Santapan Harian Keluarga, 4 – 10 November 2018

[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 04 November 2018         

bacaan : Mazmur 32 : 1 – 7 (T)

Kebahagiaan orang yang diampuni dosanya

Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! 2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! 3 Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; 4 sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela 5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela 6 Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. 7 Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. 

Kebahagiaan Sejati Manusia Terletak Pada Pengampunan Allah

Tidak ada kebahagiaan apapun selama kita hidup di dunia ini selain kebahagiaan karena dosa kita telah diampuni oleh Tuhan.Mungkinsebagian orang beranggapan, bahwa kebahagiaannya terletak pada apa yang ia miliki di dunia ini. Namun jika ia sadar bahwa sebagai manusia, dirinya tak lepas dari perbuatan dosa, maka ia membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Sebab pengampunan Tuhan memungkinkan kita layak, kuat dan mampu menjalani hidup dan menjadikan hidup kita bermanfaat untuk kepentingan bersama.Dalam Yesus sesungguhnya pengampunan itu sudah dianugerahkan bagi kita.Namun, IA menghendakiadanya penyesalan, pengakuan yang jujur dan pertobatan dari setiap orang yang mendambakan pengampunan. Lebih dari itu, Tuhan juga menghendaki kita menjalani hidup yang benaragar semakin dikasihi oleh Allah dan manusia.Hidup yang benar disini juga dimaksudkan sebagaihidup yang mengampuni/memaafkan sesama manusia.Ketika kita masih diberikan kesempatan untuk hidup sampai saat ini oleh Tuhan, maka kita mesti berkomitmen dan berupaya sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi pelanggaran dan kesalahan yang pernah dilakukan serta memohon pertolongan-Nya, agar kita kedapatan setia dimana pun dan kapan pun.Godaan dan tantangan tetap saja ada, dan itu tak terhindarkan dalam perjalanan hidup; bahkan tantangan-tantangan baru yang mungkin saja bisa membuat komitmen kita berubah, serta menghancurkan kehidupan kita, keluarga, pekerjaan, kehidupan bersama dalam gereja maupun masyarakat. Namun dengan terus mengingat dan mensyukuri kasih setia Tuhan, kita percaya pasti mampu mengatasi setiap godaan dan tantangan, bahkan kita tidak akan kalah dan binasa.(DLS)

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau mau mengampuni dosakami. Amin.

 

Senin, 05 November 2018                     

bacaan : Mazmur 32 : 8 – 11 (T)

8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. 9 Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. 10 Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia. 11 Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur! 

Jangan Terburu-buru dan Jangan Keras Kepala

Seorang teman saya minta di-ceraikan, karena menolak perbuatan zinah yang dilakukan oleh suaminya dengan teman baiknya. Sebenarnya saya menyayangkan sikapnya yang tidak sabar, dan membicarakan secara baik-baik untuk menyadarkan suaminya, mengapa ia terburu-buru memaksa suaminya untuk bertindak seperti itu. Namun yang lebih menyedihkan, setelah bercerai, ia memutuskan untuk segera menikah lagi dengan seorang laki-laki yang tidak jelas kehidupannya. Dalam rentang waktu yang singkat, dia kehilangan keluarganya dan semua hartanya, akibat dibawa kabur oleh laki-laki tersebut. Ia mengalami stress yang begitu berat dan sangat sulit untuk dipulihkan dari tekanan batin yang dialaminya. Sikap terburu-buru dan keras kepala seringkali meninggalkan akibat yang buruk. Hari ini keluarga Kristen diajak untuk tidak terburu-buru dan jangan keras kepala. Mazmur 32:8-11, mengajarkan kepada kita bahwa: “Jangan seperti kuda dan bagal yang tidak berakal”.  Kuda dan bagal, adalah binatang yang keras kepala. Kuda yang liar berlari serabutan, bergerak terlalu cepat dan tidak cukup sabar untuk mengikuti petunjuk sang penunggangnya. Sebaliknya bagal, adalah binatang yang keras kepala dan tidak mau bergerak sejengkalpun sekalipun sudah diseret sedemikan rupa. Apakah ada anggota-anggota keluarga Kristen yang bersikap demikian? Tidak mau mendengar nasehat dari orang tua atau para pelayan. Berbagai nasehat sudah diberikan, namun tidak juga mau bergerak, tidak juga mau bertindak. Mari belajar menjadi domba yang selalu bergantung pada Sang Gembala.(DLS)

Doa: Tuhan, jadikanlah kami ini domba dan bukan kuda atau bagal. Amin.

 

Selasa, 06 November 2018                    

bacaan : Yunus 2 : 1 – 10 (T)

Doa ucapan syukur Yunus

Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, 2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. 4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? 5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku 6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku. 7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. 8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!” 10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat. 

Yunus Mengucap Syukur

Pengalaman dalam perut ikan adalah pengalaman yang tidak terlupakan bagi Yunus. Setelah ia diombang-ambingkan ombak di lautan kelam akibat mengingkari panggilan Tuhan, akhirnya perut ikan menjadi tempat dimana Tuhan menjamah Yunus dengan cinta dan pengampunanNya yang besar. Di dalam perut ikan itulah, Yunus menyadari kesalahannya dan berdoa serta mengucap syukur. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa jangan pernah mengingkari panggilan Tuhan dalam hidup kita. Siapapun kita, maka dengan berbesar hati kita perlu jujur mengakui kesalahan kita, belajar dari pengalaman kegagalan, dan akhirnya kita mengucap syukur. Kasih karunia Allah bentuknya bisa berupa didikan (Tit. 2:11,12). Mendidik itu seperti seorang yang memakai cambuk untuk mengajarkan sesuatu. Tuhan mendidik, kadang harus mencambuk kita, bukan untuk membinasakan tetapi untuk membuat kita meninggalkan yang tidak benar (kedagingan) dan mengarahkan serta membawa kita kembali ke jalan yang benar (hidup dalam ibadah dan kebijaksanaan).

Pengalaman Yunus memberi teladan yang berharga bagi keluarga Kristen, untuk belajar menghargai Firman, hidup dalam konsistensi doa, dan senantiasa mengucap syukur saat Tuhan mendidik kita, sebab apa yang Tuhan buat dalam hidup kita baik adanya. Responilah kebaikanNya melalui pengampunan sejatiNya.(DLS)

Doa: Terima kasih ya Tuhan, untuk cambukan cintaMu yang membawa pengampunan bagi hidup kami. Amin.

 

Rabu, 07 November 2018                        

bacaan : Lukas 7 : 36 – 50 (T)

Yesus diurapi oleh perempuan berdosa

36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” 40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.” 41 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” 43 Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” 44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” 48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” 49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” 50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”

Pengampunan Tuhan Adalah Anugerah Bagi Kita

Apa yang dapat saya lakukan ketika berhadapan dan melihat deraian air mata yang mengalir di pipi seorang perempuan muda yang adalah teman saya sendiri? Saya hampir tidak mempercayai kata-kata jujur yang keluar dari bibir mungilnya dengan pengakuan bahwa selama ini ia telah mengkhianati suami dan anak-anaknya dengan berselingkuh. Kenyamanan dan ketenangan yang ia dapatkan dari laki-laki beristri ini sesungguhnya hanya sebatas ketika mereka bertemu dan menikmati pertemuan itu. Namun setelah itu, ia tidak tenang, ia  gelisah sepanjang hari apalagi ketika telah berada di rumah. Saya terpana!! Sebab saya sangat mengenal pribadinya.Saya tidak habis pikir, mengapa ia tega melakukan hal tersebut? Dan yang membuat saya lebih terpana lagi,ia mengakuinya sudah bertahun-tahun dan anak bungsu mereka merupakan anak hasil hubungannya dengan laki-laki tersebut!!! Dalam keterpanaan saya, hati saya berbisik, selamatkanlah dia!!! Saya kemudian memeluk dirinya dengan penuh cinta dan mengatakan, engkau belum terlambat untuk mengakhiri semua kegilaan ini..Ia mengangguk, sambil menangis, ia berkata, saya mau bertobat!!! Saya mau kembali ke jalan Tuhan Yesus!!! Saya tersenyum, menatapnya dan berkata, kamu butuh keberanian dan itu hanya didapat melalui kuasa Roh Kudus.Kasih Tuhan Yesus sangat besar bagi dirimu.Dan jika saat ini ada penyesalan dalam hatimu untuk mau mengakhiri semuanya, sesungguhnya, itulah daya kerja Roh Kudus bagimu.Tuhan sangat mencintai kamu dan Ia mau supaya kamu tetap hidup dalam anugerahNya. Dalam tangisnya, ia meminta saya mendoakannya sambil memohonkan pengampunan atas dosanya. Sesungguhnya Tuhan itu maha pengampun dan Ia bersedia menerima hidup kita yang kotor dan cemar jika kita sungguh-sungguh mengakuinya dengan jujur dihadapannya dan tidak akan mengulanginya lagi.(DLS)

Doa: Terima kasih Tuhan untuk pengampunanMu. Amin.

 

Kamis, 08 November 2018     

bacaan : Lukas 19 : 1 – 10 (T)

Zakheus

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. 2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. 3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. 5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” 6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” 8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” 9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. 10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” 

Perjumpaan Yang Membawa Pengampunan

Perjumpaan Zakheus dengan Tuhan Yesus membawanya pada suatu pengakuan dosa dan pembaharuan hidup. Zakheus yang sebelumnya hanya tahu memperkaya diri dan tidak peduli kesusahan orang, kemudian diubahkan menjadi orang yang peduli kepada sesama, berani mengakui kesalahan, dan mau berubah. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus membuat Zakheus menyadari dosa, mengakui dosa, dan meninggalkan dosa.

Tuhan Yesus menganugrahkan keselamatan kepada Zakheus. Bukan hanya untuk kehidupan yang kekal, tetapi keselamatan itu sudah dimulai saat ini dan di dunia ini.

Perjumpaan yang membawa pembaharuan hidup, sebagaimana dialami Zakheus, kiranya menjadi pengalaman berharga bagi setiap keluarga orang percaya. Jika seseorang mengatakan bahwa dirinya adalah orang Kristen atau murid Kristus yang telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, salah satu tandanya adalah pembaharuan hidup. Firman Tuhan mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:17). Kebenaran firman Tuhan ini mengajak setiap keluarga orang percaya untuk selalu berusaha untuk mau berjumpa dengan Tuhan yang dapat membawanya kepada pertobatan dan pengampunan hidup.(DLS)

Doa: Tuhan Yesus, biarlah setiap saat kami berjumpa dengan diriMu yang dapat membawa hidup kami menjadi baru. Amin

 

Jumat, 09 November 2018        

bacaan : Yesaya 48 : 16 – 19 (T)

 16 Mendekatlah kepada-Ku, dengarlah ini: Dari dahulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ.” Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya. 17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. 18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, 19 maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku.”

Ketika Rongga Kosong Terisi Kasih Tuhan

Kita mungkin bisa mengira bahwa uang merupakan jawaban atas segala-galanya, yang sepertinya mampu memenuhi segala kebutuhan kita atas berbagai produk yang terus menawarkan kebahagiaan. Tapi pada suatu ketika nanti, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada ruang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi penuh oleh apapun kecuali oleh Tuhan. Ketika rongga itu terpenuhi, disanalah kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak lagi tergantung lewat berbagai kesusahan di dunia ini. Semakin kita meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar hal-hal dunia yang nikmat bagi daging kita, justru akan membuat rongga kosong ini terus melebar, menenggelamkan setiap sukacita yang seharusnya menjadi bagian dari kita lewat Kristus. Jadi jika saat ini kitadalam keadaan tidakterdesak atau sulit, tapi ada rasa kosong dalam hati kita yang membuat kita merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, itu tandanya kita harus mulai berpikir untuk semakin mendekat kepada Tuhan. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yak.4:8). Temukanlah rongga kosong itu dan biarkan Tuhan mengisinya. Mendekatlah kepada Tuhan dan dengarkan perintah-perintahNya. Itu akan mengundang Tuhan untuk segera menambal kekosongan itu dengan kebahagiaan sejati yang hanya berasal daripadaNya. Sebab kebahagiaan dan damai sejahtera yang melimpah tanpa henti menjadi milik orang-orang yang taat pada perintahNya.(DLS).

Doa: Tuhan, kebahagiaan kami adalah ketika rasa kosong dalam hati ini terisi oleh kasihMu. Amin.

 

Sabtu, 10 November 2018        

bacaan : Kejadian 4 : 1 – 16 (T)

Kain dan Habel

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” 2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 6 Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” 8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 9 Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” 10 Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. 11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. 12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.” 13 Kata Kain kepada TUHAN: “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. 14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.” 15 Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia. 16 Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.

Stop Marah dan Panas Hati

Seorang ayah berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya yang pemarah.Ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku.Paku?Ya, paku!Sang anak heran.Tapi, ayahnya tersenyum bijak dan berkata dengan lembut agar anaknya menancapkan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali marah.Ajaib! Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku! Begitu juga di hari kedua, ketiga, dan beberapa hari selanjutnya. Tapi, tak berlangsung lama.Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan begitu banyak paku ke pagar.Akhirnya, kesadaran itu membuahkan hasil.Si anak tak lagi pemarah. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya.Sang ayah tersenyum,kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.Hari berlalu, dan si anak berhasil mencabut semua paku dari pagar.Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya.“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku.Tapi,lihatlah lubang-lubang di pagar ini.Pagar ini tidak akan bisa seperti sebelumnya”, kata si ayah bijak.“Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu membekas seperti lubang ini di hati orang lain.Tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada”.Ucap sang ayah lembut namun sarat makna.Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca.Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya.Stoplah marah dan panas hati. Kemarahan merugikan diri kita dan merugikan orang lain. Kain rugi ketika dia marah. Dia menjadi alat Iblis. Habel juga terbunuh karena kemarahan Kain.Walaupun kemarahan kita tidak sampai membunuh orang lain, tetapi kemarahan itu sendiri sudah membuat orang lain terluka, walaupun kita sudah minta maaf.(DLS).

Doa: Tuhan, tolong kendalikanlah amarah kami. Amin.

 

*sumber : Santapan Harian Keluarga LPJ-GPM bulan November 2018 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *