Santapan Harian Keluarga, 13-19 Desember 2020
jemaatgpmsilo.org
Tema Mingguan : “Menyambut Kedatangan Tuhan Dalam Pengharapan”
Minggu, 13 Desember 2020
bacaan : Yesaya 26 : 1-10
Nyanyian puji-pujian karena kelepasan dan penghakiman yang diberikan Allah Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: "Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN telah memasang tembok dan benteng. 2 Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia! 3 Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. 4 Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal. 5 Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu. 6 Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya." 7 Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya. 8 Ya TUHAN, kami juga menanti-nantikan saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau. 9 Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi; sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar. 10 Seandainya orang fasik dikasihani, ia tidak akan belajar apa yang benar; ia akan berbuat curang di negeri di mana hukum berlaku, dan tidak akan melihat kemuliaan TUHAN.
MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM PENGHARAPAN
Kita sudah memasuki perayaan minggu Adventus yang ke – III, yang mengingatkan untuk menyambut kedatangan Kristus dengan penuh pengharapan, sekalipun beban hidup semakin berat, gumulan hidup belum juga terjawab dan hari esok sangatlah rahasia. Di masa-masa yang sulit sekalipun, umat Israel tetap hidup dalam pengharapan, hal ini terlihat dalam nyanyian pujian mereka tentang Allah yang sanggup melakukan pembebasan dan penyelamatan atas hidup mereka. Mereka percaya kepada Tuhan Allah selama-lamanya, sebab Tuhan adalah gunung batu yang kekal. Mereka katakan: “Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari engkau pada waktu pagi….” (ay.9.a). Jadi, suatu pengharapan harus terlahir dari jiwa dan kemurnian hati seorang yang percaya pada kemahakuasaan dan kasih Tuhan yang telah ada sejak semula, sekarang dan sampai selamanya. Mengapa? sebab, jiwa dan hati berisikan keinginan, kehendak dan pikiran yang selalu berubah sehingga harus sungguh-sungguh. Pengharapan yang terlahir dari jiwa dan kemurnian hati tak akan pernah menuai kesia-siaan: harapan orang benar akan menjadi sukacita tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia tak pernah putus asa bahkan berani melangkah di jalan hidupnya yang penuh dengan ancaman dan kegelapan. Banyak orang Kristen terombang- ambing, dan merana bahkan hancur hidupnya karena pengharapannya kepada Tuhan hanya sebatas kata-kata verbal. Ketiadaan dan ketidakjujuran dalam pengharapan bukan ciri seorang Kristen. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.
Doa: Tuhan, jiwaku merindukan-Mu dan hatiku mencari-Mu. Amin.
Senin, 14 Desember 2020
bacaan : Mazmur 31 : 24-25
23 (31-24) Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya! TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung. 24 (31-25) Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
PENGHARAPAN ADALAH SAUH YANG KUAT DAN AMAN BAGI JIWA
Daud mengalami kehancuran yang luarbiasa dalam hidupnya: ia merasa sesak, jiwa dan tubuh merana, hidupnya dalam duka, tahun-tahun umurnya dalam keluh kesah, kekuatan merosot dan tulang-tulang menjadi lemah. Orang yang melihatnya terkejut dan lari karena telah hilang dari ingatan seperti orang mati. Tetapi seluruh kehancuran itu tidak membunuh pengharapannya kepada Tuhan, karena ia pernah mengalami pertolongan Tuhan. Bagi Daud rasa aman yang sempurna hanya ada pada Tuhan, sebab Tuhan adalah Allah, masa hidupnya ada dalam tangan Tuhan yang sanggup melepaskannya, Tuhan tak pernah membiarkan ia malu karena berseru kepada Tuhan. Kelimpahan kebaikan-Nya, Ia simpan bagi orang yang takut pada- Nya, Ia lakukan kebaikan-Nya bagi orang yang berlindung pada- Nya di hadapan manusia, dan Ia menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Nya..Tuhan menunjukan kasih setia-Nya yang ajaib kepada Daud pada waktu kesesakan. Jadi, seperti sauh atau jangkar digunakan supaya kapal tidak terbawa gelombang atau badai ditengah laut; demikianlah pengharapan kepada Tuhan membuat Daud terikat pada Tuhan sehingga ia merasa kuat dan aman jiwanya; ia tidak terombang-ambing dengan masalah yang dialami, dan tidak binasa dalam hidup. Ada begitu banyak pengalaman kita bersama Tuhan, dalam suka maupun duka. Semestinya, semua pengalaman itu semakin membuat kita tidak meragukan Tuhan dan selalu berharap pada-Nya. Kesetiaan kita untuk melabuhkan sauh pengharapan hidup hanya kepada Tuhan, menunjukkan keberadaan kita sebagai orang yang mengasihi Tuhan,. Kita bukanlah orang yang congkak dihadapan Tuhan. Berharap kepada Tuhan adalah kebutuhan utama dalam hidup. Lakukanlah!
Doa: Tanpa-Mu Tuhan, aku binasa dalam hidupku. Amin.
Selasa, 15 Desember 2020
bacaan : Mikha 7 : 7-8
Pengharapan baru bagi Sion
7 Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku! 8 Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.
TUHAN AKAN MENJADI TERANGKU
Haruskah pengharapan kepada Tuhan sirna hanya karena situasi lingkungan yang semakin rusak; ketika untuk waktu yang cukup lama, kebenaran dikalahkan oleh kejahatan? Nabi Mikha hidup dalam situasi umat Israel yang merosot akhlaknya setelah dikuasai oleh Asyur. Orang saleh sudah hilang dari negeri, tiada lagi orang jujur diantara manusia. Mereka semua mengincar darah, yang seorang menangkap yang lain dengan jaring, tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat.; pemuka menuntut, hakim dapat disuap, pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum diputarbalikan. Orang yang baik diantara mereka seperti tumbuhan berduri, yang paling jujur diantara mereka seperti pagar berduri. Anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan menghina ibunya. Itulah situasi kegelapan yang dihadapi Mikha. Para musuh bersukaria atas kegagalan yang dialami nabi Mikha. Sekalipun situasi kegelapan itu telah meliputi seluruh negeri, tetapi tidak mempengaruhi kualitas pengharapan Mikha pada Tuhan. Mikha percaya bahwa Tuhan akan mendengarkan permohonannya dan bertindak untuk menyelamatkannya sekalipun ia harus menunggu. Sekalipun ia jatuh, ia akan bangun lagi. Sekalipun ia dianggap gagal, tetapi ia akan terus mengatakan yang baik dan benar dari Tuhan kepada Israel. Jadi, kualitas pengharapan akan teruji dalam situasi yang sangat terpuruk. Saudaraku, jika saat ini, semua orang menganggapmu gagal karena melawan kejahatan dan menertawakanmu karena seorang diri melakukan kebenaran, lalu mereka meninggalkanmu. Tetaplah percaya bahwa Tuhan berpihak padamu, sekalipun untuk hal itu kamu harus menunggu sangat lama. Kualitas pengharapan kita pada Tuhan Allah dalam Yesus Kristus, membuat kita berbeda diantara banyak orang di dunia ini.
Doa: Tuhan, Kau-lah terangku disaat aku duduk dalam kegelapan. Amin.
Rabu, 16 Desember 2020
bacaan : 1 Timotius 1 : 1-2
Salam Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, 2 kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
MENANTI DALAM PENGHARAPAN
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius yang disapanya sebagai “anakku yang sah di dalam iman”, untuk tetap teguh dalam pengharapan iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Nasehat ini penting bagi Timotius mempersiapkan orang percaya yang sibuk dengan perkara sia-sia dari berbagai ajaran sesat yang sangat mengganggu dan mempengaruhi iman percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Paulus bersyukur bahwa pengalaman perjumpaan dengan Tuhan Yesus di depan pintu kota Damsyik telah mengubah seluruh kehidupannya yang lama sebagai seorang penghujat, penganiaya dan menjadi seorang murid yang setia dalam panggilan pelayanan memberitakan injil Kristus. Rasul Paulus menganggap semuanya itu sebagai sebuah anugerah yang besar dan ajaib bagi kehidupannya dan dia percaya bahwa pengalamannya bersama dengan Kristus pun menjadi teladan bagi semua orang. Untuk itu Paulus berharap kepada Timotius untuk mengikuti jejak hidup dan teladannya yang setia dalam iman pengharapan kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat bagi Paulus dan semua orang yang percaya, termasuk kita sekeluarga ketika ada di minggu-minggu adventus ini. Kita mesti yakin dan percaya bahwa apapun tantangan dan ancaman yang kita hadapi, tidak akan menggoyahkan pengharapan iman kita didalam Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Jadilah seperti lima anak dara yang bijak dalam menanti dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang akan datang kembali pada kali yang kedua.
Doa: Tuhan Yesus tolonglah kami agar tetap setia dalam iman pengharapan sambil menantikan kedatangan Tuhan kembali. Amin.
Kamis, 17 Desember 2020
bacaan : Yohanes 3 : 1-10
Percakapan dengan Nikodemus Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." 9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" 10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
HIDUP YANG DIBARUI DALAM PENGHARAPAN
Nikodemus adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Ia menjumpai Tuhan Yesus pada malam hari. Ia penasaran dan ingin mengenal lebih dekat dengan Yesus. Tuhan Yesus mengetahui maksud hati dari Nikodemus, dan IA menegaskan bahwa Nikodemus mesti “lahir baru atau lahir kembali”. Dalam jabatannya yang terhormat sebagai pemimpin agama Yahudi, ternyata Nikodemus gagal dan tidak mampu memahami maksud Tuhan Yesus soal lahir kembali. Nikodemus malah bertanya bagaimana mungkin seseorang yang sudah tua harus lahir kembali dengan masuk ke rahim ibu. Ketidakmampuan Nikodemus memahami ucapan Tuhan Yesus menggambarkan bahwa segala atribut jabatan yang disandang dan dimilikinya bukan merupakan jaminan untuk mendapatkan keselamatan yang kekal. Nikodemus mesti membuka hati dan hidupnya untuk percaya dan mengimani Kristus sebagai Mesias Anak Allah. Demikianpun bagi kita sekeluarga bahwa pernyataan Tuhan Yesus tentang lahir kembali mesti menjadi hal penting untuk kita maknai dalam seluruh perjalanan kehidupan kita. Apakah ditengah berbagai tantangan bahkan ancaman termasuk pandemic Covid-19 ini, pengharapan kita tetap tertuju kepada Tuhan Yesus? Sebab pengharapan kepada Yesus adalah hal yang terutama dalam seluruh aspek hidup kita untuk menikmati keselamatan kekal. Pengharapan itu harus terus dibaharui dari waktu ke waktu, teristimewa dalam memaknai perayaan minggu Adventus disaat ini. Pengharapan kepada Kristus sebagai Mesias Anak Allah yang akan datang kembali sebagai Raja dan Hakim yang Agung dan Adil. Sudahkah kita menyiapkan hati dan hidup kita untuk menanti dan menyambut kedatangan-Nya. Inilah waktu dan saatnya bagi kita sekeluarga.
Doa: Tuhan baruilah hati dan hidup kami agar pengharapan kami kepada Tuhan tidak menjadi sia-sia, amin,-
Jumat, 18 Desember 2020
bacaan : Amsal 10 : 28-30
28 Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia. 29 Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat. 30 Orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya, tetapi orang fasik tidak akan mendiami negeri.
PENGHARAPAN ORANG BENAR
Berbicara soal sukacita ditengah kondisi hidup akhir-akhir ini seakan seperti sebuah kemustahilan. Sebab berbagai tantangan, persoalan bahkan ancaman akibat pandemi Covid-19 membuat semua orang mengalami kesusahan. Namun ketika kita ada di minggu-minggu adventus ini, kembali kita disegarkan oleh pengamsal yang menegaskan tentang pengharapan orang benar akan menjadi sukacita, sebaliknya pengharapan orang fasik menjadi sia-sia. Orang benar adalah mereka yang dibenarkan dihadapan Allah, sebab mereka hidup selalu taat dan setia kepada Allah. Segala perintah dan kehendak Allah selalu mereka taati dan wujudkan dalam seluruh sikap serta perilaku hidup mereka. Sedangkan orang fasik adalah mereka yang hidupnya mengandalkan kekuatan diri dan kehebatan mereka semata. Sukacita orang benar tidak diukur dari kondisi baik dan buruk yang mereka alami dan hadapi. Sesulit apapun kondisi dengan berbagai persoalan dan tantangan bahkan ancaman, tidak akan menyurutkan sukacita orang benar. Sebab pengharapan mereka hanya kepada Allah dalam Kristus sebagai sumber hidup, berkat dan sukacita. Itulah sebabnya pengamsal tegaskan bahwa orang benar tidak diombang-ambingkan untuk selamanya, sebab mereka yakin segala sesuatu dalam hidup ini ada dalam kendali Maha Kuasa. Sedangkan orang fasik tidak akan mendiami negeri yang artinya kebahagian dan sukacita mereka sesaat dan sementara. Merayakan minggu-minggu Adventus, mengajarkan kita sebagai orang percaya, agar pengharapan kita selalu tertuju kepada Allah dalam Kristus Sang Mesias sehingga kita menjadi orang-orang yang dibenarkan oleh Kasih-Nya.
Doa: Tuhan kuatkan kami untuk tetap berpengharapan kepada-Mu sehingga sukacita kami menjadi penuh sekalipun berbagai tantangan harus kami. Amin.-
Sabtu, 19 Desember 2020
bacaan : Ibrani 3 : 1-6
Yesus lebih tinggi dari Musa Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, 2 yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya. 3 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. 4 Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah. 5 Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, 6 tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.
BERHARAPLAH PADA YESUS
Kita akan memasuki minggu Adventus keempat, dan perayaan Natal Kristus di tahun yang penuh dengan tantangan dan ancaman, termasuk pandemi Covid-19. Namun, kita tetap bersyukur bahwa semua peristiwa ini adalah cara Allah menyatakan kasih-Nya dalam diri Tuhan Yesus Kristus sang Putera Natal. Disini, penulis Ibrani menegaskan bahwa Kristus adalah Imam Besar yang rela mempersembahkan diri-Nya menjadi korban penebusan bagi manusia dan dunia ini. IA dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar daripada Musa, sebab Kristus adalah ahli bangunan dan kita semua, termasuk Musa adalah bangunannya. Penegasan penulis Ibrani ini sebagai pencerahan kepada bangsa Yahudi yang begitu mengagumi dan mengagungkan Musa sebagai pemimpin besar pada jamannya. Ibarat rumah kehidupan yang dibangun dan disediakan oleh Tuhan Allah kepada umat manusia, maka oleh penulis Ibrani menggambarkan kedudukan Musa sebagai pelayan yang melayani pada rumah tersebut. Sedangkan Kristus adalah yang mengepalai rumah itu. Penegasan inipun bagi kita sebagai keluarga Allah yang akan merayakan kehadiran Tuhan Yesus dalam peristiwa Natal. IA yang akan datang tidak lagi sebagai bayi kudus, namun sebagai Raja dan Hakim yang Agung dan Adil. Itulah sebabnya penulis Ibrani kembali mengingatkan kita semua agar pandangan dan pengharapan kita hanya ada didalam Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan bukan kepada yang lain. Ditengah berbagai tantangan dan persoalan yang kita hadapi, jangan berputus asa, percayalah kepada Yesus yang telah datang menjumpai kita, melalui kelahiran, kematian dan kebangkitan-Nya, demi keselamatan kita sebagai keluarga Allah.
Doa: Tuhan Yesus, Engkau segalanya bagi kehidupan keluarga kami. Tolonglah kami agar tetap berpengharapan kepada-Mu. Amin.
*sumber : SHK Bulan Desember LPJ-GPM

