Santapan Harian Keluarga, 18-24 Februari 2018
Minggu, 18 Februari 2018
bacaan : Markus 9 : 30-32
Pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus
30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; 31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” 32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
Yesaya 49 : 1-7
Hamba TUHAN sebagai terang di tengah-tengah segala bangsa
Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. 2 Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. 3 Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” 4 Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” 5 Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya–maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku–,firman-Nya: 6 “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” 7 Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa: “Raja-raja akan melihat perbuatan-Ku, lalu bangkit memberi hormat, dan pembesar-pembesar akan sujud menyembah, oleh karena TUHAN yang setia oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang memilih engkau.”
Yesus Penyelamat dan Penolong Sejati
Kalau kita disuruh memilih jalan hidup ini, maka hampir dapat dipastikan, tak seorang pun yang mau memilih untuk menderita. Semua orang pasti akan memilih jalan hidup yang senang, sukses dan bahagia. Tetapi yang namanya hidup sebagai manusia, tak dapat dipungkiri bahwa susah dan senang, derita dan bahagia adalah bagian dari sebuah kehidupan yang utuh. Ada saatnya seseorang itu mengalami hal-hal yang sulit dalam hidupnya dan ada saatnya pula seseorang itu mengalami hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan. Hal itu datang silih berganti dan itu sesuatu yang sangat manusiawi. Sebagai keluarga orang percaya yang mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamatnya, maka apapun bentuk dan kenyataan hidup yang kita alami, entah susah maupun senang, entah menderita atau bahagia, bukanlah kata akhir yang menentukan. Sebagaimana telah disaksikan oleh Alkitab, Kristus telah datang sebagai manusia dan telah mengorbankan diri-Nya sampai mati di kayu salib untuk membebaskan dan menyelamatkan kita semua dari hukuman dosa dan kematian. Sebab itu apa pun yang menjadi pergumulan hidup kita, seberat apapun persoalan yang kita hadapi, marilah kita percayakan seluruh hidup kita kepada Nya, Dialah Penyelamat dan Penolong kita yang sejati. Dia menjadi terang yang setia menerangi jalan hidup kita, agar dunia melihat dan menjadi percaya bahwa di dalam nama-Nya setiap orang memperoleh keselamatan.
doa : jadikan hidup kami alat ditanganMu untuk menyaksikan perbuatan keselamatanMu kepada sesama dan dunia ini, ya Kristus Sang Penebus dosa, amin
Senin, 19 Februari 2018
bacaan : Roma 11 : 25-36
Penyelamatan Israel
25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. 26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27 Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.” 28 Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. 29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. 30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, 31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. 32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. 33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! 34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? 35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? 36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Selamat Karena Kemurahan Hati Allah
Adakah pikiran Allah terselami oleh pikiran kita manusia? Adakah keputusan-keputusan Allah terselidiki oleh akal kita manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini gampang-gampang susah kalau Allah sendiri tidak menyingkapkannya kepada kita karena keterbatasan dan kelemahan kita sebagai manusia. Allah punya rencana yang indah dengan kehidupan kita semua juga kepada umat-Nya Israel. Karena ketegaran lsrael, bangsa-bangsa lain memperoleh kemurahan kasih karunia Allah dan oleh kemuarahan itulah, Israel pada akhimya juga diselamatkan karena sejak semula mereka telah ditetapkan sebagai umat pilihan Allah. lnilah rahasia Allah yang tak terselami oleh akal kita dan keputusan keputusan Allah yang tak terselidiki oleh pikiran kita. Rahasia ini hanya mau mengungkapkan tentang bagaimana Allah menyatakan kemurahan hatinya untuk menyelamatkan semua manusia dan dunia .ini sesuai kehendak-Nya yang bebas. Penderitaan dan pengorbanan Kristus menjadi jalan penggenapan atas seluruh karya keselamatan Allah tersebut. Sebab itu sebagai jawaban atas kemurahan Allah itu, marilah kita menjalani hidup dengan segala pergumulan didalamnya dengan tetap menggantungkannya pada kasih dan kemurahan Allah sehingga dengan iman kepada-nya kita menjadi orang-orang yang mundur untuk binasa tetapi yang terus maju karena percaya bagi Dialah Kemuliaan sampai selama-lamanya.
doa : terpujilah Engkau ya Allah yang oleh kasih dan kemurahan mu kami semua memperoleh keselamatan dan hidup dalam pengharapan. amin
Selasa, 20 Februari 2018
bacaan : Markus 9 : 33-37
Siapa yang terbesar di antara para murid
33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” 34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” 36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”
Merubah Cara Pandang
Banyak orang ingin menjadi terkemuka, terpandang, ternama dan terbesar. Sebab itu mereka berlomba-lomba untuk meraihnya, entah melalui studi, kerja dan berbagai usaha lainnya. Dan hal-hal seperti ini mirip dengan kekuasaan untuk memerintah dan menguasai orang lain. Hal ini juga yang diperlihatkan oleh para murid Yesus dan menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya memahami dan mengenal Yesus. Mereka masih dalam proses menjadi. Jalan Yesus adalah jalan menurun, jalan penderitaan, jalan salib dan kematian dan itu sangat bertentangan dengan idealisme para murid. Mengapa Yesus mengumpamakan seorang anak kecil? Yesus menghendaki bahwa menjadi murid Nya bukan mempersoalkan siapa yang terbesar tetapi bagaimana menjadi pelayan yang melayani dan bukan berkuasa dan memerintah. Para murid masih harus belajar banyak untuk meneladani hidup dan pelayanan Yesus bukan dari sudut pandang mereka melainkan dari cara dan rencana Allah. Terkadang kita pun demikian. Keinginan untuk menjadi yang terbesar dan berkuasa, sangat kuat sehingga mampu menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Apakah dapat dikatakan bahwa kita belum sepenuhnya mengenal dan percaya kepada Yesus? Penderitaan dan pengorbanan-Nya telah menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita semua untuk merubah cara pandang agar senantiasa melihat ke arah Yesus dengan mata iman kita sebagai umat yang melayani sebab untuk itulah tersedia bagi kita mahkota kemenangan.
doa : ajarlah kami untuk hidup dalam kerendahan hati dan melayani dengan sungguh Sebagaimana telah Engkau Kristus teladankan dalam hidupMu. amin
Rabu, 21 Februari 2018
bacaan : Roma 16 : 25-27
Segala kemuliaan bagi Allah
25 Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, –menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, 26 tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman– 27 bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.
Memandang dengan Mata Iman
Kristus telah menderita, mati dan bangkit untuk keselamatan kita semua. Dapatkah kita bayangkan, jika tidak demikian, bagaimana nasib hidup kita di dunia ini? Pasti akan berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan. Pengkhotbah bilang semuanya akan sia-sia, bagaikan menjaring angin. Tetapi syukur kepada Allah yang telah mengerjakan seluruh karya selamat-Nya di dalam Yesus Kristus, sehingga kita menjadi umat kepunyaan Nya dan hidup dalam kemenangan. Maka sudah sepantasnya kita memusatkan perhatian bahkan seluruh hidup kita kepada kehendak Allah. Hidup kita sudah dibeli dengan harga yang mahal dan lunas yakni oleh tubuh-Nya yang terpecahkan dan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib sekali untuk selamanya. Karena itu hanya kepada Aflah dalam Yesus Kristus, kita menyembah dan hidup dalam iman dan pengharapan. lnilah rahasia illahi yang disingkapkan bagi kita semua selaku umat-Nya, rahasia yang berabad-abad tersembunyi dan sekarang dinyatakan. Marilah kita berpegang teguh pada ajaran-ajaran-Nya, sambil hidup untuk memuliakan nama-Nya dan menjadi alat damai sejahtera agar dunia menjadi percaya dan memuliakan namaNya.
doa : terpujilah nama-Mu Ya Allah dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus yang telah menjadikan kami umat kepunyaanMu jadikanlah hidup kami alat damai sejahtera bagi sesama dan dunia ini. amin
Kamis, 22 Februari 2018
bacaan : Lukas 8 : 16-18
Perumpamaan tentang pelita
16 “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. 17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. 18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”
Jadilah Pelita yang Tetap Bersinar
Ketika malam tiba, kita membutuhkan alat penerang, entah sebuah lilin kecil sampai pada lampu listrik supaya kita tidak tinggal dalam kegelapan dan meraba-raba seperti orang buta. Karena kegelapan membatasi ruang gerak kita. Sebab itu betapa pentingnya lampu atgau lilin di kegelapan malam. Kalau terang itu mengibaratkan hidup kita sebagai umat percaya, maka terang itu harus diletakkan di atas kaki dian atau di tempat yang agak tinggi, agar cahayanya mampu menyinari lingkungan sekitar untuk menolong banyak orang dari terantuk dan jatuh. Dengan begitu maka hidup kita akan mendatangkan faedah dan manfaat bagi banyak orang. Bahkan ketika kegelapan itu identik dengan dosa, maka akan banyak orang tertolong dari jatuh ke dalam dosa. Itu berarti betapa bernilainya hidup sebagai anak-anak terang yang tidak hanya menyinarkan terang itu bagi diri kita sendiri, bagaikan menaruhnya di bawah tempat tidur, tetapi yang terus memancarkan cahayanya sehingga memungkinkan banyak orang tidak berjalan meraba-raba bagaikan orang buta tetapi dengan mata yang dicelikkan, mereka mampu melihat, memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang jahat. Jadikanlah hidup kita bagaikan pelita di malam gelap dengan terangnya yang terus bersinar, maka dunia pun akan bersinar terang dan memuliakan Allah Sang Terang itu sendiri.
doa : Tuhan jadikanlah hidup kami bagaikan Pelita yang terus bersinar amin
Jumat, 23 Februari 2018
bacaan : Ayub 10 : 1-7
Apakah maksud Allah dengan penderitaan?
“Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku. 2 Aku akan berkata kepada Allah: Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku. 3 Apakah untungnya bagi-Mu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik? 4 Apakah Engkau mempunyai mata badani? Samakah penglihatan-Mu dengan penglihatan manusia? 5 Apakah hari-hari-Mu seperti hari-hari manusia, tahun-tahun-Mu seperti hari-hari orang laki-laki, 6 sehingga Engkau mencari-cari kesalahanku, dan mengusut dosaku, 7 padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah, dan bahwa tiada seorangpun dapat memberi kelepasan dari tangan-Mu?
Pengharapan tidak pernah Mengecewakan
Suatu ketika bisa saja seseorang mencapai kejenuhan dalam hidupnya, karena berbagai persoalan dan pergumulan yang dihadapinya. Mereka menjadi putus asa dan hilang harapan. Apalagi kalau dituduh karena perbuatan dosa tertentu sehingga patut dihukum seperti kesaksian Alkitab di hari ini tentang Ayub. Ia seperti tidak merasa puas dengan berbagai penderitaan yang dialaminya yang disinyalir karena dosanya kepada Allah. Hal ini yang dituduhkan oleh teman-temannya. Padahal menurut dia, jalani hidupnya selalu lurus di hadapan Allah. Dia tidak berdosa dengan bibir mulutnya kepada Allah. Kita pun dalam hidup ini, ada saat-saat, ketika penderitaan, tantangan dan kesulitan serta penyakit dan berbagai hal lainnya datang silih berganti, bukan tidak mungkin kita pun punya sikap yang sama, kecewa, putus asa dan hilang harapan. Namun, apapun persoalan yang kita hadapi, seberat apapun beban-beban hidup yang harus kita pikul, haruslah kita yakin bahwa oleh penderitaan, pengorbanan dan kebangkitan Kristus, hidup kita sudah dibarui dan kita hidup dalam keselamatan dan kemenangan. Karena itu kita sudah harus melihatnya dari cara pandang dan perspektif yang baru, perspektif kemenangan sebagai anak-anak Allah. Jalanilah hari-hari hidup kita dengan tetap berpengharapan sebab di dalam Tuhan setiap pengharapan tidak pernah mengecewakan.
doa : ampunilah dosa kami dan baharuilah jalan hidup kami agar tetap berpengharapan di dalam Engkau ya Kristus Tuhan kami amin
Sabtu, 24 Februari 2018
bacaan : Markus 4 : 26-29
Perumpamaan tentang benih yang tumbuh
26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, 27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. 28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. 29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”
Iman yang Bertumbuh dan Berbuah
Ketika seseorang menanam sebutir benih jagung maka ia pasti berharap benih jagung itu akan bertumbuh dan berbuah, tetapi bagaimana benih itu bertumbuh ia tidak pernah tau. Pertumbuhan sebutir benih harus melewati proses alami yang bertahap yaitu, dari benih akan keluar tunas, keluar tangkai dan kemudian bulir, dan bulir semakin penuh isinya yang siap untuk dipanen. Tidak ada suatu pertumbuhan yang instan sebab harus melewati prosesyang panjang, itulah kehidupan. Itulah yang hendak disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Hal Kerajaan Allah adalah suatu proses pertumbuhan iman, yang menghasilkan buah – buah kehidupan. Pertumbuhan iman itu bukanlah instan tetapi sebuah proses yang melewati susah – senang, suka – duka, manis – pahit. Melewati proses itu kita dilatih, dididik, ditempa dan disempurnakan oleh Tuhan, melalui proses itu kita dibaharui oleh Tuhan, sehingga semakin hari semakin dewasa didalam iman, semakin mengenali cinta kasih Tuhan yang luar biasa. Oleh karena itu dibutuhkan kesabaran, ketekunan. Seringkali kita tidak memahami rencana Tuhan, kita memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita, padahal rencana Tuhan selalu indah pada waktunya. Bila saat ini doamu belum dijawab, tetaplah berdoa, sebab tidak ada doa yang tidak dijawab, seperti benih yang pasti akan tumbuh.
doa : Tuhan tolonglah kami untuk melewati proses pertumbuhan Iman amin
*Sumber : Santapan Harian Keluarga – LPJ GPM

