Santapan Harian Keluarga, 27 Oktober – 2 November 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 27 Oktober 2019
bacaan : Lukas 9 : 57 – 62
Hal mengikut Yesus
57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” 58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” 60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” 61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” 62 Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Menjadi Pengikut Kristus Yang Sejati Mesti Bayar Harga
Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teolog muda Jerman yang terkenal dan berani melawan pemerintahan Adolf Hitler, iamenulis sebuah buku dengan judul: Harga yang Harus Dibayar oleh Seorang Murid Kristus, buku ini dilatarbelakangi oleh pengalamannya sendiri. Adolf Hitler adalah pemimpin politik Nazi dan pemimpin terkejam di dunia pada tahun 1934-1945. Adolf Hitler membunuh para penentangnya dalam partai Nazi yang dipimpinnya. Dietrich Bonhoeffer tampil sebagai pengkhotbah yang menentang kepemimpinan Hitler. Melalui khotbah dan surat penggembalaannya, dia mengecam pemerintahan Hitler sebagai pemerintahan kafir yang akan dihukum Allah. Melalui siaran radio Bonhoeffer juga mencela orang-orang yang mendewakan kepemimpinan Hitler. Pada tahun 1942 dia ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara,tetapi di dalam penjara pun Bonhoeffer tidak berhenti menulis dan mengecam pemerintahan Hitler. Bonhoeffer dihukum gantung hingga meninggal di Flossenburg. Kematian Dietrich Bonhoeffer memperlihatkan, bahwa dia telah membayar harga sebagai seorang murid Yesus. Menjadi murid Kristus yang sejati, tidak semudah mengatakan “aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” (Luk.9:57). Tetapi ada harga yang harus dibayar. Berapa harganya? Sangat mahal. Semahal apa? Semahal darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib di Golgota. Menurut Bonhoeffer anugerah Allah itu sangat mahal, dan seharusnya itulah yang harus bayar oleh kita dengan setia menjadi pengikut Kristus sejati.
Doa: Tuhan, bentuklah iman kami menjadi pengikutMu yang sejati. Amin.
Senin, 28 Oktober 2019
bacaan : Yeremia 26 : 12 – 16
12 Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. 13 Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. 14 Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu. 15 Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu.” 16 Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: “Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita.”
Menyatakan sebuah kebenaran apalagi kalau itu tentang perintah Tuhan terhadap kesalahan umat, dibutuhkan sebuah keberanian dan kesungguhan hati tanpa melebihkan atau mengurangi satu katapun. Supaya dengan demikian ketika umat mendengar maka mereka akan menyesali segala perbuatan mereka dan berbalik kepada Allah. Hal ini seperti yang disampaikan nabi Yeremia kepada umat di Yehuda dalam suatu nubuatnya. Ketika Tuhan merencanakan malapetaka bagi umat Yehuda sebagai akibat dari perbuatan mereka yang jahat di mata Tuhan. Tuhan akan membuat hidup mereka hancur bagaikan negeri tanpa penduduk. Kecuali kalau mereka mau berbalik kepada Tuhan dan menyesali segala perbuatan mereka. Sebab itu nabi berkata “perbaikilah tingkah langkahmu dari segala kejahatanmu maka kamu semua akan selamat. Sebab Aku, Tuhan akan menyesali tentang segala rancanganKu”. Sebagai persekutuan keluarga orang-orang percaya, mama dan papa serta anak-anak, kita semua terpanggil untuk hidup sesuai kebenaran firman Tuhan supaya kita semua selamat. Kalau dalam kenyataannya, perilaku hidup kita karena keterbatasan dan kelemahan kita, masih jauh dari yang Tuhan harapkan, maka masih ada jalan untuk kembali kepadaNya yakni dengan memperbaiki setiap tingkah-langkah kita dan belajar menaati setiap kehendak-Nya, tutur kata dan perbuatan-perbuatan kita, niscaya Tuhan akan menyesali segala rencanaNya untuk menghancurkan hidup kita. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu hidup baru yang berkenan kepadaNya. Inilah spiritualitas kemuridan yang dibutuhkan bagi setiap pengikut Kristus.
Doa: Didiklah kami dan anak-anak kami agar senantiasa hidup dalam ketaatan dan kesetiaan pada kehendak-Mu, ya, Kristus Tuhan kami. Amin.
Selasa, 29 Oktober 2019
bacaan : Yohanes 6 : 60 – 66
Murid-murid yang mengundurkan diri di Galilea
60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” 61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? 62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? 63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. 64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. 65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” 66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
“Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Hal ini bukan saja menjadi keluhan murid-murid Yesus tetapi juga keluhan setiap kita sebagai manusia termasuk di dalamya keluhan setiap orang percaya. Mengapa demikian? Sebab kita masih dikuasai oleh perbuatan-perbuatan dosa kita. Daya Tarik ini begitu kuat sehingga kita selalu ada dalam kondisi dan situasi yang dilematis. Dilematis antara hidup dalam manusia lama kita dan cara hidup sebagai manusia baru dalam Kristus. Hal ini yang tidak dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Bagi Dia, seorang yang sudah mengambil keputusan unuk menjadi pengikut Kristus, maka tidak akan ada kata kembali, kecuali atas kemauan manusia lama kita yang lebih kuat bercokol dalam hati dan pikiran kita. Ibarat seseorang yang sudah pegang tenggala tidak boleh lagi menoleh ke belakang. Pertanyaannya: mungkinkah hal ini dapat terjadi? Adakah jalan keluarnya? Bagi setiap keluarga anak-anak Tuhan yang telah menyerahkan hati dan hidupnya untuk berlaku taat dan setia kepada Tuhan tentu Tuhan akan memberi jalan keluar yang baik dan baru yakni tetap berpegang pada kebenaran firman Tuhan dan menurutinya, maka yakinlah Tuhan tidak akan mempermalukan kita melainkan oleh pertolongan kuasa Roh Kudus yang selalu bekerja dalam setiap hati yang mau bertobat akan membuat diri seorang percaya menjadi murid Kristus yang taat dan setia. Maka dengan demikian pula, dengan memiliki spiritualitas seorang murid, kita mampu berucap terbalik, sekeras apapun perkataan Tuhan, kita akan sanggup mendengar dan melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan segenap kekuatan dalam ketulusan dan kerendahan hati.
Doa: Tuhan, mampukanlah kami memiliki spiritualitas seorang murid seperti yang Engkau kehendaki. Amin.
Rabu, 30 Oktober 2019
bacaan : Lukas 17 : 7 – 10
Tuan dan hamba
7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”
Hamba Yang Melakukan Kehendak Tuan-Nya
Dalam Akitab kita menemukan banyak petunjuk tentang apa yang baik dan benar sesuai dengan kehendak Allah dan apa yang tidak. Kehendak Allah itulah yang menjadi dasar kesaksian dan pelayanan kita sebagai orang-orang Kristen. Bahkan menjadi ukuran terhadap apa yang kita lakukan. Pemahaman iman demikian ini yang mendasari penulis Injil Lukas memberi sebuah pengajaran tentang tuan dan hamba. Dalam ajaran itu ia menegaskan satu hal prinsip bahwa bila seseorang telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadanya, hendaknya ia menyadari bahwa ia hanyalah hamba, alat dalam tangan Tuhan yang dipakai untuk menyatakan kasih dan kebaikan Tuhan. Ia harus melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan karena ia adalah hamba-Nya. Itulah yang harus dilakukan oleh setiap hamba-Nya, melakukan apa yang Tuhan kehendaki, sebab melalui cara itu ia akan berhasil membuat orang percaya terhadap siapa Yesus, karena mereka mengalami sendiri kasih dan kebaikan Allah melalui pelayanan hamba-hamba-Nya. Kita sebagai keluarga kristen, bekerja dan melayani dalam keluarga, gereja dan masyarakat untuk melakukan kehendak Tuhan. Itu adalah panggilan dan pengutusan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Karena itu kita terpanggil untuk melayani dengan baik sesuai dengan panggilan iman kita dan bila kita telah melakukan yang terbaik, biarlah hanya Nama Tuhan yang dipermuliakan melalui semuanya itu.
Doa: Tuhan, mampukan kami menjadi pelayanMu yang baik yang membawa kemuliaan bagi namaMu. Amin.
Kamis, 31 Oktober 2019
bacaan : Galatia 2 : 15 – 21
Yang terutama, juga untuk orang Kristen keturunan Yahudi
15 Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. 16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat. 17 Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa? Sekali-kali tidak. 18 Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. 19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; 20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.
Kristus Yang Hidup Didalam Aku
Paulus mengisahkan kehidupannya, bahwa ketika berjumpa dengan Kristus, ada perubahan yang luar biasa. Dia tidak malu menceritakan dirinya sebagai orang berdosa. Sebelum berjumpa dengan Yesus, ia adalah orang yang mengandalkan Hukum Taurat sebagai satu-satunya pembenaran. Ia tidak segan-segan membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengan dirinya. Ia hidup menuruti kemauannya. Namun semua itu berubah ketika berjumpa dengan Yesus di Damsyik. Ia tidak lagi digerakkan oleh keinginan daging dan kemauan diri sendiri tetapi kehendak Yesus. Paulus menanggalkan kehidupan lama, memakai hidup baru di dalam Yesus. Seluruh aspek hidupnya kini dipimpin oleh Kristus. Demikian juga hidup kita adalah milik Kristus sebagaimana dikatakan Paulus: ”Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (20). Karena itu kita harus menjalani kehidupan kita dalam iman kepada-Nya, bukan menjalaninya menurut kemauan kita sendiri, bukan sesuka hati kita. Hidup dalam iman kepada Kristus berarti hidup dalam kepasrahan pada kasih karunia-Nya dan dalam ketaatan kepada kehendak-Nya. Memang, proses menanggalkan kehidupan lama dan mengenakan kehidupan baru bukanlah suatu yang mudah. Tetapi Roh kudus akan memberikan kekuatan bagi kita untuk terus belajar menanggalkan kehidupan lama dan hidup menurut rancangan Allah. Sebab itu, Mintalah terus Kristus dan Roh-Nya tinggal didalam kita, agar hidup kita menjadi baru.
Doa: Tuhan, biarlah kasih dan kehendak-Mu nyata dalam hidupku. Amin.
Jumat, 01 November 2019
bacaan : Lukas 16 : 10 – 14
Setia dalam perkara yang kecil Nasihat
10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? 13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” 14 Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.
Setia Dalam Perkara Kecil
Dalam kisah tentang orang-orang yang sukses, kebanyakan mereka memulai dari hal-hal kecil atau sedikit bahkan dari nol. Dalam ayat renungan dikatakan bahwa untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar harus dimulai dari yang kecil. Berbeda dengan hidup modern yang serba instan, ada orang yang ingin kumpul harta yang banyak, ingin kaya tapi dengan cara yang tidak berkenan bagi Tuhan. Sampai pada hal melayani Tuhan pun, ada orang yang pilih-pilih pekerjaan dan pelayanan. Maksudnya, mau bekerja atau melayani karena mereka ingin mendapat posisi yang teratas, tidak mau dari bawah. Orang seperti ini, belum menyadari bahwa seseorang akan mendapat kepercayaan untuk sebuah tanggungjawab pekerjaan atau pelayanan itu harus melalui proses untuk menguji kelayakkannya. Dan proses itu pun dimulai dari bawah. Tidak pernah ada orang yang tiba-tiba langsung diberi posisi teratas, mesti ada tahapannya, yaitu mulai ujian kesetiaan, ketekunan, kesabaran, terutama dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Bahkan harus melewati pengalaman sulit dan situasi pahit yang sangat menyakitkan, namun kita tidak boleh pasrah melainkan harus terus berjuang dan kerja keras. Sebagai persekutuan keluarga, firman ini mau menasihati kita untuk setia dalam perkara-perkara kecil yang dipercayakan Tuhan, sehingga suatu ketika akan dipercayakan perkara yang besar. Ingat bahwa Tuhan Yesus juga memulai pelayanan-Nya dari bawah. Karena ketaatan kepada Bapa-Nya dari hal-hal kecil, akhirnya menjadi yang terbesar. Bersyukurlah dengan tanggungjawab yang Tuhan percayakan dan kerjakan itu dengan setia, pasti kita senantiasa diberkati Tuhan, sehingga hidup keluarga kita menjadi bermakna dan bisa menjadi berkat bagi orang lain dan Tuhan dimuliakan.
Doa: Ya Tuhan, ajar kami setia dalam perkara-perkara kecil. Amin.
Sabtu, 02 November 2019
bacaan : Lukas 17 : 11 – 19
Kesepuluh orang kusta
11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” 14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” 19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Berterima Kasih Adalah Spiritualitas Seorang Murid Yesus
Suatu waktu, dalam ibadah minggu, saya melayani Baptisan Kudus terhadap beberapa orang anak. Ada seorang anak yang membuat saya terharu, ketika selesai dibaptis, dia memandang saya dan spontan berkata: “Terima kasih, ibu Pendeta…” Saya sangat senang, bahwa sejak kecil, anak ini sudah diajarkan oleh orang tuanya untuk tahu berterima kasih. Coba kita renungkan, berapa kali anak-anak mengucapkan terima kasih kepada orang tuanya, berapa kali orang tua mengucapkan terima kasih untuk anak-anaknya, berapa kali suami mengucapkan terima kasih kepada istri dan sebaliknya. Seringkali juga kita lebih mudah mengucapkan terima kasih kepada orang di luar rumah dari pada kepada mereka yang tinggal satu atap, makan di satu meja makan, tidur di satu ranjang. Memang masih banyak orang yang lupa berterima kasih, atau tidak menyadari adanya kebaikan yang didapatkan dari orang lain. Padahal kalau direnungkan dari pagi sampai malam, setiap harinya, ada begitu banyak kebaikan yang kita dapatkan dari orang-orang di sekitar kita. Mungkin juga kita sering melupakan begitu banyak kebaikan yang berasal dari Allah. Dalam bacaan kita, diceriterakan bahwa dari sepuluh orang yang disembuhkan oleh Yesus, hanya ada satu orang yang kembali untuk berterima kasih dan memuliakan Allah. Itulah kecendrungan manusia, yang sering lupa berterima kasih. Padahal tanpa kita sadari, bahwa dengan memperbiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih, kita telah mewariskan nilai saling menghargai kepada anak-anak kita. Sikap berterima kasih adalah mensyukuri apapun yang kita alami, baik dalam hubungan dengan Allah tetapi juga dalam hubungan dengan sesama. Sebab seberat apapun masalah yang kita alami, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan, karena itu hiduplah dengan rasa syukur.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk tahu bersyukur dan berterima kasih. Amin.
*sumber : SHK bulan Oktober & November 2019 terbitan LPJ-GPM

