fbpx

Melindungi Pemuda, Silo Gelar Sosialisasi Perilaku Menyimpang Bagi AMGPM

[jemaatgpmsilo.org – Ambon ]

Sejarah mencatat bahwa, Pemuda akan selalu menjadi tumpuan masa depan negara dan bangsa, namun juga dalam kehidupan bergereja. Karena itu, gereja harus memiliki warga khususnya pemuda yang sehat secara jasmani, tapi juga sehat secara rohani. Itulah dambaan setiap orang tua, bangsa, negara dan juga pimpinan gereja.

Sebagai langkah preventif, maka sesuai amanat Persidangan Jemaat Tahun 2018 dan juga arahan RENSTRA Jemaat Silo Tahun 2016-2019, digelarlah 2 kegiatan secara terpadu yaitu Sosialisasi tentang Perilaku Menyimpang yang Berdampak pada Kesehatan dan Lingkungan bagi AMGPM cabang Silo dan Diskusi Pekabaran Injil.

Dua kegiatan dibawah Seksi Pekabaran Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) ini dilaksanakan pada Kamis, 11 Oktober 2018 mengambil tempat pada ruang serbaguna Gereja Silo. Tampil sebagai narasumber masing-masing untuk kegiatan Sosialisasi Perilaku Menyimpang adalah Dr. Wendy Pelupessy (Plt. Kadis Kesehatan Kota Ambon) dan Dr. Ananta Sopacua (Yayasan Pelangi Maluku); sedangkan untuk Diskusi Pekabaran Injil adalah Ibu Pdt. Eby Songopnuan dari Biro Pekabaran Injil Sinode GPM.

Kadis Kesehatan Kota Ambon, Dr. Ny. Wendy Pelupessy

Dalam pemaparan materinya, Dr. Ny Wendy Pelupessy, yang baru dilantik sebagai Kadis Kesehatan defenitif Kota Ambon beberapa waktu lalu itu menegaskan, “seks menyimpang yang akibatnya bermacam-macam, mulai dari hamil luar nikah, penyakit HIV, infeksi menular seksual sampai ke kanker leher rahim, … ini dari berganti-ganti pasangan.” Pelupessy menegaskan bahwa kuncinya “….bagaimana kita berperilaku yang normal. Berperilaku sesuai dengan aturan, norma agama, norma masyarakat dan norma-norma sosial yang berlaku,… apabila kita melangggar, kita dikatakan menyimpang tadi…” tegas Pelupessy mengakhiri presentasenya.

Adapun sosialisasi yang dilakukan oleh Dr. Ananta Sopacua dari Yayasan Pelangi Maluku adalah dengan menghadirkan tenaga sukarelawan (voulentir), yaitu anggota Yayasan Pelangi yang ditugaskan melakukan identifikasi, penjangkauan dan pendampingan terhadap warga masyarakat yang rentan perilaku menyimpang (seks bebas).

Rossy Pattirajawane selaku koordinator penjangkauan WTS (Wanita Tuna Susila) dari Yayasan Pelangi Maluku, dalam pemaparannya mengungkap sejumlah data, “target sebanyak 375 orang LSL (Lelaki Seks Lelaki), kami dapat menjangkau 378 dengan rincian kunjungan klinik 101 dan mobile service sebanyak 257… dari 378 ditemukan HIV positif itu ada 8 orang, … seperti kita ketahui LSL itu sangat beresiko tinggi. Kenapa? karena dia melakukan hubungan seksual itu dengan sesama jenis. Dia melakukan hubungan seksual tidak pada tempatnya, sehingga efek untuk mendapatkan kasus HIV itu cukup tinggi.

Cerita berbagi pengalaman dari salah seorang pelaku LSL

Berdasarkan pengalaman di lapangan Rossy mengungkapkan, ” … (pelaku) LSL ini biasanya berada pada usia produktif, pada usia 15 s.d 25 tahun,… bapak-ibu jangan berpikir bahwa LSL itu hanya untuk teman-teman yang cenderung kemayu saja, tetapi lelaki-lelaki macho, maskulin, cowo yang gagah-gagah itu juga punya perilaku menyimpang yang disebut LSL.”

Tampil pada sesi Diskusi Pekabaran Injil adalah Pdt Ny. Eby Songopnuan dari Biro Pekabaran Injil Sinode GPM. [BK]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *