fbpx

SILO Rayakan Natal Mitra

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Diiringi dengan puji-pujian dan tari-tarian oleh anak-anak SMTPI Sektor XII serta Votum dan Salam oleh liturgos, Diaken Ny. R. Tuhumury, momentum Perayaan Natal Kemitraan Laki-Laki dan Perempuan se Jemaat GPM Silo diawali dengan penyalaan 4 buah lilin Natal oleh : Ketua Majelis Jemaat GPM Silo, Pdt. Jan Z. Matatula; Ketua Seksi PTPU Pnt. Ny. R. Soselissa; Ketua Komisi Laki-laki Bpk. Jhon Tomasoa dan Ketua Komisi Perempuan Ibu Lenny Lendersz.

Penyalaan Lilin Natal oleh Ketua MJ Silo, Ketua Seksi PTPU, Ketua Komisi Laki-laki dan Ketua Komisi Perempuan Jemaat GPM Silo

Perayaan Natal Kemitraan Jemaat GPM Silo, berlangsung di ruang Ibadah Utama Gereja Silo pada Selasa, 17 Desember 2019 pkl. 18.30 WIT. Ibadah yang dilayani oleh Pdt. Jan Z. Matatula itu, diwarnai dengan kemeriahan puji-pujian dari sejumlah paduan suara. Tercatat kurang lebih 8 paduan suara yang meramaikan perayaan natal dimaksud.

Penyalaan Lilin Natal oleh Warga Kemitraan

Pdt. Jan. Z. Matatula dalam khotbahnya yang diangkat dari 2 Pembacaan Alkitab masing-masing, Lukas 1 : 46-50 dan Matius 1 : 18-25. Mantan Ketua Klasis Kairatu itu menegaskan, “…. di GPM kita mengenal mitra laki-laki dan perempuan. Maka GPM hendak mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan GPM bertanggung jawag atas tugas-tugas pemberitaan injil di Gereja Protestan Maluku dan di dunia ini.

Khotbah Natal oleh Pdt. Jan. Z. Matatula

Atas peran dan tanggung jawab tersebut, Matatula memperhadapkan 2 tokoh dari 2 teks bacaan Alkitab dimaksud. Yang pertama adalah Maria Ibu Yesus. Dari bacaan Lukas 1 : 46-50 mau menjelaskan kepada kita bahwa merayakan natal menegaskan bahwa Allah mengangkat harkat dan martabat perempuan. Puji-pujian Maria, Jiwaku Memuliakan Tuhan. Apa alasan Maria sehingga dia berkata Jiwaku Memuliakan Tuhan ?

Maria punya alasan yang tepat untuk itu. Pertama, Maria merasa ia adalah seorang muda dan miskin. Dia tidak punya kekuasaan atau jabatan. Ia adalah orang dari keluarga biasa-biasa saja. Dan dalam posisi seperti itu, ia tidak punya ruang dan kesempatan untuk dipakai melakukan hal-hal besar. Dalam budaya Yahudi, orang-orang yang dipakai adalah orang hebat, pendidikan tinggi, status sosial tinggi untuk melakukan tugas-tugas di Bait Suci. Orang seperti Maria pasti tidak akan dipakai.

Alasan kedua, dalam budaya Yahudi [patriakhi], kaum perempuan mendapat posisi sangat rendah. Mereka tidak diperhitungkan, dan dianggap pembantu. Bahkan di dalam pendekatan teologi Yahudi, perempuan itu dianggap sebagai sumber pembawa laknat. Karena dari perempuan, Adam si laki-laki itu diusir dari Taman Eden. Bukan cuma itu, dalam hukum waris agama, laki-laki itu selalu mendapat warisan orang tua. Dan perempuan, nanti setelah berusia 12 tahun baru dihitung mendapat warisan. Itulah posisi Maria dalam kehidupan masyarakat Yahudi.

Yang menarik adalah, dalam posisi perempuan yang rendah seperti itu, Allah justru memakainya untuk melakukan karya penyelamatan Allah bagi dunia, ini dijumpai dalam teks Lukas 1 : 30-31 “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”

Semua itu menjelaskan kepada kita bahwa, ditengah-tengah keterbatasan Maria sebagai seorang perempuan muda dan miskin, ditengah-tengah budaya patriakhi, ditengah-tengah pikiran teologi yang justru menganggap perempuan itu sebagai sumber laknat, dan ditengah-tengah hukum waris agama yang mendiskreditkan perempuan, disitulah Allah memakai Maria sebagai representasi dari perempuan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Bahwa perempuan yang direndahkan karena budaya itu, justru sekarang dipakai Allah sama sejajar dengan laki-laki. Allah mengambil Maria dari kerendahannya. Apa yang mau disampaikan disitu ? Yang mau disampaikan adalah, Allah mau menghapus sekat-sekat yang dibangun antara laki-laki dan perempuan karena budaya. Allah masuk didalam kebudayaan yang dibangun oleh manusia, dan melepaskan keterikatan budaya yang tidak menolong perempuan dan laki-laki berada sejajar dalam kehidupan beragama.

Jika kita membaca Kejadian 2 : 18 “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Dan penolong itu siapa ? penolong itu adalah perempuan. Dia bukan pembantu, tapi penolong. Ia sejajar, ia setara. Dan kalau ada budaya yang tidak memberi ruang bagi peran perempuan itu yang harus diperang.

Saudara-saudara Kekasih Kristus, Itulah alasan yang membuat Maria berkata “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Allah telah memperhatikan kerendahan hambaNya. Allah telah melakukan perbuatan besar kepadanya. Tidak pernah terbayang dalam diri Maria, ia akan dipakai oleh Allah luar biasa.

Apa yang kita pelajari dari semua itu? Saya ingin mengatakan kepada semua yang hadir di malam natal ini, bahwa seorang perempuan berharga di mata Tuhan. Karena itu, seorang perempuan tidak boleh direndahkan oleh laki-laki. Saya menegaskan ini kenapa? karena sampai saat ini banyak perempuan yang direndahkan oleh laki-laki. Mereka memiliki yang sama dengan laki-laki untuk memperoleh pekerjaan, untuk memperoleh kedudukan, untuk memperoleh kuasa, untuk bekerja di ruang-ruang publik, tetapi juga dalam pelayanan di gereja.

Karena seorang perempuan berharga di mata Tuhan, maka seorang perempuan harus jaga kehormatannya dengan baik. Harus jaga martabatnya dengan baik, melalui gaya hidupnya life Style-nya, tutur katanya, karena sekali lagi : dia berharga di mata Tuhan. Sampai disini kita belajar bahwa Maria menawarkan 2 cara yaitu : Takut Tuhan dan Kerelaan.

Sebagai orang tua, kita meneladankan nilai Takut Tuhan kepada anak-anak kita supaya mereka bertumbuh, dan menjalankan Takut Tuhan. Dan Maria melakukannya. Dia adalah orang perempuan yang rajin datang ke Sinagoge, ke Bait Allah.

Nilai berikutnya adalah Kerelaan. Maria rela dirinya untuk dipakai oleh Tuhan. Dia yang miskin dan tidak berdaya. Coba bayangkan kalau Yusuf kemudian tidak mengambil dia sebagai isterinya. Yusuf menceraikan dia. Apa yang terjadi ? ia akan dirajam sampai mati. Itu hukum orang Yahudi. Tapi Maria siap mengambil resiko itu. Dan itu wujud Kerelaan Maria. Kerelaan butuh pengorbanan. Dan Maria mengambil pilihan itu.

Tokoh kedua yang ingin diperhadapkan kepada kita dalam Natal Kemitraan ini adalah Yusuf. Dalam teks yang kedua, Injil Matius 1 : 18-25. Disini mau ditegaskan kepada kita bahwa laki-laki gereja harus sadar betul, bahwa ia mesti menyelaraskan apa yang menjadi keputusannya dengan Keputusan Allah. Laki-laki Yusuf adalah laki-laki yag sangat arogan. Dimana letak arogansinya ?

Dikatakan Yusuf sudah bertungan dengan Maria. Dalam budaya Yahudi, Bertunangan hampir sama dengan Sudah Menikah. Ikatannya kuat sekali. Yusuf ketika mengetahui Maria hamil, maka dia akan menceraikan Maria. Karena arogansinya, Yusuf tidak pernah menanyakan kepada Maria perihal kehamilannya. Tidak pernah. Itu arogansi laki-laki. Dalam situasi seperti itu, maka Allah hadir lewat Malaikat, dan kemudian berkata kepada Yusuf, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”

Ending [akhir] dari cerita ini adalah Yusuf bangun dan melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Disini kita melihat arogansi Yusuf ditaklukkan oleh Rencana Allah. Saudara-saudara yang terkasih, apa yang kita pelajari dari cerita ini. Ternyata Allah tidak saja memakai perempuan yang rendah, tetapi Allah juga menggunakan laki-laki yang tangguh, laki-laki yang hebat. Tetapi sebelumnya, Allah merubah perilakunya. Arogansinya Allah baharui. Biking apa yang Beta mau, bukan yang ale mau. Itu yang Allah lakukan bagi Yusuf.

“Sampai disini kita belajar tentang semangat kemitraan, bahwa Allah memakai laki-laki dan perempuan sebagai mitra kerja yang sejajar, yang setara untuk memberitakan injil keselamatan Allah bagi dunia. Allah memakai laki-laki dan perempuan untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan bersama”, tutup Matatula mengakhiri khotbahnya.

Lagu Pujian oleh PS Sektor XI, diiringi Tarian anak-anak SMTPI Sektor XI

Kemeriahan perayaan Natal Kemitraan Jemaat GPM Silo dimeriahkan oleh pujian panduan suara antara lain, PS Laki-laki Jemaat GPM Silo [ Juara Teladan II PESPARAWI Kota Ambon Tahun 2019], PS Perempuan Sektor III, Sektor VI, Sektor XI, PS Mawar Sharon, PS Komisi Perempuan, PS Kemitraan Sektor I dan PS Majelis Jemaat GPM Silo.

Pemberian Bingkisan Natal kepada Perempuan di ke-12 Sektor pelayanan
Pemberian Bingkisan Natal dari Komisi Kemitraan kepada ke-3 Pendeta Jemaat dan Ketua Seksi PTPU

Berikut ini adalah beberapa foto moment kemeriahan Natal Kemitraan dengan tampilan Puji-Pujian oleh Paduan Suara.

PS. Kemitraan Sektor I
PS Mawar Sharon
PS. Laki-laki Jemaat GPM Silo
PS. Perempuan Sektor III
PS. Perempuan Sektor VI
“Titian Kasih” oleh Paduan Suara Majelis Jemaat GPM Silo

Setelah ibadah Natal, dilanjutkan dengan acara pemberian bingkisan natal, masing-masing kepada 12 orang laki-laki dan 12 orang perempuan dari ke-12 sektor pelayanan dalam Jemaat GPM Silo, dan Bingkisan Natal bagi ke-3 orang Pendeta dan Ketua Seksi PTPU Jemaat Silo. [BK]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *