Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Juni 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Selamatkan Bumi Untuk Kehidupan Segala Mahluk”

Minggu, 21 Juni 2020                             

bacaan : 2 Raja-Raja 2 : 19 – 22

Elisa menyehatkan air di Yerikho
19 Berkatalah penduduk kota itu kepada Elisa: "Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi." 20 Jawabnya: "Ambillah sebuah pinggan baru bagiku dan taruhlah garam ke dalamnya." Maka mereka membawa pinggan itu kepadanya. 21 Kemudian pergilah ia ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: "Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi." 22 Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa.

AIR SEBAGAI SUMBER HIDUP SEHAT  

Jemaat Kahilin, salah satu jemaat di Klasis Wetar, terletak di atas batu karang. Jumlah mereka tidak banyak dan mata pencaharian mereka adalah berkebun dengan menanam padi ladang dan berburu di hutan, namun yang menjadi persoalan mereka adalah kesulitan air bersih. Untuk mendapatkan air minum warga harus turun ke pantai di saat air laut surut, sebab saat air laut pasang, akan menutupi sumber air tawar yang keluar dari badan batu karang dan membentuk suatu kolam kecil yang sangat dangkal. Tetapi, sumber air itu juga tercemar karena warga masyarakat menggunakannya juga untuk mandi dan mencuci pakaian, tetapi tidak merawatnya dngan baik. Terbatasnya sumber air bersih berdampak pada rendahnya tingkat kesehatan sehingga sebagian besar warga menderita berbagai macam penyakit. Persoalan jemaat Kahilin adalah juga persoalan yang dihadapi oleh penduduk kota Yerikho yaitu ancaman kematian. Sebagai seorang nabi, Elisa berupaya untuk membaharui hubungan umat dengan Tuhan, memohon pengampunan dan pemulihan dari Tuhan, sebab dia tau bahwa sumber kehidupan adalah Tuhan Allah. Dengan menggunakan garam sebagai akta penyucian, Elisa meminta Tuhan menyehatkan air tersebut dan kemudian air itu menjadi sumber air bagi kehidupan umat. Air memang sangat dibutuhkan oleh manusia, dan tanpa air tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan hidup. Saat ini di beberapa tempat orang mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Hal ini dapat disebabkan karena musim kemarau yang berkepanjangan, tetapi juga karena perilaku manusia yang merusak sumber – sumber mata air, seperti penebangan pohon, penggunaan zat kimia dalam penambangan liar, tetapi juga kecendrungan manusia yang menggunakan air secara boros, tanpa memperhitungkan kebutuhan sesama ciptaan lain. Padahal tanggungjawab manusia adalah menjaga dan merawat air untuk menyelamatkan kehidupansegala makhluk.

Doa : Tuhan, bukalah sumber-sumber mata air bagi hidup kami. Amin.

Senin, 22 Juni 2020                               

bacaan : 2 Tawarikh 32 : 24 – 30

Tahun-tahun terakhir dari pemerintahan Hizkia
24 Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit, sehingga hampir mati. Ia berdoa kepada TUHAN, dan TUHAN berfirman kepadanya dan memberikannya suatu tanda ajaib. 25 Tetapi Hizkia tidak berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya, karena ia menjadi angkuh, sehingga ia dan Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka. 26 Tetapi ia sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersama-sama dengan penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia. 27 Hizkia mendapat kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia membuat perbendaharaan-perbendaharaan untuk emas, perak, batu permata yang mahal-mahal, rempah-rempah, perisai-perisai dan segala macam barang yang indah-indah, 28 juga tempat perbekalan untuk hasil gandum, untuk anggur dan minyak, dan kandang-kandang untuk berbagai jenis hewan besar dan kandang-kandang untuk kawanan kambing domba. 29 Ia mendirikan kota-kota, memperoleh banyak kambing domba dan lembu sapi, karena Allah mengaruniakan dia harta milik yang amat besar. 30 Hizkia ini juga telah membendung aliran Gihon di sebelah hulu, dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud. Hizkia berhasil dalam segala usahanya.

KETAHANAN AIR UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP

Jumlah manusia yang terus bertambah, telah berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan air. Seluruh aktifitas manusia dan mahluk hidup selalu membutuhkan air. Saat ini, sumber air bersih semakin langka di daerah padat penduduk, sehingga orang lebih banyak membeli dan mengkonsumsi air mineral untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia tidak pernah sadar dan memikirkan bagaimana caranya mempertahankan air untuk jangka waktu yang panjang, bagi kehidupan generasi berikutnya yaitu anak cucu kita.  Ketika Israel dipimpin oleh raja Hizkia, mereka diperhadapkan dengan ancaman penyerangan dan pengepungan Yerusalem oleh raja Asyur dan pasukannya. Jika suatu kota dikepung, maka dua hal tentang air yang harus diperhatikan yakni, pertamamenghilangkan sumber-sumber air yang dapat digunakan musuh untuk keperluan pasukannya; kedua, menjamin ketersediaan air yang cukup untuk seluruh penduduk kota dan sumber air tersebut tidak bisa diketahui dan diracuni oleh musuh. Lalu raja Hizkia memerintahkan para pekerjanya untuk membendung aliran Gihon di sebelah hulu dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud, atau di buat saluran air. Dari sungai Gihon ini mengalir air segar ke kolam Siloam yang disebut Yesus dalam Yohanes 9 : 6-7. Jadi, saat itu, Hizkia melakukan upaya peningkatan “ketahanan air”, yaitu mempertahankan sumber air dari sungai Gihon sehingga berguna bagi orang Israel sampai di zaman Yesus dan sesudahnya. Saat ini, sudah sangat terasa kesulitan akan air bersih, banyak sungai terancam kering dan membutuhkan penanggulangan serius. Sekarang saatnya kita melakukan upaya peningkatan “ketahanan  air”, antara lain dengan melestarikan sumber – sumber air dengan penanaman pohon, menjaga kebersihan sungai, gunakan air dengan hemat, membuat penampungan air hujan, membuat sumur serapan, dan sebagainya. Tingkatkan Ketahan Air bersih dan sehat.

Doa : Tuhan, bri hikmat-Mu, supaya kami bijak mengunakan air, Amin.

Selasa, 23 Juni 2020                                

bacaan : 1 Raja-Raja 17 : 1 – 6

Elia di tepi sungai Kerit
Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan." 2 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: 3 "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 4 Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana." 5 Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. 6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

SEMUA MAKHLUK SALING MENGIDUPKAN

Mengakhiri tahun 2019 dan memasuki perjalanan tahun 2020, kita diperhadapkan dengan sebuah bencana non alam yaitu pandemic covid 19 atau wabah virus coron yang telah merebak di seluruh belahan dunia dan mengancam kehidupan umat manusia. Virus yang belum ada obatnya ini telah mengakibatkan ribuan manusia meninggal dunia serta banyak yang terpapar dan dalam perawatan. Virus ini sangat cepat menyebar dari satu manusia ke manusia yang lain, ketika terjadi kontak fisik dengan orang yang positif terjangkit. Dalam bacaan kita hari ini dikatakan bahwa, ketika nabi Elia menyampaikan pesan firman Tuhan kepada raja Ahab, bahwa: “tidak akan turun hujan akibat dosa Ahab yang menyembah Baal”, Ahab menjadi marah dan mengancam keselamatan Elia. Oleh sebab itu, Tuhan memerintahkan Elia untuk bersembunyi di sungai Kerit sebelah timur sungai Yordan. Dalam masa persembunyian itu Tuhan memerintahkan burung-burung gagak untuk membawa makanan kepada Elia dan sungai Kerit sebagai tempat minumnya. Allah memakai burung gagak dan air sungat Kerit untuk memelihara dan menyelamatkan hidup Elia. Allah menjadikan dan menciptakan bumi sebagai sumber hidup bagi manusia dan bukan sumber malapetaka. Hal itu berarti bahwa, dalam setiap kesulitan, setiap makhluk dipakai Allah untuk saling menghidupkan, sebab setiap makhluk hidup saling tergantung satu dengan yang lain. Artinya bumi dengan segala isinya adalah “rumah bersama” dimana disana segala makhluk akan hidup untuk memuliakan Tuhan. Begitupun pandemic virus corona mengajarkan kita untuk hidup dalam solidaritas untuk saling menopang, saling mensuport, saling mendoakan dan saling menghargai supaya tidak menularkan atau tidak tertular. Tingkatkan pola hidup bersih dan sehat menjadi gaya hidup kita di saat ini.

Doa:  Tuhan berkati kami agar mampu untuk menjadikan bumi sebagai tempat untuk memuliakan-Mu, Amin.-

Rabu, 24 Juni 2020                                  

bacaan : 2 Raja-Raja 4 : 38 – 41

Maut dalam kuali
38 Elisa kembali ke Gilgal pada waktu ada kelaparan di negeri itu. Dan ketika pada suatu kali rombongan nabi duduk di depannya, berkatalah ia kepada bujangnya: "Taruhlah kuali yang paling besar di atas api dan masaklah sesuatu makanan bagi rombongan nabi itu." 39 Lalu keluarlah seorang dari mereka ke ladang untuk mengumpulkan sayur-sayuran; ia menemui pohon sulur-suluran liar dan memetik dari padanya labu liar, serangkul penuh dalam jubahnya. Sesudah ia pulang, teruslah ia mengiris-irisnya ke dalam kuali masakan tadi, sebab mereka tidak mengenalnya. 40 Kemudian dicedoklah dari masakan tadi bagi orang-orang itu untuk dimakan dan segera sesudah mereka memakannya, berteriaklah mereka serta berkata: "Maut ada dalam kuali itu, hai abdi Allah!" Dan tidak tahan mereka memakannya. 41 Tetapi berkatalah Elisa: "Ambillah tepung!" Dilemparkannyalah itu ke dalam kuali serta berkata: "Cedoklah sekarang bagi orang-orang ini, supaya mereka makan!" Maka tidak ada lagi sesuatu bahaya dalam kuali itu.

ANCAMAN DIUBAH MENJADI HARAPAN

Tidak semua tumbuh-tumbuhan yang ada di muka bumi ini baik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ada tumbuh-tumbuhan yang beracun dan ketika dikonsumsi bisa membahayakan nyawa manusia. Seperti dalam nas bacaan hari ini, dimana ketika nabi Elisa berada di Gilgal dengan kondisi kelaparan yang mengancam, ia menyuruh bujangnya untuk memasak makanan bagi rombongan nabi. Ada seorang dari antara mereka ke ladang dan mengumpulkan sayur-sayur diantaranya labu liar. Kemudian memotongnya dan memasaknya dalam kuali. Saat mereka akan makan, tiba-tiba mereka berteriak kepada Elisa bahwa ada maut dalam kuali dan mereka tidak jadi makan. Dengan sigap Elisa berkata “ambilah tepung”, kemudian menaruhnya di dalam kuali tersebut, maka tidak ada lagi racun dalam makanan tersebut sehingga mereka bisa memakannya. Ternyata sayur labu liar yang beracun itu menjadi ancaman bagi rombongan nabi yang akan memakannya. Namun nabi Elisa menyelesaikan dengan cara mengambil tepung. Tentu ini adalah mujizat Tuhan, dimana tindakan Elisa ini menegaskan bagi kita bahwa makanan dari tumbuhan  beracun diselesaikan dengan tepung yang juga berasal dari alam. Artinya bahwan walaupun kekuatan bumi dengan segala ancamannya yang menghadang, namun Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pengendali alam ini memampukan kita sebagai manusia untuk bisa bertahan serta keluar dari segala ancaman tersebut. Itu berarti betapa pentingnya kita mesti menjadikan bumi dengan segala isinya sebagai kawan atau  sahabat sehingga menjadi tempat hunian yang menjadi berkat dan selalu menghadirkan kemuliaan Tuhan. Sebagai keluarga kita terpanggil untuk selamatkan bumi dan menjadikannya tempat kehidupan bagi semua ciptaan.

Doa : Tuhan kami bersyukur atas karunia-Mu yang menyelamatkan kami, amin

Kamis, 25 Juni 2020                                

bacaan : Yesaya  19 : 1 – 8

Ucapan ilahi terhadap Mesir
Ucapan ilahi terhadap Mesir. Lihat, TUHAN mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka. 2 Aku akan menggerakkan orang Mesir melawan orang Mesir, supaya mereka berperang, setiap orang melawan saudaranya, dan setiap orang melawan temannya, kota melawan kota, kerajaan melawan kerajaan; 3 semangat orang Mesir menjadi hilang, dan rancangannya akan Kukacaukan; maka mereka akan meminta petunjuk kepada berhala-berhala dan kepada tukang-tukang jampi, kepada arwah dan kepada roh-roh peramal. 4 Aku akan menyerahkan orang Mesir ke dalam tangan seorang tuan yang kejam, dan seorang raja yang bengis akan memerintah mereka; demikianlah firman Tuhan, TUHAN semesta alam. 5 Air dari sungai Nil akan habis, dan sungai itu akan menjadi tohor dan kering, 6 sehingga terusan-terusan akan berbau busuk, dan anak-anak sungai Nil akan menjadi dangkal dan tohor, gelagah dan teberau akan mati rebah. 7 Rumput di tepi sungai Nil dan seluruh tanah pesemaian pada sungai Nil akan menjadi kering ditiup angin dan tidak ada lagi. 8 Para nelayan akan mengaduh dan berkabung, yaitu semua orang yang memancing di sungai Nil; semua orang yang menjala di situ akan merana juga.

PENTINGNYA SUMBER AIR BAGI KEHIDUPAN

Air menjadi salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebab air sangat dibutuhkan untuk minum, mandi maupun cuci. Air bukan saja dibutuhkan oleh manusia saja, tetapi juga makhuk hidup yang lain yakni binatang maupun tumbuhan. Bacaan Alkitab hari ini, menceriterakan tentang bangsa Mesir, yang terkenal dengan sungai Nil, tetapi dihukum Tuhan karena kesombongan dan keangkuhan serta hidup mereka yang membelakangi Allah. Penghukuman Tuhan dengan mengeringkan sungai Nil sebagai satu-satunya sungai yang menjadi sumber air bukan saja kepada rakyat Mesir tapi juga kepada tumbuhan serta ikan-ikan yang hidup di sungai tersebut. Air yang kering pun juga terjadi terhadap terusan dan anak-anak sungai Nil sehingga terjadi bau busuk sebab banyak ikan yang mati dan sangat berdampak pada kehidupan para nelayan yang biasanya memancing dan mencari ikan di sungai Nil. Penghukuman Tuhan sebagai cara didikan Tuhan bagi bangsa Mesir bahwa mereka harus sadar pada segala tindakan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan perintah dan kehendak Allah. Sekaligus mengingatkan mereka bahwa betapa pentingnya fungsi sungai Nil yang memberikan kehidupan bukan saja bagi mereka tetapi bagi segala makhluk yang hidup dan bergantung dari sungai Nil. Hal inipun menjadi teladan bagi kita untuk merawat dan menjaga sumber-sumber air di lingkungan tempat tinggal kita. Kebiasaan menebang pohon sembarangan harus dihentikan, apalagi pohon-pohon yang dekat dengan sumber air. Kita mesti menjaga dan merawatnya bukan untuk kepentingan kita saja, tapi juga kepada makhluk hidup yang lain serta bagi generasi anak cucu kita. Ketika kita melakukan dengan baik dan benar berarti kita telah menjadikan bumi sebagai tempat hidup bagi semua makhluk untuk kepujian Nama Tuhan. 

Doa : Tuhan mampukan kami untuk menjaga sumber air sebagai sumber hidup semua makhluk, Amin.

Jumat 26 Juni 2020                                   

bacaan : Kejadian 26 : 12 – 22

12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13 Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. 14 Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya. 15 Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah. 16 Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: "Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami." 17 Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ. 18 Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. 19 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. 20 Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: "Air ini kepunyaan kami." Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. 21 Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. 22 Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: "Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini."

AIR SUMBER HIDUP

Ishak, seorang bapa leluhur Israel yang mengembara sebagai orang asing di negeri Filistin, sebab bencana kelaparan yang melanda negeri tempat tinggal Ishak. Sebagai orang asing tentu Ishak tidak mempunyai harta kekayaan. Namun atas berkat Tuhan sebagai ikatan perjanjian dengan Abraham, maka saat Ishak menabur di tanah dalam setahun ia mendapat hasil 100 kali lipat. Pemberkatan Tuhan terhadap Ishak inilah membuat keadaannya semakin kaya dengan banyak kambing domba, dan lembu. Malah kondisi Ishak ini membuat cemburu bangsa Filistin negeri yang didiami oleh Ishak. Kemudian raja Filistin Abimelek menyuruh Ishak untuk pergi dari negeri mereka, dan Ishak berdiam dilembah Gerar dan menetap di situ. Ishak menggali sumur yang dulu pernah digali Abraham ayahnya tetapi ditutup oleh orang Filistin. Namun sumur itu dipersoalkan oleh para gembala dari negeri Gerar, sumur itu diberi nama Esek. Untuk menghindari pertengkaran, maka para hamba Ishak menggali sumur yang lain dan kembali terjadi pertengkaran, Ishak menamainya Sitna. Kemudian mereka pindah lagi dan menggali sumur yang lain, dan tidak terjadi pertengkaran sehingga dinamai sumur itu Rehoboth.  Beberapa kali Ishak menggali sumur dan terjadi pertengkaran sebagai gambaran bahwa betapa pentingnya air sebagai sumber hidup. Ishak bersaksi bahwa sekarang Tuhan memberi kelonggaran kepadanya untuk kehidupan bersama anak cucu di negeri yang didiaminya. Ishak meyakini bahwa, itulah jawaban Tuhan bagi seluruh pergumulan hidupnya. Hal inipun menjadi teladan bagi kita untuk menjaga sumber-sumber air bagi kehidupan kita serta anak cucu kita. Ketika kita menjaga dan merawatnya dengan baik untuk kebutuhan bersama dan menjauhi pertengkaran, maka hal itu menjadi berkat yang asalnya dari Tuhan bagi kelangsungan hidup semua ciptaan.   

Doa : Tuhan tolong kami untuk menjaga bumi ciptaan-Mu sebagai tempat hunian bersama, Amin.-

Sabtu, 27 Juni 2020                                  

sumber : Kejadian 26 : 23 – 33

23 Dari situ ia pergi ke Bersyeba. 24 Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu." 25 Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. 26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" 28 Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN." 30 Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. 31 Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. 32 Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air." 33 Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.

TUHAN MENYEDIAKAN BERKAT KEHIDUPAN

Menghadapi kesulitan hidup ditengah ancaman bencana dan marabahaya, membuat orang menjadi kuatir, bingung dan takut. Dalam keadaan seperti itu, seringkali orang mengambil keputusan yang terburu – buru dan keliru. Hal inilah yang terjadi dalam kehidupan Ishak, ketika menghadapi bencana kelaparan. Ishak memutuskan untuk mengungsi ke Mesir bersama seisi rumahnya. Rupanya pilihan untuk mengungsi ke Mesir juga menjadi pilihan Abraham, ayahnya ketika menghadapi bencana yang sama pada waktu itu. Ternyata mereka ingin mencari suatu tempat yang tidak pernah kering airnya, yaitu sungai Nil di Mesir. Dalam perjalanan ke Mesir, Ishak dan keluarganya singgah di Gerard an disana Tuhan menampakkan diri-Nya kepada Ishak dan mengatakan: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Ku katakan kepadamu…”(ay.2) dan juga dikatakan: “….Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau…”(ay.24.a). Disini, Tuhan ingin mengatakan kepada Ishak bahwa apapun kesulitan yang dihadapi, janganlah keluar meninggalkan tanah, rumah yang telah disediakan Tuhan kepadamu, hadapilah setiap kesulitan, bencana, persoalan, sebab disitu pasti ada kehidupan yang disediakan oleh Tuhan. Setelah mendengar suara Tuhan, Ishak bersama hamba-hambanya menggali beberapa sumur di Gerar, dan ketika tiba  dan menetap di Bersyeba, Ishak juga menggali sumur disitu yang diberi nama Syeba. Memang Tuhan telah menyediakan sumber daya alam yang kaya bagi manusia, masing – masing di tempatnya berdiam, karena itu yang diinginkan oleh Tuhan adalah bagaimana manusia itu memberdayakan potensi sumber daya alam bagi kelanjutan hidupnya. Apa yang kita lakukan saat ini ketika menghadapi ancaman bencana wabah covid 19, atau berbagai kesulitan lainnya? Manfaatkanlah potensi sumberdaya alam yang kaya, yang telah disediakan Tuhan, dan bersyukurlah selalu.

Doa : Tuhan kami percaya, dalam segala kesulitan, Engkau selalu memberi pertolongan, Amin.

*sumber : SHK bulan Juni 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey