fbpx

Santapan Harian Keluarga, 25 Nov – 1 Des 2018

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 25 November 2018                   

bacaan : Ulangan 22 : 6 – 7 (T)

6 Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. 7 Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu. 

Memelihara Hidup Demi Keberlanjutan

Sore yang indah ketika duduk di teras rumah dan menatap anak-anak yang sedang bermain dengan riang gembira di bawah pohon rambutan. Dalam keasyikan bermain mereka, terdengar teriakan seorang anak sambil menunjuk ke dahan pohon rambutan tersebut. Nampak di situ ada seekor burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Anak-anak itu kemudian melempar burung tersebut sehingga burung itu terbang meninggalkan sarangnya. Mereka berebutan naik ke dahan pohon rambutan hanya untuk melihat anak-anak burung yang masih kecil itu dalam sarang mereka. Sebut saja namanya Rian. Ia melarang teman-temannya untuk mengambil anak-anak burung tersebut dan membongkar sarang mereka. Ia mengatakan bahwa ibu pengasuh mengajarkan mereka harus menyayangi hewan lainnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Lanjutnya, kasihan kalau mereka dipisahkan dari induk mereka. Coba kalau kita yang dipisahkan dari papa dan mama??? Saya terpana mendengar tuturan anak sekecil itu. Kemudian teringatlah saya akan firman Tuhan dari Ulangan 22:6-7, yang secara utuh memperlihatkan peraturan mengenai perlakuan terhadap hidup demi menjamin keberlanjutan hidup kita sebagai manusia dan hidup makhluk itu sendiri.Kita bertanggung jawab kepada Tuhan Allah dan kepada diri sendiri serta alam yang terhadapnya kita dipercayakan untuk mengolah dan melestarikannya. Sebab dengan mengambil induk bersama-sama dengan anaknya, maka kemungkinan induknya dapat menjadi stress dan tidak akan berkesempatan lagi untuk berkembang biak. Sang induk memerlukan proses dijantani lagi dan hal itu hanya dapat terjadi di alam bebas.Ini mengajarkan kita untuk memaknai tugas prokreasiyang sangat dikehendaki dalam merawat kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan Allah.(MRT)

Doa:Terima kasih Tuhan, Kau ajari kami memelihara hidup yang berkelanjutan. Amin.

 

Senin, 26 November 2018                    

bacaan : Mazmur 89 : 30 – 38 (T)

29 (89-30) Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan takhtanya seumur langit. 30 (89-31) Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku, 31 (89-32) jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, 32 (89-33) maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan. 33 (89-34) Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku. 34 (89-35) Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah. 35 (89-36) Sekali Aku bersumpah demi kekudusan-Ku, tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud: 36 (89-37) Anak cucunya akan ada untuk selama-lamanya, dan takhtanya seperti matahari di depan mata-Ku, 37 (89-38) seperti bulan yang ada selama-lamanya, suatu saksi yang setia di awan-awan.” 

Akibat Dari Ketidaktaatan :  Gagal Menikmati Berkat-Berkat Yang Disediakan Tuhan!

Ketaatan adalah harga yang mutlak jika seseorang ingin mengalami penggenapan janji Tuhan!  Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya dalam rumah tangga Kristen. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri kita, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah mendemonstrasikan ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Dan Tuhan memberikan perintah bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya demi kebaikan kita sendiri, karena Ia hendak menuntun keluarga kita ke jalan yang benar supaya rencana-Nya tergenapi yaitu kehidupan yang berlimpahan dan masa depan yang penuh harapan. Yang disesalkan, kenapa papa, mama dan anak justru memilih tidak mau taat mengikuti jalan Tuhan.Jujur diakui bahwa kita tidak suka dan ‘merasa alergi’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan, karena yang ada di pikiran kita adalah ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan: tidak boleh ini, tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksi atau konsekuensinya seperti tertulis: “…setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal(Ibr.2:2).  Karena itu tidaklah mengherankan jika kita lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dsbg. Yang harus disadari bahwa semua itu sebenarnya dampak atau upah dari ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan dalam hidup keluarga.(MRT).

Doa: Tuhan, bentuklah hati kami agar taat kepada firmanMu. Amin.

 

Selasa, 27 November 2018                

bacaan : Kejadian 8 : 15 – 22 (T)

15 Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: 16 “Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; 17 segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” 18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. 19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. 20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

Tuhan Mengatur Ritme Musim Hidup Kita

Keselamatan seisi bahtera itu adalah cara Tuhan untuk menunjukkan kecintaan-Nya terhadap dunia dan seluruh isinya. Keselamatan seisi bahtera itu adalah proses pemulihan seluruh ciptaan Tuhan. Angkatan manusia yang jahat telah punah, maka akan ada angkatan yang baru. Setelah keluar dari Bahtera itu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan dan memberikan persembahan korban bakaran. Ketika Tuhan mencium bau persembahan itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Ini adalah bukti “Kasih Allah yang Abadi, Dia telah berjanji dalam diri-Nya, sesungguhnya walaupun kita penuh dengan kejahatan, Dia tidak akan mengulang memberikan hukuman yang sama. Ini adalah kabar sukacita bagi dunia ini, bahwa Tuhan yang memegang kendali dunia ini telah berjanji akan memelihara kehidupan semua ciptaan di dunia ini. Dan selagi dunia ini masih ada,maka Tuhan yang akan mengatur semua musim, dan pengaturan musim itu akan mewarnai perjalanan kehidupan keluarga kita, penyesuain hidup sesuai dengan musim adalah salah satu wujud kasih Allah yang abadi, sehingga kita harus hidup sesuai dengan tuntutan musim. Dengan demikian maka Allahlah yang menjadi juru mudi kehidupan keluarga kita. Sebab Ia-lah yang menjamin keberlanjutan hidup keluarga kita bersama ciptaan lainnya di muka bumi ini.Mungkin ada saatnya, perjalanan hidup keluarga seperti berada diatas air bah, namun jika Yesus menjadi bahtera rumah tangga kita, maka pasti Ia akan menghentar kita tiba pada situasi hidup yang aman dan nyaman. Percayalah!!!(MRT).

Doa: Di dalam pengaturan Tuhan, musim hidup kami tetap terpelihara. Amin.

 

Rabu, 28 November 2018                 

bacaan : 1 Samuel 1 : 19 – 28 (T)

19 Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya. 20 Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.” 21 Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada TUHAN. 22 Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: “Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya.” 23 Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya: “Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau menyapih dia; hanya, TUHAN kiranya menepati janji-Nya.” Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya. 24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. 25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli; 26 lalu kata perempuan itu: “Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. 27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. 28 Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.

Teladan Hana

Seringkali kita salah mengerti konsep ucapan syukur dan makna persembahan. Kita mengucap syukur karena Allah telah berkarya dalam hidup kita dengan karya yang tidak bisa dibandingkan atau dibalas dengan cara apapun. Baik karya-Nya terbesar, yaitu keselamatan dalam Kristus, maupun berbagai kebaikanNya yang kita alami dalam perjalanan iman kita, yang semua itu adalah anugerah. Maka ucapan syukur adalah pengakuan bahwa semua berasal dari Allah, dan tidak ada satu hal pun yang boleh kita klaim karena jasa atau kelayakan kita. Dengan sendirinya, persembahan kita berikan bukan karena kebaikan kita melainkan keluar dari hati yang tulus bersyukur atas kebaikan-Nya.Itulah yang dilakukan Hana setelah Tuhan “mengingat” dirinya dan mengabulkan permintaannya. Ucapan syukur Hana tercermin dari nama putranya, Samuel, yang adalah pemberian Allah. Oleh karena itu sebagai persembahan syukur, Samuel dipersembahkan untuk melayani Tuhan sekehendak-Nya. Inilah persembahan yang berkenan kepada-Nya: “Seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan.”

Banyak keluarga melihat sikap Hana ini sebagai teladan untuk mempersembahkan anak sulung sebagai hamba Tuhan. Tentu tidak setiap anak sulung dari keluarga Kristen, Tuhan pilih dan panggil untuk menjadi hamba-Nya secara khusus. Jauh lebih penting bagi kita untuk melihat teladan Hana sebagai respons yang tepat terhadap anugerah. Berikan yang terbaik, yang Tuhan mau kita persembahkan sebagai ucapan syukur dan pengakuan, bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan sebab Ia-lah yang menjamin keberlanjutan hidup keluarga kita dan semua anak cucu. (MRT).

Doa: Tuhan, biarlah teladan Hana menjadi motivasi bagi hidup keluarga kami. Amin.

 

Kamis, 29 November 2018               

bacaan : Ulangan 5 : 16 (T)

16 Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu

Taati Perintah Tuhan: Hormati Orang Tua!!!

Pada umumnya, semua anak tahu bahwa mereka harus menghormati ayah dan ibu mereka sebab memberi hormat kepada orangtua adalah perintah Tuhan bagi siapapun yang masih memiliki orangtua. Ada janji Tuhan yang luar biasa bagi yang menuruti perintah ini, lanjut umur dan baik keadaan di tanah yang diberikan Tuhan kepada kita.Memang lanjut umur adalah suatu keadaan yang amat indah pada zaman dahulu dan kita di zaman kini. Lanjut umur menandakan berkat Tuhan yang tercurah ke dalam kehidupan dan itu menjadi kekuatan sebab Allah sendirilah yang menjamin keberlanjutan hidup kita dan keturunan kita turun temurun. kita bisa melihat pernikahan anak-anak kita, bahkan menimang cucu kita sendiri. Lanjut umur juga memberikan kesempatan bagi kita untuk bekerja dan melayani sesama. Dan baik keadaan, berarti kita beroleh kesehatan dan kebahagiaan. Buat apa hidup sakit-sakitan atau tidak bahagia??Olehnya firman Tuhan: hormatilah Ayahmu dan Ibumu!!! Menghormati orangtua juga berarti kita menghargai seluruh perjuangan mereka selama ini. Bayangkan, berapa biaya yang mereka telah keluarkan untuk membesarkan kita? Dan bukan soal materi saja, mereka juga telah merelakan waktu, tenaga, dan kebahagiaan mereka sendiriuntuk mengupayakan senyum manis selalu ada di dalam kehidupan kita. Mereka selalu mengupayakan semua yang terbaik ada di dalam diri kita.Marilah kita selalu menghormati orangtua kita dengan sikap dan perbuatan nyata, maka Allah akan mencurahkan berkatnya yang luar biasa bagi kehidupan kita. Firman Tuhan berkata:  “Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Ef.6:2-3).(MRT).

Doa: Ya Tuhan, lindungilah papa dan mama kami kami. Amin.

 

Jumat 30 November 2018                 

bacaan : Kejadian 9 : 8 – 17 (T)

8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” 12 Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.” 17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”

Pelangi = Kasih Setia Tuhan

Seperti pelangi, sehabis hujan, itulah janji setiaMu Tuhan….….

Masih ingatkah kita ketika pelangi muncul sehabis hujan?? Suatu kesan yang menyegarkan dan enak untuk dipandang adalah warna cerah pelangi sehabis hujan. Sebenarnya pelangi adalah peristiwa alam yang didatangkan Tuhan sebagai pertanda perjanjian Allah dengan kita, manusia. Bila kita terus ingin merasakan berkat dan penyertaan Tuhan, maka disitulah kita harus mengingat apa yang menjadi kehendak Tuhan. Apa yang tercantum dalam bacaan hari ini menjadi pelajaran bagi setiap keluarga Kristen bahwa prinsip dasar kehendak Tuhan agar berkat Tuhan terus mengalir dalam hidup keluarga kita sebagai bagian dari orang-orang yang mengerjakan perjanjian dengan Penciptanya itu bahwaAllah telah berjanji bahwa Dia tidak akan lagi menghukum bumi ini dengan ‘Air Bah’. Namun demikian kita harus meresponi janji Allah itu dengan suatu sikap hidup yang bijak, yaitu dengan menjaga dan memelihara bumi ini sebagai mandataris Allah. Jika Allah sendiri berkenan menjadikan pelangi sebagai alat untuk mengingatkan diri-Nya akan janji-Nya sendiri, maka pelangi itu juga harus menjadi peringatan bagi kita, manusia. Agar kita turut “memegang” janji Allah itu, dengan menjaga dan memelihara “stabilitas kosmis” sebagaimana dikehendaki-Nya.Ia, adalah Allah yang menjamin keberlanjutan hidup kita dan makhluk ciptaan lainnya, maka berilah hidup dikuasai dan dipimpin olehNya. Ia menetapkan seluruh isi alam, untuk kitakuasai dan atur demi keberlangsungan ekosistem dengan baik bukan mengeksploitasi apalagi merusaknya. Tuhan memimpin kita agar hidup kita dan generasi ke depan tetap diberkati ketika mengatur alam dengan bijaksana. Syukurilah itu di akhir bulan ini.(MRT).

Doa: Terima kasih Tuhan untuk pelangi yang indah di hidup kami. Amin.

Sabtu, 01 Desember 2018                               

bacaan : Matius 8 : 5 – 13

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum

5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” 7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, 12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” 13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

 

Menyambut Yesus dengan Rendah Hati

(Renungan Keluarga Persiapan Adventus I)

Setiap tahun kita merayakan minggu–minggu Adventus, tetapi apakah kita tau maknanya ? Adventus artinya kedatangan, merayakan Adventus mengingatkan kita bahwa Yesus sang Mesias yang telah datang menjumpai kita, akan datang lagi pada kali yang kedua sebagai Hakim yang Adil. Kita seperti hidup di masa antara, ketia DIA yang sudah datang, akan datang lagi dan meminta pertanggungjawaban kita. Oleh sebab itu maka perayaan Adventus mengajak kita untuk memaknai, bagaimana seharusnya kita hidup sekarang ini, kini dan disini.  Mari belajar dari seorang Perwira yang rendah hati dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi ketika hambanya (pembantu) menderita sakit. Ia bukan seorang Yahudi, ia berasal dari Kapernaum, tetapi demi kesembuhan hambanya, ia berupaya untuk berjumpa dengan Yesus. Sang Perwira pasti memiliki kuasa untuk menyuruh para anggota kesatuannya memanggil Yesus datang ke rumahnya, tetapi itu tidak ia lakukan. Ia sendiri datang untuk mencari dan berjumpa dengan Yesus, sebab ia percaya bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar dan Yesus sanggup untuk memberi kesembuhan. Ia merendahkan dirinya dan memohon belas kasihan Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Yesus melihat imannya, kerendahan hatinya dan kesungguhannya untuk menolong sesamanya yang menderita, dan Yesus bertindak untuk menyembuhkan dan menyelamatkan hamba sang perwira itu. Yesus bukan saja menyembuhkan hamba sang Perwira tetapi Yesus menerimanya dan membenarkan perbuatannya yang baik dan setia. Ketika kita merayakan Adventus pertama di saat ini, sepatutnya kita tunduk dan merenungkan realitas kehidupan kita, apakah masih ada kepekaan dan kegelisahan melihat anggota keluarga atau saudara –saudara kita yang menderita ? apakah kita masih setia mencari Yesus untuk menolong kita, ditengah berbagai tawaran lain yang menggiurkan ? apakah kita masih tetap percaya dan berharap kepada Yesus sang penyelamat itu ? Di masa antara (masa penantian) kedatangan-Nya pada kali yang kedua, kita diingatkan untuk setia melakukan kehendak Yesus, hidup dengan rendah hati, peka dan peduli untuk merawat semua ciptaan-Nya, membuka diri dan selalu memohon pengampunan-Nya sebab kita tak luput dari salah dan dosa. Selamat memasuki perayaan Adventus pertama ………..! (MRT)

Doa :  Tuhan, baharui hidup kami untuk menyambut kedatangan-Mu

*sumber : Santapan Harian Keluarga Bulan November 2018 LPJ – GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *