fbpx

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Agustus 2018

jemaatgpmsilo.org – AMBON

Minggu, 5 Agustus 2018

bacaan : 1 Petrus 2 : 11-17

Peringatan untuk hidup sebagai hamba Allah

11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Kebaikan Mengalahkan Kejahatan

Membalas kejahatan dengan kejahatan akan melahirkan kejahatan yang baru. Paulus katakan dalam Surat Roma 12 : 17 “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang“. Kebaikan yang dilakukan terus menerus akan menjadi gaya hidup yang akan menjauhkan kita dari segala fitnah dan niat jahat orang lain. Jika kita terbiasa berkata jujur maka sulit bagi orang lain untuk memfitnah kita sebagai pembohong. Jika kita terbiasa hidup setia sulit bagi orang lain untuk menjerumuskan kita untuk tidak setia. Membiasakan melakukan perbuatan baik ini mesti bermula dari dalam lingkungan keluarga. Dimulai dengan orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak-anak tentang melakukan perbuatan yang baik. Sebagai orang-orang yang telah dimerdekakan dalam Kristus, kita semua terpanggil untuk melakukan kebaikan dalam hidup. Sekalipun di tengah situasi hidup yang tidak mudah. Paulus katakan tunduklah kepada pemegang kekuasaan. Memang ini tidaklah mudah sebab situasi yang sekarang ini memberikan kepada kita gambaran tentang pemerintah atau orang-orang yang berkuasa yang juga mempergunakan kekuasaan mereka untuk melakukan kejahatan. Namun sekali lagi Paulus katakan dalam ayat 15 “Sebab inilah kehendak Allah. yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh“. Berbuat baik adalah kehendak Allah: supaya ketika orang lain melihat perbuatan baik kita, mereka mengenal siapa Allah yang kita sembah, yakni Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat: yang telah mengalahkan kejahatan dunia ini melalui  pengorbanan-Nya di Kayu Salib.

doa : Tuhan, ajarlah kami bersaksi tentang KebaikanMu bagi kami melalui perbuatan baik yang kami lakukan sehari-hari, amin

Senin, 6 Agustus 2018

bacaan : Keluaran 1 : 15-22

15 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: 16 “Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.” 17 Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. 18 Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: “Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?” 19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: “Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.” 20 Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. 21 Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga. 22 Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: “Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup.”

Biarkanlah anak-anak Hidup dalam Kemurahan Tuhan

Anak dalam keluarga adalah anugerah atau pemberian dari uhan Bahkan kitab Mazmur menyatakan bahwa anak adalah milik pusaka Allah (Maz 127.:3). Dalam Perjanjian Baru, Yesus katakan biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu…  Ada keluarga yang mendambakan kehadiran anak di dalam hidup rumah tangga. Mereka telah menikah bertahun-tahun tapi belum juga memiliki anak. Ada yang memiliki anak namun tidak merawat dan mengasihi anak-anak mereka dengan baik. Ada anak yang menjadi korban pukulan dan makian orang tua. Ada anak yang menjadi korban pelecehan seksual bahkan korban perkosaan. Ada anak yang ditelantarkan dan tidak mendapat haknya sebaqai manusia. Siapa yang bertanggung jawab bagj kelangsungan hidup anak-anak di dalam keluarga, di gereja dan masyarakat? Tentu menjadi tanggung jawab semua orang, baik orang tua, para pelayan dan pemerintah. Anak-anak pada masa Israel di Mesir merupakan target pembunuhan dari Firaun yang jahat ia memerintahkan para bidan, Sitra dan Pua yang menolong perempuan lbrani melahirkan untuk membunuh tiap anak-anak laki-laki yang lahir. Namun kedua bidan ini tidak melakukannya karena mereka takut kepada Tuhan dan akhirnya membiarkan tiap anak yang lahir untuk tetap hidup dan menikmati kemurahan Tuhan .. Memukul, memaki, menelantarkan dan mengabaikan hak, apalag, membunuh anak adalah tindakan kriminal yang salah di hadapan hukum maupun di h adapan Tuhan. Biarkanlah anak­ anak kita menikmati kebebasan mereka untuk berekspresi sesuai minat dan bakat, biarkanlah mereka mengejar cita-cita mereka dengan sukacita. Sebab merawat hidup anak dan membimbing mereka dengan penuh kasih adalah cara kita berinvestasi untuk masa depan keluarga, gereja dan bangsa ini.

doa : Tuntunlah kami ya Tuhan supaya mampu mencintai tiap anak dalam keluarga, gereja dan masyarakat dan merawat hidup mereka untuk masa depan yang lebih baik, amin

Selasa, 7 Agustus 2018

bacaan : Yeremia 35 : 1-11

Kesetiaan orang-orang Rekhab

Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia di zaman Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, bunyinya: 2 “Pergilah kepada kaum orang Rekhab, bicaralah dengan mereka dan bawalah mereka ke rumah TUHAN, ke dalam salah satu kamar, kemudian berilah mereka minum anggur!” 3 Maka aku menjemput Yaazanya bin Yeremia bin Habazinya beserta saudara-saudaranya dan semua anaknya, pendeknya segenap kaum orang Rekhab. 4 Aku membawa mereka ke rumah TUHAN, ke dalam kamar anak-anak Hanan bin Yigdalya, abdi Allah; itulah kamar yang di sebelah kamar para pembesar, di atas kamar Maaseya bin Salum, penjaga pintu. 5 Di depan anggota-anggota kaum orang Rekhab itu aku meletakkan piala-piala penuh anggur dan cawan-cawan, lalu aku berkata kepada mereka: “Silakan minum anggur!” 6 Tetapi mereka menjawab: “Kami tidak minum anggur, sebab Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami, telah memberi perintah kepada kami, katanya: Janganlah kamu atau anak-anakmupun minum anggur sampai selama-lamanya; 7 janganlah kamu mendirikan rumah, janganlah kamu menabur benih; janganlah kamu membuat atau mempunyai kebun anggur, melainkan haruslah kamu diam di kemah-kemah selama hidupmu, supaya lama kamu hidup di tanah, di mana kamu tinggal sebagai orang asing! 8 Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami dalam segala apa yang diperintahkannya kepada kami, agar kami tidak minum anggur selama hidup kami, yakni kami sendiri, isteri kami, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami; 9 agar kami tidak mendirikan rumah-rumah untuk kami diami, tidak mempunyai kebun anggur atau ladang serta benih, 10 melainkan kami diam di kemah-kemah dan taat melakukan tepat seperti yang diperintahkan kepada kami oleh Yonadab, bapa leluhur kami. 11 Tetapi ketika Nebukadnezar, raja Babel, bergerak maju melawan negeri ini, maka kami berkata: Marilah kita mengungsi ke Yerusalem, karena tentara orang Kasdim dan tentara orang Aram itu! Demikianlah kami diam di Yerusalem.”

Tetaplah Setia

Allah selalu punya cara untuk menolong umatNya. Ada saja yang dapat dijadikanNya sebagai media pembelajaran. Perjumpaan kita dengan orang lain, ataupun pengalaman hidup. Baik itu penderitaan ataupun juga kesukacitaan. Namun Allah menghendaki supaya kita tetap setia kepadaNya dalam keadaan sulit sekalipun. Menurut kamus Bahasa Indonesia setia artinya berpegang teguh pada janji, pendirian dsb. Berpegang teguh berarti tak mudah berpaling, atau melupakan apa yang menjadi janji, pendirian termasuk keyakinan atau kepercayaan. Kita dapat belajar dan kaum Rekhab keturunan Yonadab dalam bacaan ini yang sangat setia kepada janji leluhur mereka dengan menolak untuk meminum anggur. Allah membandingkan mereka dengan orang Israel (Yehuda) yang dalam keadaan susah melupakan apa yang menjadi janji Tuhan kepada mereka. Allah mau supaya orang Israel belajar tentang kesetiaan dari sikap hidup orang-orang Rekhab kepada leluhur mereka. Belajar tentang kesetiaan juga bisa dari orang lain, dari orang asing, dari orang tua, anak-anak ataupun sahabat. Sekali lagi, Allah dapat menjadikan siapa saja dan apa saja sebagai media pembelajaran kepada yang dikasihiNya. Allah mau supaya mereka tetap setia kepadaNya; kembalilah dari tingkah yang jahat, perbaiki hidup dan beribadahlah kepada Allah maka Ia akan memberikan tanah yang telah dijanjikanNya kepada orang Israel. Menjaga kesetiaan itu menjadi hal yang penting dalam hidup orang beriman. Bagaimana suami dan isteri menjaga keteguhan hati atas janji pernikahan yang telah diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaatNya. Bagaimana seorang pejabat menjaga janji atau sumpah jabatannya dengan bekerja sungguh-sungguh, atau seorang anak berjanji kepada orang tuanya untuk belajar dengan tekun dan seterusnya. Kesetiaan itu membawa berkat dan sukacita. Jadilah setia dalam tugas dan tanggung jawab pelayananmu.

doa : mampukanlah kami untuk setia mengerjakan tanggung jawab kami dan berpegang teguh pada iman kami kepadaMu, amin

Rabu, 8 Agustus 2018

bacaan : Yeremia 35 : 12-19

12 Pada waktu itu datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: 13 “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Pergilah dan katakanlah kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: Tidakkah kamu mau menerima penghajaran, yaitu mendengarkan perkataan-perkataan- 14 Memang perintah Yonadab bin Rekhab itu masih ditepati; ia telah memerintahkan kepada keturunannya, supaya mereka jangan minum anggur, dan sampai sekarang ini mereka tidak meminumnya, sebab mereka mendengarkan perintah bapa leluhur mereka. Aku sendiri telah berbicara kepada kamu, terus-menerus, tetapi kamu tidak mendengarkan Aku. 15 Aku telah mengutus kepadamu segala hamba-Ku, yakni para nabi, terus-menerus, mengatakan: Kembalilah kamu masing-masing dari tingkah langkahmu yang jahat itu, perbaikilah perbuatanmu, janganlah mengikuti allah lain untuk beribadah kepada mereka, maka kamu akan tetap diam di tanah yang telah Kuberikan kepadamu dan kepada nenek moyangmu. Tetapi kamu tidak mau memperhatikannya dan kamu tidak mau mendengarkan Aku. 16 Sungguh, keturunan Yonadab bin Rekhab menepati perintah yang diberikan bapa leluhurnya kepada mereka, tetapi bangsa ini tidak mau mendengarkan Aku! 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, Aku mendatangkan kepada Yehuda dan kepada segenap penduduk Yerusalem segala malapetaka yang Kuancamkan atas mereka; karena Aku telah berbicara kepada mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkan, dan Aku telah berseru kepada mereka, tetapi mereka tidak mau menjawab.” 18 Tetapi berkatalah Yeremia kepada kaum orang Rekhab: “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Oleh karena kamu telah mendengarkan perintah Yonadab, bapa leluhurmu, telah berpegang pada segala perintahnya dan telah melakukan tepat seperti yang diperintahkannya kepadamu, 19 maka beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Keturunan Yonadab bin Rekhab takkan terputus melayani Aku sepanjang masa.”

Iman timbul dari Pendengaran

Untuk mendengar minimal seseorang haus memastikan bahwa dua indranya harus berfungsi, yang pertama adalah telinga dan yang kedua hati. Sebab ada orang yang tuli tapi bisa mendengar dengan hatinya. Ada orang yang punya telinga untuk mendengar tapi ia menutup hatinya atau mengeraskan hatinya. Mendengar dengan telinga ataupun dengan hati memiliki tujuan agar apa yang didengar itu berdampak dalam hidupnya. Orang tua berbicara dan anak-anak mendengar dan mengikuti apa yang disampaikan oleh orang tua. Ada anak yang mendengar dan mengabaikan begitu saja apa yang disampaikan oleh orang tua: Atau ada suami dan isteri berbicara satu kepada yang lain tapi mereka tidak saling mendengarkan karena mereka berbicara dalam kemarahan. Artinya mendengar tidak hanya mendengar tapi harus melakukan apa yang di dengar itu. Yesus selalu berkata bahwa siapa bertelinga. hendaklah ia mendengarkan… Sebagai orang beriman, kita rindu mendengarkan suara Tuhan agar hidup kita semakin bermakna dan diberikati. Tapi apa jadinya hidup ini jika Allah terus menerus berbicara kepada kita tapi kita tidak mendengarNya. Maka bisa saja ada masalah dengan telinga kita atau dengan hati kita. Kita tidak mendengar Tuhan karena sibuk dengan pikiran kita sendiri. Kita tidak mendengar Tuhan karena tidak membuka hati kepada apa yang disampaikanNya. Akibat dari tidak mendengar suara Tuhan ini maka ada hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup. Memberi diri mendengar apa yang menjadi suara Tuhan, baik itu melalui pembacaan Firman Tuhan dan pemberitaanNya, maupun oleh nasihat dan didikan orang yang peduli dengan kita maka dengan sendirinya kita memberi diri diberkati oleh Tuhan. Paulus katakan dalam Roma 10:17 “Jadi iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan Firman Tuhan”.

doa : Ya Tuhan bukalah telinga dan hati kami untuk mendengar sabdaMu, dan hidup menurut kebenaran FirmanMu, amin

Kamis, 9 Agustus 2018

bacaan : Yeremia 38 : 1-13

Yeremia dimasukkan ke dalam perigi; ia tertolong oleh Ebed-Melekh

Tetapi Sefaca bin Matan, Gedalya bin Pasyhur, Yukhal bin Selemya dan Pasyhur bin Malkia mendengar perkataan yang tidak henti-henti diucapkan oleh Yeremia kepada segenap orang banyak itu: 2 “Beginilah firman TUHAN: Siapa yang tinggal di kota ini akan mati karena pedang, karena kelaparan dan karena penyakit sampar; tetapi siapa yang keluar dari sini mendapatkan orang Kasdim, ia akan tetap hidup; nyawanya akan menjadi jarahan baginya dan ia tetap hidup. 3 Beginilah firman TUHAN: Kota ini akan pasti diserahkan ke dalam tangan tentara raja Babel yang akan merebutnya.” 4 Maka berkatalah para pemuka itu kepada raja: “Baiklah orang ini dihukum mati! Sebab sebenarnya dengan mengatakan hal-hal seperti itu maka ia melemahkan semangat prajurit-prajurit yang masih tinggal di kota ini dan semangat segenap rakyat. Sungguh, orang ini tidak mengusahakan kesejahteraan untuk bangsa ini, melainkan kemalangan.” 5 Raja Zedekia menjawab: “Baiklah, ia ada dalam kuasamu! Sebab raja tidak dapat berbuat apa-apa menentang kamu!” 6 Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi milik pangeran Malkia yang ada di pelataran penjagaan itu; mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu. 7 Tetapi ketika didengar Ebed-Melekh, orang Etiopia itu–ia seorang sida-sida yang tinggal di istana raja–bahwa Yeremia telah dimasukkan ke dalam perigi–pada waktu itu raja sedang duduk di pintu gerbang Benyamin– 8 maka keluarlah Ebed-Melekh dari istana raja itu, lalu berkata kepada raja: 9 “Ya tuanku raja, perbuatan orang-orang ini jahat dalam segala apa yang mereka lakukan terhadap nabi Yeremia, yakni memasukkan dia ke dalam perigi; ia akan mati kelaparan di tempat itu! Sebab tidak ada lagi roti di kota.” 10 Lalu raja memberi perintah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, katanya: “Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!” 11 Ebed-Melekh membawa orang-orang itu dan masuk ke istana raja, ke gudang pakaian di tempat perbendaharaan; dari sana ia mengambil pakaian yang buruk-buruk dan pakaian yang robek-robek, lalu menurunkannya dengan tali kepada Yeremia di perigi itu. 12 Berserulah Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, kepada Yeremia: “Taruhlah pakaian yang buruk-buruk dan robek-robek itu di bawah ketiakmu sebagai ganjal tali!” Yeremiapun berbuat demikian. 13 Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.

Jangan Takut Melakukan Kebenaran

Mengatakan kebenaran selalu mengundang resiko bagi orang yang mengatakannya. Apalagi kebenaran itu diungkapkan di tengah orang-orang yang sudah mapan dan nyaman melakukan praktek ketidakbenaran. Dibenci, difitnah, ditolak, disingkirkan, dikucilkan adalah resiko-resiko yang selalu terjadi atas orang yang gemar mengungkapkan kebenaran. Pertanyaannya adalah dimanakah tempat orang-orang melakukan praktek-praktek ketidakbenaran itu? Tempatnya tentu terbuka. Bisa di tempat pekerjaan atau usaha, sekolah, jalan raya, pasar, rumah sakit bahkan di dalam keluarga. Tugas kita saat melihat orang-orang yang melakukan praktek yang tidak benar adalah mengungkapkan kebenaran itu dan memberi solusi dalam bentuk nasihat atau wejangan supaya orang-orang yang melakukan ketidakbenaran tersebut dapat bertobat. Tugas ini telah dilakukan oleh Yeremia. Yeremia secara konsisten menyatakan kebenaran Allah itu di hadapan Raja dan para pejabat yang sehari-hari bertugas dalam kerajaan. Ia dibenci oleh para pejabat kerajaan, karena terus melakukan koreksi atas hidup dan kepemimpinan yang diemban oleh mereka, bahkan atas kebenaran tentang musibah yang akan menimpa Yerusalem, ia dicap sebagai provokator. Ia juga akhirnya dimasukkan ke dalam perigi. Namun Tuhan punya banyak cara untuk melindungi orang-orang yang berani mengungkapkan kebenaran. Kehadiran Ebed-Melekh orang Etophia, adalah wujud dari penyertaan Tuhan atas Yeremia. Tuhan punya kehendak bebas untuk menentukan siapapun untuk menolong kita dalam masa-masa sulit asalkan kita mau hidup benar, dan orang-orang yang Tuhan utus tersebut dapat terus membangun hidup dengan kita. Orang-orang itu ada disekitar kita, entah itu suami, istri, anak-anak, rekan kerja atau siapapun. Karena itu, hiduplah benar dan nikmati penyertaan Tuhan yang sempurna.

doa: Tuhan ajarkan kami melakukan kebenaran, amin

Jumat, 10 Agustus 2018

bacaan : Yeremia 39 : 11-14

Perintah Nebukadnezar untuk melindungi Yeremia

11 Mengenai Yeremia, Nebukadnezar, raja Babel, telah memberi perintah dengan perantaraan Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, bunyinya: 12 “Bawalah dan perhatikanlah dia, janganlah apa-apakan dia, melainkan haruslah kaulakukan kepadanya sesuai dengan permintaannya kepadamu!” 13 Maka Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, beserta Nebusyazban, kepala istana, dan Nergal-Sarezer, panglima, dan semua perwira tinggi raja Babel, mengutus orang– 14 mereka menyuruh mengambil Yeremia dari pelataran penjagaan, lalu menyerahkannya kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan untuk membebaskannya, supaya pulang ke rumah. Demikianlah Yeremia tinggal di tengah-tengah rakyat.

Tuhan Merenda Masa Depan melalui Orang disekitar kita.

Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup kita selalu menuai kesedihan dan traumatik yang sangat mendalam. Sepertinya kita menjalani hidup tanpa daya dan semangat serta kehilangan rasa percaya diri. Itu juga yang dialami oleh orang-orang Israel, ketika Yerusalem, pusat kerajaan termashyur itu berhasil dihancurkan. Orang-orang Israel merasa kehilangan identitas sebagai orang-orang pilihan Allah, karena kota yang selalu dibangga-banggakan itu telah hancur dan dikuasai oleh  Babel di bawah kendali Raja Nebukadnezar. Jika saja dari awal mereka mendengarkan Yeremia dengan seruan kebenaran dan memilih untuk bertobat, maka pasti mereka akan terhindar dan musibah kehancuran tersebut. Namun yang menariknya adalah Yeremia mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Raja Nebukadnezar memerintakan kepala pasukan pengawal untuk melindungi Yeremia, memberikan rasa aman baginya dan kemudian membebaskannya pulang ke rumah. Proses sampai Yeremia dibebaskan pulang ke rumah itu pun dilakukan juga oleh sejumlah perwira tinggi raja Babel dan Gedalya bin Ahikam bin Safam. Banyak sekali orang-orang yang teriibat dalam keselamatan Yeremia saat peristiwa kehancuran Yerusalem. Apakah kita juga selalu merasakan kehadiran orang-orang tertentu untuk membantu kita dalam situasi yang paling kritis? Apakah kita pemah merenungkan bahwa itu cara Tuhan mendong kita? Ataukah malah kita mengatakan bahwa itu hanya kebetulan? Dengan belajar dari teks Alkitab di hari ini, kita semakin sadar bahwa orang-orang yang berada di sekitar kita pun dapat berkontribusi baik dan positif untuk kita. Mereka diutus Tuhan untuk melengkapi kita. Karena itu, bangunlah relasi yang baik, hiduplah mengasihi dan binalah persekutuan yang benar.

doa : terima kasih Tuhan untuk orang-orang yang Kau utus untuk melengkapi hidup kami. jarkan kami membangun relasi yang harmonis dan mengasihi mereka, amin

Sabtu, 11 Agustus 2018

bacaan : Yeremia 39 : 15-18

Janji kepada Ebed-Melekh bahwa ia akan dilepaskan

15 Selagi Yeremia masih terkurung di pelataran penjagaan, firman TUHAN datang kepadanya, bunyinya: 16 “Pergilah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, firman-Ku terhadap kota ini akan Kulaksanakan untuk kemalangan dan bukan untuk kebaikannya, dan semuanya itu akan terjadi di depan matamu pada waktu itu juga. 17 Pada waktu itu juga, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melepaskan engkau, dan engkau tidak akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang yang kautakuti, 18 tetapi dengan pasti Aku akan meluputkan engkau: engkau tidak akan rebah oleh pedang; nyawamu akan menjadi jarahan bagimu, sebab engkau percaya kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN.”

Tetaplah Kerjakan Kebaikan

Kebaikan itu selalu berbuah manis. Walau mengerjakan kebaikan itu tidaklah mudah, sebab butuh pengorbanan. Pengorbanan itu tidak hanya pada aspek materi, melainkan juga waktu dan perasaan. Itulah jalan kebaikan yang selalu diawali dengan pengorbanan namun berakhir dengan sukacita dan kesuksesan. Fakta membuktikan banyak orang ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, tapi tidak mau melakukan kebaikan bagi sesamanya. Selain itu, perhitungan untung-rugi selalu mewarnai pengambilan keputusan untuk melakukan kebaikan. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa kebaikan yang kita perbuat itu haruslah dilandaskan pada kesadaran bahwa kita adalah orang-orang yang telah mengalami kebaikan dari Tuhan dan tugas kita adalah meneruskan kebaikan Tuhan itu kepada sesama dan ciptaan Tuhan lainnya. Jika kesadaran itu sudah dipahami dengan baik, maka orang tidak akan terjebak pada perhitungan untung-rugi atau apa yang bakal diperoleh sebagai imbalan dari tindakan kebaikan yang diperbuatnya. Tindakan kebaikan yang dilakukan oleh Ebed-Melekh dalam menyelamatkan Yeremia dari perigi, diperhitungkan oleh Tuhan sebab ia melakukannya murni sebagai bentuk belas kasihnya terhadap Yeremia tanpa memperhitungkan apapun yang bakal ia terima dari Yeremia. Karena itu, Tuhan memerintahkan Yeremia untuk menyampaikan kepada Ebed-Melekh bahwa dirinya akan terlepas dari tekanan yang berat itu dan Tuhan menjaminkan keselamatan kepadanya. Kebaikan memang selalu berbuah manis. Tetapi kita tidak boleh mengingat kebaikan yang kita perbuat untuk seseorang dan menjadikan itu sebagai ukuran untuk mendapatkan kebaikan setimpal darinya. Lakukan saja kebaikan dan bebas dari motif apapun. Biarkan Tuhan menilai ukuran kebaikan kita melakukan segala sesuatu bagi kita atas kehendak bebas Tuhan.

doa : Tuhan, jadikan kami alat kebaikanMu di mana saja. Amin

*sumber : SHK LPJ-GPM bulan Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *