Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Desember 2018
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 16 Desember 2018
bacaan : Yesaya 52 : 1 – 10 (T)
TUHAN menyelamatkan Sion
Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorangpun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu. 2 Kebaskanlah debu dari padamu, bangunlah, hai Yerusalem yang tertawan! Tanggalkanlah ikatan-ikatan dari lehermu, hai puteri Sion yang tertawan! 3 Sebab beginilah firman TUHAN: Kamu dijual tanpa pembayaran, maka kamu akan ditebus tanpa pembayaran juga. 4 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dahulu umat-Ku berangkat ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, lalu Asyur memeras dia tanpa alasan. 5 Tetapi sekarang, apakah lagi urusan-Ku di sini? demikianlah firman TUHAN. Umat-Ku sudah dirampas begitu saja. Mereka yang berkuasa atas dia memegahkan diri, demikianlah firman TUHAN, dan nama-Ku terus dihujat sepanjang hari. 6 Sebab itu umat-Ku akan mengenal nama-Ku dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara, ya Aku! 7 Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!” 8 Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion. 9 Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem. 10 TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.
Pertolongan Tuhan Membebaskan Kita
Hidup di zaman NOW ini penuh dengan kabar-kabar hoax yang sangat buruk (teroris masih berkeliaran, penculikan anak di mana-mana, bentrokan, kekerasan, penodongan, perampokan, pembunuhan, obat-obat terlarang, dlsb). Hidup penuh dengan adu domba, bukan adu ketangkasan. Ditengah situasi hidup demikian, tentu kita memerlukan pertolongan, ibarat orang yang sedang tenggelam, tangan kita meronta-ronta, menggapai-gapai, kita berusaha mengangkat kepala kita dari dalam air. Untuk apa? Untuk mencari udara, untuk bisa bernafas. Sebab kita tahu itulah satu-satunya cara kita untuk bisa bertahan hidup. Dan seharusnyalah kita mencari Tuhan seperti orang tenggelam yang mencari udara dan keselamatan. Itulah Adventus, sebuah penantian akan kedatangan Tuhan yang diwarnai dengan sikap hidup yang terus mencari dan memerlukan Tuhan di tengah berbagai tantangan dan ancaman. Yesaya 52 : 1 – 10, menggambarkan keberadaan Sion yang diselamatkan oleh Tuhan. Sebagaimana orang yang telah diluputkan dari ancaman, maka sepatutnya mereka hidup dalam rasa syukur. Sebagai orang percaya, kita semua adalah orang – orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan. Oleh sebab itu hendaklah setiap orang meninggalkan pola hidup yang lama, yang jauh dari Tuhan, Sebab kedatangan Tuhan Yesus membebaskan umatNya dari belenggu dosa. (DLS).
Doa : Terima kasih Tuhan, Engkau telah membebaskan kami. Amin.
Senin, 17 Desember 2018
bacaan : Amsal 23 : 15 (T)
15 Hai anakku, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita.
Hati Yang Bijak Mendatangkan Sukacita
Papa dan mama akan menjadi sangat bangga apabila anak-anaknya hidup dalam jalan kebenaran. Sukacita papa dan mama akan semakin besar apabila anak-anaknya hidup dengan bijak (berhikmat), terdidik dan berpengetahuan. Sebaliknya, papa dan mama akan menjadi sangat kecewa apabila anak-anaknya hidup dalam jalan kesesatan, suka berfoya-foya, dan seringkali mendatangkan kesusahan bagi orang-orang di sekitarnya. Lalu, apa yang harus dilakukan supaya anak-anak dapat mendatangkan sukacita bagi kita? Penulis Amsal mengingatkan kita bahwa baik buruknya perilaku seseorang, terutama anak-anak, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan dan faktor keluarga itu sendiri. Oleh karena itu papa dan mama mesti menjadi teladan bagi anak-anak melalui tutur kata yang baik, sikap dan perbuatan juga sejalan dengan kata-kata sehingga anak-anak akan mencontohi sekaligus menjadikan itu didikan bagi mereka. Kalau papa dan mama suka berkelahi dan mencaci maki, bahkan saling mencakar, maka anak-anak pun akan menirunya. Keluarga memegang peranan penting dalam diri setiap orang, karena merupakan tempat pertama dan utama untuk membentuk dan mendidik anak-anak. Karena itu, penulis Amsal juga mengingatkan anak-anak untuk tidak mengabaikan nasihat wejangan dari orangtua dalam keluarga, sekaligus memperingatkan anak-anak untuk menghormati orangtuanya, dan jangan sekali-sekali menghina mereka. (DLS).
Doa: Tuhan, jadikanlah keluarga kami bijak. Amin.
Selasa, 18 Desember 2018
bacaan : 2 Petrus 1 : 3 – 11 (T)
Panggilan dan pilihan Allah
3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. 4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. 5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, 6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. 8 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. 9 Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. 10 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. 11 Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Iman Yang Bertumbuh Akan Menghasilkan Buah Kebenaran
Tetangga saya menanam tiga biji mangga sekitar 20 tahun yang lalu di halaman rumahnya. Tahun ini ia menikmati buah mangga dari dua pohon yang sarat buahnya, sedangkan pohon yang ketiga tidak berbuah walaupun pohon ini berdaun sangat rimbun. Akhirnya pohon yang tidak berbuah itu ia tebang. Kenapa pohon yang satu itu tidak berbuah, saya sendiri tidak tahu sebabnya. Berbeda dari pohon mangga yang tidak berbuah itu, orang beriman ditetapkan untuk bertumbuh dan berbuah. Rasul Petrus menasihati orang-orang yang percaya untuk bertumbuh. Orang beriman dapat mengembangkan kualitas dan citra Kristus di dalam dirinya. Sebab itu, seharusnya tidak ada istilah “jalan di tempat” dalam perjalanan iman kita. Orang beriman akan menghasilkan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih terhadap saudara-saudara seiman, dan kasih terhadap semua orang. Itulah buah iman. Orang beriman bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kita ditetapkan untuk bertumbuh dalam pengetahuan yang benar akan Kristus dan berbuah. Sayangnya, ada orang percaya yang terhambat pertumbuhan imannya. Bukannya menjadi berkat, malah menjadi batu sandungan. Mereka tidak menunjukkan tanda pertumbuhan dan buah iman. Pertumbuhan iman terjadi karena kuasa Allah dan anugerah-Nya. Bukan berarti kita lalu pasif dan berdiam diri. Sebaliknya, kita mendayagunakan kuasa dan anugerahNya untuk menentukan pilihan hidup yang menumbuhkan dan mengembangkan iman.(DSL).
Doa : Ya Tuhan, biarlah iman kami bertumbuh dan menghasilkan buah kebenaran. amin
Rabu, 19 Desember 2018
bacaan : Lukas 1 : 26 – 38 (T)
Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” 34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” 35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” 38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Berani Memilih Taat Apapun Resikonya
Hamil diluar nikah merupakan aib besar bagi seorang perempuan muda. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalaminya akan menutupinya sedapat mungkin. Dibeberapa daerah dengan adat istiadat yang masih kental, bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial, dikucilkan, dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Maria hidup, hukumannya dilempari batu karena dianggap berzinah. Karena itulah, ketika malaikat Gabriel datang kepada Maria untuk memberitahukan bahwa ia akan mengandung, Maria berkata, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi, karena aku belum bersuami?” Maria pasti membayangkan betapa dahsyat hukuman yang akan diperolehnya. Ia mengalami pergulatan iman dan mental secara luar biasa. Tetapi langkah yang diambilnya cukup menjadi pembelajaran bagi keluarga Kristen, bahwa ia memilih taat pada perintah Tuhan. Simaklah perkataannya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia tidak menolak, tetapi menerimanya dengan sepenuhnya berserah kepada Allah. Maria tahu bahwa Allah, yang kepadaNya ia percaya, berkuasa menolong dan melindunginya. Setiap hari kita diperhadapkan pada ujian yang menuntut ketaatan kita. Tidak sedikit orang yang tidak mentaati kehendak Tuhan dalam hidupnya bahkan meragukan Tuhan. Mereka takut direndahkan, takut kehilangan pekerjaan, takut dihukum, dll. Karena itu, belajarlah dari kesetiaan Maria. Ia dengan keteguhan hati memilih taat kepada Allah walaupun ia harus menghadapi resiko yang berat. (DLS)
Doa: Tuhan, teguhkanlah iman kami agar selalu mentaati kehendakMu, apapun resikonya. Amin.
Kamis, 20 Desember 2018
bacaan : Lukas 1 : 67 – 75 (T)
Nyanyian pujian Zakharia
67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: 68 “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, 69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, 70 –seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus– 71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, 72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, 73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, 74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, 75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.
Bersiap Menanti Lawatan Allah
Orang tua mana yang tidak bangga jika anak yang dia harapkan lahir dalam keluarganya kelak merupakan anak yang telah dipersiapkan Tuhan bagi pekerjaanNya. Bangga, sukacita, bersyukur dan memuji Tuhan akan dilakukan oleh siapapun orang tua dari anak tersebut. Begitu pun dengan Zakharia. Pujian Zakharia merupakan salah satu pujian terindah dalam Injil Lukas. Ia memuji Allah karena Allah berkenan memilih dan mengutus anaknya, Yohanes untuk merintis jalan bagi Mesias dalam melawat umat-Nya. Ia disebut nabi Allah Yang Maha Tinggi karena dengan otoritas dan keberanian, menyampaikan berita pertobatan agar orang boleh bertobat dari dosa dan mendapatkan pengampunan dari Allah. Dengan semuanya itu maka umatNya boleh dipersiapkan untuk menerima rahmat dan belas kasihan Tuhan, yang memimpin mereka kepada kehidupan yang kekal dan penuh damai sejahtera. Allah juga berkenan melawat kita. Untuk itu siapkan keluarga kita untuk menerima lawatan-Nya. Siap sedia untuk dipakai menjadi alat di tangan-Nya guna memimpin orang lain datang kepada Yesus, sehingga banyak orang terbebas dari dosa, belenggu maut, dan Iblis serta mendapatkan pengampunan dan kasih Allah. Bersukacitalah jika keluarga kita dilawat oleh Allah !!! (DLS)
Doa: Tuhan, kami siap menanti lawatanMu bagi hidup keluarga kami. amin
Jumat, 21 Desember 2018
bacaan : Lukas 1 : 57 – 66 (T)
Kelahiran Yohanes Pembaptis
57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. 58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, 60 tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” 61 Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” 62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. 63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes.” Dan merekapun heran semuanya. 64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. 65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. 66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.
Dipakai Sesuai Rencana Tuhan
Mengandung dan melahirkan dalam usia lanjut yang sudah memasuki masa menapouse adalah hal yang mustahi dalam ilmu kedokteran dewasa ini. namun tidaklah demikian dengan Elizabeth. Allah menunjukkan keajaiban kuasaNya ketika ia kedapatan mengandung dan melahirkan Yohanes Pembaptis. Kelahiran Yohanes Pembaptis menurut perhitungan manusia memang sangat tidak mungkin. Ketika Malaikat Tuhan memberitahukan Zakharia bahwa istrinya akan mengandung, Zakharia yang kurang percaya langsung menjadi bisu. Waktu anak itu disunat dan hendak diberi nama yang lain, Zakharia diminta untuk menulis nama anaknya dan ia menulis “Namanya Yohanes“. Seketika itu juga Zakharia yang bisu itu langsung dapat berbicara. Orang-orang yang menyaksikan seluruh proses itu bergumam: ”Menjadi apakah anak ini nanti?” Ternyata, Allah telah menyiapkan Yohanes Pembaptis untuk menjadi seorang nabi besar sejak dari dalam kandungan ibunya. Yesaya merefleksikan panggilannya dan menemukann seperti apa yang dialami oleh Yohanes Pembaptis. “Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan dan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.” Ketahuilah, sesungguhnya, Allah juga telah mempunyai rencana untuk masing-masing kita sejak berada di dalam kandungan ibu. Oleh karena itu kita perlu berserah diri kepada tuntunan Allah dan berkata kepadaNya; “Inilah aku, Tuhan, pakailah sesuai rencanaMu.” Maukah kita bekerja untuk kemuliaan Tuhan dalam mengembangkan panggilan Tuhan itu?(DLS).
Doa: Tuhan, pakailah kami untuk mewujudkan rencana-Mu. Amin.
Sabtu, 22 Desember 2018
bacaan : Lukas 1 : 76 – 80
76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, 77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, 78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, 79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” 80 Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.
Anak adalah buah kandungan
(Renungan Keluarga Persiapan Adventus IV)
Setiap orang tua pasti bangga melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi besar dan hidupnya jadi berkat bagi banyak orang. Itulah kebanggaan Zakharia dan Elizabeth, yang dianugerahi seorang anak (Yohanes) di usia tua mereka. Sebenarnya kebanggaan mereka bukanlah ketika mereka dianugerahi seorang anak, tetapi ketika anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya (ay.80.a). Yohanes tidak mungkin bertumbuh dengan sendirinya, untuk menjadi anak yang bertambah besar dan makin kuat rohnya, ia membutuhkan didikan, bimbingan dan asuhan dari kedua orang tuanya, dan itulah yang dilakukan oleh Zakharia dan Elizabeth. Mereka memahami bahwa peran mereka sebagai orang tua sangatlah penting untuk mempersiapkan anak – anak yang dikaruniakan Allah, menjadi saksi bagi kemuliaan Nama Tuhan. Mereka bahkan mengantarkan Yohanes untuk tinggal di padang gurun sampai ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel (ay.80.b), padang gurun adalah sarana pertumbuhan spiritualitas seorang anak, mengalami berbagai kesukaran, kesulitan tapi juga pertumbuhan iman sehingga menjadi semakin kuat, dan dengan bangga Zakharia akan berucap : “….dan engkau hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Maha Tinggi….” Saat ini, banyak anak-anak yang dibiarkan bertumbuh dalam kemudahan. Mereka dilimpahi dengan berbagai fasilitas modern (HP, dll) tanpa pendampingan dan asuhan orang tua. Janganlah menyalahkan mereka kalau kemudian mereka bertumbuh menjadi anak – anak yang tidak mampu menghadapi berbagai godaan bahkan terjebak untuk melakukan berbagai hal – hal yang tidak benar. Sebagai orang tua, hendaklah meluangkan waktu untuk mendampingi, mendidik, membina dan mengasuh anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan, agar mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang dewasa dalam iman dan makin kuat spiritualitasnya. Jenderal Mac Arthur (Panglima Pasukan Sekutu dalam Perang dunia II), pernah berdoa bagi anaknya: “Tuhan, aku mohon supaya anakku jangan dibawa ke jalan yang mudah dan lunak, melainkan dibawa ke jalan yang penuh kesulitan dan tantangan, didiklah anakku supaya ulet berdiri diatas badai, bentuklah dia menjadi manusia yang hatinya jernih dan cita-citanya luhur….” dengan demikian aku ayahnya dapat berbisik: hidupku tidaklah sia-sia. Selamat memasui perayaan Adventus keempat….! (MRT)
Doa : Tuhan jadikanlah anak-anak kita sebagai generasi yang diberkati, amin
*sumber : SHK Bulan Desember 2018 LJP-GPM

