fbpx

Santapan Harian Keluarga, 17-23 November 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 17 November 2019       

bacaan : Kisah Para Rasul 10 : 34 – 36

34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. 35 Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. 36 Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.

Hidup Toleran Dengan Semua Orang

Setiap agama, memiliki cara dan tradisi untuk mengekspresikan kepercayaannya, namun seorang yang eksklusif dalam beragama selalu menganggap agama dan keyakinannya sebagai yang paling benar, dan sering menganggap agama lain itu salah. Erich Fromm katakan bahwa, dalam masyarakat majemuk, orang tidak perlu mempersoalkan apa agamamu ? tetapi bagaimana dia beragama. Sebenarnya semua agama mengajarkan tentang cinta kasih dan bagaimana mempraktekkan cinta kasih dalam relasi sosial. Pengalaman Petrus dan Kornelius  membuktikan bahwa Allah bebas memakai siapa saja untuk pemberitaan InjilNya. Kornelius bukanlah seorang Yahudi, tetapi dipakai oleh Allah karena ia seorang yang saleh, banyak memberi sedekah, rajin berdoa dan seisi rumahnya takut akan Tuhan. Perilaku Kornelius ini juga dilakukan oleh seorang muslim, seorang hindu, seorang budha, seorang kristen, sekalipun alasan melakukannya sangat berbeda. Dan Petrus juga mau menerima dan melayani Kornelius. Di sini, Petrus dan Kornelius memiliki sikap inklusif, yaitu suatu sikap yang menghargai dan menerima setiap perbedaan sehingga karya keselamatan Allah dapat diberitakan dan dialami oleh bangsa-bangsa yang lain. Sikap inklusif perlu dimiliki dan dikembangkan oleh gereja dan agama lain, teristimewa di Maluku. Betapa damainya negeri ini, jika seluruh agama dan penganutnya berperilaku seperti Petrus dan Kornelius. Bukankah karya Allah melampaui ruang dan waktu bahkan segala sesuatu yang dipikirkan oleh manusia? Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menghargai dan menerima setiap perbedaan. Amin.

Senin, 18 November 2019                  

bacaan : Kejadian 23 : 1 – 20

Sara mati dan dikuburkan
Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara. 2 Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya. 3 Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu, lalu berkata kepada bani Het: 4 “Aku ini orang asing dan pendatang di antara kamu; berikanlah kiranya kuburan milik kepadaku di tanah kamu ini, supaya kiranya aku dapat mengantarkan dan menguburkan isteriku yang mati itu.” 5 Bani Het menjawab Abraham: 6 “Dengarlah kepada kami, tuanku. Tuanku ini seorang raja agung di tengah-tengah kami; jadi kuburkanlah isterimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorangpun dari kami yang menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan isterimu yang mati itu.” 7 Kemudian bangunlah Abraham lalu sujud kepada bani Het, penduduk negeri itu, 8 serta berkata kepada mereka: “Jika kamu setuju, bahwa aku mengantarkan dan menguburkan isteriku yang mati itu, maka dengarkanlah aku dan tolonglah mintakan dengan sangat kepada Efron bin Zohar, 9 supaya ia memberikan kepadaku gua Makhpela miliknya itu, yang terletak di ujung ladangnya; baiklah itu diberikannya kepadaku dengan harga penuh untuk menjadi kuburan milikku di tengah-tengah kamu.” 10 Pada waktu itu Efron hadir di tengah-tengah bani Het. Maka jawab Efron, orang Het itu, kepada Abraham dengan didengar oleh bani Het, oleh semua orang yang datang di pintu gerbang kota: 11 “Tidak, tuanku, dengarkanlah aku; ladang itu kuberikan kepadamu dan gua yang di sanapun kuberikan kepadamu; di depan mata orang-orang sebangsaku kuberikan itu kepadamu; kuburkanlah isterimu yang mati itu.” 12 Lalu sujudlah Abraham di depan penduduk negeri itu 13 serta berkata kepada Efron dengan didengar oleh mereka: “Sesungguhnya, jika engkau suka, dengarkanlah aku: aku membayar harga ladang itu; terimalah itu dari padaku, supaya aku dapat menguburkan isteriku yang mati itu di sana.” 14 Jawab Efron kepada Abraham: 15 “Tuanku, dengarkanlah aku: sebidang tanah dengan harga empat ratus syikal perak, apa artinya itu bagi kita? Kuburkan sajalah isterimu yang mati itu.” 16 Lalu Abraham menerima usul Efron, maka ditimbangnyalah perak untuk Efron, sebanyak yang dimintanya dengan didengar oleh bani Het itu, empat ratus syikal perak, seperti yang berlaku di antara para saudagar. 17 Demikianlah ladang Efron, yang letaknya di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta segala pohon di ladang itu, bahkan di seluruh tanah itu sampai ke tepi-tepinya, 18 diserahkan kepada Abraham menjadi tanah belian, di depan mata bani Het itu, di depan semua orang yang datang di pintu gerbang kota. 19 Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela itu, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan. 20 Demikianlah dari pihak bani Het ladang dengan gua yang ada di sana diserahkan kepada Abraham menjadi kuburan miliknya.

Hidup Saling Membantu Walaupun Berbeda

Sebagai orang percaya, Tuhan Yesus menghendaki agar kita terus membangun sikap hidup yang toleran dengan siapapun dari latarbelakang apapun. Hal ini juga digambarkan dalam kehidupan Abraham, ketika ia tinggal dan menjadi orang asing di Hebron. Ketika istirnya Sara meninggal, Abraham dihadapkan pada upaya mencari tempat untuk memakamkan jenasah istrinya. Ia katakan: Saya ini orang asing yang tinggal ditengah-tengah saudara-saudara, izinkan saya membeli sebidang tanah dan menguburkan istri saya. Abraham membangun komunikasi dengan bani Het, penduduk negeri yang didiami oleh Abraham sebagai orang asing. Melalui Efron bin Zohar, Abraham meminta untuk membeli gua Makhpela seharga 400 syikal perak. Dengan sukacita serta kerelaan hati bani Het khususnya Efron bin Zohar menjual tanah bagi Abraham untuk memakamkan jenazah Sara istrinya. Mereka sangat menghormati Abraham, mereka juga ikut berdukacita dan menghibur Abraham atas kepergian istrinya. Hubungan baik yang dibina oleh Abraham dengan bangsa asing, membuat hubungan mereka tetap terbina dengan baik, dan mereka saling membantu dalam suka dan duka. Sikap hidup seperti inilah yang harus ditumbuhkan dalam membangun relasi kemanusiaan ditengah masyarakat yang majemuk tetapi juga dalam kehidupan keluarga. Sebab dimanapun kita berada, kita pasti hidup dengan orang yang berbeda, baik latarbelakang suku, agama, dan budaya. Namun ketika kita membina hidup yang saling menerima, saling mengerti, saling menolong satu dengan yang lain, maka pasti kehidupan akan jadi harmonis. 

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk hidup saling menerima dan menopang satu dengan yang lain. Amin.

Selasa, 19 November 2019              

bacaan : 1 Tawarik 22 : 2 – 5

Persiapan untuk mendirikan Bait Suci

2 Daud menyuruh mengumpulkan orang-orang asing yang ada di negeri orang Israel, lalu ditempatkannya tukang-tukang untuk memahat batu-batu pahat yang akan dipakai untuk mendirikan rumah Allah. 3 Selanjutnya Daud menyediakan sangat banyak besi untuk paku-paku bagi daun pintu gerbang dan bagi tupai-tupai, juga sangat banyak tembaga yang tidak tertimbang beratnya, 4 dan kayu aras yang tidak terbilang banyaknya, sebab orang Sidon dan orang Tirus membawa sangat banyak kayu aras bagi Daud. 5 Karena pikir Daud: “Salomo, anakku, masih muda dan kurang berpengalaman, dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri; sebab itu baiklah aku mengadakan persediaan baginya!” Lalu Daud membuat sangat banyak persediaan sebelum ia mati.

Saling Membantulah Kamu

Sebagai manusia sosial, kita tidak bisa hidup sendiri, apalagi bekerja seorang diri. Tuhan menghendaki kita untuk membangun relasi dengan orang lain yang ada di sekitar kita. Hal ini dialami oleh raja Daud, ketika diakhir masa pemerintahannya, dia ingin membangun bait Allah. Daud menyadari bahwa Salomo anaknya masih terlalu muda dan belum berpengalaman, oleh karena itu Daud mengumpulkan orang – orang asing di seluruh Israel dan meminta bantuan mereka untuk membantunya mempersiapkan segala sesuatu guna pembangunan bait Allah tersebut. Hal ini penting untuk kita renungkan, bahwa seberat apapun pekerjaan atau persoalan yang kita hadapi, namun dengan adanya bantuan dari orang lain, maka pekerjaan dan beban kita menjadi ringan. Itu berarti bahwa dukungan serta bantuan dari orang lain, kehadiran orang lain ataupun orang asing sangat berarti bagi kita. Dalam kehidupan keluarga kristen, juga dibutuhkan dukungan semua pihak untuk membangun kehidupan keluarga yang damai dan penuh kasih sayang. Suami tidak bisa hidup tanpa dukungan isteri, dan sebaliknya isteri juga tidak bisa hidup tanpa dukungan suami. Begitupun orangtua, anak-anak, adik kakak, saudara bersaudara, para tetangga, kita semua saling membutuhkan. Jadikanlah hidupmu berarti karena terbuka untuk membantu orang lain, tetapi juga menerima bantuan dari orang lain.   

Doa: Tuhan, tolong kami untuk hidup saling membantu satu dengan yang lain, Amin

Rabu, 20 November 2019                      

bacaan : Rut 1 : 7 – 17

7 Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda, 8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: “Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; 9 kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya.” Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras 10 dan berkata kepadanya: “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu.” 11 Tetapi Naomi berkata: “Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti? 12 Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, 13 masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?” 14 Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. 15 Berkatalah Naomi: “Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.” 16 Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 17 di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”

Indahnya Hidup Bersama Tanpa Pandang Suku dan Agama

Mas Prap dan Mbak Umi adalah suami isteri muslim di Salatiga, yang mempunyai banyak anak kos, dan saya salah satunya. Ketika saya pertama kali masuk kamar kos, Mas Prap bertanya: “Dek, kamu Kristen kan” . “Ia mas”, jawab saya. “Kalau mau terima ibadah disini, boleh” kata mas Prap. Tiga bulan kemudian, ketika saya diberi jadwal untuk menerima ibadah Pemuda, saya memberitahu mereka. “Berapa orang dek, lesehan aja atau pake korsi, nge-teh atau makan, biar kloso (tikar) korsi, gelas dan piring pinjam punya RT”, kata mas Prap dengan logat Jawanya. Singkat cerita, pada saat ibadah, mas Prap dan mbak Umi yang mengatur semua persiapannya dan ibadah berjalan dengan baik. Dua belas tahun kemudian, yakni tahun 1999, saat saya sedang mengatur bantuan bagi para pengungsi, telepon di pastori saya berdering. “Halo” terdengar suara seorang perempuan. “Maaf ini dengan siapa ?”  tanya saya. “Ini mbak Umi, alhamdulilah, kamu hidup. Kami lihat di TV kalau ada kerusuhan di tempat kamu dan dua pendeta dibantai. Kami pikir kamu termasuk salah satunya, dek. Jadi kami cari nomor kamu di 108. Syukur alhamdulilah, kamu selamat dek”  kata mbak Umi penuh harap. Betapa indahnya hidup dalam kebersamaan dan saling mempedulikan satu dengan yang lain, tanpa pandang suku dan agama. Hal ini juga yang diperlihatkan oleh Rut kepada Naomi. Mereka berbeda bangsa dan agama, namun Rut tetap mengikuti Naomi bahkan sampai berikrar: “bangsamulah, bangsaku dan Allahmulah, Allahku”. Mari kita contohi sikap mereka untuk hidup bertoleransi dengan siapa saja tanpa pandang suku dan agama.

Doa: Tuhan, terima kasih ‘tuk kebersamaan yang tercipta di antara umat-Mu tanpa pandang suku maupun agama, Amin.

Kamis, 21 November 2019               

bacaan : Yohanes 10 : 14 – 16

14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bersama Walau Tidak Sama

Suatu hari saya berbincang dengan ibu Ane dari keluarga “JamBon” (Jawa-Ambon) di rumahnya. Kira-kira jam 13.20, tiga anak berseragam SMP (dua lelaki dan satu perempuan) masuk dan mereka menyapa kami sambil mencium tangan. “Itu putera-puterinya, ya?”, tanya saya setelah mereka berlalu. Anak kami yang putri, sedang yang laki-laki, teman-temannya. Anak kami berteman dengan semua orang, yang satunya muslim dan satu lagi hindu, mereka sering bermain ke sini, malah sering mereka ikut ibadah binakel setiap malam minggu. Kami sudah menganggap mereka seperti anak sendiri dan selalu menasehati mereka”, kata Ane yang membuat saya tertegun.

Saudaraku, dari kisah keluarga Ibu Ane, kita belajar bahwa Tuhan memberi tanggung jawab kepada kita bukan saja untuk melayani masa depan anak-anak yang terlahir dari perkawinan kita, tetapi juga bertanggung jawab untuk anak-anak lain di seputar kita. Mereka adalah anak baptis, anak saudara, anak tetangga, ataupun teman-teman dari anak kita. Kita patut melayani mereka  tanpa pandang bulu, dari berbagai latarbelakang suku, agama, ras dan golongan. Mengapa? Karena Tuhan Yesus sudah lebih dulu memberi teladan bagi kita. Dalam ayat 16 bacaan kita, Yesus berkata:  Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala”. Ayat ini menunjukan bagaimana kepedulian Yesus kepada mereka yang belum percaya kepada-Nya dan kelak akan menjadi pengikut-Nya. Mari kita teladani Yesus dan keluarga ibu Ane.  

Doa: Tuhan, tolong kami ‘tuk bisa memperlihatkan kepedulian kepada mereka yang tidak seiman, Amin! 

Jumat, 22 November 2019                    

bacaan : 3 Yohanes 1 : 5 – 10

Saling menolong dan perlawanan

5 Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing. 6 Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. 7 Sebab karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. 8 Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran. 9 Aku telah menulis sedikit kepada jemaat, tetapi Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami. 10 Karena itu, apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami; dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang, yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat.

Peduli Untuk Membantu Sesama

Sikap peduli kepada orang lain atau orang asing mesti kita tumbuh kembangkan dalam panggilan kita sebagai murid Yesus. Hal ini diperlihatkan oleh Gayus, seorang murid yang dididik oleh rasul Yohanes, dimana dengan kerelaan hati dan sukacita melayani dan membantu saudara-saudara seiman dalam tugas pelayanan pemberitaan injil Kristus. Rasul Yohanes mendengar dari mereka tentang seluruh hidup dan pelayanan Gayus kepada mereka, dan Yohanes memuji hal tersebut sebagai sebuah teladan yang mesti diikuti oleh semua murid Tuhan. Lain halnya dengan Diotrefes  yang karena keangkuhan dan kepentingan dirinya ingin berkuasa dan menjadi pemimpin sehingga melarang orang-orang untuk melayani orang asing. Bahkan orang-orang yang mencoba membuka hati untuk melayani orang asing tersebut justru dikucilkan oleh Diotrefes dari persekutuan jemaat. Dalam kondisi seperti itu, rasul Yohanes mengingatkan jemaat untuk meneladani yang baik dari Gayus dan menjauhi yang jahat seperti yang ditunjukkan oleh Diotrefes. Peringatan juga bagi kita sekeluarga, papa, mama dan anak-anak untuk meneladani yang baik teristimewa senantiasa membuka hati untuk membantu dan melayani orang-orang susah, orang-orang asing yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita. Hal tersebut sesuai dengan keteladanan Tuhan Yesus yang mengorbankan diriNya bagi keselamatan kita sebagai orang percaya termasuk keluarga kita. Sebab dengan melayani orang-orang demikian, maka kita sekeluarga telah mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. 

Doa: Tuhan Yesus mampukan kami untuk dapat melayani sesama kami dengan sepenuh hati. Amin.-

Sabtu, 23 November  2019                    

bacaan : Ulangan 23 : 7 – 8

7 Janganlah engkau menganggap keji orang Edom, sebab dia saudaramu. Janganlah engkau menganggap keji orang Mesir, sebab engkaupun dahulu adalah orang asing di negerinya. 8 Anak-anak yang lahir bagi mereka dalam keturunan yang ketiga, boleh masuk jemaah TUHAN.”

Semua Orang Sama Di Mata Tuhan

Hidup toleran atau saling menerima dan menghargai dengan semua orang dari berbagai latarbelakang hidup adalah panggilan hidup orang percaya. Bagi kita masyarakat Indonesia dan teristimewa masyarakat Maluku yang sangat majemuk karena terdiri dari berbagai latarbelakang suku, budaya, agama, sosial, ekonomi, maka panggilan untuk merawat hidup bersama sebagai ‘orang basudara’ menjadi sangat penting. Pela, gandong, ain ni ain, larvul ngabal, kalweo, kidabela, dan sebagainya adalah nilai-nilai kearifan lokal yang harus terus dirawat untuk membangun hidup bersama. Ketika umat Israel memasuki Tanah Kanaan, mereka harus hidup dengan bangsa-bangsa sekitarnya, seperti Edom yang berbeda latarbelakang suku, budaya dan agama, namun Tuhan menghendaki agar umat Israel dapat menerima mereka sebagai ‘saudara’. Israel juga harus berterima kasih kepada orang Mesir sebab mereka pernah tinggal di sana. Di mata Allah semua manusia adalah sama sebagai mahluk ciptaan Tuhan dan Allah menghendaki agar manusia harus hidup saling menerima dan menghargai satu dengan yang lain. Begitupun dalam kehidupan keluarga Kristen, setiap anggota keluarga memiliki sifat dan karakter yang berbeda, namun Tuhan menghendaki agar perbedaan itu dijadikan kekayaan untuk saling menerima dan saling menghargai satu dengan yang lain. Jika ada salah satu anggota keluarga yang karena kelemahannya ia melakukan kesalahan, semua anggota keluarga yang lain bertanggungjawab untuk menerima dia dan memaafkannya, mendoakan dan menolong dia untuk bertobat dan berbalik ke jalan yang benar. Itulah panggilan iman bagi setiap orang percaya.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk saling menerima dan menghargai. Amin.

*sumber : SHK terbitan bulan November 2019 oleh LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *