil, bahkan yang kuat dan lemah dapat menyatu membangun kekuatan bersama (bg.ay.13). Dengan demikian, secara perlahan tapi pasti, angka kemiskinan akan berkurang dan kesejahteraan akan menjadi wajah bersama dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di tanah air tercinta ini. Kenyataan itu akan terus mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara kita dimata dunia. Sebab takhta pemerintah diberkati, terus kokoh dan berwibawa, bukan karena otoriter dan militer namun karena bersih, penuh kasih dan berlaku adil dalam otoritasnya. Hal itu nyata terbukti dan teruji dalam kehidupan masyarakat yang semakin kuat dan sejahtera (bg.ay.14)

doa : Tuhan, ajarlah kami untuk setia berdoa bagi pemerintah, agar menjadi pemerintah yang dipenuhi Roh takut akan Tuhan. Memiliki hikmat, penuh kasih dan selalu berlaku adil. Amin.

 

*sumber : SHK LPJ-GPM bulan Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *