fbpx

Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 Maret 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 10 Maret 2019                              

bacaan : Kejadian 22 : 1 19 (T)

Kepercayaan Abraham diuji
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” 2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” 3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. 5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” 6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” 8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” 13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 14 Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.” 15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 16 kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman TUHAN–:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” 19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. 

Iman Dan Kesetiaan Yang Teruji

Kita dapat membayangkan bagaimana perasaan hati Abraham ketika Allah meminta dia mengorbankan anaknya, Ishak yang didapatnya di hari tua dengan susah payah. Anak perjanjian yang dinanti-nantikan selama 25 tahun. Tentu saja Abraham berada dalam pergumulan yang berat. Apalagi ketika Ishak bertanya tentang korban bakaran, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”. Yang menarik ialah walaupun hatinya penuh tanya, Ishak tetap taat melakukan perintah bapanya. Di sini Tuhan telah melihat kesetiaan Abraham maupun anaknya Ishak yang taat melakukan perintah. Ternyata di saat-saat yang menegangkan, Tuhan berprakarsa danbertindak membatalkan permintaan kepada Abraham untuk mengorbankan anaknya dengan menyediakan seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut.Karena itu, Ishak tidak lagi dipersembahkan sebagai korban bakaran, karena domba telah disediakan untuk  menggantikan Ishak. Betapa bangganya kita memiliki Allah yang penuh kasih. Allah yang tetap setia pada janji-Nya. Inilah jaminan satu-satunya yang mesti menjadi keyakinan kita bahwa Allah tidak pernah lalai dalam menepati janji-Nya kepada anak-anak yang dikasihi-Nya. Karena itu, sebagai keluarga kristen,  papa, mama, anak-anak, dan saudara bersaudara, marilah kita belajar dari spiritualitas kesetiaan beriman kepada Allah yang dimiliki Abraham dan juga anaknya Ishak. Berdoalah, agar Allah memberikan kepada kita iman yang kuat supaya kita hidup taat dan memiliki pengharapan dalam Tuhan. Sehingga ketika kita diminta oleh Allah untuk memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita, maka kita bisa lulus sama seperti Abraham. Ingatlah, Allah yang kita imani dan sembah dalam Yesus Kristus sungguh mengasihi kita, dan kasih-Nya tidak terbatas dan tak pernah berkesudahan. 

Doa: Bapa, kuatkan iman kami agar kesetiaan kami kepada-Mu tetap teruji sama seperti Abraham. Amin.

 

Senin, 11 Maret 2019                                  

bacaan : Keluaran 2 : 1 10 (T)

Musa lahir dan diselamatkan
Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; 4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. 5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. 6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani.” 7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?” 8 Sahut puteri Firaun kepadanya: “Baiklah.” Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: “Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.” Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. 10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: “Karena aku telah menariknya dari air.” 

Harapan Orang Tua Agar Anaknya Berhasil

Setiap orang tua, pastinya mengharapkan anak-anaknya berhasil dan masa depannya terjamin. Namun terkadang kita melupakan satu aspek terpenting, yaitu kehidupan spiritual anak. Nas hari ini memperlihatkan, ketika Musa lahir, ia terancam dibunuh oleh Firaun, dan untuk menyelamatkannya, orangtuanya menyembunyikannya  dalam keranjang dan dihanyutkan di sungai Nil. Lalu putri Firaun mengambilnya untuk dibesarkan di istana. Tentu saja kehidupan Musa di istana jauh lebih baik, terjamin, tercukupi, tapi belum tentu dengan kehidupan spiritual dan imannya. Karena itu,ibunya Yokbeth dipanggil oleh putri Firaun untuk menyusui Musa. Yokbed bukan saja menyusui tapi juga memperhatikan iman Musa, sehingga ia bertumbuh menjadi seorang anak yang mengenal bahwa dirinya adalah orang Israel yang beriman kepada Tuhan (11-12). Begitu juga dengan kita sebagai orang tua di zaman sekarang ini, Tuhan mengharapkan kita dapat membina anak-anak agar beriman dan percaya kepada Tuhan. Karena itu dalam membesarkan anak-anak, selain mencukupkan kebutuhan mereka, maka pendidikan iman dan spiritual perlu diasah. Pertanyaannya ialah, sudahkah kita sebagai orang tua memperhatikan pendidikan anak, teristimewa pendidikan spiritual mereka, seperti kita memperhatikan pendidikan formal dan kebutuhan hidup lainnya? Atau jangan sampai kita menganggap bahwa pendidikan iman dan pembentukan karakter adalah sebuah tambahan yang bisa ditambahkan kapan saja bila diperlukan? Marilah kita belajar dari pengalaman keluarga Musa (Ibu Yokhbeth) yang patut diteladani dalam melaksanakan peran dan tanggungjawab sebagai orang tua yang baik. Sehingga anak-anak kita bertumbuh dalam iman kepada Tuhan dan berhasilsesuai rencana Tuhan. 

Doa: Tuhan, mampukan kami menjadi orangtua yang baik dalam mendidik dan menanamkan nilai iman bagi anak-anak kami. Amin.

 

Selasa, 12 Maret 2019                                 

bacaan : Hakim 11 : 29 40 (T)

Nazar Yefta

29 Lalu Roh TUHAN menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. 30 Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, 31 maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” 32 Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. 33 Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroer sampai dekat Minit–dua puluh kota banyaknya–dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel. 34 Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. 35 Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.” 36 Tetapi jawabnya kepadanya: “Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.” 37 Lagi katanya kepada ayahnya: “Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.” 38 Jawab Yefta: “Pergilah,” dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. 39 Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. Dan telah menjadi adat di Israel, 40 bahwa dari tahun ke tahun anak-anak perempuan orang Israel selama empat hari setahun meratapi anak perempuan Yefta, orang Gilead itu.

Tuhan Sanggup Mengubah Yang Buruk Untuk Rencana-Nya

Ayat renungan menyatakan: “Roh Tuhan menghinggapi Yefta”. Mengapa Tuhan memakai Yefta? Bukankah kehidupan Yefta memiliki banyak sisi negatifnya? Ingatlah bahwa Tuhan memiliki kedaulatan penuh untuk memilih seseorang yang hendak dipakai sebagai alat kemuliaan-Nya. Apabila Tuhan memilih seseorang, Ia tidak pernah melihat latar belakangnya (kaya, miskin, pintar, bodoh), termasuk Yefta yang mendapat anugerah dari Tuhan. Namun yang mau ditekankan terkait Tema “Jangan mengorban siapapun atas nama Tuhan”, maka yang menjadi fokus adalah keputusan Yefta bernazar bagi Tuhan (30). Ini penting, mengingat bahwa orang kadang membuat keputusan yang tidak masuk akal, tapi atas nama Tuhan orang nekad untuk melakukannya.Sama seperti Yefta bernazar kepada Tuhan tanpa mempertimbangkan apa akibatnya. Yefta telah melakukan kesalahan, karena ternyata yang menyambutnya ketika ia pulang dengan selamat adalah anak perempuan satu-satunya yang akan menjadi persembahan bagi korban bakaran. Kisah ini dimaksudkan untuk menunjukkan akibat yang patut disayangkan karena ketidakpercayaan Yefta akan kebaikan Tuhan untuk membebaskan Israel, sehingga Yefta pikir ia harus bernazar supaya keinginannya berhasil. Sebenarnya tidak perlu ada praktek seperti itu (orang kafir). Kisah ini juga mau mengingatkan kita bahwa tidak boleh bernazar sembarangan, harus dipertimbangkan betul dan matang. Atau lebih baik tidak bernazar sama sekali.Ini penting untuk menjadi pembelajaran bagi keluarga Kristen, untuk tidak meragukan pertolongan Tuhan dalam setiap pergumulan hidup. Kita juga orang berdosa yang beroleh kemurahan karena iman kepada Yesus. Tuhan Yesus rela mati untuk kita. Dia juga memilih kita tanpa mempedulikan seburuk apa latarbelakang kita. Asal kita mau bertobat dengan sungguh, Tuhan mengubah hidup kita, karena kita berharga di mata-Nya. 

Doa: Tuhan, tuntunlah keluaga kami dengan Roh dan hikmat-Mu, agar kami tidak salah dalam mengambil keputusan. Amin.

 

Rabu,13 Maret 2019                                    

bacaan : I Raja 3 : 16 – 28  (T)

Hikmat Salomo pada waktu memberi keputusan

16 Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya. 17 Kata perempuan yang satu: “Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. 18 Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. 19 Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. 20 Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku. 21 Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan.” 22 Kata perempuan yang lain itu: “Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.” Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: “Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” Begitulah mereka bertengkar di depan raja. 23 Lalu berkatalah raja: “Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” 24 Sesudah itu raja berkata: “Ambilkan aku pedang,” lalu dibawalah pedang ke depan raja. 25 Kata raja: “Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain.” 26 Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: “Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia.” Tetapi yang lain itu berkata: “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!” 27 Tetapi raja menjawab, katanya: “Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya.” 28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Mintalah Hikmat Dari Allah

Setiap hari kita diperhadapkan dengan pengambilan-pengambilan keputusan yang berkaitan dengan hidup kita, kerja kita, keluarga kita, pelayanan kita dan sebagainya.Tentu saja dalam pengambilan keputusan kita membutuhkan kearifan dan   hikmat yang dari Tuhan. Kisah Salomo dalam memberikan keputusan seperti yang kita baca hari ini sesungguhnya tidaklah lepas dari hikmat Allah yang ada padanya karena ia memintanya. Itulah sebabnya ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikannya, mereka menjadi takut karena melihat bahwa hikmat dari Allah ada dalam hati Salomo untuk melakukan keadilan. Memang, hikmat Allah selalu menolong kita untuk melihat apa yang tidak  dilihat oleh mata jasmani kita. Hikmat Allah menjadikan kita mampu menghadirkan kebenaran dalam hidup. Ketika kita hanya mengandalkan pikiran dan hawa nafsu kita sendiri, maka kita hanya melihat apa yang kelihatan dan keputusan-keputusan yang kita ambil lebih banyak sesuai dengan pikiran dan kehendak kita. Namun hikmat dari Allah menolong kita dalam hidup ini sehingga buah dari hikmat itu nampak jelas dalam hidup kita, pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan munafik (Yak 3:17-18). Mari jadikanlah hidup kita berarti ketika hikmat Allah yang kita minta diberikan Tuhan kepada kita menjadi andalan dalam hidup ini.

Doa: Tuhan, berilah hikmat-Mu menuntun langkah hidupku sepanjang waktu, Amin!

 

Kamis, 14 Maret 2019                             

bacaan : Mazmur 106 : 37 – 43 (T)

37 Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, 38 dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah. 39 Mereka menajiskan diri dengan apa yang mereka lakukan, dan berzinah dalam perbuatan-perbuatan mereka. 40 Maka menyalalah murka TUHAN terhadap umat-Nya, dan Ia jijik kepada milik-Nya sendiri. 41 Diserahkan-Nyalah mereka ke tangan bangsa-bangsa, sehingga orang-orang yang membenci mereka berkuasa atas mereka. 42 Mereka diimpit oleh musuhnya, sehingga takluk ke bawah kuasanya. 43 Banyak kali dilepaskan-Nya mereka, tetapi mereka bersikap memberontak dengan rencana-rencana mereka, tenggelam dalam kesalahan mereka. 

Jangan Menindas dan Mengorbankan Orang Lain

Sesuatu yang dikorbankan sering dikonotasikan sebagai “tumbal”. Dalam hal tertentu tumbal sering dipakai sebagai persembahan atau pemenuhan syarat-syarat tertentu. Dalam tradisi dibeberapa tempat kita lihat dalam upacara tertentu   ada hewan yang disembelih.Tetapi tidak hanya hewan yang menjadi korban atau tumbal. Dalam peradaban kuno dan praktek peribadahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Kanaan, manusia pun kadang menjadi “bahan” untuk dikorbankan.  Israel sebagai bangsa pilihan Allah mempraktekkan hal yang sama. Hal ini dipandang oleh Tuhan sebagai sesuatu yang tidak benar, karena itu mereka mendapatkan penghukuman sebagai cara Tuhan menegur dan mengembalikan mereka pada praktek hidup dan peribadahan yang benar. Fakta di zaman sekarang, praktek mengorbankan orang lain demi kepentingan seseorang atau sekelompok orang masih kita dapati dalam hidup sehari-hari. Ada pembantu rumah tangga yang ditindas oleh tuan rumah seperti banyak yang dialami oleh tenaga kerja wanita diluar negeri yang menjadi korban penindasan, ada juga anak yang dikorbankan oleh orangtua demi kepentingan mereka. Ada juga atasan yang mengorbankan bawahannya agar dapat selamat dari kasus tertentu. Praktek-praktek ini hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang tidak benar dan harus dilawan. Demi alasan apapun, janganlah kita menindas dan mengorbankan orang lain karena kita adalah sama-sama ciptaan Allah yang berharga dan berhak menikmati hidup yang bermartabat.

Doa:  Tuhan, jauhkan aku dari kecenderungan mengorbankan orang lain demi kepentinganku, Amin! 

 

Jumat, 15 Maret 2019                                 

bacaan :  Kejadian 16 : 1 – 6 (T)

Hagar dan Ismael
Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. 2 Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. 3 Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. 4 Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. 5 Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau.” 6 Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya.  

Jangan Korbankan Aku!!!

Posisi dikorbankan apalagi disengaja adalah sesuatu yang tidak mengenakkan.Kadang ada pula yang berposisi sebagai korban. Kita sering mendengar atau membaca seseorang yang menjadi korban tabrak lari, PHK, penipuan atau hal-hal yang tidak mengenakkan lainnya. Menjadi korban jelas tidak mengenangkan sebab ada penderitaan yang harus ditanggung. Ada yang menyikapi penderitaan itu dengan sikap bermacam-macam pula. Ada yang pasrah menerima keadaan, ada yang bertahan ataupun sampai melawan. Hagar dalam kisah ini menjadi korban penindasan Sarah sehingga ia melarikan diri karena tidak tahan terhadap penderitaan yang dialaminya. Kekuasaan yang dimiliki oleh Sarah sebagai nyonya rumah digunakannya untuk menindas hambanya. Praktek penindasan terhadap Hagar yang dilakukan oleh Sarah adalah sikap yang kurang terpuji. Apapun alasannya, jangan mengorbankan orang lain demi kepentingan kita apalagi jika hal itu dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan menindas. Karena itu dari kisah ini kita belajar untuk memperlakukan orang lain dengan baik sekalipun dia adalah hamba atau orang yang lemah. Mari kita perlakukan orang lain sebagai orang yang punya martabat dan harga diri, seperti diri kita sendiri, yang akan merasa tersakiti jika kita juga disakiti dan dikorbankan oleh orang lain.

Doa: Tuhan, tolong aku untuk menjaga diri dari kecenderungan mengorbankan orang lain demi mencapai tujuanku, Amin!

 

Sabtu, 16 Maret 2019                             

bacaan : Keluaran 13 : 1 – 16 (T) 

Abram dan Lot berpisah
Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. 6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. 7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu. 8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. 9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” 10 Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. –Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. — 11 Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. 12 Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. 13 Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. 14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, 15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. 16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. 

Belajarlah dari Pengorbanan Yesus

Pernahkah anda merasakan makna sebuah pengorbanan? Apa yang anda rasakan ketika suami anda mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai anda? Ketika istri anda mengorbankan seluruh hidupnya untuk melayani anda? Ketika orangtua anda mengorbankan hidupnya untuk masa depan anda? Hal inilah yang mau disampaikan dalam Keluaran 13:1-16, Yang menceriterakan tentang 2 hal, yang pertama: Tuhan mengingatkan umat Israel, setelah mereka dibebaskan dari penindasan Mesir, dan ketika mereka tiba di Kanaan, mereka harus menceriterakan perbuatan Tuhan yang besar itu kepada anak-anak mereka, supaya hidup mereka selalu menjadi peringatan akan kasih setia Tuhan Allah yang telah menebus dan menyelamatkan umat-Nya. Yang kedua, umat diingatkan untuk mempersembahkan yang sulung dari anak-anak mereka bahkan dari anak hewan-hewan mereka bagi Tuhan, maksudnya adalah bahwa ketika umat Israel di bebaskan, mereka ditebus oleh Tuhan lewat kematian anak-anak sulung orang Mesir, karena ketegaran hati Firaun. Karena itu hidup dan masa depan anak-anak keluarga Israel harus menjadi tanda dan peringatan akan kasih setia Tuhan. Di Minggu Sengsara Tuhan Yesus yang ketiga ini, kita diingatkan bahwa tidak ada pengorbanan yang lebih mulia dari pengorbanan Yesus yang menyelamatkan hidup kita. Oleh sebab itu, hendaklah hidupmu terus menjadi peringatan akan kasih dan pengorbanan Yesus.  Persembahkanlah hidupmu untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan bagi kemuliaan Tuhan. Peringatan akan kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus harus terlihat dalam relasi dengan seisi keluarga, agar saling menghargai, saling mengasihi, dan saling menghormati. Kita tidak dapat memungkiri bahwa setiap saat, ada orang yang telah berkorban bagi kita, karena dia mengasihi kita, renungkanlah…!

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk memaknai dan mensyukuri pengorbanan-Mu di Kalvari, amin.

 

*sumber : SHK bulan Maret 2019 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *