fbpx

Santapan Harian Keluarga, 26 Mei – 1 Juni 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 26 Mei 2019                           

bacaan : 1 Tesalonika 5 : 12 – 22 (T)

Nasihat-nasihat

12 Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; 13 dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain. 14 Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. 15 Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang. 16 Bersukacitalah senantiasa. 17 Tetaplah berdoa. 18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. 19 Janganlah padamkan Roh, 20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. 21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. 22 Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

Peganglah Yang Baik

Dalam mengakhiri suratnya, Paulus memberikan beberapa nasihat demikian. Pertama, agar memiliki sikap yang benar terhadap pemimpin mereka dengan menghormati, menaati, mengasihi, dan mendoakan mereka, karena para pemimpin telah bekerja keras dalam memimpin dan melayani mereka. Sikap demikian akan membuat persekutuan mereka hidup dalam damai.

Kedua, dalam hubungan dengan saudara seiman, mereka harus saling peduli dan menguatkan. Mereka harus berani dan penuh cinta kasih untuk menegur mereka yang berbuat onar dan salah; menghibur mereka yang sudah bertobat agar tidak tawar hati dan terpuruk dalam rasa bersalah mereka; membela dan menguatkan jemaat yang putus asa dan lemah iman. Sabar terhadap semua orang, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan. Ketiga, dalam hubungan dengan diri sendiri, mereka harus hidup penuh sukacita, tetap berdoa, dan bersyukur apapun masalah dan kesulitan yang mereka alami. Sikap demikian jelas berkenan kepada Allah. Dalam kehidupan kerohanian, mereka tidak boleh memadamkan karya Roh Kudus yang bekerja di dalam dan melalui mereka, tidak menolak firman Tuhan, dan harus menguji segala ajaran yang muncul; memegang yang benar dan menjauhi segala kejahatan. Marilah Peduli terhadap saudara seiman agar mereka terus bertumbuh serupa dengan Kristus. Kita secara pribadi mulai saat ini harus senantiasa berdoa, bersyukur, serta belajar firman Tuhan setiap hari agar nama Tuhan terus dimuliakan dalam kehidupan kita.

Doa:   Tuhan, Ajarlah kami untuk selalu berpegang pada yang baik untuk hidup kami seturut kehendakMu. Amin.

Senin, 27 Mei 2019                            

bacaan : Pengkhotbah 2 : 1 – 26 (T)

Hikmat dan kebodohan adalah hal yang sia-sia

Aku berkata dalam hati: “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia.” 2 Tentang tertawa aku berkata: “Itu bodoh!”, dan mengenai kegirangan: “Apa gunanya?” 3 Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur, –sedang akal budiku tetap memimpin dengan hikmat–,dan dengan memperoleh kebebalan, sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu. 4 Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur; 5 aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan; 6 aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda. 7 Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku. 8 Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. 9 Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku. 10 Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku. 11 Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari. 12 Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang. 13 Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan. 14 Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua. 15 Maka aku berkata dalam hati: “Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?” Lalu aku berkata dalam hati, bahwa inipun sia-sia. 16 Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh! 17 Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. 18 Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku. 19 Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Inipun sia-sia. 20 Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari. 21 Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Inipun kesia-siaan dan kemalangan yang besar. 22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? 23 Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia. 24 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. 25 Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? 26 Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

Hiduplah Menurut Tujuan Allah

Ingin menikmati hidup, itu yang sering ada di benak kita. Dengan cara apa pun kita berusaha meraihnya, asalkan bisa mereguk kebahagiaan. Tetapi, apakah kebahagiaan itu selaras dengan kehendak Allah? Tidak jarang kita mendengar orang kaya, sukses, terkenal, tampan, atau cantik yang merasa hidupnya hampa. Bergelimang kemewahan, namun depresi, lalu mengkonsumsi narkoba, bahkan sampai bunuh diri. Itu tandanya mereka tidak bahagia!!!

Allah menghadirkan kita di dunia ini, agar kita dapat menikmati semua berkat-Nya. Dia menghendaki kita hidup untuk mengasihi-Nya, menaati-Nya, dan menjadi berkat bagi sesama. Dengan kata lain, hidup menurut tujuan Allah. Kitab Pengkhotbah menulis contoh yang relevan dengan kehidupan sekarang. Salomo mengejar hal-hal yang selalu diinginkan manusia, yakni kekayaan, kepoluleran, dan kekuasaan, demi kebanggaan dan kepuasan diri. Ia merasa berhak mendapatkan semuanya itu untuk merayakan keberhasilan dan menikmati hasil jerih lelahnya. Sampai kemudian Salomo menyadari bahwa semuanya hanyalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin – mendatangkan kehampaan.

Hidup kita singkat. Hidup yang benar adalah hidup menurut tujuan Allah. Kehampaan hidup tidak akan kita alami kalau kita hidup di dalam Yesus. Kiranya kita menyadari kekeliruan jika langkah kita telah melenceng sehingga mengejar kesia-siaan. Segala sesuatu perlu diuji supaya kita dapat memegang yang baik untuk hidup kita. Kembalilah ke tujuan yang benar. Meskipun kita pernah gagal, kasih karunia Allah senantiasa menyediakan kesempatan baru bagi kita untuk memperbaiki diri.

Doa:  Tuhan, tuntunlah keluarga kami untuk hidup menurut tujuanMu agar kami dapat menikmati kebahagiaan sejati. Amin.

Selasa, 28 Mei 2019                               

bacaan : 2 Korintus 13 : 1 – 10 (T)

Nasihat-nasihat terakhir

Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah. 2 Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi–sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya–bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi. 3 Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu. 4 Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah. 5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 6 Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. 7 Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji. 8 Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran. 9 Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna. 10 Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.

Jadikanlah Tuhan Yesus Pegangan Hidup Keluarga

Generasi saat ini dikenal sebagai generasi millenial, yaitu sebuah generasi yang tumbuh berkembang di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang ada. Generasi millenial adalah generasi yang tidak mengalami zaman perjuangan seperti generasi sebelumnya, sehingga generasi ini bukanlah sebuah generasi yang tahan uji, generasi ini adalah generasi instan yang mudah putus asa jika hasil yang diterima tidak sesuai harapan.

Banyak berita yang menuliskan tentang begitu mudahnya generasi millenial ini putus asa, beberapa waktu yang lalu kita tahu ada seorang mahasiswa yang gantung diri karena mengalami depresi. Tidak lama kemudian kita juga tahu ada seorang pemudi yang terjun dari jembatan untuk bunuh diri karena tidak tahan dengan tekanan hidup yang ada. Bahkan ada banyak lagi kasus-kasus bunuh diri lainnya. Firman Tuhan mengatakan: “Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2 Kor.13:5). Sebagai papa dan mama yang memiliki anak-anak yang hidup di generasi millenial ini, maka kita harus menanamkan dalam diri mereka pengajaran iman Kristiani yang baik sehingga ketika masalah datang, mereka tidak mudah putus asa dan patah arang, melainkan memiliki pegangan hidup yang kuat sebagai landasan hidup yang teguh bersama Kristus. Mereka juga tidak menyerah dan memilih menyelesaikan masalah dengan mengakhiri hidup, namun biarlah Roh Kudus itu sendiri yang akan menuntun mereka untuk berdiri kembali. Firman Allah hari ini mau mengingatkan kita, apakah kita sudah menjadikan Kristus Yesus sebagai landasan dan pegangan hidup kita setiap harinya? Ataukah kita masih menyandarkan diri kita hanya kepada pengertian pribadi yang rapuh dan mudah patah ketika ada masalah? Marilah kita periksa diri kita masing-masing.

Doa: Tuhan Yesus, kuatkanlah pegangan kami padaMu sehingga kami tidak mudah rapuh hadapi masalah hidup kami. Amin.  

Rabu, 29 Mei 2019                                   

bacaan : Ayub 13 : 17 – 28 (T)

17 Dengarkanlah baik-baik perkataanku, perhatikanlah keteranganku. 18 Ketahuilah, aku menyiapkan perkaraku, aku yakin, bahwa aku benar. 19 Siapa mau bersengketa dengan aku? Pada saat itu juga aku mau berdiam diri dan binasa. 20 Hanya janganlah Kaulakukan terhadap aku dua hal ini, maka aku tidak akan bersembunyi terhadap Engkau: 21 jauhkanlah kiranya tangan-Mu dari padaku, dan kegentaran terhadap Engkau janganlah menimpa aku! 22 Panggillah, maka aku akan menjawab; atau aku berbicara, dan Engkau menjawab. 23 Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu. 24 Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu? 25 Apakah Engkau hendak menggentarkan daun yang ditiupkan angin, dan mengejar jerami yang kering? 26 Sebab Engkau menulis hal-hal yang pahit terhadap aku dan menghukum aku karena kesalahan pada masa mudaku; 27 kakiku Kaumasukkan ke dalam pasung, segala tindak tandukku Kauawasi, dan rintangan Kaupasang di depan tapak kakiku? 28 Dan semuanya itu terhadap orang yang sudah rapuh seperti kayu lapuk, seperti kain yang dimakan gegat!”

Tetap Kuat Di Tengah Penderitaan!

Rasa tertekan seringkali menjadikan kita tak mampu mengendalikan diri. Itulah yang dialami oleh Ayub. Ayub adalah orang yang hidupnya benar dan tidak bercela di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya ketika kesengsaraan dan penderitaan menimpa hidupnya, ia merasa berhak untuk bertanya kepada Tuhan:  Apakah ini tidak  “salah alamat”?  Bukankah seharusnya orang fasik atau orang berdosa yang layak menerima segala penderitaan dan malapetaka? Seringkali kita juga marah dan menyalahkan Tuhan ketika melihat orang-orang di luar Tuhan hidupnya “aman-aman” saja. Pemazmur menasihati, “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;  sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” (Maz.37:1-2). Sebagai orang percaya kita harus belajar memahami kehendak Tuhan, karena Dia memiliki sudut pandang yang berbeda. Tuhan tidak pernah salah dalam setiap tindakanNya. Segala penderitaan yang menimpa Ayub adalah ulah dari si Iblis yang hendak menjatuhkan iman Ayub. Namun meski mengalami penderitaan yang luar biasa Ayub tetap mampu bertahan. Kehilangan segala-galanya tidak membuat Ayub menjadi lemah dan putus asa. Selama hidup di dunia ini kita tak luput dari masalah atau penderitaan. Namun Tuhan berjanji untuk memberi kekuatan kepada kita dan memberikan Penolong yaitu Roh Kudus. Karena itu dalam keadaan yang berat, biarlah kita tetap kuat dan bertahan karena selalu ada maksud dan rencana Tuhan di balik penderitaan yang kita alami. Hanya yang diminta dari kita untuk menguji setiap penderitaan yang ada itu, jika berasal dari Tuhan, itu adalah ujian iman sehingga kita tidak menghakimi siapapun namun semakin membentuk iman kita untuk menjadi pribadi dan keluarga yang kuat.

Doa: Tuhan, kuatkanlah iman kami dalam mengahdapi setiap penderitaan. Amin.

Kamis, 30 Mei 2019                                 

bacaan : Efesus 4 : 1 – 16 (T)

Kesatuan jemaat dan karunia yang berbeda-beda

Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. 2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. 3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: 4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, 5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, 6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. 7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. 8 Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” 9 Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? 10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. 11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, 14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, 15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Satu Tubuh Dalam Kristus

Bila kita renungkan keberadaan gereja kita, di mana kita biasa bersekutu dan beribadah bersama, sangatlah mengherankan karena ternyata masing-masing kita memiliki latar belakang yang begitu berbeda: keluarga kita berbeda, warna kulit, asal-usul (suku), profesi, pendidikan dan juga hobi atau kesenangan kita, namun kita bisa berkumpul dan dipersatukan dalam satu ikatan keluarga Kerajaan Allah. Ternyata oleh karena darah Kristus dan Injil kita menjadi satu kesatuan: satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah dan Bapa, sehingga kita “…bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” Kini tugas kita adalah mempertahankan persatuan dan kesatuan di antara jemaat agar gereja tetap menjadi tempat yang hangat. Hal itu akan terwujud apabila tiap jemaat memiliki kesadaran akan dirinya. Tidak perlu ada bujukan dan paksaan karena semua orang akan senang dan bersedia memainkan peranan aktif dalam kehidupan bergeraja. Kondisi tiap-tiap jemaat berbeda: ada yang kaya atau miskin. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kasih tanpa pandang bulu bukan dalam ucapan saja, tetapi dalam perbuatan nyata.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami untuk selalu penuh kasih terhadap sesama kami, dan selalu bersatu untuk Kemuliaan-Mu. Amin.

Jumat, 31 Mei 2019                                 

bacaan : Kejadian 42 : 18 – 34 (T)

18 Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: “Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah. 19 Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. 20 Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati.” Demikianlah diperbuat mereka. 21 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita.” 22 Lalu Ruben menjawab mereka: “Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.” 23 Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa. 24 Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka. 25 Sesudah itu Yusuf memerintahkan, bahwa tempat gandum mereka akan diisi dengan gandum dan bahwa uang mereka masing-masing akan dikembalikan ke dalam karungnya, serta bekal mereka di jalan akan diberikan kepada mereka. Demikianlah dilakukan orang kepada mereka itu. 26 Sesudah itu merekapun memuat gandum itu ke atas keledai mereka, lalu berangkat dari situ. 27 Ketika seorang membuka karungnya untuk memberi makan keledainya di tempat bermalam, dilihatnyalah uangnya ada di dalam mulut karungnya. 28 Katanya kepada saudara-saudaranya: “Uangku dikembalikan; lihat, ada dalam karungku!” Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata: “Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita!” 29 Ketika mereka sampai kepada Yakub, ayah mereka, di tanah Kanaan, mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya, katanya: 30 “Orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, telah menegor kami dengan membentak dan memperlakukan kami sebagai pengintai negeri itu. 31 Tetapi kata kami kepadanya: Kami orang jujur, kami bukan pengintai. 32 Kami dua belas orang bersaudara, anak-anak ayah kami; seorang sudah tidak ada lagi, dan yang bungsu ada sekarang pada ayah kami, di tanah Kanaan. 33 Lalu kata orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, kepada kami: Dari hal ini aku akan tahu, apakah kamu orang jujur: dari kamu bersaudara haruslah kamu tinggalkan seorang padaku; kemudian bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu dan pergilah; 34 lalu bawalah kepadaku saudaramu yang bungsu itu, maka aku akan tahu, bahwa kamu bukan pengintai, tetapi orang jujur; dan aku akan mengembalikan saudaramu itu kepadamu, dan bolehlah kamu menjalani negeri ini dengan bebas.”

Membuang Sampah Masa Lalu

Memaafkan dan melupakan bukan berarti tidak lagi mengingat karena otak kita pasti akan merekam dan menyimpan setiap kejadian yang pernah terjadi. Memaafkan dan melupakan dalam hal ini adalah apakah kesalahan yang telah dilakukan orang lain yang membuat kita sakit hati tidak lagi kita rasakan di masa depan ketika kita mengingatnya kembali. Kita bisa melakukan hal tersebut dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhan setiap hari dan membiarkan Tuhan yang bekerja supaya kita bisa melihat rancangan Tuhan yang indah untuk hidup pribadi dan keluarga kita. Disini kita bisa belajar dari Yusuf.

Kisah Yusuf mengingatkan kita ketika kita ada dalam kehidupan yang menurut pandangan kita, sebenarnya kita tidak layak untuk mengalaminya. Kadang kita tidak bisa melupakan sesuatu yang menyakitkan, yang terjadi dalam kehidupan kita di masa lalu. Yusuf, walaupun tidak melupakan apa yang terjadi dengannya di masa lalu, namun terbukti ia mampu menerima saudara-saudaranya sehingga mereka dapat berkumpul dan bersatu kembali. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga yang kemarin baru saja kita rayakan, kiranya menginspirasi kita sebagai keluarga-keluarga Kristen agar saling mengasihi, dan jika ada yang bermasalah sehingga tidak saling menyapa dan terpecah, maka kita mesti mencari solusi untuk mendamaikan mereka kembali dengan saling memaafkan dan melupakan walaupun mungkin saja sakit bagi kita. Jangan biarkan kejadian tersebut mempengaruhi diri kita,  namun mintalah Tuhan untuk memampukan kita bersama dengan waktu yang berlalu mengikis efek emosi yang ada, sehingga ketika kita merefleksikan diri dan mengingat kejadian itu, tidak ada perasaan sakit dihati kita.

Doa:  Tuhan, pimpinlah kami untuk hidup saling mengasihi dan membuang segala dendam yang adalah sampah di masa lalu kami. Amin,

*sumber : SHK bulan Mei 2019 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *