Sejarah Singkat Jemaat GPM Silo

Sejarah Gereja dan Jemaat GPM Silo tidaklah dapat dilepaspisahkan dari sejarah Gereja Protestan Maluku, sejak abad ke-17 sampai abad ke-21. Spirit of the triple-G (Gold, Gospel, selanjutnya dimengerti sebagai perdagangan atau ekonomi, kemuliaan-kekuasaan/Politik, dan penginjilan/agama) sesungguhnya telah melatari kehadiran bangsa Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda di Maluku.

Terlebih khusus di kota Ambon, ibukota karesidenan Maluku pada abad ke-16 dan ke-17 sejak memasuki era kolonialisme Belanda, maka gereja di Maluku mulai bertumbuh dalam bingkai gereja-negara (Indische Kerk). Pada tahun 1621, terbentuklah Majelis Jemaat pertama di Indonesia dengan berkedudukan di Batavia (Jakarta), menyusul Majelis Jemaat di Banda tahun 1622.

Sebagai dampaknya, aktifitas penginjilan pun mulai kian marak dan intens dilakukan, khusunya melalui peran Pendeta Hulsebos, yang telah berupaya membuat pelayanan ke Ambon, namun kapalnya tenggelam di teluk Ambon, beliaupun meninggal, dan misinya dilanjutkan oleh Pendeta Rosskot (yang selanjutnya pula berperan dalam menyelenggarakan Pendidikan Teologi pertama di Ambon, Maluku maupun Indonesia).

Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799, maka ada sejumlah jemaat di Indonesia yang terlantar, termasuk beberapa jemaat di Ambon. Karena itu, NZG (Nederlands Zending Genootschap) mengutus Josep Kam pada tahun 1821 (untuk selanjutnya Kam dikenal dalam sejarah Injil di Indonesia – Asia Tenggara sebagai Rasul Maluku).

Ketika Josep Kam mendata jemaat-jemaat di Ambon pada tahun 1821, terindikasikan adanya beberapa jemaat yang tidak terdata yakni jemaat Urimessing-Silale, jemaat Rumahtiga Soaema dan jemaat Mardika Halong, yang Terpisah selaku jemaat Bandar Ambon. Selanjutnya, jemaat Urimessing Silale. Inilah yang menjadi cikal bakal jemaat SILO. Seterusnya, jemaat Rumahtiga Soaema menjadi jemaat Bethania, jemaat Mardika Halong menjadi jemaat Bethel. Sementara itu, jemaat di negeri-negeri Urimessing lainnya (a.l.: Mahia, Kusu-kusu Sereh, Seri, Tuni, dan Siwang) kian memekar dan bertumbuh menjadi jemaat sendiri.

Pada tahun 1918, persekutuan warga jemaat Silo yang sebelumnya sejak Tahun 1781 telah menjadi Wyk Pelayanan dari gereja Pusat (Groote Kerk, yang Dibangun tahun 1781 oleh Bernardus van Pleuren di Kampung Cina Ambon, lokasi saat ini tepat di Gedung PUSKUD, jalan A.J. Patty), dibangunlah sebuah Gedung Gereja sederhana di lokasi yang saat ini ditempati Toko Buku Gunung Nona. Gedung gereja tersebut hanya berdinding gaba-gaba dan beratapkan daun sagu. Akibat perkembangan populasi jemaat, maka pada tahun 1923 – sesudah Perang Dunia-I dibangunlah gedung gereja Silo yang permanen di lokasinya saat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *