Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 Oktober 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Roh Kudus Menuntun Gereja Untuk Melayani

Minggu, 18 Oktober 2020        

bacaan : Roma 14 : 13 – 23

Jangan memberi batu sandungan
13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! 14 Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. 15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia. 16 Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah. 17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. 18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. 19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. 20 Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! 21 Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu. 22 Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. 23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

SALING MELAYANI, BUKAN SALING MENGHAKIMI

Kecenderungan untuk menilai diri lebih baik dan lebih benar lalu merendahkan orang lain, sering kita lakukan. Sadarkah kita bahwa dengan melakukan hal itu, kita telah menghakimi orang lain dan melukai hati mereka? Tanpa kita sadari, kita telah menjadi batu sandungan kepada mereka. Jemaat Roma adalah jemaat yang sangat majemuk karena terdiri dari berbagai suku bangsa, antara lain orang Yahudi dan non Yahudi yang percaya kepada Yesus. Perbedaan latarbelakang suku dengan berbagai tradisi yang berbeda tentu melahirkan kebiasaan, cara makan, cara hidup, dan lainnya yang berbeda. Salah satunya adalah persoalan makan dan minum yang dinilai haram dan halal. Hal ini tentu mendatangkan permasalahan, ketika ada diantara mereka yang selalu menilai, menuduh, dan merendahkan sesama warga jemaat dengan cara-cara yang menyakiti dan melukai hati mereka. Karena itu rasul Paulus mengingatkan mereka agar mereka tidak bertengkar hanya karena hal-hal yang tidak penting, sebab apapun yang mereka lakukan hendaklah untuk kemuliaan Allah. Paulus katakan: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan atau minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (ay.17) Karena itu janganlah menjadi batu sandungan kepada saudara atau sesama kita. Batu sandungan itu dapat berbentuk sikap hidup yang suka menghakimi orang, menyakiti hatinya dengan kata-kata, memfitnah, mecemooh, merasa diri lebih baik dan lebih benar.  Tetapi hendaklah hidup saling melayani dengan penuh kasih. Apapun yang hendak dilakukan, pikirkanlah: apakah hal itu akan menghadirkan damai dan sukacita agar Tuhan dimuliakan, ataukah mendatangkan keresahan bagi sesama. Di tengah situasi pandemi virus corona ini, biarlah kita saling melayani dan bukan saling menghakimi, agar kita dapat meneruskan hidup dan karya kita demi kemuliaan Kristus.

Doa: Tuhan, ajarkan kami untuk saling melayani dan bukan menghakimi. Amin.                                                     

Senin, 19 Oktober  2020   

bacaan : 1 Korintus 9 : 1 – 14

Hak dan kewajiban rasul
Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan? 2 Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku. 3 Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku. 4 Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum? 5 Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas? 6 Atau hanya aku dan Barnabas sajakah yang tidak mempunyai hak untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan? 7 Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu? 8 Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian? 9 Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!" Lembukah yang Allah perhatikan? 10 Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. 11 Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihank kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu? 12 Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. 13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? 14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.

TERUSLAH MELAYANI,  ADA ROH KUDUS YANG MENUNTUN

Kita telah memasuki hari kerja baru di hari ini. Semoga selalu ada sukacita dan damai sejahtera dalam hati kita. Saudaraku, bulan Oktober merupakan bulan Pekabaran Injil bagi kita di GPM. Suatu keyakinan kita sebagai orang percaya bahwa sekalipun ada banyak tantangan, termasuk tantangan pandemi Covid-19, Gereja Tuhan tetap akan bertumbuh. Tantangan yang dihadapi gereja sangat beragam dan datangnya bukan saja dari luar gereja, tetapi ada banyak tantangan yang datang dari dalam gereja sendiri. Salah satu contoh tantangan dari dalam gereja adalah adanya sikap antipati dari umat terhadap pelayan tertentu karena dianggap tidak sejalan dengan mereka. Malah ada juga yang meragukan keberadaan seorang pelayan. Itulah realita yang kita hadapi dalam pelayanan di gereja kita. Hal ini bukan tidak mungkin bisa membuat “kerajinan pelayan tersebut menjadi kendor.” Dalam bacaan kita dijelaskan bahwa saat ada sebagian jemaat yang meragukan keberadaannya sebagai rasul, alih-alih kecewa, Paulus justru membuktikan bahwa keraguan mereka tidak benar. Paulus mengingatkan dan menegaskan kepada jemaat Korintus akan identitasnya sebagai rasul Tuhan dengan menceritakan tentang peristiwa pertobatan, perjumpaannya dengan Yesus, dan perjuangannya memberitakan Injil. Perubahan Paulus menjadi bukti bagi mereka bahwa Kristus, dengan tuntunan Roh Kudus-Nya mampu mengubah kehidupan seseorang dan membuat orang itu semakin bersemangat untuk melakukan pelayanannya. Mari belajar dari semangat melayani rasul Paulus. Jangan kecewa ataupun putus asa jika kita harus berhadapan dengan tantangan. Entah itu pada saat kita melayani sebagai pelayan di gereja, melayani sebagai pekerja di tempat pekerjaan maupun dalam pelayanan bagi keluarga di rumah. Tetaplah menjadi taat dan setia dalam melayani karena ada Roh Kudus yang menuntun kita.

Doa:   Tuhan, tuntun kami dengan Roh-Mu agar kami tetap semangat ‘tuk melayani setiap orang yang membutuhkan pelayanan kami. Amin.    

Selasa, 20 Oktober  2020     

bacaan : 1 Korintus 9 : 15 – 23

15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga! 16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. 17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. 18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. 19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. 20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. 21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. 23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

BERBUAT BAIK BUKAN UNTUK MENDAPAT PUJIAN

Di tengah pandemi virus corona yang sudah berjalan kurang lebih tujuh bulan ini, kita mendapati adanya perubahan sikap dalam kehidupan manusia. Ada orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain, ada yang emosional dan suka marah-marah bahkan melakukan tindak kekerasan yang dapat mengancam nyawa orang lain. Tetapi ada juga yang sikap sosialnya semakin meningkat, dimana secara individu maupun berkelompok, mereka memberi bantuan tanpa pamrih kepada orang-orang yang membutuhkan sambil memberitakan tentang kebaikan Tuhan, sehingga kehidupan iman orang-orang yang dibantu ikut terbangun dan memuliakan Tuhan. Saudaraku, sikap rasul Paulus seperti yang disaksikan dalam bacaan kita sungguh luar biasa. “….menjadikan diriku hamba dari semua orang” (ay.19). Maksud perkataan Paulus ini jelas, menjadi hamba bukan berarti menjual diri sebagai budak, tetapi mengambil sikap peduli dan memperhatikan orang lain serta menyesuaikan diri dengan mereka selama itu tidak bertentangan dengan hukum Tuhan (ay. 20-21). Tujuan Paulus menjadikan dirinya hamba ini dijelaskan secara berulang-ulang dalam ayat 19-22, yaitu : agar “memenangkan/ menyelamatkan mereka”. Paulus tidak sedang berbuat baik karena ia sekadar ingin berbuat baik saja, apalagi supaya dipuji. Ia melakukannya dengan tujuan agar orang mendengar Injil dan mengenal Juru Selamat (ay.23). Saudaraku, yang dilakukan Paulus ini hendaknya menjadi teladan bagi kita. Layanilah mereka yang membutuhkan dengan sungguh-sungguh tanpa pandang bulu. Melayanilah dengan dengan rendah hati, bukan untuk mencari nama, ingin dipuji, menanam budi atau karena ada “target tertentu” yang ingin dicapai. Berbuat baiklah dan melayani seperti seorang hamba, karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Sehingga dari perbuatan baik dan pelayanan kita, nama Tuhan dipermuliakan.

Doa:   Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk melayani dan berbuat baik bagi sesama dengan tulus, Amin.

Rabu, 21 Oktober 2020    

bacaan : Yohanes 12 : 1 – 8

Yesus diurapi di Betania
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. 2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. 4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 5 "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" 6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. 7 Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. 8 Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu."

MERENDAHKAN DIRI UNTUK MELAYANI TUHAN

Tindakan Maria untuk meminyaki tubuh Yesus dengan minyak Narwastu yang sangat mahal dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya, menjelaskan bahwa Maria sangat merendahkan dirinya dalam melayani Tuhan; ia meletakan seluruh keberadaan dirinya di kaki Yesus; ia sangat sadar bahwa ia hanyalah manusia berdosa yang telah mengalami kasih Tuhan yaitu kasih yang mengampuni dan menyelamatkan. Maria merendahkan diri untuk melayani Yesus dan memberikan semua yang terbaik dalam hidupnya sebagai persembahan bagi Yesus. Maria sangat menghormati Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatnya, sehingga ia melayani Yesus dengan segenap hati, jiwa dan raga. Maria tidak lagi menyoal apakah ia untung atau rugi ketika menghabiskan minyak yang sangat mahal itu, seperti yang dipikirkan oleh Yudas. Mengapa? Sebab Maria dan Marta telah mengalami kasih dan kuasa Tuhan yang menyelamatkan hidup mereka dan membangkitkan Lazarus saudara mereka. Jadi, melayani Yesus dinyatakan dalam sikap merendahkan diri dan mempersembahkan hidup mereka, itulah prinsip pelayanan gereja.

Setiap orang percaya yang telah mengalami kasih dan kemurahan Tuhan yang menyelamatkan hidupnya, sepatutnya menjadi orang yang hidup dengan rasa syukur, merendahkan dirinya, dan memberi dirinya untuk melayani sesama yang membutuhkan. Merendahkan diri untuk dipimpin oleh kuasa Roh Kudus, merupakan kekuatan moral yang dapat memperbaiki relasi antar sesama yang hancur, dan juga menuntun manusia  agar tidak angkuh dan sombong serta mementingkan diri sendiri. Melayani dengan merendahkan diri akan menghadirkan sukacita, memberi kekuatan dan damai sejahtera. Baik dalam kehidupan keluarga. Gereja tapi juga ditengah masyarakat.

Doa : Tuhan, jadikan kami pelayanmu yang rendah hati, Amin.

Kamis, 22 Oktober 2020        

bacaan : 1 Korintus 9 : 24 – 27

24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. 26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. 27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

HIDUP IBARAT GELANGGANG PERTANDINGAN

Kehidupan manusia ibarat suatu gelanggang pertandingan, dimana semua orang didalam gelanggang itu sementara berlari atau bertanding untuk mencapai tujuannya, yaitu kemenangan. Demikian juga dengan kehidupan orang percaya, namun tujuan hidup seorang Kristen bukanlah kemenangan lahiriah, tetapi suatu kehidupan kekal, yang jauh melebihi ambisi, harta, karier/jabatan, dll. Dalam pertandingan ini, seorang Kristen akan berlari begitu rupa untuk memperoleh mahkota kehidupan yang abadi. Ketika rasul Paulus berbicara tentang hak dan kewajiban para rasul dalam bacaan kita, ia mengatakan: ”…aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarang saja memukul”.. Disini, rasul Paulus menekankan soal tanggungjawab para rasul yang harus dilakukan dengan sungguh – sungguh, ibarat seorang olahragawan di gelanggang pertandingan.  Rasul Paulus bukan hanya berkata-kata, tetapi ia juga bertindak. Jadi, kata dan perbuatannya sesuai dengan Injil Tuhan yang ia beritakan, ia melayani dalam kata dan perbuatan. Itulah pemberitaan Injil yang sebenarnya. Bagaimana orang Kristen dapat melakukan tanggungjawabnya untuk memberitakan injil? Yang sangat dibutuhkan adalah latihan badani dan penguasaan diri terhadap segala sesuatu. Melatih diri supaya berguna untuk hal-hal yang baik bagi pekerjaan Tuhan, sanggup mengubah hal-hal yang buruk menjadi baik, juga tetap memelihara hal-hal yang baik dan benar. Semuanya digunakan untuk melayani Tuhan, sehingga tidak ada yang tersisa dari waktu hidup, untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna. Kerjakanlah tanggungjawabmu dengan baik dan benar, dan Allah dalam Yesus Kristus akan melimpahkan berkat dalam hidupmu sebagai upah yang adalah hakmu sebagai pemenang dalam arena kehidupan iman.

Doa: Tuhan, tolong aku untuk melayani dan berbuah bagi-Mu. Amin.

Jumat, 23 Oktober 2020       

bacaan : Roma 7 : 1 – 6

Arti hukum Taurat
Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum--bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? 2 Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. 3 Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. 4 Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. 5 Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut. 6 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

MELAYANI DALAM KEADAAN BARU MENURUT ROH

Cara Allah menebus dosa manusia melalui kematian Kristus di salib, mewajibkan orang kristen untuk tidak lagi dikuasai oleh Hukum Taurat tetapi mereka menjadi milik Kristus yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, supaya orang kristen berbuah bagi Allah selama ia hidup, selama ia melayani. Sebagai milik Kristus, orang kristen harus tinggal dan berakar didalam Kristus supaya bisa berbuah bagi Allah. Akar yang baik dan kuat selalu menghasilkan buah yang baik. Apakah perkataan dan perbuatan orang kristen telah mempengaruhi orang lain untuk percaya pada Kristus? Belajarlah dari Paulus, dimana perjumpaannya dengan Kristus telah mengubah hidupnya. Kematian Kristus telah mengubah seluruh orientasi hidup Paulus. Ketaatan terhadap Hukum Taurat bukanlah suatu kebenaran yang menyelamatkan tetapi Kristus. Dengan mencontohkan dirinya sendiri dan pelayanan injil Kristus yang sementara dilakukannya, Paulus mengajak orang Yahudi untuk percaya dan taat kepada Kristus bukan kepada Hukum Taurat: “…..kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut Hukum Taurat” (ay.6.b). Roh Kudus menuntun dan mengarahkan orang Kristen dalam melayani sehingga kedagingan dan hawa nafsu dosa tidak merusak pelayanan Injil Kristus. Roh Kudus menguatkan dan menghibur orang Kristen sehingga tidak putus asa menghadapi tantangan pelayanan bahkan berani memikul resiko sekalipun nyawa menjadi taruhan. Roh Kudus membuat orang Kristen mengerti secara baik dan benar seluruh keputusannya untuk melayani Tuhan dalam segala situasi, dan bertanggungjawab penuh terhadap keputusan tersebut dihadapan Tuhan dan manusia. Berilah dirimu untuk dituntun dan dikuasai oleh Roh Kudus supaya tidak tersesat.

Doa: Tuhan, tuntunlah aku dengan Roh Kudus-Mu, agar hidupku jadi berarti Bagi-MU, amin

Sabtu, 24 Oktober 2020       

bacaan : Ibrani 6 : 9 – 12

Berpegang teguh pada pengharapan
9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. 10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. 11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, 12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.

JADIKANLAH PENGHARAPANMU SUATU MILIK YANG PASTI

Banyak orang Kristen selalu bangga dan berkata: “aku sangat percaya Tuhan Yesus; Ia hidup dan berkuasa. Ia sanggup melakukan apa saja dalam hidup ini!!”, tetapi hanya sedikit orang Kristen yang menaruh pengharapannya kepada Tuhan Yesus ketika menjalani kehidupan. Penulis surat Ibrani memberi penguatan kepada jemaat-jemaat yang sedang menanggung masalah yang berat, mereka dihina didepan umum dan harta benda mereka dirampas oleh para penguasa. Mereka diingatkan agar tetap berpegang teguh pada pengharapan dan tetap mengerjakan tugas dan tanggungjawab dengan setia. Perhatikanlah dengan seksama kehidupan orang yang menaruh pengharapannya kepada Tuhan Yesus. Ia tidak pernah putus asa! bahkan dalam kesulitan, ia masih setia melakukan panggilan hidupnya yaitu melayani Tuhan dengan menuruti perintah Tuhan. Jadi, Ia masih menunjukan kesungguhan pengharapannya atau tidak kehilangan pengharapan didalam Tuhan bahkan ia tidak menyangkali pengharapannya didalam Tuhan, baik dalam suka maupun dalam duka. Inilah yang harus dikerjakan oleh orang Kristen selama ia berada didalam dunia. Menjadikan pengharapan didalam Tuhan sebagai suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, supaya ia mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah. Saat ini kita sementara menghadapi berbagai persoalan yang berat dan bukankah beragam situasi kehidupan telah membuktikannya? Namun demikian orang percaya tidak boleh berputus asa dan hilang harapan. Tetapi mereka harus berpegang teguh pada pengharapan akan janji penyertaan Tuhan Yesus. Berpegang teguh pada pengharapan bukan berarti menanti dengan diam, tetapi tetap melakukan tanggungjawab untuk memberitakan Injil Kristus ditengah berbagai situasi. Percayalah bahwa pengharapan itu adalah sesuatu yang pasti!

Doa: Ya Tuhan, tolong aku untuk berharap hanya kepada-Mu. Amin.

*sumber : SHK bulan Oktober 2020, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey