[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 30 September 2018

bacaan : Mazmur 91 : 1 – 16

Dalam lindungan Allah

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa 2 akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” 3 Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. 4 Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. 5 Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, 6 terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. 7 Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. 8 Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. 9 Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, 10 malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; 11 sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. 12 Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. 13 Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga. 14 “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. 15 Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. 16 Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”

Berlindunglah Pada Tuhan

Kita sering dihadapkan dengan kejutan. Kita tidak mengira bahwa ada sesuatu yang akan terjadi, kecuali jika kita merencanakannya. Jika kejutan itu sesuatu yang membahagiakan, maka kita bersukacita dan menyebutnya sebagai berkat dari Tuhan. Tetapi bagaimana jika kejutan itu berupa kemalangan, sakit, kecelakaan dan tantangan lainnya? Apakah kita berbahagia dan berkata bahwa itu juga berkat dari Tuhan? Hanya mereka yang berlindung pada Tuhan saja yang bisa berkata begitu. Sebab begitulah cara Tuhan menunjukkan kehebatannya pada seseorang. Ia akan merasa tak berdaya tanpa Tuhan, karena itu ia akan mengambil keputusan untuk berlindung pada Tuhan. Mereka yang berlindung pada Tuhan selalu optimis sehingga tantangan bukan dilihat sebagai ancaman yang menakutkan, melainkan kesempatan untuk semakin matang dan bertumbuh dalam Tuhan. Mungkin sepanjang 30 hari ini kita bertemu banyak tantangan. Apakah kita tidak sanggup berjalan? Tidak. Kita masih berjalan dan beraktivitas sampai hari ini, karena Tuhan bersama kita. Kita telah mengalami perbuatan-perbuatan gagah perkasa dari Tuhan. Hitung saja berkat yang diterima, mampukah kita menghitungnya sampai tuntas? Tentu tidak. Lalu kenapa kita meragukan Tuhan di saat ada kejutan-kejutan kecil mewarnai gerak langkah kita? Mazmur 91:1-2 mengisyaratkan bahwa orang yang berlindung pada Tuhan: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai”. Jadi, kuncinya adalah berserah pada Tuhan. Saat kita berserah, Tuhan melindungi dari masalah apapun dan kita akan terus bergerak menembusi lorong-lorong hidup dengan kekuatan Tuhan. Selamat akhir bulan saudaraku.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk  perlindunganMu sepanjang bulan ini dan dalam pertolonganMu kami jalani bulan baru. Amin.

Senin, 1 Oktober 2018

bacaan : Mazmur 73 : 21 – 28

21 Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, 22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. 25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. 28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Aku Suka Dekat Pada Allah

Adi (bukan nama sebenarnya) adalah anak tunggal dari satu keluarga, Kedua orangtuanya adalah pengusaha kecil yang bekerja siang dan malam, hanya untuk hidup dan masa depan Adi. Malang tak dapat ditolak, ketika Adi divonis oleh dokter menderita penyakit yang sulit disembuhkan. Kedua orangtuanya berjuang mencari perawatan ke luar daerah bahkan berbagai pengobatan alternatif pun ditempuh. Tetapi Adi akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan sang ibu terkasih. Kalau ibu dan ayahnya bisa bicara mungkin mereka akan berkata seperti pemazmur:  “……hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuknusuk….” (21).

Dalam Mazmur 73 ini, Asaf dengan jujur mengungkapkan apa yang dialaminya dan apa yang dirasakannya. Bagaimana ia mengalami pergumulan yang nyata dan sangat menyesakkan; hatinya terasa pahit dan buah pinggangnya menusuk-nusuk adalah gambaran dari beban hidup yang berat. Namun demikian, ada hal lain yang diungkapkan oleh pemazmur, bahwa ditengah segala peristiwa pahit yang ia alami, Tuhan tetap mengasihinya, memegang tangannya, menuntunnya dan mengangkatnya ke dalam kemuliaan (23-24) dan oleh sebab itu pemazmur katakan: “….aku suka dekat pada Allah, aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah….”

Realitas hidup yang penuh penderitaan sering menjadi pergumulan setiap orang percaya, namun satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah meyakini janji penyertaan Tuhan. Belajarlah dari pemazmur yang memilih untuk dekat pada Allah, sebab Allah dalam Yesus Kristus tidak pernah membiarkan kita sendiri, Dia mengasihi, menuntun, menghibur dan mengangkat kita dari berbagai beban hidup yang berat.(MRT)

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk selalu dekat dengan-Mu. Amin.

Selasa, 2 Oktober 2018

bacaan : Mazmur 27 : 1 – 3

Aman dalam perlindungan Allah

Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? 2 Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. 3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.

Hatiku Percaya

……Saat ku tak melihat jalan-Mu, saat ku tak mengerti rencana-Mu

Namun tetap ku pegang janji-Mu, pengharapanku hanya pada-Mu

Hatiku percaya…….

Seringkali apa yang terjadi dalam hidup kita, tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, bahkan seringkali apa yang tidak kita sukai itulah yang kita alami. Seperti lirik lagu diatas, yang menceriterakan bahwa sekalipun persoalan berat yang dihadapi, sekalipun kita tidak mengerti rencana Tuhan dalam persoalan itu, namun iman dan pengharapan kepada Yesus membuat kita tetap percaya bahwa Yesus tetap mengasihi kita dan kita selalu berharap bahwa ada jalan keluar dalam setiap persoalan yang kita hadapi. Hal inilah yang mau disampaikan pemazmur dalam Mazmur 27:1-3, dimana Daud mengungkapkan keyakinan imannya kepada Tuhan di tengah persoalan yang ia hadapai. Walaupun ia harus menghadapi berbagai persoalan yang berat, ketika ada orang yang berniat jahat untuk menjatuhkan dan menghancurkannya, namun ia tetap percayabahwa Tuhan adalah terang dan keselamatan bagi hidupnya dan oleh sebab itu dia tetap berserah pada Tuhan. Bagaimana dengan anda? Apakah beban hidup rumah tangga, pekerjaan atau berbagai persoalan lain yang anda hadapi saat ini membuat anda ragu akan pertolongan Tuhan? Belajarlah dari Pemazmur dan berkatalah seperti penyair lagu di atas : hatiku percaya……!(MRT)

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk tetap percaya akan janji pertolongan-Mu. Amin.

Rabu, 3 Oktober 2018

bacaan : Mazmur 27 : 4 – 6

4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. 5 Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. 6 Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.

Kau Angkat-ku ke Atas Gunung Batu

Dalam kehidupan kita setiap hari ada saja masalah yang kita hadapi. Ada masalah yang dapat kita selesaikan sendiri tetapi terkadang ada  masalah yang tak mampu kita selesaikan. Pada saat itu mungkin saja kita merasa putus asa dan hilang harapan, yang pasti kita akan sangat membutuhkan orang lain. Mazmur 27:4-6 menceriterakan kekuatiran Daud sebagai seorang prajurit yang selalu berada di medan perang, Daud paham akan bahaya yang sering mengancam, karena itu Daud meminta kepada Tuhan dalam doa-nya agar ia boleh diam dalam Rumah Tuhan untuk menyaksikan kemurahan Tuhan, sehingga ada perasaan aman dan tentram dekat Tuhan.  Kemurahan Tuhan yang dirasakan oleh Daud adalah bahwa ia mengalami pertolongan Tuhan, hal itu terlihat dari ungakapan: tangan Tuhan yang melindunginya, menyembunyikannya dan mengangkatnya ke atas gunung batu, sehingga ia terhindar dari musuh-musuhnya yang menyerang dia. Mungkin saja keadaan seperti ini juga dialami oleh saudara – saudara, ketika terbaring sakit, atau mengalami musibah dan bencana. Di saat itu kita membutuhkan waktu untuk tenang agar dapat berkomunikasi dengan Tuhan dan  mencari kehendak Tuhan. Hanya dengan demikian, kita akan dapat menyaksikan kemurahan Tuhan yang menolong kita, seperti Tuhan mengangkat Daud ke atas gunung batu agar terhindar dari marabahaya. Tuhan menyelamatkan kita.(MRT)

Doa: Tuhan, aku ingin menyaksikan kemurahan-Mu yang Mengangkat-ku ke atas gunung batu. Amin.

Kamis, 4 Oktober 2018

bacaan : Mazmur 27 : 7 – 14

7 Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! 8 Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. 9 Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku! 10 Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. 11 Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku. 12 Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku, sebab telah bangkit menyerang aku saksi-saksi dusta, dan orang-orang yang bernafaskan kelaliman. 13 Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! 14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

Tuhan itu Baik

Mengakui bahwa Tuhan itu Baik ketika hidup penuh berkat, ada kelimpahan dan sukacita, adalah hal yang biasa, Tetapi ketika mengalami masa-masa yang sulit, gelap dan kelam, misalnya peristiwa duka, ditinggal oleh orang-orang kekasih, maka pertanyaannya adalah: mampukah kita bertahan dan percaya bahwa Tuhan itu Baik?  Hal ini yang dialami oleh Pemazmur (Daud) dalam Mazmur 27:7-14. Dalam permohonannya kepada Tuhan, ia katakan: “….janganlah membuang aku, janganlah meninggalkan aku, ….sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku….”  Permohonan ini disampaikan oleh Daud ketika ia ditinggalkan oleh orang-orang yang dekat dengannya, tetapi juga ketika ia berhadapan dengan orang-orang yang iri hati, dengki dan suka memfitnah-nya dengan kelaliman. Permohonan Daud diakhiri dengan sebuah keyakinan iman bahwa ia akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup.

Sekalipun saat ini saudara-saudara mengalami persoalan yang berat tetapi jangan pernah berhenti membangun hubungan dengan Tuhan Yesus dalam setiap doa dan permohonan. Yakinlah bahwa kebaikan Tuhan akan dapat dirasakan bukan saja ketika senang dan bahagia tetapi juga ketika mengalami peristiwa dukacita atau berbagai persoalan lainnya.(MRT)

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk bersyukur dalam susah maupun senang. Amin.

Jumat, 5 Oktober 2018

bacaan : Mazmur 3 : 1 – 9

Nyanyian pagi dalam menghadapi musuh

Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya. (3-2) Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; 2 (3-3) banyak orang yang berkata tentang aku: “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.” Sela 3 (3-4) Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. 4 (3-5) Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela 5 (3-6) Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! 6 (3-7) Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku. 7 (3-8) Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik. 8 (3-9) Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! Sela

Engkaulah Perisai Yang Melindungi Aku

Perisai adalah alat yang dipakai oleh seorang prajurit di medan perang untuk melindungi diri terhadap serangan musuh, yang berfungsi untuk menangkis senjata tajam seperti tombak, anak panah maupun pedang. Bagi pemazmur (Daud), perisai mempunyai fungsi yang sangat penting, sebab ia berhadapan dengan orang yang ingin menyerang dan menghancurkannya. Dalam Mazmur 3:1-9 pemazmur diperhadapkan lagi dengan cemohan para lawannya (antara lain Absalom,anaknya) bahwa : “……tidak ada pertolongan daripada Allah…”. Oleh sebab itulah pemazmur berseru: “Tetapi Engkau, Tuhan adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku”.

Ditengah berbagai ancaman dan marabahaya, setiap orang pasti mencari perlindungan, tetapi kepada siapa ia berlindung? itulah yang menjadi pertanyaan kita. Pemazmur memberi kesaksian bahwa Allah adalah satu-satunya Penolong yang setia, Dialah Perisai hidup kita. Hubungan kita dengan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus adalah kekuatan untuk menghadapi setiap persoalan. Ada ungkapan yang mengatakan: “seberapa banyak kita berlutut dihadapan Allah, akan menentukan seberapa kuatnya kita berdiri dihadapan siapa saja dan dalam peristiwa apa saja…”(MRT)

Doa: Tuhan, jadilah Perisai bagi hidupku. Amin.

Sabtu, 6 Oktober 2018

bacaan : Mazmur 125 : 1 – 5

Aman dalam lindungan TUHAN

Nyanyian ziarah. Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya. 2 Yerusalem, gunung-gunung sekelilingnya; demikianlah TUHAN sekeliling umat-Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya. 3 Tongkat kerajaan orang fasik tidak akan tinggal tetap di atas tanah yang diundikan kepada orang-orang benar, supaya orang-orang benar tidak mengulurkan tangannya kepada kejahatan. 4 Lakukanlah kebaikan, ya TUHAN, kepada orang-orang baik dan kepada orang-orang yang tulus hati; 5 tetapi orang-orang yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit, kiranya TUHAN mengenyahkan mereka bersama-sama orang-orang yang melakukan kejahatan. Damai sejahtera atas Israel!

Engkaulah Perisai Yang Melindungi Aku

Setelah peristiwa gempa tektonik yang menimpa saudara-saudara kita di pulau Lombok dan sekitarnya beberapa minggu lalu, ada ramalan yang mengatakan bahwa peristiwa serupa ini dapat saja terjadi di Maluku. Hampir setiap hari kita mendengar berita-berita yang mengerikan dan tidak dapat disalahkan kalau orang hidup dalam kecemasan dan kekuatiran. Walaupun demikian mari belajar dari pengalaman pemazmur dalam Mazmur 125:1-5, yang berisi pernyataan iman pemazmur yang mengakui bahwa kasih setia dan kemahakuasaan Tuhan Allah, tak kenal batas. Pemazmur menggambarkan kasih dan kemahakuasaan Tuhan Allah yang memberi perlindungan kepada umat-Nya, seperti gunung Sion yang tidak goyah dan gunung-gunung yang mengelilingi kota Yerusalem, demikianlah Tuhan Allah melindungi umat-Nya. Menyikapi berbagai berita bahkan peristiwa yang menakutkan, kita tidak bisa bergantung pada kekuatan diri sendiri, tetapi bergantunglah hanya pada Allah dalam Yesus Kristus. Allah kita sangat mengasihi kita dan Ia sanggup untuk melindungi keluarga kita terhadap segala kecelakaan dan marabahaya. Satu hal yang harus kita lakukan sebagai keluarga yang percaya kepada Allah menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, yakinlah bahwa ketika bencana atau marabahaya datang, Tuhan akan menyelamatkan keluarga kita dengan cara-Nya yang ajaib.(MRT)

Doa: Ya Tuhan, lindungilah kami terhadap segala marabahaya. Amin.

 

*sumber : Santapan Harian Keluarga Edisi Bulan September-Oktober 2018.