Santapan Harian Keluarga, 6 – 12 Januari 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 06 Januari 2019
bacaan : Lukas 4 : 18 – 19
18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
“Kaki Tangan Allah”
Cuplikan dari Kitab Yesaya 61:1-2 disampaikan kembali oleh Yesus saat memulai pekerjaan pemberitaan Injil. Nabi Yesaya menyampaikan seruan ini kepada bangsa yang saat itu sedang berada di bawah tekanan perbudakan akibat pembuangan. Dan Yesus menyampaikan kembali ayat itu sebagai cara IA sedang memproklamirkan bahwa IA sendirilah yang dimaksudkan dalam nubuat nabi Yesaya itu, yakni “Yang Diurapi” seorang “pembawa kabar baik”. Dan kabar baik yang IA bawakan adalah berita pembebasan bukan saja bagi yang terbelenggu secara fisik, tetapi suatu pembebasan secara menyeluruh bagi roh, jiwa dan tubuh. Jelas bahwa ini merupakan suatu visi lanjutan dari Allah, dimulai oleh para nabi kepada bangsa Israel kemudian dilanjutkan oleh Yesus Kristus di zaman Perjanjian Baru, dan sekarang menjadi tugas kita yang telah diselamatkan, untuk menjadi alat pembebas bagi sesama kita yang terbelenggu saat ini. Ada kabar baik yang harus kita sampaikan kepada sesama kita yang tertindas dan terbelenggu, kepada yang remuk hatinya karena termarginalkan, kepada yang buta dan perlu dicelikkan, serta mengumandangkan betapa dahsyat dan luar biasanya Tuhan, Allah kita. Bahkan, kita telah diperlengkapi dengan “penolong”, yakni Roh Kudus. Pertanyaannya, sudahkah kita peka terhadap keadaan disekitar kita? Maukah kita menjadi alat pembebas bagi sesama kita?
Doa : Ya Yesus, tolong kami menjadi penyembuh bagi sesama yang terluka, amin
Senin, 07 Januari 2019
bacaan : Lukas 14 : 12 – 14
Siapa yang harus diundang
12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. 13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. 14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”
“Memberi dan Memberi”
Dalam pandangan orang yahudi, mengundang atau duduk makan bersama dengan orang miskin, cacat, merupakan suatu hal yang hina. Dalam Imamat 21:18, orang-orang yang demikian tidak diperbolehkan untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Namun dalam pekerjaan pelayanan-Nya, Yesus justru membongkar semua bentuk tradisi yang mengabaikan orang–orang kecil, Ia menjadi teman bagi mereka yang terpinggirkan dalam masyarakat. Sepanjang sejarah hidup-Nya, Yesus merupakan teladan hidup yang mengajarkan kita bahwa di mata Allah tidak ada yang terlalu hebat atau terlalu hina, bahwa semua manusia layak dan sama berharganya. Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini ketika melakukan suatu kebaikan, terkadang kita masih mengharapkan imbalan dari apa yang kita lakukan. Beberapa orang bahkan berharap agar setelah dibantu, doa-doa orang-orang yang terpinggirkan itu dapat menjadi semacam khasiat bagi mereka untuk mendapatkan banyak berkat dalam hal materi maupun pekerjaan. Padahal yang Tuhan inginkan dari kita adalah kepekaan yang tulus dan jujur terhadap sesama yang membutuhkan uluran tangan. Jangan memberi dengan maksud lain di belakang seperti pencitraan atau mencari nama. Jangan pula berbagi dengan harapan agar kita dipandang sebagai orang yang berjiwa social, tetapi lakukanlah semua itu karena Kasih.
Doa : Tuhan, biarlah kami belajar untuk merangkul sesama kami yang membutuhkan, amin.
Selasa, 08 Januari 2019
bacaan : Matius 25 : 40 – 46
40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
“Melayani Sesama = Melayani Tuhan”
Cerita Tuhan Yesus tentang penghakiman terakhir ini membuka pemahaman kita tentang bagaimana kita hidup semestinya. Dua kelompok yang digambarkan sebagai domba dan kambing sesungguhnya mencerminkan orang yang melakukan kehendak Tuhan, dan orang yang tidak melakukannya. Jika yang melakukan kehendak Tuhan disebut sebagai orang benar, lantas seperti apakah orang benar itu? Ada orang yang merasa dirinya sudah benar karena telah terlibat dalam pelayanan, sehingga ia mampu menjadi hakim bagi orang lain. Adapula orang yang merasa paling benar dan malah cenderung mengesampingkan pelayanan bagi orang lain yang dianggap tidak sepantaran atau sederajat. Tidak banyak orang yang suka melayani orang-orang yang tersingkirkan dan hina. Padahal kita sebenarnya sudah bertemu Tuhan setiap hari, lewat sesama kita.
Dalam bacaan ini Yesus malah mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai orang-orang yang terbuang, yang menderita dan paling hina. Selalu demikian, karena Yesus sendiri menegaskan bahwa IA datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang terbuang. Kalau Yesus saja sudah mengidentifikasi diri-Nya dengan mereka yang paling miskin dan terhina, lalu siapakah kita yang merasa terlalu tinggi untuk melayani mereka? Setiap orang yang pernah merasakan jamahan kasih Tuhan, yang mampu melayani Tuhan dengan tulus
Doa : Biarlah kami mengasihi sesama kami dengan tulus, amin.
Rabu, 09 Januari 2019
bacaan : Matius 19 : 16 – 26
Orang muda yang kaya
16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” 18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” 21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 26 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”
“Diberkati untuk memberkati”
Terkadang dalam hidup, kita merasa bahwa kita sudah sangat baik. Sama seperti orang muda ini, yang sejak kecil sudah hidup berpedoman pada perintah Tuhan yang tertuang dalam sepuluh hukum Allah. Jika demikian, mengapa ia masih saja kuatir tentang hidup yang kekal? Orang muda ini, ketika mendengar perkataan Yesus untuk menjual hartanya, ia merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Ia takut kehilangan harta yang menjadi kebanggannya, kekuatan hidupnya dan yang menjadikan ia berkuasa dan terpandang. Ia lebih suka mempertahankan kondisi nyamannya itu. Apakah kita juga demikian? Karena ingin menjaga kondisi nyaman, kita enggan untuk menyempurnakan kasih kepada Tuhan lewat sesama kita yang membutuhkan. Sama seperti orang muda ini, kita hanya berfokus pada satu titik dan mengabaikan atau tidak mau tahu lagi firman Tuhan yang lain tentang kasih, keselamatan, pelayanan akan sesama dan lain sebagainya. Kita terlalu nyaman dengan kondisi yang kita miliki sehingga tidak berani untuk keluar dari zona nyaman tersebut.
Kekayaan merupakan bahaya spiritual. Bahkan kekayaan sangat mungkin dapat mengalihkan perhatian dari Tuhan dan perintah-Nya yang lain. Kekayaan dapat membuat kita buta dan memutuskan diri dari yang lain, dan mengarahkan kita mengeksploitasi dan menindas orang lain.
Doa : Biarlah kami pun mampu menjadi saluran berkat bagi sesama kami, amin.
Kamis, 10 Januari 2019
bacaan : Lukas 16 : 19 – 31
Orang kaya dan Lazarus yang miskin
19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”
“Hidup Adalah Kesempatan”
Cerita tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin, mengingatkan kita tentang kasih Allah bagi orang – orang yang miskin dan menderita. Di zaman ini, ada banyak Lazarus disekitar kita. Ada jutaan Lazarus yang ditolak, dipinggirkan dan mati kelaparan. Namun kenyataannya kita masihlah seorang kaya yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Yesus melihat Lazarus sebagai seorang ciptaan Allah yang menderita, yang memerlukan cinta-kasih. Kita belum mampu melihat dan menemukan Allah yang menderita dalam wajah sesama yang terpinggirkan. Kita meminta Tuhan memberikan kemampuan untuk mencintai tapi ketika kesempatan itu datang, kita masih berpikir lagi untung-ruginya, bahkan melewati saja mereka dipinggir jalan, atau mereka yang menderita disamping rumah kita. Kita meminta Tuhan agar memampukan kita untuk berkorban, tetapi ketika pernyataan kasih menuntut pengorbanan maka kita mulai berpikir bahwa ini bukan waktuku, atau bahkan lebih parah lagi jika atas kata dan perbuatan kita, orang lain menderita tetapi kita lari tanggung jawab. Hari ini, kita diajak untuk berbagi. Bukan berapa banyak yang kita bagikan, melainkan seberapa besar kita rela untuk peduli, berempati kepada sesama yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Kita masih punya kesempatan untuk menolong orang lain yang lemah dan berkekurangan, hidup ini adalah kesempatan.
Doa : Biarlah hidup kami berarti bagi orang lain, amin.
Jumat, 11 Januari 2019
bacaan : Yesaya 58 : 1 – 12
Kesalehan yang palsu dan yang sejati
Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! 2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: 3 “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. 4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. 5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? 6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.
“Ibadah yang Sejati”
Ibadah yang sejati bukan hanya sekedar kegiatan ritual, tetapi menyangkut totalitas hidup kita bagi Tuhan dan sesama. Hal ini juga yang dituntut Tuhan bagi bangsa Israel. Mereka telah melakukan segala macam ritual peribadahan, bahkan berpuasa dan mempersembahkan korban. Tapi mengapa bagi Tuhan kesalehan mereka palsu? Karena mereka tidak memiliki perubahan hidup. Hati mereka tidak sepenuhnya tertuju pada Allah. Mereka aktif beribadah, tetapi mereka juga berlaku kasar terhadap buruh-buruh mereka. Semakin dekat dengan Tuhan harusnya membuat kita penuh dengan kerendahan hati, mau berbagi makanan dengan orang yang lapar, peduli terhadap mereka yang sakit, membuka tangan bagi mereka yang memohon pertolongan. Di sekeliling kita ada banyak orang miskin terlunta, dan orang-orang yang punya banyak persoalan. Inilah saatnya bagi kita untuk bertanya, “Apakah dihadapan Tuhan saya sudah melayani mereka ? Jika saat ini kita masih menyembunyikan diri dari saudara kita, dan membiarkan mereka sengsara dan teraniaya, sekaranglah saatnya kita berbalik untuk melayani mereka, hidup berbagi dengan mereka, menolong mereka yang sakit dan susah, sebab itulah ibadah yang sejati.
Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk mewujudkan ibadah dalam pelayanan bagi sesama, amin.
Sabtu, 12 Januari 2019
bacaan : Amos 5 : 12 – 17
12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. 13 Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat.
Hidup dan mati
14 Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. 15 Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf. 16 Sesungguhnya, beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Tuhanku: “Di segala tanah lapang akan ada ratapan dan di segala lorong orang akan berkata: Wahai! Wahai! Petani dipanggil untuk berkabung dan orang-orang yang pandai meratap untuk mengadakan ratapan. 17 Dan di segala kebun anggur akan ada ratapan, apabila Aku berjalan dari tengah-tengahmu,” firman TUHAN.
“Menjadi Amos Masa Kini”
Amos dalam tugas dan panggilannya mengecam hidup bangsa Israel yang dipenuhi kesalehan palsu lewat peribadahan yang dilakukan, namun gemar melakukan ketidakadilan terhadap orang miskin. Dalam teks pembacaan, para pemimpin, para hakim, orang-orang kaya dan orang yang berkuasa mengabaikan kepedulian Tuhan akan keadilan. Seperti nabi Amos, demikian jugalah kita dipanggil untuk menyuarakan sekaligus sebagai pelaku kebenaran dan keadilan.Tugas dan panggilan Amos harus menjadi tugas dan panggilan kita untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan serta mencari atau mencintai yang baik, dan membenci yang jahat. Dalam tugas dan pelayanan kita di dunia hingga saat ini, sudahkah kita menjadi seperti Amos, yang dengan lantang menyuarakan ketidakdilan, memperjuangkan hak-hak orang yang teraniaya, berani mengatakan salah diatas salah, dan benar diatas benar? Ataukah kita membiarkan ketidakadilan itu tetap berkembang di sekitar kita, atau bahkan kita juga menjadi pelaku dari ketidakadilan tersebut ? Mulailah dari keluarga sebagai basis pembinaan umat, papa dan mama berbagi kasih dan perhatian yang adil kepada anak – anak, anak – anak diajarkan untuk mengasihi sesama dengan sikap dan perilaku hidup yang baik
Doa : Tuhan, Biarlah hati dan pelayanan kami selalu terarah hanya kepada-Mu, amin.
*sumber : SHK bulan Januari 2019 LPJ-GPM

