Santapan Harian Keluarga, 8 – 14 Desember 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 08 Desember 2019 (Adv. II)  

bacaan : Yesaya 11 : 1 – 10

Raja Damai yang akan datang
Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. 2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; 3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. 4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. 5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang. 6 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. 7 Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. 8 Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. 9 Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya. 10 Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Menyongsong Kedatangan Raja Damai

Kalau kita membaca surat kabar, atau menonton televisi akhir-akhir ini, hati kita menjadi miris, sebab konflik, permusuhan dan berbagai perbuatan ketidakadilan terjadi dimana-mana. Pertanyaannya: Masih adakah sepotong asa di kekinian hidup ini? Masihkah bisa terjadi perobahan dalam hidup ini? Ataukah semuanya sudah menjadi budaya hidup, menjadi gaya hidup. Yesaya 11:1-10 menggambarkan nubuat Nabi Yesaya akan pengharapan mesianis tentang keadilan dan kepastian hukum,  sebagai tanda bahwa kerajaan Allah akan dimulai. Hal ini nampak dalam diri Yesus Kristus sebagai Raja Damai. Dalam ayat 3-5 dikatakan bahwa: Raja Damai yang akan datang itu tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja, atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi Ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas dengan kejujuran; dia akan menghajar bumi dengan perkataanNya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutNya. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, yang mengakibatkan kesejahteraan dialami oleh manusia dan alam. Hal inilah yang akan menjadi jaminan bagi kita bahwa berbagai kerusakan, keserakahan, konflik, permusuhan serta ketidakadilan karena perbuatan manusia segera akan dirobah dan akan dibarui dengan kehadiran Yesus Kristus, sebagai Mesias (Raja Damai) yang sudah datang, sedang datang, dan yang akan datang kembali sebagai Raja dan Hakim yang adil. Pada saat itu, setiap orang akan memberi pertanggungjawaban iman sesuai perbuatannya selama ia hidup di dunia ini. Selamat memasuk Adventus Kristus yang kedua, Tuhan menolong kita semua!

Doa: Tuhan, jadikanlah kami pembawa damai dimana ada permusuhan. Amin.

Senin, 09 Desember 2019                  

bacaan : Mazmur 97 : 10 – 12

10 Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik. 11 Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. 12 Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.

Bersukacitalah Karena Tuhan, Hai Orang-Orang Benar

Tuhan adalah Raja yang berkuasa atas dunia dan isinya. Itulah pengakuan iman pemazmur sebagaimana digambarkannya dalam bagian ini. Kemegahan Tuhan sebagai Raja tidak tertandingi oleh Raja manapun di dunia ini sehingga bukan hanya manusia menjadi takut dan menyembah-Nya melainkan seisi alam turut mengagungkan kemegahan-Nya. Ia menjadi sukacita dan pengharapan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya sebab mereka merasakan sendiri pertolongan-Nya. Karena itu, pemazmur mengajak setiap orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan itu, untuk bersorak-sorai dan bersyukur selalu dalam hidup. Kita pun diingatkan bahwa kita adalah orang-orang kesayangan-Nya, bukan karena kehebatan dan kemampuan kita sebagai manusia, tetapi karena Penebus kita Yesus Kristus telah membebaskan kita dari perhambaan dosa dan menjadikan kita umat-Nya. Ia senantiasa memberikan pertolongan ditengah himpitan dan menghadirkan sukacita dalam hidup. Karena itu, pengakuan iman pemazmur menjadi pengakuan iman kita juga bahwa Tuhan adalah Raja atas hidup kita. Ketika kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya, kita diajak untuk bersukacita dan tetap mengasihi-Nya. Bencilah yang jahat, dan janganlah memilih berjalan diluar kehendak Tuhan. Marilah kita setia menantikan-Nya dengan menjaga hidup kita tetap berkenan kepada-Nya.

Doa:  Tuntunlah aku Tuhan untuk setia melakukan kehendak-Mu di masa-masa penantian ini. Amin.

Selasa, 10 Desember 2019                 

bacaan : Mazmur 85 : 9 – 10

(85-9) Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? 9 (85-10) Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

Dengarkanlah Suara Tuhan

Sering kita mendapatkan ada orang yang lebih banyak bicara daripada mendengar. Tapi perkataannya atau bicaranya  ‘asbun’  (asal bunyi),  ‘obes’  (omong besar)  tanpa ada bukti kerja yang nyata, bahkan perkataan yang disampaikan sangat menusuk:  suka menjelek-jelekkan orang, menghakimi dan menyakiti hati orang lain.  Padahal yang kita harapkan dalam kehidupan bersama adalah pembicaraan yang positif dan membangun kehidupan bersama. Sebab itu penting sekali melatih diri mendengar. Mengapa? Karena sering kita jumpai banyak masalah atau perselisihan terjadi sebagai akibat orang tidak mau mendengar:  orangtua marah terhadap anak karena nasihatnya tidak didengar, keluarga selalu cekcok karena suami atau isteri egois dan tidak mau mendengar pendapat pasangannya dan lain-lain.  Begitu juga tidak sedikit masalah yang tak terselesaikan dalam kehidupan pelayanan di jemaat dan masyarakat hanya karena masing-masing pihak tidak mau mendengar.  Kita  hanyamau didengar tapi tidak mau mendengar orang lain. Hari ini kita diingatkan bahwa mendengar adalah hal yang sangat penting baik untuk pertumbuhan iman maupun untuk menjaga relasi dengan orang lain. Firman-Nya: “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Pertajam pendengaran kita untuk mendengar lalu melakukan firman Tuhan dalam hidup.

Doa: Tuhan, hambamu sedia mendengarkan firrman dan hidup seturut kehendak-Mu. Amin.

Rabu, 11 Desember 2019                   

bacaan : Yesaya 8 : 23 – 9 : 6

(8-23) Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain. 2 (9-1) Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. 3 (9-2) Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. 4 (9-3) Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. 5 (9-4) Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. 6 (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Siapkan Hati, Songsong Raja Damai

Bulan Desember selalu spesial bagi orang Kristen, karena suasana Natal sangat terasa. Gema Natal malah lebih nyaring bunyinya dibandingkan perayaan minggu-minggu Advent. Meski hal tersebut sudah menjadi budaya turun-temurun, namun ada baiknya kita kembali menghayati pentingnya hal mempersiapkan diri menyambut hari kedatangan Sang Raja Damai (adventus). Persiapan itu adalah “hati” yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat dalam hidup kita. Jika masa-masa adventus ini dijalani dengan hati yang risau, sedih, kuatir, atau masih dipenuhi amarah dan dendam, maka tentunya tidak ada yang spesial dari suasana Natal yang bisa dirasakan, melainkan ibarat kita sedang berjalan dalam kegelapan tanpa terang yang bersinar untuk menerangi jalan. Menyiapkan hati harus juga dilandasi niat untuk membarui diri dan meninggalkan masa lalu yang kelam untuk berjumpa dengan Yesus Kristus Juru Selamat. Mata hati yang terbuka memandang Yesus akan lebih berarti dibanding mata jasmani yang memandang kemilau gemerlapnya persiapan natal, namun hati tak diliputi kedamaian. Bukalah mata hati kita untuk menerima damai Kristus hadir di dalam hidup, karena di situlah terpampang jalan penuh damai sejahtera yang tak berkesudahan.

Doa: Tuhan, hati kami terbuka untuk menyambut kehadiranMu yang          membawa damai. Amin.

Kamis, 12 Desember 2019                 

bacaan : Ibrani 12 : 12 – 17

12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; 13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. 14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. 15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. 17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Jadilah Pembawa Damai

Hidup damai selalu didambakan setiap orang. Siapa yang tak ingin hidupnya damai? Pastilah semua orang menginginkannya. Umumnya orang memandang kedamaian itu bila hidup aman dan tentram, kebutuhan sehari-hari tercukupi, sehat walafiat, dan jauh dari berbagai masalah. Namun, tahukah saudara, bahwa kedamaian itu tidak cukup hanya dimengerti atau dipahami, melainkan harus dirasakan. Di mana merasakannya? Tentunya di dalam hati. Manakala hati diliputi rasa kuatir, takut, patah semangat dan hilang harapan, maka kedamaian itu menjadi jauh dari diri kita; sebaliknya bila hati terasa tentram dan kuat, maka pastinya hidup ini terasa damai. Untuk memperolehnya maka kita harus lebih mendekatkan diri dengan Sang Raja Damai yaitu Yesus Kristus,  agar oleh Roh-Nya kita pun dimampukan untuk menjadi pembawa damai di mana saja kita berada. Hal paling penting dalam hidup kita adalah mampu berdamai dengan diri sendiri, sehingga kita pun mampu menerima diri kita apa adanya, menghargai diri kita sebagai anugerah Tuhan yang terindah, dan mampu menjadikan diri kita sebagai para pembawa damai di mana saja berada.

Doa:  Tuhan, jadikan kami pembawa damai-Mu. Amin. 

Jumat, 13 Desember 2019                     

bacaan : 2 Petrus 3 : 10 – 13

10 Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. 11 Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup 12 yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. 13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

Usahakanlah Untuk Hidup Kudus

Peristiwa gempa bumi, 26 September lalu, membuat banyak orang yang gelisah, galau dan merana (gegana) dengan adanya isu tentang patahan dan tsunami dahsyat yang akan terjadi di Maluku. Isu ini semakin merisaukan dengan ditemukannya “ikan-ikan laut dalam dan biota laut lainnya” yang terdampar mati di tepi pantai disertai “wa” yang beredar soal “hasil penelitian Geolog”, beberapa hari jelang gempa. Hal ini membuat banyak orang, termasuk tetangga saya, melakukan antisipasi dengan mengemasi surat-surat penting dan beberapa pasang pakaian, serta obat-obatan untuk diungsikan lebih dulu ke rumah saudara di daerah gunung. Yang lebih parah lagi ada yang tidur tapi “seng sono”. Namun ada juga yang tidak menghiraukan isu ini dan mencemooh tindakan “berlebihan” orang-orang yang “gegana” akibat isu tersebut.

Saudaraku, kondisi seperti ini juga terjadi dalam kehidupan umat pada zaman para Rasul saat menerima berita tentang kedatangan kembali Tuhan Yesus. Karena itu Petrus menasihati mereka, agar tidak ragu menghadapi berita kedatangan kembali Tuhan Yesus. “Hari itu” memang akan datang dan pada “hari itu” akan ada kehancuran bagi mereka yang hidupnya tidak berkenan kepada Allah (ay.11-12) tetapi ada pengharapan bagi mereka yang hidup sesuai kehendak-Nya, dimana IA akan datang sebagai RAJA DAMAI (ay 13). Karena itu saudaraku, di saat kita sedang merayakan adventus di minggu kedua ini, sekaligus menyikapi berbagai isu apapun itu, janganlah kita gelisah tetapi tetap waspada terhadap berbagai tanda alam dan terutama berusaha untuk hidup kudus agar kita kedapatan tak bercacat di hadapan Allah sehingga kita dapat menyongsong kedatangan Sang Raja yang akan membawa DAMAI bagi kita itu dengan penuh sukacita..

Doa: Tuhan, tolong kami untuk hidup kudus di hadapan-Mu. Amin.

Sabtu, 14 Desember 2019                 

bacaan : 2 Petrus 3 : 14 – 16

14 Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. 15 Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. 16 Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.

Bersih Diri, Siap Menyambut Tuhan Yesus

Tak lama Tuhan datanglah, bersiap dirimu. Sedia nanti datangNya dan nikmatNya penuh. Kudus dan adil adanya, setia tulus dan benar, dan Ia akan datanglah sebagai Sultanmu….

Hendaklah engkau jaga-jagalah, sedia lampu dengan minyaknya, karena dengan sekejap, kedengaranlah gegap, mempelai laki-laki datanglah…

Terdengar sayup-sayup pujian dari sekelompok anak muda yang sedang bernyanyi diiringi petikan gitar dan tepuk tangan.

Saya jadi termenung sesaat ketika mendengar lagu tersebut. Yah..! Kita hidup di masa penantian menyambut kedatangan Tuhan Yesus pada kali yang kedua. Saya sadar bahwa dalam penantian itu, kita perlu mempersiapkan diri dengan baik. Kita harus bersedia untuk membuka diri berdamai dengan Tuhan Yesus sebab Ia telah lebih dulu mendamaikan diri-Nya dengan kita. Berdamai dengan Kristus berarti menyesali segala perbuatan kita yang jahat, lalu mohon ampun dan belajar taat serta setia kepada-Nya. Dalam iman, kita meyakini bahwa Yesus Kristus sedang berjalan menjumpai kita, maka kita tidak boleh duduk diam menanti saja, melainkan harus bergegas menyambut Dia. Namun kita juga perlu pahami bahwa waktu antara kedatangan Kristus dan masa penantian itu adalah waktu kesabaran Allah. Karena itu kita harus menggunakan waktu ini dengan baik untuk bertobat dan memperbaiki diri. Sebab waktu ini adalah kesempatan kita untuk membersihkan diri, hati, pikiran, perasaan, dan bukan bersih-bersih rumah saja. Mintalah supaya Tuhan membersihkan hidup kita dengan Roh-Nya, sehingga di masa penantian ini, kita semua kedapatan sebagai keluarga yang siap menyambut kedatangan Tuhan Yesus dengan hidup bersih sehingga memancarkan kedamaian.

Doa: Tuhan, inilah keluarga kami yang siap menyambut kedatanganMu. Amin. 

*Sumber : SHK bulan Desember 2019, oleh LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *