fbpx

Santapan Harian Keluarga 24-29 Juli 2017

Sabtu, 29 Juli 2017

Bacaan: Roma 4 : 16-25
Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, — 
seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” — di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.  
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. 
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. 
Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. 
Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja, 
tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kita pun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,
yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.

IMAN SEPERTI PAKU

Mengapa paku yang kecil dapat menahan lukisan berat di dinding? Jawabannya adalah karena paku itu menancap kuat pada dinding/tembok. Demikian halnya jika kita memiliki iman yang kuat (mendalam) maka kita akan kuat menghadapi berbagai masalah atau cobaan yang berat dalam hidup kita. Jika iman kita menancap kuat pada Allah maka apapun beban dalam hidup yang kita alami atau betapapun beratnya beban hidup kita, kita akan tetap kuat, tetap teguh dalam pengharapan dan tidak akan tergoyahkan. Allah sebagai satu-satunya tempat kita bergantung, pasti selalu berpihak kepada kita. Keberpihakan Allah kepada orang yang beriman sangat nyata dalam kehidupan Abraham. Rasul Paulus mengatakan bahwa sekalipun Abraham mengetahui bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya kira-kira selah seratus tahun dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Namun terhadap janji Allah, ia tidak pernah bimbang. Abraham percaya bahwa Allah berkuasa melaksanakan apa yang telah Tuhan Allah janjikan. Dan Allah memperhitungkan iman Abraham, sehingga ia pun memperoleh anak yakni Ishak bahkan keturunnya terus menerus bertambah banyak seperti yang dijanjikan Allah. Rasul Paulus kemudian menegaskan iman Abraham dan apa yang diperhitungkan Allah kepadanya akan terjadi juga bagi kita, jika kita sungguh-sungguh percaya atau beriman kepada Tuhan Allah. Marilah kita beriman dengan sungguh-sungguh.
DOA: Tolong kami, Tuhan, agar tetap beruman kepada-Mu. Amin!

Jumat, 28 Juli 2017

Bacaan: Roma 4 : 13-15
Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. 
Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.

IMAN MENYATAKAN KEBENARAN

MAHATMA GANDHI adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India. Pada masa kehidupannya, banyak Negara menjadi koloni Britania Raya (Inggris). Penduduk di koloni-koloni itu mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri. Pada saat itulah Mahatma Gandhi terlibat aktif dalam gerakan kemerdekaan India. Gandhi tidak pernah menggunakan kekerasan dalam aksinya, tapi dengan aksi demonstrasi damai. Kata Gandhi: Bila kamu punya kebenaran, maka kebenaran itu harus ditambah dengan cinta, atau pesan dan pembawanya akan ditolak. Kebenaran memang bukan sekedar lawan dari kekeliruan yang merupakan objek dan pengetahuan tidak sesuai. Bagi Paulus, kebenaran ada karena berdasarkan pada iman. Tanpa iman, kebenaran tidaklah berarti apa-apa. Atau belum tentu merupakan sebuah kebenaran mutlak yang dikehendaki Allah. Apalagi sekarang ini sedang berkembang paham relativisme yang mempercayai bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, dan setiap orang dapat memiliki kebenarannya masing-masing. Dengan kata lain, seseorang bisa mengatakan bahwa itu adalah kebenaran menurutmu, namun menurutku kebenaran tersebut adalah berbeda. Memahami kebenaran seperti ini dalam iman seseorang kepada Tuhan Allah, tentunya tidaklah benar. Untuk itu, sudah seharusnya hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus, supaya Roh Kudus menolong kita untuk beriman dan menyatakan kebenaran yang dikehendaki Allah.
DOA: Tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu ya Tuhan supaya kami dapat menyatakan kebenaran. Amin!

Kamis, 27 Juli 2017

Bacaan: Roma 4 : 1-12
Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? 
Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.
Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” 
Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. 
Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: 
“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; 
berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” 
Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.
Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.
Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,  
dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat.

BAHAGIA KARENA DOSA DIAMPUNI

Setiap orang pasti ingin hidup bahagia. Bahkan beberapa orang rela mengorbankan apapun yang ia miliki hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Bahagia itu  bukan sekedar mendapatkan kekayaan, materi atau jabatan. Karena jika itu yang dicari, maka kebahagiaan pasti akan lenyap. Sebagai seorang Kristen, bahagia yang kita miliki adalah ketika dosa kita diampuni. Demikian ditegaskan oleh Paulus dalama nas bacaan kita pada ayat 7 dan ayat 8. Untuk itu, sudah seharusnya hidup kita jauh dari dosa. Sama seperti Abraham yang karena imannya membuat ia selalu taat kepada Tuhan dan tidak berbuat dosa hingga ia memperoleh berkat dari Tuhan. Iman, ketaatan yang membawa seseorang hidup jauh dari dosa dan memperoleh berkat terus menerus dari Tuhan terjadi juga pada Darrell Lee Waltrip, seorang pembalap mobil yang dijuluki “Jaws” atau hiu pembunuh. Waltrip selama mengikuti lomba selalu disponsori oleh salah satu perusahaan bir terkenal. Kehidupannya pun dipenuhi dengan alkohol dan mabuk. Pergumulannya bersama istri untuk memperoleh anak pun tidak pernah berhasil. Istri selalu mengalami keguguran. Namun ketika seorang pendeta datang kepadanya dan menasihatinya tentang gaya hidupnya yang menunjukkan ketidaktaatan kepada Tuhan, membuat ia sadar, bertobat dan kembali hidup setia kepada Tuhan. Ketaatannya kepada Tuhan kemudian membawanya pada kebahagiaan menjadi seorang bapak dengan lahirnya dua orang putrinya yang bernama Jessica dan Sarah.
DOA: Teguhkanlah iman kami Tuhan, supaya kami selalu taat kepada-Mu dan hidup jauh dari dosa. Amin!

Rabu, 26 Juli 2017

Bacaan : Roma 3:9-20
3:9 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, 3:10 seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.  3:11 Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. 3:12 Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. 3:13 Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. 3:14 Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, 3:15 kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. 3:16 Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, 3:17 dan jalan damai tidak mereka kenal; 
3:18 rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” 3:19 Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. 3:20 Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.
 

SEMUA MANUSIA BERDOSA

Dua orang pendosa mengunjungi seorang saleh dan meminta nasihatnya. “Kami telah melakukan kesalahan, apa yang harus kami lakukan agar diampuni?” Kata orang saleh itu: “Katakanlah kepadaku, perbuatan apa yang telah kamu lakukan, anak-anakku. “Pria pertama berkata, “saya melakukan suatu dosa berat dan mematikan.” Pria kedua berkata, “saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan.” Kata orang saleh itu: “Baiklah, pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa.” Pria pertama kembali dengan membawa batu besar. Pria kedua dengan satu tas berisi batu-batu kecil. Batu-batu itu jumlah dan besarnya berbeda. Tetapi memiliki ukuran berat yang sama. Jadi apapun yang dilakukan oleh seseorang yang disebut dosa atau perbuatan melawan kehendak Allah, semuanya sama. Dosa sebagai perbuatan melawan kehendak Allah harus disesali dan dijauhi apa pun bentuknya. Karena dengan penyesalan dan rasa malu, orang-orang percaya menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak memuliakan Allah. Orang-orang percaya diminta untuk menjalani hidup dengan takut akan Allah. Karena bila orang percaya takut akan Allah, maka dia akan menjauhi perbuatan-perbuatan jahat yang bertentangan dengan kehendak Allah. Bagi orang percaya, Hukum Kasih telah menjadi kekuatan hidup yang menuntun jalan hidup mereka. Mereka tidak lagi hidup dibawah tuntutan hukum taurat sebagai prasyarat seseorang menerima keselamatan.
Doa : Kami tidak ingin terus hidup dalam dosa. Ampunilah dan baruilah kami, ya Tuhan. Amin!

Selasa, 25 Juli 2017

Bacaan : Roma 2 : 12-16
2:12 Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa  tanpa hukum Taurat;  dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. 2:13 Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan 2:14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 2:15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. 2:16 Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi  dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus. 

JANGAN SOMBONG

Orang yang sombong rohani suka menghakimi dan mencela orang lain. Bahkan merasa diri paling pintar, paling benar dan suci. Suatu ketika seorang pengurus unit menegur seorang anggota jemaat setelah ia baru saja selesai memimpin ibadah. Kata pengurus unit tersebut: “Khotbah kamu sangat jelek.” Anggota jemaat itu pun bertanya: mengapa sangat jelek pak? Jawabnya: “karena isi khotbah kau jelek dan cara kamu membawakannya sangat tidak menarik.” Pernyataan pengurus unit yang sangat mencela ini menunjukkan bahwa ia sangat sombong. Ia merasa dirinya lebih baik dalam memimpin ibadah dari pada anggota jemaat dimaksud. Merasa diri lebih baik dari orang lainmerupakan ciri yang sama dengan orang-orang Yahudi dengan hukum Taurat mereka. Menurut rasul Paulus orang yang memiliki hukum taurat tidak lebih baik dari orang yang tidak memiliki hukum taurat jika mereka berbuat dosa. Dan Tuhan Allah hanya akan membenarkan orang yang taat kepada-Nya. Untuk itu sebagai orang percaya, kita juga tidak dapat menganggap diri lebih baik dan benar dihadapan Allah daripada orang lain. Jika tutur kata dan perbuatan kita belum sungguh-sungguh menunjukkan kebenaran tersebut. Karena itu kita harus selalu meminta tuntunan Roh Kudus, supaya kita tidak lagi hidup dalam dosa, melainkan taat pada Tuhan Allah dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Doa : Ya Tuhan, tolonglah kami untuk hidupsesuai dengan kebenaran Firman-Mu. Amin!

Senin, 24 Juli 2017

Bacaan : Roma 1 : 18 – 23

1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. 1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. 1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. 1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar

SENTUHAN KASIH YANG MEMULIHKAN

Seorang ibu guru gelisah dengan seorang murid laki-laki yang nampaknya tidak terurus. Rambutnya acak-acakan dan terlihat seperti tidak disisir selama beberapa minggu, bajunya kusut dan matanya bingung memandang ibu guru. Ia seakan-akan mau bilang : “Coba saja kalau marahi saya, pasti saya lawan.” Dia sama sekali tidak memperhatikan pelajaran yang berlangsung dikelas. Berbagai cara dilakukan ibu guru untuk menarik perhatiannya, namun ia mengabaikannya. Suatu saat ibu guru memberi tugas kepada anak-anak untuk menyelesaikan tugas matematika yang dikerjakan secara berkelompok. Awalnya sulit namun lama kelamaan ia mau bergabung dan terlibat bersama teman-temannya dan hasil yang diperolehnya pun baik. Sejak saat itu ia sangat aktif dalam kegiatan belajar bahkan penampilannya mulai berubah. Rambutnya disisir dengan rapi dan baju yang digunakannya juga bersih sehingga indah untuk dipandang. Kepedulian dan sentuhan hati ibu guru yang penuh kasih telah mengubahnya menjadi lebih baik. Kita juga sering melakukan berbagai kefasikan dan kejahatan dalam hidup ini seperti : kekerasan, kebohongan, penipuan, caci maki dsbnya, kita mengenal Allah tetapi tidak melakukan kehendak-Nya. Namun sentuhan kasih Allah yang hadir melalui kuasa Roh Kudus, terus menuntun kita agar kita belajar melakukan yang baik sehingga orang lain dapat mengalami kasih dan kebaikan Tuhan.

Doa : Ya Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu supaya kami saling menghibur. Amin!

by. LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *