Santapan Harian Keluarga (SHK) 19 – 25 April 2021
Senin, 19 April 2021
Kisah Para Rasul 20 : 7 – 12
MEMBANGUN KEBERSAMAAN HIDUP
Ciri hidup orang Kristen adalah berkumpul bersama, memecah-mecahkan roti, menasihati satu sama lain, saling menghibur dan menguatkan serta berdoa bersama. Hal itu pula yang dilakukan oleh Paulus dalam tugas pemberitaan Injil yang diembannya. Berkumpul bersama dan memecah-mecahkan roti merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam hidup orang percaya, termasuk keluarga kita. Sebab hal itu adalah tanda dari persekutuan hidup yang menghayati kehadiran Kristus dalam keluarga. Berkumpul dan makan bersama tidak hanya menggambarkan keutuhan dan keharmonisan hidup papa-mama dan anak-anak, tetapi terutama menampakkan penghayatan iman keluarga terhadap cinta kasih Kristus. Saat berkumpul dan makan bersama, orang tua dapat menasihati dan mengajar anak-anak tentang pentingnya hidup takut Tuhan. Anak-anak juga bisa menceritakan isi hati dan pengalaman mereka kepada papa-mama. Dengan begitu orang tua dan anak dapat saling menghibur dan menguatkan. Jika ada anak yang punya persoalan bisa dibicarakan bersama dan dicari jalan keluarnya. Sebab anak-anak zaman sekarang ini sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan, sahabat dan teman, sehingga gampang jatuh dalam sex bebas, narkoba, minuman keras, dan tindakan kekerasan. Jika hal itu dibiarkan maka hidup mereka terancam. Oleh karena itu, marilah kita mulai menata hidup keluarga kita, menetapkan waktu untuk berkumpul dan makan bersama, saling menguatkan dan berdoa bersama. Sebagai tanda kita menghayati cinta kasih Tuhan dalam hidup keluarga kita.
Doa: Tuhan, beri kami Roh dan agar kami dapat menghayati kasihMu melalui persekutuan makan bersama. Amin!
Selasa, 20 April 2021
Roma 5 : 12 – 21
KELUARGA YANG SALING MENGASIHI, TAAT DAN SETIA KEPADA TUHAN
Kita adalah orang-orang yang dibenarkan lewat Tuhan Yesus. Kesalahan dan dosa kita tidak lagi diperhitungkan, sebab Tuhan sudah membayarnya. Kalau Tuhan Yesus mengasihi kita dan membayar semua hutang-hutang kita, maka kita juga harus mengasihi Tuhan. Karena ketaatan dan kesetiaan Tuhan Yesus kepada Allah dan kasihNya kepada kita itulah maka Ia rela mengorbankan nyawaNya untuk keselamatan kita. Olehnya kita diajak bukan hanya mengasihi Tuhan Yesus saja, namun juga mesti taat dan setia kepadaNya, sekalipun ada banyak tantangan dan kesulitan yang harus kita hadapi. Sebab menjadi orang yang diselamatkan, tidak berarti hidup kita tanpa kesulitan. Justru dalam kesulitan kita menjadi kuat karena Tuhan selalu menyertai kita. Pertanyaannya, bagaimana cara mengasihi Tuhan Yesus serta taat dan setia kepadaNya? Yaitu dengan selalu rajin berdoa dan membaca Alkitab supaya kita mengenal kehendak Tuhan dan melakukannya. Sebab kita tidak cukup hanya tahu, tapi melakukan apa yang kita tahu itu sangatlah penting. Ada orang yang sangat rajin ke gereja juga rajin baca Alkitab, bahkan dia bisa menghafal ayat-ayat Alkitab dengan baik, tetapi di rumah dia sangat malas bekerja. Kalau papa/mama suruh dia untuk bekerja, dia marah-marah dan berkata kasar. Ini menunjukan bahwa dia tidak sayang kepada orang tua dan dia terus mengulang kesalahan yang sudah dibayar oleh Tuhan Yesus. Begitupun sebaliknya dengan papa dan mama yang suka bertengkar hanya masalah-masalah sepele. Jadi berhentilah berbuat jahat dan mulailah berbuat baik. Itulah cara hidup yang Tuhan kehendaki.
Doa: Tolong kami Tuhan supaya selalu mengasihi, taat dan setia kepada-Mu. Amin.
Rabu, 21 April 2021
Roma 6 : 1 – 4
MATI BAGI DOSA, HIDUP BAGI ALLAH
Ada pemahaman bahwa Kristus telah mati dan bangkit untuk menebus dosa-dosa, karena itu meskipun berbuat dosa kita senantiasa memperoleh keselamatan. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh lawan-lawan Paulus menanggapi pernyataan Paulus pada pasal 5:20 yang mengatakan “hukum taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”. Menurut pendapat mereka bahwa manusia berbuat dosa lebih banyak lagi agar mendapat anugerah lebih berlipat ganda lagi. Pendapat tersebut keliru dan sangat berbahaya, karena itu Paulus tegas menentangnya dengan mengatakan “sekali-kali tidak! Karena kita telah mati bagi dosa (ay.2) dan kita telah dibaptis dalam Kristus, melalui kematian-Nya (ay.3). Paulus mengingatkan orang Kristen asal Yahudi, bahwa keselamatan yang mereka peroleh bukan karena mempraktekkan hukum taurat tetapi merupakan kasih karunia Allah yang dinyatakan melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Kita-pun diharapkan dapat merespons kebaikan Allah dengan hidup benar dan taat melakukan kehendak Tuhan. Semua orang yang sudah menerima kasih karunia Kristus, harus hidup sebagai anak-anak Allah (Gal. 2: 20). Maksudnya adalah hidup menurut roh (kasih, sukacita, sabar, lemah-lembut, kesetiaan, kebaikan, penguasaan diri, dan sebagainya) dan bukan menurut keinginan daging (percabulan, kecemaran, hawa nafsu, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora, gila hormat dan sebagainya).
Doa: Tuhan tuntunlah kami untuk mematikan perbuatan dosa dalam hidup kami, dan pimpinlah kami hidup bagi Tuhan.
Kamis, 22 April 2021
Roma 6 : 5 – 9
HIDUP KARENA SALIB KRISTUS
Menurut Rasul Paulus, bahwa semua orang, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi telah jatuh ke dalam dosa melalui pemberontakan mereka kepada Allah (1:18-32; 3:9). Dan akibat dosa manusia berada di bawah penghukuman Allah (Roma 6:23). Akan tetapi Allah sungguh mengasihi manusia dan bersedia berdamai dengan manusia di dalam pengampunan-Nya. Ia rela menyerahkan Putra-Nya untuk mati di kayu salib. Kematian dan kebangkitan Kristus secara aktual berarti kita mengalami pengalaman yang serupa “Mati dan bangkit bersama Kristus” sebagai sarana untuk mempersatukan kita dengan Kristus (ay.5). Oleh sebab itu, Kematian dan kebangkitan Kristus memberi kita konsekuensi untuk mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Artinya, meninggalkan kehidupan yang lama (hidup didalam dosa) dan jangan lagi membiarkan hidup dikuasai oleh dosa (diperbudak oleh dosa). Dengan demikian, merayakan minggu-minggu sengsara, kematian dan Kebangkitan Kristus (paskah) hendaknya membawa perubahan baru dalam hidup kita. Perubahan itu dinyatakan melalui iman dan pengharapan kepada Kristus di dalam berbagai pergumulan dan persoalan hidup, khususnya di tengah-tengah situasi krisis hidup menghadapi pandemic covid 19 yang semakin menakutkan karena munculnya varian baru yang semakin berbahaya. Hal ini sangat berdampak terhadap kehidupan, kesehatan, pendapatan, dan sebagainya. Selain itu, menghadapi berbagai krisis hidup, hendaknya kita saling menopang dan berbagi seorang seorang terhadap yang lain agar keberlangsungan hidup tetap berjalan dengan baik. Tuhan menolong kita semua.
Doa: Tuhan, tolong kami untuk memuliakanMu melalui hidup yang taat, setia dan benar. Amin.
Jumat, 23 April 2021
Roma 6 : 12 – 14
PAKAILAH TUBUHMU BAGI KEMULIAAN ALLAH
Seorang pemuda memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman keras (sopi). Hal ini mengakibatkan ia jatuh sakit dan dibawa ke dokter. Dalam pemeriksaan tersebut, terjadi dialog antara dokter dan si pemuda tersebut: Dokter: saudara terlalu banyak minum sopi akibatnya terdapat gangguan pada hati (lever). Pemuda: Saya tidak mengerti penjelasan dokter. Dokter: (sambil mengambil gelas berisi sopi didalamnya ada cacing yang sudah mati), jika saudara terus minum sopi maka nasib saudara akan sama seperti cacing di dalam gelas ini. Pemuda: Dokter, anda keliru sekali! Justru mengkonsumsi sopi yang banyak maka cacing dalam perut saya akan mati dan saya akan tetap sehat. Perkataan si pemuda ini membenarkan kebiasaan buruk yang membahayakan kesehatan dan keselamatan dirinya. Ilustrasi ini mau mengatakan bahwa kita sulit untuk meninggalkan kebiasaan yang salah (dosa). Hal yang sama juga diperlihatkan oleh orang Kristen di Roma, dimana mereka memiliki kebiasaan menyerahkan anggota-anggota tubuh mereka kepada dosa; mereka mencemarkan tubuh, menyembah alah lain, kelaliman, keserakahan, kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, pemfitnah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak setia, tidak mengenal belas kasihan, dan sebagainya (Roma 1:18-32). Paulus menasihatkan orang-orang Kristen di Roma supaya berhenti menyerahkan anggota-anggota tubuh tetapi juga totalitas kehidupan kepada dosa karena kasih karunia Tuhan telah dilimpahkan. Perayaan Paskah Kristus mengingatkan bahwa kita sudah merdeka dari dosa karena itu jangan menjadi hamba dosa lagi, melainkan menjadi manusia baru didalam Kristus melalui pertobatan hidup.
Doa: Tuhan tuntunlah kami untuk mematikan perbuatan dosa dalam hidup kami, dan pimpinlah kami hidup bagi Tuhan. Amin.
Sabtu, 24 April 2021
2 Korintus 4 : 7 – 12
SEMAKIN DIBABAT, SEMAKIN MERAMBAT
Salah satu buku terkenal, berjudul “Semakin Dibabat Semakin Merambat” mengisahkan tentang penganiayaan yang dialami oleh para martir pada abad-abad pertama, ketika mereka dipaksa untuk berpaling dari imannya kepada Kristus, algojo-algojo dikerahkan untuk menyiksa mereka dengan berbagai cara, dari fajar hingga senja. Tidak hanya siksaan jasmaniah yang mereka alami tetapi juga batiniah; kehilangan atau kematian anak, orang tua, suami atau istri: yang peristiwanya sering kali terjadi di depan mata mereka sendiri. Namun para martir itu tetap dan semakin berpegang teguh pada imannya dan bahkan jumlahnya pun semakin bertambah. Pengalaman Penganiayaan karena iman kepada Kristus juga dialami oleh orang Kristen pada saat itu dan Paulus sendiri ketika ia melaksanakan tugas pemberitaan Injil yang dianggapnya sebagai harta yang indah yang dipercayakan Kristus kepadanya (ay.7). Dan akibat dari tugas tersebut, maka ia harus mengalami cemohan, caci maki, dibenci bahkan dipenjarakan. Paulus senantiasa mampu bertahan dan menjalaninya, karena Allah menganugerahkan kekuatan (kuasa) yang berlimpah-limpah kepadanya (ay.8-9). Paulus, memahami bahwa Allah tidak meninggalkannya sendiri; ketika ia jatuh ia bangun kembali, ketika ia kalah iapun tahu bahwa pada akhirnya ia tidak akan pernah kalah dalam perjuangan. Kematian dan kebangkitan Kristus menghadirkan kehidupan kekal, “tidak ada salib, maka tidak ada mahkota”. Orang percaya dipanggil untuk memberitakan injil Kristus kepada dunia dengan taat dan setia dalam keadaan bagaimana pun. Ingatlah Firman Tuhan: ”Aku Menyertai kamu senanantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28: 20).
Doa: Ya Tuhan, tinggallah didalamku dan kuatkanlah aku untuk memberitakan kabar baik bagi sesama, supaya orang melihat Engkau dan kekuatan-Mu dalam diriku, Amin.
Minggu, 25 April 2021
1 Yohanes 3 : 1 – 10
MENJADI ANAK-ANAK ALLAH KARENA KASIH KARUNIA
Di dalam dunia hukum dikenal istilah grasi, yakni hak prerogative seorang kepala negara untuk mengurangi hukuman, bahkan menghapuskan pelaksanaan hukuman pidana yang telah dijatuhkan oleh pengadilan kepada seseorang. Pemberian grasi dapat memberikan kesempatan kepada seseorang terpidana mati untuk tetap hidup. Demikian pula dengan penebusan Kristus, Allah memberikan grasi kepada manusia berdosa untuk hidup dan memperoleh jaminan keselamatan.Anugerah yang diperoleh manusia ini hanya semata-mata berdasarkan Kasih Allah kepada manusia berdosa, sehingga kita memperolah status baru sebagai anak-anak Allah (ay.1). Status atau kedudukan sebagai anak-anak Allah bukan berarti anak yang dilahirkan secara biologis (perkawinan antara Tuhan dengan seorang perempuan), melainkan karena iman di dalam Yesus Kristus (band. Galatia 3:26). Kita percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Melalui Status baru “hak istimewa” tersebut, maka penulis kitab 1 Yohanes menasehati kita untuk tidak hidup dan menjadi budak dosa lagi, karena mereka yang tetap hidup didalam dosa berarti dia menolak dan tidak mengenal Kristus (ay.6). Dan mereka yang tidak mengenal Kristus disebut sebagai anak-anak iblis.Ciri-ciri sebagai anak-anak iblis adalah, penyembahan berhala, perzinahan, tipu daya, iri hati, kekerasan, penindasan, ketidakadilan, dan sebagainya.Semua ini membuktikan bahwa gambar Allah yang ada didalam diri manusia benar-benar sudah rusak. Namun, oleh anugerahNya kita memperoleh hidup baru sebagai anak-anak Allah yang menghadirkan kasih, pengampunan, sukacita, damai sejahtera, rela berkorban, keadilan, kebanaran, mengasihi saudaranya.
Doa: Tuhan tuntunlah kami untuk mematikan perbuatan dosa dalam hidup kami, dan tuntunlah kami untuk menghadirkan kebenaran. Amin.

