[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 23 September 2018

bacaan : Matius 25 : 14 – 30

Perumpamaan tentang talenta

14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. 15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. 16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. 17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. 18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. 19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. 20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. 21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. 23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. 25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! 26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? 27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. 28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. 29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. 30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Pelipatgandaan Talenta, Tanda Kehidupan

John F. Kennedy, presiden ke-35 Amerika Serikat dalam kepemimpinannya telah menjadikan Amerika Serikat sebagai negara pertama yang mendaratkan warganya di bulan. Apa yang menjadi buah pemikiran dan tindakan Kennedy merupakan hasil dari kemajuan berpikirnya. Untuk itu, Kennedy mengatakan kata bijak ini kepada dunia: “Manusia tidak memiliki talenta yang sama, tapi kita memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan talenta kita. Kennedy menegaskan aspek daya dorong untuk mengembangkan talenta sebagai hakikat talenta itu sendiri. Hakikat dimaksud sangat jelas ditegaskan dalam nas bacaan kita bahwa talenta merupakan pemberian Allah atau kekuatan dan harus dilipatgandakan. Jika talenta tidak mengalami pelipatgandaan, maka hakikat talenta sesungguhnya telah hilang dan berubah menjadi suatu hal atau barang yang sifatnya mati. Karena itu kepada hamba ketiga, tuannya membicarakan tentang talenta tidak lagi dikatkan dengan kata “perkara”, melainkan dengan kata “uang”. Hal ini berarti bahwa talenta dalam hakikat yang sesungguhnya menunjukkan adanya keberlangsungan hidup dan kemajuan kehidupan. Salah satu sikap yang tepat untuk memajukan kehidupan tersebut yakni dengan melipatgandakan talenta secara bertanggung jawab. Jika seseorang bertanggung jawab melipatgandakan talentanya, maka dengan sendirinya ia tahu bersyukur kepada Tuhan, taat, tekun dan menjadi seorang pekerja keras yang penuh inovasi serta komitmen. Ruang pelipatgandaan talenta tidak hanya terjadi dalam pelayanan gereja atau masyarakat, tapi juga harus terjadi di tengah-tengah keluarga kita. Sebab keluarga dapat menjadi penyokong utama terjadinya pelibatgandaan talenta.

Doa:      Ya Tuhan, tolonglah kami untuk setia melipatgandakan pemberianMu. Amin.

Senin, 24 September 2018

bacaan : 1 Raja-Raja 2:1-4 & 1 Korintus 16:13-18

Pesan Daud yang terakhir sebelum meninggal
Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya: 2 “Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. 3 Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, 4 dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.

1 Korintus 16:13-18

13 Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! 14 Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih! 15 Ada suatu permintaan lagi kepadamu, saudara-saudara. Kamu tahu, bahwa Stefanus dan keluarganya adalah orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya, dan bahwa mereka telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus. 16 Karena itu taatilah orang-orang yang demikian dan setiap orang yang turut bekerja dan berjerih payah. 17 Aku bergembira atas kedatangan Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus, karena mereka melengkapi apa yang masih kurang padamu; 18 karena mereka menyegarkan rohku dan roh kamu. Hargailah orang-orang yang demikian!

Jadilah laki-Laki Kuat Yang Takut Tuhan

Anda kenal Hulk Hogan? Sosok populer bertubuh besar penuh otot ini rasanya tidak asing bagi kita. Ia pernah dijuluki sebagai pria terkuat di dunia, setelah ia berhasil mengangkat dan membanting Andre the Giant (Andre sang raksasa), pegulat bertubuh super besar dengan berat lebih dari 300 kg pada pagelaran Wrestlemanis III. Tentu merupakan kebanggan besar bagi seorang pria jika ia diakui sebagai sosok yang kuat. Tetapi, apakah dengan demikian kita semua harus membentuk otot-otot kita hingga membongkah seperti Hulk Hogan? Apakah agar diakui kuat, kita harus menjadi pegulat,  petinju dan sebagainya? Tentu tidak! Tapi kenyataannya ada begitu banyak pria yang menyalah-artikan defenisi mengenai kuat ini dengan terus memamerkan tenaganya, meski dengan cara yang salah. Mengancam orang lain, main pukul sembarangan, bahkan menjadi sosok monster di rumah. Mereka mengira bahwa dengan berlaku keras dan kasar dirumah, mereka bisa mendapat pengakuan dari isteri dan anak-anak bahwa mereka adalah pria kuat. Mereka mengira bahwa jika isteri dan anak gemetar ketakutan bahkan ketika mendengar suara langkah kaki saja, itu menunjukkan bahwa mereka sudah berkuasa. Sesungguhnya tidaklah demikian!!! Laki-laki yang kuat menurut firman Tuhan adalah laki-laki yang mengerti akan kekuatan yang diberikan Allah kepadanya, dan tahu bagaimana mempergunakan itu, memaksimalkan seluruh potensi dan talenta yang telah diberikan Tuhan untuk menggenapi tujuan mengapa ia diciptakan. Karena itu, jadilah laki-laki kuat yang takut Tuhan, yang dapat terus berperan sebagai imam, rasul dan nabi dalam keluarga.. HBD Laki-Laki GPM, Tuhan Berkati Selalu!!!

Doa : Tuhan, jadikanlah kekuatan kami untuk menggenapi maksud-maksud-Mu. Amin!

Selasa, 25 September 2018

bacaan : Keluaran 35 : 30 – 35

Pengangkatan Bezaleel dan Aholiab

30 Berkatalah Musa kepada orang Israel: “Lihatlah, TUHAN telah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, 31 dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, 32 yakni untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; 33 untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan yang dirancang itu. 34 Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. 35 Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu.

Sumber Kehidupan adalah Takut Tuhan

Sebuah anugerah yang luar biasa ketika kita dapat bekerja. Satu pekerjaan saja sudah merupakan anugerah besar apalagi jika lebih. Itu adalah berkat dari Tuhan yang harus kita syukuri. Yang menarik adalah, bukan hanya Tuhan memberikan pekerjaan, tetapi kita diperlengkapi pula dengan banyak talenta dan karunia, keahlian dan pengertian, sehingga kita dimampukan menjalankan pekerjaan kita dengan baik dan berhasil. Artinya, ketika Tuhan memberikan kita berkat untuk bekerja bagi Tuhan dan sesama, Tuhan telah memperlengkapi kita terlebih dahulu dengan bekal yang diperlukan untuk mengelola segala yang  dipercayakan kepada kita agar kita dapat melakukan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Karena itu, bersyukurlah atas setiap pekerjaan yang kita miliki, bersyukurlah atas  kepercayaan yang Tuhan beri, bersyukurlah jika ada pekerjaan yang  bertumpuk atau yang berat sedang menanti untuk dikerjakan, karena Tuhan selalu menyediakan kesanggupan bagi kita untuk melakukannya. Bukan dengan mengeluh atau bersungut tetapi dengan kesungguhan   hati dan penuh rasa tanggungjawab.

Kepada Bezaleel dan Aholiab, Tuhan memberikan keahlian dalam hati mereka, terlebih karena mereka merespons panggilan Tuhan dengan sikap hati yang rela untuk melayani. Tuhan juga memenuhi mereka dengan Roh-Nya sehingga bukan hanya keahlian, mereka juga diberikan pengertian dan pengetahuan. Saudaraku, tidak hanya Bezaleel dan Aholiab, tetapi kepada saudara dan beta, Tuhan juga menganugerahkan karunia dan talenta ditambah hati yang rela untuk menjadi bekal melayani Tuhan dan sesama secara maksimal. Wujudkan yuk….

Doa: Mampukanlah kami untuk memperlabakan talenta yang kami miliki demi kebaikan banyak orang! Amin.

Rabu, 26 September 2018

bacaan : Kisah Para Rasul 16 : 13 – 18

Paulus di Filipi

13 Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ. 14 Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. 15 Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya. 16 Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. 17 Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.” 18 Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: “Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga keluarlah roh itu.

Bertumbuh Kearah Kepenuhan Kristus

Hidup sebagai wanita yang dikenal sebagai “Business Women”, tidak membuat Lidia tumbuh menjadi wanita yang licik, tidak punya waktu untuk keluarga, menganggap dirinya lebih penting dari yang lain, mau menang sendiri, dan tidak peduli terhadap Tuhan. Sebaliknya, Paulus menorehkan nama Lidia sebagai salah satu wanita bijak yang mengejar Tuhan dan patut diteladani. Ada dua teladan yang ditunjukkan oleh wanita bijak ini:

  • Memiliki Kehidupan Yang Berkenan Kepada Tuhan

Tercatatnya nama Lidia di Alkitab, yang didukung oleh citra diri yang baik menunjukkan ia adalah wanita yang berkenan di hati Tuhan. Ciri-ciri orang yang berkenan kepada Tuhan adalah: memiliki sikap yang lurus dan respons hati yang benar; ketaatan kepada Tuhan merupakan prioritas di dalam hidupnya. Ia mengerti bahwa ‘good idea’ atau ‘ide baik’ belum tentu adalah ‘God’s idea’ atau ‘ide Tuhan’, dan Lidia memilih untuk taat kepada ‘God’s idea’, yaitu dengan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya; di samping itu Lidia juga taat melakukan yang benar menurut Tuhan dengan memberi dirinya dibaptis.

  • Memiliki Kerinduan Untuk Bertumbuh

Lidia menyendengkan telinganya kepada pengajaran yang diberikan Paulus. Setelah memberi dirinya untuk dibaptis, Lidia mengajak seisi rumahnya untuk mengikuti jejak imannya. Rumah Lidia juga terbuka bagi para pengajar dan pemberita Injil. Semua itu menunjukkan bahwa Lidia taat dan rindu bertumbuh ke arah kepenuhan Kristus. Pertumbuhan rohani seseorang dipengaruhi oleh seberapa rindu ia mengenal, menggali firman, serta melakukannya sebagai gaya hidup setiap hari. Dari Lidia kita belajar sebagai keluarga Kristen untuk selalu mengejar pertumbuhan ke arah kepenuhan Kristus.

Doa: Tuhan, tuntunlah agar kami terus bertumbuh ke arahMu. Amin.

Kamis, 27 September 2018

bacaan : Markus 4 : 1 – 20

Perumpamaan tentang seorang penabur
Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 3 “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” 9 Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. 11 Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, 12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” 13 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? 14 Penabur itu menaburkan firman. 15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. 16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. 18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

Taburlah Kebaikan Dalam Kata dan Perbuatan

Hampir setiap hari dalam seminggu, kita menikmati persekutuan-persekutuan beribadah di lingkup jemaat. Bahkan jika kita terbiasa mengawali hari dengan berdoa dan membaca Alkitab, maka dipastikan kita mengalami sebuah perjumpaan dengan Tuhan secara intensif. Artinya bahwa setiap saat kita punya ruang untuk menikmati firmanNya dan firman itu harus dihidupkan terus menerus dalam kata dan perbuatan kita, bukan hanya disimpan di dalam akal kita saja. Tempat yang paling pertama dan efektif untuk menghidupkan firman Tuhan itu adalah keluarga sebab keluarga adalah cermin suatu masyarakat. Jika dalam keluarga sudah terpola hidup teratur, penuh kekeluargaan dan saling mengasihi, maka itu akan berdampak dalam hidup di masyarakat. Sehingga dalam perjumpaan dengan siapapun di masyarakat luas, firman itu akan keluar dalam bentuk kata-kata yang sopan, relasi yang sehat dan juga teladan kebaikan secara konkrit. Firman itu juga akan dihidupkan saat diberi tanggung jawab di tempat pekerjaan, tempat usaha dan bahkan di dalam pelayanan gereja. Karena itu, hendaknya setiap orang sadar bahwa tempat di mana ia berpijak sesungguhnya adalah tempat di mana firman Tuhan harus ditunjukkan secara konkrit. Ini yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan tentang penabur. Kita semua adalah penabur dan kita jugalah yang harus memastikan bahwa apakah yang ditabur itu hidup, bertumbuh dan berbuah. Caranya: rawatlah apa yang ditabur itu dengan doa, agar kata dan perbuatan kita tetap seirama. Dengan demikian, kita akan mengalami pertumbuhan dalam Tuhan, dan tanpa sadar setiap orang yang hidup bersama kita akan merasakan kehadiran Tuhan.

Doa: Ajarlah kami untuk menjaga keseimbangan antara kata dan perbuatan agar apa yang ditabur dapat berbuah. Amin.

Jumat, 28 September 2018

bacaan : Keluaran 35 : 20 – 29

20 Lalu pergilah segenap jemaah Israel dari depan Musa. 21 Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. 22 Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN. 23 Juga setiap orang yang mempunyai kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba, datang membawanya. 24 Setiap orang yang hendak mempersembahkan persembahan khusus dari perak atau tembaga, membawa persembahan khusus yang kepada TUHAN itu, dan setiap orang yang mempunyai kayu penaga membawanya juga untuk segala pekerjaan mendirikan itu. 25 Setiap perempuan yang ahli, memintal dengan tangannya sendiri dan membawa yang dipintalnya itu, yakni kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus. 26 Semua perempuan yang tergerak hatinya oleh karena ia berkeahlian, memintal bulu kambing. 27 Pemimpin-pemimpin membawa permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada, 28 rempah-rempah dan minyak untuk penerangan, untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian. 29 Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan–mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN.

Kerjasama Yang Baik Membuahkan Kebaikan

Kini kita ada dalam era perkembangan dunia yang pesat. Setuju atau tidak, era ini membutuhkan sebuah kerjasama. Kita tak dapat berkata bahwa kita bisa bekerja sendiri karena kita punya uang dan kekuatan. Sekalipun sudah tersedia banyak kemudahan, seperti perangkat teknologi, tetapi kecanggihan teknologi tidak dapat meniadakan peran kerjasama yang saling melengkapi. Contoh, dalam satu keluarga. Jika dalam suatu pekerjaan, masing-masing anggota keluarga melakukan perannya, maka pekerjaan itu selesai dengan cepat. Itu artinya semua orang punya potensi untuk melakukan tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya dan potensi itu tentunya berdampak untuk kebaikan bersama. Jadi untuk melakukan kebaikan, kita tidak perlu menunggu ada uang atau jabatan. Kita bisa melakukannya dari hal-hal yang paling sederhana dalam hidup kita dan kita meletakkannya dalam bingkai kerjasama. Kenapa begitu? Supaya kita tidak menepuk dada dan merasa diri hebat atas kebaikan yang kita buat, melainkan kita sadar bahwa kebaikan itu dapat dilakukan karena ada ruang yang disediakan dan ada orang lain yang terlibat dan melengkapi kita. Fakta ini terlihat dalam pekerjaan mendirikan Kemah Suci seperti yang nampak dalam Keluaran 35:20-29. Laki-laki, perempuan, pemimpin dan umat membawa sesuatu yang ada pada mereka untuk dipersembahkan bagi pembangunan Kemah Suci. Suatu kerjasama yang baik untuk menyelesaikan pembangunan Kemah Suci sebagai tempat peribadahan umat. Uluran tangan mereka membuktikan bahwa mereka memberdayakan diri untuk kebaikan banyak orang. Pesan ini penting sebab setiap orang dikaruniakan potensi. Perlabakanlah potensi itu untuk kebaikan bersama.

Doa: Ya Yesus, Hikmati kami untuk melabakannya potensi yang Kau beri dalam kerjasama demi kebaikan bersama. Amin.

Sabtu, 29 September 2018

bacaan : Roma 12 : 3 – 8

3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. 4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, 5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. 6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Indahnya Keragaman Talenta

Setiap orang telah diberikan talenta oleh Tuhan sejak lahir. Soalnya adalah apakah kita mengenal dan mengelolanya untuk kepentingan banyak orang atau tidak. Kenyataan membuktikan bahwa ada banyak orang yang diberi talenta. Dengan talenta itu ia dapat membangun hidupnya dan orang di sekitarnya, namun ia tidak melihatnya sebagai anugerah untuk menghasilkan sesuatu yang berguna baginya dan orang lain. Mari kita lihat saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus (cacat). Dalam keadaan fisik yang serba terbatas, mereka bisa mengenal talenta dalam diri mereka dan berusaha mengelolanya bagi kelangsungan hidup mereka dan orang-orang di sekitar mereka.  Banyak kreatifitas yang mereka hasilkan, yang membuat mereka bisa terus bertahan di tengah tekanan hidup yang keras. Intinya semua orang punya talenta dan sekarang kenalilah talenta itu sebelum kita tua, agar kita dapat memanfaatkannya bagi orang lain. Salah satu hal yang harus kita sadari yaitu Allah memberi talenta kepada kita supaya kita membuat hidup ini menjadi lebih indah dan lengkap, lalu saling melengkapi. Kita perlu tahu bahwa pada kita ada bagian lemah yang dapat dikuatkan oleh sisi kuat yang ada pada orang lain, dan sebaliknya ada sisi lebih kita yang dapat digunakan untuk melengkapi sisi lemah orang lain. Jadi jangan ada yang sombong di antara kita. Mari kita saling memberi dan menerima dengan tulus. Tempatkan Tuhan sebagai tujuan dari sebuah karya melengkapi yang kita lakukan pada seseorang. Sehingga kita terhindar dari sikap menyombongkan diri lalu memuliakan Tuhan dengan kelebihan kita. Mulailah membangun hidup yang saling melengkapi itu dari dalam keluarga kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk  memberdayakan talenta yang Tuhan beri demi kepentingan banyak orang. Amin.

*sumber : Santapan Harian Keluarga LPJ – GPM bulan September 2018