fbpx

Santapan Harian Keluarga, 24-30 November 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 24 November 2019              

bacaan : Matius 5 : 38 – 48

38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. 42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. 43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Lawanlah Kekerasan Dengan Cinta Kasih

Dewasa ini banyak peristiwa yang terjadi di seputar kehidupan kita, dan diwarnai dengan kekerasan yang mengorbankan berbagai pihak teristimewa pihak yang lemah dan tak berdaya. Dan orang yang menjadi korban pasti sangat menderita dan ingin menuntut balas. Hukum Yahudi mengajarkan agar orang mengasihi sesama dan membenci musuh, namun dalam bacaan kita, Matius 5:38-48, Yesus mengajarkan sesuatu yang melebihi itu, jaitu mengasihi musuh dan berdoa bagi orang menganiaya. Ketika Yesus mengajarkan bahwa, jangan melawan orang yang berbuat jahat, bukan berarti Ia membiarkan kejahatan itu berlangsung. Yang Yesus maksudkan adalah ketika kita disakiti oleh orang lain dengan berbuat jahat, janganlah membalas dengan perbuatan yang sama, tetapi tetap melakukan kebaikan. Oleh karena itu Yesus memberi beberapa gambaran, misalnya: memberikan pipi kiri ditampar sekalipun pipi kanan sudah ditampar, memberikan jubah sekalipun orang menginginkan baju, berjalan dua mil dengan orang yang memaksa berjalan satu mil. Hal ini menggambarkan sesuatu yang hanya dapat dilakukan dengan kekuatan ekstra dan hal itu pasti bukan dengan kekuatan sendiri, sebab Tuhan Yesus pasti memberi kekuatan lebih besar daripada kemampuan yang dimiliki oleh orang yang menjadi korban kekerasan.  Maksud Yesus disini adalah jangan membalas dengan perbuatan jahat yang sama, tetapi balaslah dengan perbuatan yang penuh kasih, karena hanya kasih yang mampu mengobati luka hati dan mampu mengubah orang yang sudah melakukan kejahatan untuk berbalik dan bertobat.

Doa: Tuhan tolonglah kami untuk terus mengasihi walaupun disakiti. Amin.

Senin, 25 November 2019                    

bacaan : Mazmur 11 : 4 – 5 

4 TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia. 5 TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan.

Tuhan Mencintai Orang Yang Hidup Penuh Kasih

Teringat 20 tahun lalu, tatkala konflik kemanusiaan melanda kehidupan di Ambon dan Maluku. Situasi dan kondisi dimana semua orang larut dalam dendam amarah serta kebencian. Saling membakar, menjarah, membunuh. Hampir setiap hari tidak ada yang sepi dari apa yang namanya kekerasan. Pada waktu itu bukan hal yang mudah untuk mewujudkan perdamaian sejati. Kita mesti mengakui bahwa tanpa campur tangan Tuhan, semua upaya perdamaian akan sia-sia. Oleh kuasa Tuhan jualah perdamaian abadi dan sejati itu terwujud. Pemazmur juga tegaskan bahwa Tuhan membenci orang-orang yang mencintai kekerasan. Artinya orang yang terus hidup bermusuhan, yang terus menabur kebencian dan kekerasan, pada waktunya akan dihakimi oleh Tuhan. Kita tidak perlu untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Namun melawan kekerasan dengan kebaikan atau tanpa kekerasan. Kita memberi ruang atau tempat untuk kuasa Tuhan berlaku dengan memberi hati dan pikiran kita yang lembut dan penuh kasih dalam menanggapi kekerasan. Untuk itu, hal penting bagi kita adalah memohon tuntunan kuasa Roh Kudus bagi keluarga kita, bagi papa, mama dan anak-anak untuk mewujudkan cinta kasih dengan cara melawan kekerasan tanpa kekerasan.   

Doa: Tuhan Yesus mampukan kami untuk melawan kekerasan tanpa  kekerasan. Amin.

Selasa, 26 Nopember 2019              

bacaan : Matius 5 : 21 – 22

21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Kasih Kristus Meniadakan Amarah dan Emosi

Kondisi sekarang ini dengan berbagai ragam masalah, terkadang membuat orang gampang marah serta emosi dan kemudiaan diiringi dengan kata-kata cacian dan makian. Terkadang orang menganggap hal tersebut biasa dan sepele saja. Namun tanpa disadari kita telah melakukan tindakan pembunuhan. Membunuh bukan saja sebatas menghilangkan nyawa seseorang, namun juga dengan  kata-kata cacian dan makian dimana kita telah membunuh perasaan serta menggangu psikhis orang tersebut. Hal tersebut yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus dengan memperluas pengertian kepada mereka bahwa, yang di hukum bukan saja yang membunuh secara fisik, tetapi juga secara psikhis dengan mengatai saudara atau sesamanya kafir atau jalil. Memang kalau dilihat membunuh secara psikhis dampaknya lebih besar daripada membunuh secara fisik. Mengapa ? sebab orang yang dimarahi dan dikatai dengan  kata-kata kasar serta makian, tentu selama hidupnya akan terbeban dan tidak nyaman sekaligus menghancurkan relasi hidup  sebagai sesama manusia. Untuk itu sebagai keluarga Allah, papa, mama serta anak-anak, kita mesti mewujudkan cinta kasih Kristus dalam seluruh kehidupan kita melalui kata-kata yang penuh kasih, lemah lembut serta tindakan yang menolong dan membantu sesama. Hal inilah yang diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus dengan mengorbankan hidupNya sebagai wujud cinta kasih bagi kita semua. Biarlah Roh Kudus menuntun kita untuk saling menghargai, mengasihi antara suami dan istri serta orang tua dan anak-anak juga diantara adik dan kakak. Kemudian kita teruskan pada lingkungan persekutuan jemaat serta didalam masyarakat demi terwujudnya sikap hidup melawan kekerasan tanpa kekerasan.   

Doa: Tuhan Yesus mampukan kami untuk menjauhi diri dari tindakan emosi serta amarah terhadap sesama kami. Amin.

Rabu, 27 November 2019                  

bacaan : Matius 5 : 23 – 26

23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Berani Melepaskan Pengampunan

Dendam telah menjadi akar pahit yang tertancap begitu kuat dalam hati saya ketika mengalami perlakuan tidak manusiawi dari mertua dan ipar-ipar saya. Dan saya telah berkomitmen akan menggores itu di otak saya sampai saya mati..!!! Seiring waktu berjalan, saya mengamati kehidupan mereka berjalan dengan sangat bahagia dan membuat saya semakin membenci mereka. Bergejolak dalam hati saya, kenapa Tuhan kok tidak adil bagi hidup saya..?? Saya begitu menderita, namun justru mereka semakin bertambah makmur dan bahagia. Suatu waktu, anak tertua saya mengatakan pada saya, “Mama, apakah mama tidak lelah menjalani hidup seperti ini..?? Kemarin di ibadah katekisasi kami diajarkan ibu Pendeta soal pengampunan. Kata ibu Pendeta: “Kesembuhan jasmani secara langsung tergantung pada kemampuan untuk mengampuni orang lain ma... Saya terdiam, sungguh, anak saya menyadarkan saya bahwa pengampunan adalah kunci segala sesuatu yang juga merupakan teladan berpikir seperti Kristus. Pengampunan merupakan hal yang sangat penting. Ibadah kita akan percuma bila tidak disertai dengan hati yang bersih kepada sesama. Ini menunjukkan bahwa kesalehan kita ke gereja, membaca Alkitab, berdoa dll, mesti seiring dengan tindakan kasih kepada sesama. Mengampuni, merupakan sebuah wujud penerimaan kembali sesama yang melukai kita. Tindakan ini didasarkan pada tindakan Kristus pada kita, yang juga berkali-kali mengampuni kita yang bersalah pada-Nya, serta menerima kita kembali tanpa syarat. Yesus menghendaki relasi kita dengan sesama, juga didasarkan pada relasi antara kita dengan Dia. Jadi, bila Dia berkali-kali menerima kita tanpa syarat, seharusnya kita juga tergerak untuk, memperbaiki dan memelihara relasi yang benar dengan sesama kita sebagai bentuk kita melawan kekerasan.

Doa:  Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk berani melepaskan pengampunan. Amin.

Kamis, 28 November 2019               

bacaan : Matius 5 : 27 – 32

27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

Milikilah Cara Untuk Mengatasi Dosa Ini!!!

Pepatah tua bilang, dari mata turun ke hati, artinya mata melihat, hati ingin, lalu tunggu kesempatan maka lahirlah kejahatan. Apakah hal itu juga yang kita lakukan dan alami dalam hidup kita sehari-hari sebagai keluarga Kristen..?  Berhati-hatilah..!!! Dosa itu bukan saja muncul dari tindakan atau perbuatan kita, tetapi juga dari apa yang kita pikirkan dan inginkan. Sebab sebetulnya perbuatan berzinah, mencuri, membunuh merupakan buah hasil pikiran dan keinginan kita yang jahat. Oleh sebab itu Tuhan Yesus katakan, setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Artinya kejahatan atau dosa itu berawal dari keinginan. Tuhan Yesus mengingatkan kita supaya suami dan istri mengenal dirinya dengan baik, supaya belajar mengenal kelemahan diri. Dengan begitu akan mampu mengelola kelemahan diri tersebut, sehingga tidak jatuh ke dalam dosa. Ada orang yang punya kecenderungan tidak bisa menahan libido jika melihat perempuan cantik. Ada pula orang yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mencuri jika melihat uang dalam jumlah yang banyak. Kecenderungan demikian adalah awal kejatuhan di dalam dosa dan dapat berpengaruh buruk pada relasi atau hubungan suami istri, bahkan dengan orang lain. Oleh karena itu, sebagai keluarga Kristen, baiklah kita merenungkan perjalanan hidup kita. Jika selama ini pikiran dan perbuatan kita telah merusak hubungan dengan suami, istri, anak, saudara, tetangga, teman dan sahabat; perbaikilah sekarang dan berilah diri dikuasai oleh Roh Kudus supaya membangun kembali relasi yang baik dan harmonis. 

Doa: Tuhan, tolong jaga hati kami supaya tidak saling menyakiti. Amin.

Jumat, 29 November 2019                

bacaan : Matius 5 : 33 – 37

33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Jangan Bersumpah!!!

Jaman sekarang, dengan begitu mudah dan gamblang, orang mengucapkan janji dengan berlandaskan nama Tuhan melalui sumpah. Yah..!! Hal bersumpah sekarang sepertinya sudah menjadi hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada efek yang menggetarkan siapapun, sehingga ujung-ujungnya terjadi sumpah palsu di mana-mana. Tuhan Yesus selalu mengajarkan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan ketentuan atau peraturan agama yang berlaku pada waktu itu. Salah satu aturan agama yang diajarkan pemuka agama ialah jangan bersumpah palsu. Bila  bersumpah hendaklah sumpah itu harus benar. Itulah yang berlaku dalam masyarakat pada umumnya. Tetapi Yesus katakan,  jangan sekali-kali bersumpah demi apapun juga. Yesus melarang bersumpah: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Pertanyaannya, mengapa Yesus melarang bersumpah? Jawabannya, sebab ”bersumpah” hanyalah cara untuk membenarkan diri dan upaya untuk menutup-nutupi kesalahan. Menurut Yesus adalah lebih baik berkata jujur daripada bersumpah. Jika memang bersalah, berani mengaku kesalahan dan kalaupun tidak melakukan sesuatu, bicaralah dengan terus terang. Sebagai keluarga Kristen, kita diajar oleh Tuhan Yesus untuk jangan menutupi kejahatan dan mengingkari kebenaran. Tetapi menjadi pribadi yang berani mempertanggungjawabkan apa yang dikatakan dan yang diperbuat. Sekali lagi, katakanlah apa yang kamu lakukan dan lakukanlah apa yang kamu katakan. Itulah yang Tuhan kehendaki.

Doa: Tuhan, tuntunlah keluarga kami agar selalu berkata benar. Amin.     

Sabtu, 30 November 2019                

bacaan : Matius 26 : 51 – 52

51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. 52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

Teruslah Berbuat Baik, Sekalipun Orang Berlaku Jahat

Seorang misionaris yang melayani di tengah suku primitif di Afrika, mengalami perlakukan kejam dari Kepala Suku dan penduduk setempat. Isterinya dibunuh dan anaknya dibuang ke sungai menjadi santapan buaya. Sedangkan dirinya sendiri dikurung dan menunggu saatnya untuk dijadikan korban persembahan bagi dewa mereka. Namun tak disangka kampung itu dilanda kebakaran hebat dan Kepala Suku beserta semua penduduk lari menyelamatkan diri, sang misionaris juga dapat lolos dari ancaman kematiannya. Sewaktu ia hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia mendengar suara seorang anak kecil yang sedang menangis di sebuah rumah yang sedang diamuk api. Dengan susah payah, akhirnya ia dapat menyelamatkan anak itu, yang ternyata adalah putri sang Kepala Suku. Sebenarnya ini menjadi kesempatan baginya untuk balas dendam dengan membunuh anak itu, tetapi hal itu tidak dilakukan. Ia memeluk anak itu dengan penuh kasih dan mengantarkannya menemui Kepala Suku dan istrinya yang sedang panik mencari anak mereka. Melihat sang misionaris yang sangat dibencinya memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang, Kepala Suku berkata: “Aku mau membunuhnya, bahkan telah membunuh istri dan anaknya, tetapi mengapa dia mau menyelamatkan anakku?” Memang tidak mudah membalas suatu kejahatan dengan kebaikan. Ketika Yesus ditangkap oleh orang-orang yang membencinya, seorang muridnya menghunus pedang dan memotong telinga seorang imam besar. Tetapi Yesus berkata: “….Barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang” Disini, Yesus hendak mengajarkan bahwa kejahatan, kebencian dan dendam hanya akan menjadi penghalang berkat Tuhan, tetapi Kasih akan menghentikan banyak kejahatan.

Doa: Tuhan, kami ingin berbuat baik, sekalipun orang lain berbuat jahat, Amin

*sumber : SHK NOvember 2019 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *