Santapan Harian Keluarga, 19-25 Mei 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 19 Mei 2019                              

bacaan : Mazmur 17 : 1 – 15 (T)

Diburu dengan tak bersalah
Doa Daud. Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. 2 Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman: mata-Mu kiranya melihat apa yang benar. 3 Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur. 4 Tentang perbuatan manusia, sesuai dengan firman yang Engkau ucapkan, aku telah menjaga diriku terhadap jalan orang-orang yang melakukan kekerasan; 5 langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyang. 6 Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku. 7 Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak. 8 Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu 9 terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku. 10 Mereka tidak menunjukkan belas kasihan, mereka membual; 11 mereka mengikuti langkah-langkahku, mereka sekarang mengerumuni aku, mata mereka diarahkan untuk menghempaskan aku ke bumi. 12 Rupa mereka seperti singa, yang bernafsu untuk menerkam, seperti singa muda, yang mengendap di tempat yang tersembunyi. 13 Bangunlah, TUHAN, hadapilah mereka, rebahkanlah mereka, luputkanlah aku dengan pedang-Mu dari pada orang fasik. 14 Luputkanlah aku, ya TUHAN, dengan tangan-Mu, dari orang-orang dunia ini yang bagiannya adalah dalam hidup ini; biarlah perut mereka dikenyangkan dengan apa yang Engkau simpan, sehingga anak-anak mereka menjadi puas, dan sisanya mereka tinggalkan untuk bayi-bayi mereka. 15 Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

Ada Tuhan Ditengah Pergumulan

Pemazmur mengalami situasi yang begitu sulit, ketika musuhnya yang tidak mengenal belas kasihan seperti singa muda yang siap menerkam selalu membayangi kehidupannya. Jelas ini adalah situasi hidup yang berat untuk dihadapi. Pemazmur mengungkapkan bagaimana Tuhan sanggup untuk memelihara dan menaungi hidupnya seperti biji mata dan seperti naungan sayap. Permohonan yang disampaikan pemazmur menyatakan bahwa hanya Tuhan-lah yang akan memberikan ketenangan dan perlindungan dalam kesusahannya. Dalam situasi pergumulan yang dihadapi pemazmur ini kita dapat belajar, bahwa walaupun ia menyatakan diri yang hidup sesuai dengan firman Tuhan, namun pergumulan hidup pasti ada, tetapi Tuhan adil yang mengenal setiap tingkah dan laku manusia. Seperti ungkapan yang sering kita dengar “sebaik-baiknya seseorang, tetap akan ada saja yang membenci”. Demikianlah dosa telah merusak sistem kehidupan manusia. Tetapi kita mau belajar, bahwa Allah berdaulat penuh atas kehidupan ini, Sebab Tuhan memiliki pedang keadilan bagi orang fasik. Biarlah Allah yang bekerja dengan keadilanNya. Apapun bentuk persoalan dan pergumulan yang kita hadapi dalam hidup ini, tetap kita harus kembali kepada dasar iman kita kepada Tuhan. Kebahagiaan dan sukacita orang percaya bukan datang dari kenikmatan dunia ini, tetapi ketika memandang wajah Tuhan, ketika berjalan memasuki hidup bersama Tuhan, ada harapan, kekuatan, sukacita yang tidak dapat terbendung. Iman mengalahkan ketakutan, kekawatiran, segala pergumulan dan persoalan yang ada.

Doa: Tuhan, Kuatkan hati dan iman kami dalam menghadapi pergumulan  hidup, Amin.

Senin, 20 Mei 2019                                   

bacaan : Mazmur 80 : 1 – 4 (T)

Doa untuk keselamatan Israel
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Kesaksian Asaf. Mazmur. (80-2) Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau yang menggiring Yusuf sebagai kawanan domba! Ya Engkau, yang duduk di atas para kerub, tampillah bersinar 2 (80-3) di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkitkanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami. 3 (80-4) Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.

Putus Asa …? Ooo, Jangaaan.

Pada suatu hari, iblis sedang bokek (=kurang uang), lalu ia mengobral perkakas-perkakas kerjanya dengan harga murah. Barangnya masih bagus. Barang itu antara lain; Dengki, Iri, Tidak Jujur, Tidak Menghargai Orang Lain, Tak Tahu Terima Kasih, Malas, Dendam, dll. Di suatu pojok, ada satu perkakas yang bentuknya sederhana, sudah agak aus, karena sering sekali dipakai, tetapi harganya sangat mahal. Salah satu calon pembeli bertanya, “Ini alat apa namanya?” Iblis menjawab: “Itu namanya Putus Asa” Pembeli: “Kenapa harganya mahal sekali, padahal sudah aus?” Jawab iblis : “Ya, karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi dibanding yang lain. Begitu saya berhasil masuk ke dalam hati manusia dengan alat ini, saya dengan mudah melakukan apa yang saya inginkan terhadap manusia tersebut. Barang ini aus karena sering digunakan.”

Saudaraku, Melalui Mazmur ini, kita yang mungkin sedang mengalami kesulitan hidup yang berkepanjangan diajak untuk tetap berharap dengan penuh iman kepada Tuhan. Sebab Dia tidak akan membuang umat gembalaan-Nya untuk selama-lamanya. Tuhan Allah adalah Gembala Agung bagi saudara dan saya. Karena itu kita harus BANGKIT dan jangan  PUTUS ASA, karena putus asa adalah alat yang sangat disukai dan sering digunakan iblis untuk menjerumuskan kita. Kita mesti yakin sepenuhnya  bahwa kita telah dipulihkan oleh Yesus, Gembala yang baik. Hari ini sebagai warga bangsa, kita merayakan HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Ayo bangkit dan melangkahlah dengan pasti dalam pengharapan sebagai warga Kerajaan Allah dan Warga Negara Indosesia yang berkemenangan… Merdeka!!!

Doa: Tuhan, yakinkanlah kami untuk tetap berpengharapan hanya kepada-Mu dan tidak menjadi putus asa. Amin!!!

Selasa, 21 Mei 2019                                   

bacaan : Hosea 5 : 15 – 6 : 6 (T)

Pertobatan yang pura-pura dari pihak orang Israel

15 Aku akan pergi pulang ke tempat-Ku, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah-Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku:
“Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” 4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. 5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang. 6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

KTP… Kristen Tanpa Pertobatan

Bertobat…! Sebuah kata sederhana namun sangat sulit dilakukan. Ya, karena pertobatan bukanlah pengalaman emosional semata layaknya penyesalan, tetapi adalah suatu komitmen hidup untuk terus berjalan dan mengenal akan kebenaran hidup.

Hari ini, kita belajar bahwa : 1).Bertobat itu bukan hanya sekedar niatan hati dan ucapan bibir (ay. 1-3). Pertobatan sejati hanya dapat dilihat dari tindakan nyata kita. Ada banyak orang yang hanya berada pada tahap mendengar, mengutip, memposting Firman Tuhan, namun tidak sungguh-sungguh melakukannya. 2).Allah mengetahui keadaan hati manusia (ay. 4-5). Kita salah jika kita bertobat hanya untuk menghindari hukuman dan diberkati. Karena Allah melihat sampai kedalaman hati kita. Jadi dengan kesungguhan hati kita mengakui dosa-dosa dan kelemahan kita kepadaNya. Ketika beribadah, jangan kita membuat ungkapan penyesalan dan pengakuan hanya karena tuntutan liturgi. Bertobat dan mengikuti jalan Tuhan tidak menjanjikan kemewahan, dan berkat yang melimpah, tetapi menjanjikan kedamaian, penyertaan dan hidup yang kekal. 3).Bertobat berarti hidup sesuai dengan maksud Allah (ay. 6). Allah menyukai kasih setia dan pengenalan yang sungguh akan Dia, bukan korban sembelihan dan korban bakaran. Tidak ada gunanya kita memberikan persembahan sebesar apa pun nominalnya, jika itu kita berikan bukan untuk kemuliaan nama Tuhan. Allah mau supaya kita mengalami pertobatan yang sejati.  Yaitu mengenal Allah dan mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh. Jadi, apakah kita masih seorang KTP (Kristen Tanpa Pertobatan) saja?  Ataukah kita sudah mengalami pertobatan yang sejati itu?

Doa: Bapa, tolong kami agar tidak hanya berniat tapi sungguh mengalami pertobatan sejati…. Amin.

Rabu, 22 Mei 2019                                   

bacaan : Habakuk 2 : 1 – 5  (T)

Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya
Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. 3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. 4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. 5 Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya.”

Orang Benar Akan Hidup Oleh Percayanya …

Seorang petani kentang memasukan seluruh kentang hasil panennya ke bak mobilnya untuk di bawa ke pasar. Seseorang yang melihat apa yang diperbuatnya bertanya: “Pak, tidak repotkah memisahkan kentang yang besar dari kentang yang kecil nanti?” Petani itu menjawab: “Oh, tentu saya tidak, sebab selama perjalanan menuju pasar, akan ada begitu banyak goncangan karena jalan yang dilalui tidak rata. Kentang yang besar akan selalu tampil ke permukaan, sedangkan kentang yang kecil akan  turun ke bawah dengan sendirinya. Tidak repot kan..?”

Saudaraku, itulah kebenaran dari kalimat  “orang benar akan hidup oleh percayanya.” Dia tidak akan mudah goyah karena goncangan,  justru sebaliknya goncangan itu membuat mereka mampu untuk tetap bertahan dan muncul kembali ke permukaan. Mereka tak akan tenggelam oleh goncangan itu. 

Dalam bacaan kita, Tuhan menegaskan bahwa Dia akan menghukum semua bangsa secara adil, termasuk Israel, apabila mereka tidak segera bertobat; sebaliknya Tuhan akan memberikan jaminan pemeliharaan kepada orang benar. 

Jika hari ini kita merasa sudah melakukan yang benar, tetapi keadaan belum berubah sama sekali, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan berpikir : “Aku akan semakin terpuruk!” atau “Tuhan akan membangkitkan kembali kehidupanku.” Nah saudara, jika kita sudah melakukan yang benar, sekalipun ada masalah yang membuat kita menderita dan sengsara, percayalah, itulah salah satu cara Tuhan untuk membuat kita semakin kuat dan terus bisa bertahan. Pandanglah terus wajah Allah, andalkan dia dan jangan berhenti melakukan yang baik, benar dan adil.

Doa: Bapa, sekalipun ada guncangan dalam hidupku, buatlah aku terus percaya dan melakukan kebenaran . Amin.

Kamis, 23 Mei 2019                                

bacaan : Ayub 5 : 8 – 16 (T)

8 Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku. 9 Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya; 10 Ia memberi hujan ke atas muka bumi dan menjatuhkan air ke atas ladang; 11 Ia menempatkan orang yang hina pada derajat yang tinggi dan orang yang berdukacita mendapat pertolongan yang kuat; 12 Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil; 13 Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan. 14 Pada siang hari mereka tertimpa gelap, dan pada tengah hari mereka meraba-raba seperti pada waktu malam. 15 Tetapi Ia menyelamatkan orang-orang miskin dari kedahsyatan mulut mereka, dan dari tangan orang yang kuat. 16 Demikianlah ada harapan bagi orang kecil, dan kecurangan tutup mulut.

Carilah Allah dan Mengadulah Pada-Nya…

Di era globalisasi ini, kebutuhan hidup manusia semakin banyak dan kompleks, sehingga banyak orang terpacu untuk mencari dan mendapati penunjang kebutuhan itu. Saat mencari, tentunya tidak selamanya mudah mendapatkannya, tetapi ada juga kesulitan yang dihadapi sehingga bisa saja berakibat KECEWA dan PUTUS ASA. Nas kita hari ini berkisah tentang bagaimana Ayub yang begitu menderita, bukannya mendapat dukungan istri dan teman-teman, mereka malah mempersalahkan Tuhan yang disembah Ayub. Apa respons Ayub?  “Aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.” Sungguh luar biasa apa yang dilakukan Ayub. Dia tidak menyalahkan Tuhan atas musibah yang menimpa diri dan keluarganya. Sebab Ayub tahu bahwa apa yang dialaminya adalah dengan seizin Tuhan dan merupakan ujian terhadap kesalehannya, dan Allah bukan menghukumnya. Saudaraku, dalam menjalani kehidupan ini, pasti ada saja suasana “nano-nano” (asam, manis, asin bahkan pahit) yang kita alami. Bagaimana mersponinya? Apakah dengan kesedihan berlebihan lalu menyalahkan Tuhan, atau dengan kegembiraan di luar kontrol dan lupa mengucap syukur? Mari belajar dari Ayub yang selalu sadar bahwa Tuhan tidak pernah memberikan pencobaan diluar batas kemampuan kita untuk menghadapinya. Karena itu jika menghadapi masalah, jika berada dalam kesesakkan, carilah wajah Tuhan dan adukan persoalan kita kepada-Nya.  Yakinlah bahwa Tuhan akan memulihkan keadaan kita dan Tuhan paling tahu apa yang mesti dilakukan-Nya bagi kita. Pertolongan Tuhan memang tidak terlalu cepat tetapi juga tidak pernah terlambat, karena selalu tepat waktu.

Doa:  Bapa, Aku mau selalu mencari wajah-Mu dan percaya pada pertolongan Mu yang selalu tepat waktu.. Amin.

Jumat, 24 Mei 2019                                  

bacaan : Mazmur 45 : 1 – 6 (T)

Nyanyian pada waktu pernikahan raja
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Dari bani Korah. Nyanyian pengajaran; nyanyian kasih. (45-2) Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir. 2 (45-3) Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya. 3 (45-4) Ikatlah pedangmu pada pinggang, hai pahlawan, dalam keagunganmu dan semarakmu! 4 (45-5) Dalam semarakmu itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan! Biarlah tangan kananmu mengajarkan engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat! 5 (45-6) Anak-anak panahmu tajam, menembus jantung musuh raja; bangsa-bangsa jatuh di bawah kakimu.

Tidak Hanya Dalam Rangkaian Kata, …

Dalam  pengantar buku Menjadi Penulis, Andar Ismail katakan: “Menulis bukanlah sekadar merangkai kata, melainkan menuliskan hikmat yang mencerahkan dan menumbuhkan pembaca. Sepandai-pandainya kita menuangkan, yang lebih menentukan adalah apa yang dituangkan. Apa gunanya menuang sebuah botol jika isinya adalah air keruh? Atau, apa yang mau dituang dari sebuah botol apabila botol itu kosong?”

Pengakuan pemazmur menunjukkan proses serupa, dimana nyanyian ini bukan hanya sebagai nyanyian kasih, tetapi juga nyanyian pengajaran, karena selain menggambarkan keagungan kasih dari sang Raja dan permaisurinya, tetapi nyanyian ini juga mengajarkan pentingnya keelokan karakter sang Raja yang ditunjukkan dengan bertindak demi kebenaran, keadilan dan perikemanusiaan. Jadi melalui tindakannya Raja memberi contoh, teladan dan didikan yang menghasilkan sesuatu yang bermutu dan berkwalitas.

Saudaraku, sekalipun kita tidak sepandai pemazmur dalam merangkai kata-kata, kita bisa belajar mengungkapkan kasih, keadilan, kebenaran, kejujuran dan kehidupan yang berkualitas dengan cara dan gaya kita masing-masing. Tulisan kita tidak hanya dituangkan dalam kata-kata, tetapi tertuang dalam tindakan-tindakan yang memberi contoh, dan teladan yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan orang yang melihatnya. Yang mendapatkan pelajaran dari “tulisan hidup kita.” Tuhan menolong kita agar dapat menjadi teladan yang bermutu bagi banyak orang.

Doa: Bapa, biarlah kami menuangkan tulisan-tulisan yang tak hanya terangkai dalam kata tetapi juga dalam perbuatan yang dapat diteladani.  Amin!!!

Sabtu, 25 Mei 2019                                 

bacaan : Mazmur 80 : 15 – 20 (T)

(80-15) Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, 15 (80-16) batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! 16 (80-17) Mereka telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang lenyap oleh hardik wajah-Mu! 17 (80-18) Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, 18 (80-19) maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu. 19 (80-20) Ya TUHAN, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.

Pandanglah Wajah Yesus Dalam Setiap Permohonanmu

Setiap anak yang melakukan kesalahan, pasti mendambakan pengampunan dari orang tuanya. Jika ia menemukan wajah papa dan mama yang penuh kasih dan menegur serta mengampuninya dengan sikap yang bijaksana, maka pasti ia akan merasa lega dan terdorong untuk memperbaiki hidupnya agar jadi lebih berarti. Berbeda dengan anak-anak yang selalu dimarahi, apalagi diperlakukan dengan kekerasan, mereka akan sedih dan merasa tidak berdaya untuk keluar dari kesalahannya. Demikian juga keadaan orang Israel yang diwakili oleh pemazmur dalam seruan-seruan pengharapan kepada Allah. Mazmur 80:15-20 merupakan wujud seruan penyesalan, pertobatan dan ungkapan pengharapan pemazmur kepada Allah untuk diampuni dan dipulihkan. Dalam kesedihannya pemazmur sujud dihadapan Allah, memandang wajah Allah dan mohon dibenarkan dan dipulihkan oleh Allah. Sampai tiga kali pemazmur berseru dalam doanya: Ya Tuhan semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajahMu bersinar, maka kami akan selamat (4,8,20). Doa ini disertai dengan janji setia kepada Tuhan dan mengikrarkan tekadnya untuk memuliakan NamaNya yang kudus. Tidak seorangpun diantara kita yang luput dari khilaf dan salah, tetapi hidupnya tidak akan berhenti hanya karena sebuah kesalahan, sebab Allah dalam Yesus Kristus selalu membuka tanganNya dan berkata: “Marilah kepadaKu, semua yang berbeban berat…” Persoalannya adalah apakah orang yang melakukan kesalahan menyadari kesalahannya dan selalu berseru mohon pengampunan dan pemulihan dari Tuhan Yesus? Berserulah kepada Yesus, pandanglah selalu wajahNya yang penuh kasih, seperti seorang gembala yang menuntun domba-dombanya ke air yang tenang.

Doa: Tuhan, buatlah Wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat. Amin.

*sumber : SHK bulan Mei 2019 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey