Santapan Harian Keluarga, 30 Des – 5 Januari 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 30 Desember 2018
bacaan : Galatia 4 : 1 – 11
Tak ada lagi perhambaan
Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; 2 tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya. 3 Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. 4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. 5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” 7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. 8 Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. 9 Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? 10 Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. 11 Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.
Bersyukurlah Sebagai Anak-Anak Allah
Dua orang anak sedang bermain di rumah kakek mereka ketika seorang tamu datang berkunjung. Kemudian si kakek segera menggandeng seorang dari dua cucunya itu untuk diperkenalkan pada tamu tersebut. “Ini cucu saya,” kata si kakek tanpa mengindahkan wajah kebingungan cucu yang seorang lagi. Rupa-rupanya cucu yang diperkenalkan kepada sang tamu berasal dari anak kandungnya sendiri. Adapun cucu yang diabaikan itu berasal dari anak yang diadopsi keluarga mereka sejak bayi.
Syukurlah Allah tidak memperlakukan kita seperti kakek di atas meskipun status kita adalah anak adopsi-Nya. Menurut hukum Romawi yang berlaku ketika kitab ini ditulis, seorang anak adopsi memiliki hak yang sah secara hukum terhadap segala sesuatu milik ayah angkatnya. Ia tidak diperhitungkan sebagai anak kelas dua, tetapi setara dengan anak kandung lainnya. Oleh sebab itu, ketika jemaat Galatia menerima dan membaca surat Paulus ini, mereka benar-benar mengerti apa artinya menjadi anak Allah. Setiap orang yang percaya kepada Kristus bukan saja telah ditebus dari dosa dan diadopsi ke dalam keluarga Allah, melainkan juga memiliki hak penuh sebagai anak perjanjian (3:29).
Orangtua kita di bumi bisa saja bersikap kurang bijaksana, bahkan mengecewakan, namun bersukacitalah karena Bapa di surga mengasihi kita seperti Dia mengasihi Kristus. Kelak kita akan berkumpul bersama di Kerajaan-Nya sebagai pewaris surga mulia
Doa: Terima kasih Tuhan Yesus buat status kami sebagai anak-anakMu. Amin.
Senin, 31 Desember 2018
bacaan : Ulangan 8 : 1 – 20
Bersyukur kepada Allah karena kebaikan-Nya
“Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. 3 Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. 4 Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. 5 Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. 6 Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. 7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; 8 suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; 9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. 10 Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu. 11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, 15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, 16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. 17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. 19 Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; 20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.”
Bersyukurlah Kepada Tuhan
(Renungan Keluarga Akhir Tahun)
Tanpa terasa kita sudah berada di hari terakhir di tahun 2018 ini dan tinggal beberapa saat lagi kita akan mengakhiri tahun ini dan memulai lagi langkah – langkah pergumulan baru di tahun anugerah-Nya, 2019. Mari sejenak kita renungkan bersama tentang : apa saja yang telah kita alami bersama Tuhan ? apa saja yang telah kita lakukan ? dan apa saja yang menjadi harapan kita kedepan ? Perjalanan 365 hari sudah kita lewati. Meskipun banyak permasalahan, peristiwa, suka – duka yang mewarnai perjalanan kita. Namun demikian Tuhan tidak pernah lepas tangan daripada kita, Ia selalu menggenapi janji-Nya : “Aku menyertai kamu”. Apapun pengalaman kita, manis – pahit, suka – duka, sukses – gagal, toh kita sudah tiba di penghujung tahun ini dengan selamat. Oleh karena itu, tidak ada kata lain selain “ungkapan syukur” kepada Yesus, Tuhan kita bahwa Ia sungguh baik bagi kita, Ia adalah Tuhan, Sang Pemberi dan Pengasih. Oleh sebab itu bersyukurlah selalu kepadaNya dan jangan pernah mel;upakan DIA dalam setiap langkah hidupmu. Itulah juga pengalaman orang- orang Israel ketika dituntun Tuhan Allah melewati perjalanan panjang di padang gurun, mereka dilimpahi berkat jasmani dan rohani, mereka dituntun melewati perjalanan sukar dan sulit, mereka diberi perlindungan dan rasa aman. Satu hal yang diminta oleh Tuhan : “Hati-hatilah supaya jangan engkau melupakan Tuhan Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapanNya………..” (Ulangan 8 : 11). Bagaimana dengan sauadara-saudara ? Bukankah kita juga sudah merasakan berkat dan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan di tahun 2018 ini ? Oleh karena itu pesan Firman Tuhan ini hendaklah menggelisahkan dan mengingatkan kita : “Jangan melupakan Tuhan Allahmu” sebab Dialah yang telah mempedulikan kita dan menuntun kita hingga penghujung waktu tahun ini. Ketika kita akan mengakhiri tahun 2018 ini dan kita akan melangkahkan kaki kita menapaki perjalanan tahun 2019, apa yang harus kita lakukan ? Mintalah pertolongan dari Tuhan dan percayakanlah seluruh perjalanmu dalam tuntunan tangan-Nya. Jangan pernah melangkah sendiri apalagi dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Selamat mengakhiri tahun 2018 dan Selamat memasuki Tahun Baru 2019, Tuhan Yesus memberkati…! (MRT)
Doa : Trima kasih Tuhan Yesus atas kasih dan penyertaanMu di Tahun 2018 dan sertailah kami dalam perjalanan di Tahun 2019, Amin
Selasa, 01 Januari 2019
bacaan : Mazmur 8 : 1 – 10
Manusia hina sebagai makhluk mulia
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. (8-2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. 2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. 3 (8-4) Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: 4 (8-5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 5 (8-6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. 6 (8-7) Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: 7 (8-8) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; 8 (8-9) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan. 9 (8-10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!
Ketergantungan Pada Allah
Ingatkah saudara pada setiap perayaan Natal dimana anak-anak kecil selalu mendapatkan tugas untuk membacakan nats mereka dan menyalakan lilin? Moment ini telah menjadi tradisi perayaan yang sangat unit. Betapa tidak, karena keterlibatan anak-anak dalam perayaan Natal, orang tuanya pun kadang tidak bisa menolak atau memberi alasan untuk tidak hadir dalam perayaan Natal tersebut. Hal ini berarti dengan keterlibatan anak terjadi perubahan pada orang tua untuk peduli terhadap persekutuan. Terkadang kita memang perlu belajar dari anak. Ayat 3 bacaan kita, Pemazmur menggunakan gambaran anak yang menyusu untuk menunjukkannya sebagai dasar kekuatan melawan musuh; yang hendak merajai kehidupan manusia. Bagi Pemazmur, musuh tersebut tidak memiliki kekuatan apapun, Musuh tidak dapat menguasai manusia, karena Allah memperhatikan mereka. Tindakan “menyusu” yang dilakukan oleh anak-anak mengartikan bahwa anak-anak tersebut adalah manusia yang lemah namun memiliki ketergantungan yang begitu kuat untuk memperoleh kehidupan dari Allah. Allah memang sangat mengasihi manusia dan memahami keterbatasannya. Dengan demikian, kehidupan manusia akan dipenuhi berkat Tuhan. Sikap tergantung pada Tuhan Allah merupakan sikap penting bagi kita selaku orang percaya dalam menapaki perjalanan hidup di tahun 2019.
Doa : KepadaMu ya Tuhan, kami menggantungkan seluruh kehidupan kami, amin.
Rabu, 02 Januari 2019
bacaan : Ulangan 31:7-8
7 Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. 8 Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”
Hati Yang Teguh untuk 364 Hari
Duka yang mendalam dialami oleh seorang teman pelayan karena meninggalnya ayah terkasih. Semenjak saat itu, ia pun bertanggung jawab untuk memimpin adik-adiknya. Katanya: tiap hari saya harus bolak-balik mengunjungi rumah kami dimana adik-adik saya tinggal. Saya harus mendampingi mereka dan menyelesaikan hal-hal yang masih dianggap masalah oleh mereka terkait dengan ketiadaan papa kami”. Pernyataan ini menunjuk pada kesadaran akan adanya peralihan tugas dan tanggung jawab dari papa kepadanya yang merupakan anak tertua dalam keluarga. Rasa lemah dan tidak berdaya mungkin saja mengusik dirinya. Rasa seperti ini dialami juga oleh Yosua, karena itu, ketika Musa mengalihkan tugasnya pada Yosua untuk menjadi penggantinya, bukan nasihat panjang lebar dan strategi kepemimpinan yang diberikannya kepada Yosua, melainkan kata-kata motivasi untuk menyemangati Yosua, bahwa ia tidak akan berjalan sendiri, melainkan bersama dengan Tuhan Allah yang setia menuntun dan mendampinginya. Kata-kata penguatan tersebut sangat tepat bagi kita yang akan menjalani 364 hari kedepan. Hati sebagai pusat penentu dan pengendali baik atau buruknya keadaan kita, harus selalu kuat. Sebab jika hati kita lemah maka perjalanan hidup ini hanya akan diwarnai dengan tangisan, kekecewaan, kemarahan juga iri hati dan sombong.
Doa : Kuatkanlah hati kami Tuhan dengan tuntunan Roh-Mu menapakai hari-hari kehidupan kami. Amin
Kamis, 03 Januari 2019
bacaan : Filipi 2:2-3
2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
“Sapu Lidi”, Begitulah Seharusnya Kita!
Anak saya yang berusia 1 tahun, senang sekali memegang sapu lidi. Ia tertawa gembira ketika ia bisa ikut membersihkan halaman rumah, namun jika sapu yang ada ditangannya mulai longgar ikatannya, ia tidak bisa menyapu dengan baik. Sapu yang terdiri dari lidi-lidi kecil yang lemah, tentunya hanya akan menjadi kekuatan yang besar dan dapat memberi manfaat jika dikumpulkan sebanyak mungkin dan diikat erat menjadi satu. Rasul Paulus juga melihat umat sebagai suatu kekuatan yang besar jika hidup sehati dan sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Dengan keutuhan, umat dapat melakukan banyak hal untuk kebaikan hidup, ketika menjumpai kesusahan dan penderitaan maupun kesenangan. Keutuhan tersebut harus dimulai dari keluarga sebagai basis dalam kehidupan keumatan. Suami dan istri sebagai dua pribadi yang berbeda harus mampu mengelola perbedaan dengan cinta kasih, pengertian, saling menghormati bahkan kesediaan berkorban dan merendahkan diri supaya kehidupan anak-anak bahkan keluarga dapat berjalan dalam rasa damai, aman dan sukacita. Hal ini pun akan menolong keluarga untuk menggapai apa yang menjadi cita-cita dan tujuan bersama di sepanjang tahun baru ini. Dengan demikian tahun 2019 sesungguhnya akan menjadi tahun rahmat Tuhan bagi keluarga.
Doa : Tolonglah kami Tuhan untuk mampu menjaga keutuhan keluarga kami menapaki hari-hari hidup kami ke depan. Amin
Jumat, 04 Januari 2019
bacaan : II Tawarikh 32:20-23
Yerusalem luput dari tangan Sanherib
20 Tetapi oleh karena itu raja Hizkia dan nabi Yesaya bin Amos berdoa dan berseru kepada sorga. 21 Lalu TUHAN mengirim malaikat yang melenyapkan semua pahlawan yang gagah perkasa, pemuka dan panglima yang ada di perkemahan raja Asyur, sehingga ia kemalu-maluan kembali ke negerinya. Kemudian ia ditewaskan dengan pedang oleh anak-anak kandungnya sendiri ketika ia memasuki rumah allahnya. 22 Demikianlah TUHAN menyelamatkan Hizkia dan penduduk Yerusalem dari tangan Sanherib, raja Asyur, dan dari tangan semua musuhnya. Dan Ia mengaruniakan keamanan kepada mereka di segala penjuru. 23 Banyak orang membawa persembahan ke Yerusalem untuk TUHAN dan barang-barang berharga untuk Hizkia, raja Yehuda itu. Sejak itu ia diagungkan oleh semua bangsa.
Teruslah Berdoa! Tuhan pasti mendengar dan menjawab
Dari pagi seorang ibu terlihat sangat sibuk melakukan pekerjaannya. Dengan gesit ia bergerak untuk menyelesaikan beberapa agenda kerjanya hari itu, dengan tetap fokus dan tanggap hingga terkesan ia over hati-hati. Ketika ia berjalan menuju mobil dinasnya untuk pergi ke suatu tempat, tiba-tiba ia menangis memegang pergelangan kakinya yang sakit, akibat keseleo. Dengan kesal ia memarahi dirinya dan mengatakan : aduh, dari tadi saya sangat berhati-hati melakukan pekerjaan, kenapa saya tidak hati-hati berjalan ya? Tidak semua hal dalam hidup ini bisa berjalan seperti yang kita inginkan, sekalipun kita sudah berwaspada atau hati-hati. Kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia membuat kita sadar bahwa kita sangat membutuhkan penyertaan Tuhan. Dalam bacaan kita, Raja Hizkia dan Yesaya “berdoa dan berseru kepada sorga”. Sebuah pernyataan yang menggambarkan adanya sikap doa yang disertai dengan iman yang sungguh dalam pemahaman dan pengertian tentang Allah secara luas. Sehingga kata “sorga” dipakai untuk menyatakan pengharapan mereka kepada Allah yang akan hadir menolong mereka secara total juga. Untuk itu, Allah pun menjawab doa mereka dengan mengirimkan malaikat sebagai bagian dari penghuni sorga. Seperti Hizkia dan Yesaya, demikian juga seharusnya kita dalam menapaki perjalanan hidup ini.
Doa : Setialah mendengar dan menyahuti doa kami, ya Allah Penolong hidup kami. Amin
Sabtu, 05 Januari 2019
bacaan : Yesaya 43:1-7
Allah adalah satu-satunya penebus
Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. 2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. 3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu. 4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. 5 Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat. 6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, 7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”
Tuhan, Penebusku
KJ.408 ”Di jalanku ku diiring” diciptakan oleh Fanny Crosby sebagai hasil doa. Saat Fanny mengalami masalah financial dan membutuhkan uang, Fanny berdoa memohon kepada Tuhan. Beberapa menit kemudian, ada orang yang memberikan dia 5 dolar. Fanny percaya bahwa Tuhan bekerja melalui tangan orang itu. Fanny membuat puisi yang kemudian digubah menjadi lagu berjudul “All The Way My Savior Leads Me”. Fanny menulis “Cheers each winding path I tread, gives me grace for every trial” (berduka untuk setiap jalan berliku yang saya lalui, memberikan saya anugerah untuk setiap ujian). Fanny mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah berjanji untuk menjauhkan kita dari keadaan yang sukar namun Dia menjanjikan akan berjalan bersama kita, menuntun setiap langkah kita dan memberikan anugerah yang diperlukan. Keyakinan Fanny yang besar akan penyertaan Tuhan dan refleksi imannya ini sangat tepat dengan apa yang dikatakan dalam nats bacaan kita. Tuhan memang adalah Penebus kita, ia senantiasa berjalan bersama kita, saat ini dan selamanya. Ia menolong kita melewati setiap kesulitan hidup, bahkan Ia menyertai setiap generasi yakni anak cucu kita. Karena itu, jangan pernah kita takut, bimbang dan ragu, melainkan tetaplah beriman kepada Tuhan Allah. Dia, Sang Juruselamat, tetap setia menyatakan penyertaanNya supaya melalui kehidupan kita Tuhan dimuliakan.
Doa : Tuhan Penebus kami, kasihilah kami dan setialah menyertai kami. Amin
*sumber : SHK terbitan Desember & Januari 2018 LPJ-GPM

