Santapan Harian Keluarga, 29 Maret – 4 April 2020

jemaatgpmsilo.org

TEMA MINGGUAN : “BERIKANLAH KEADILAN”

Minggu, 29 Maret 2020                        

bacaan : Matius 27 : 11 – 26

Yesus di hadapan Pilatus
11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 12 Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. 13 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 14 Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. 15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. 17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" 18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." 20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." 22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" 23 Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" 24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" 25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" 26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

BERILAH KEADILAN

Keadilan pada akhirnya yang akan menang. Sekalipun untuk menang perlu perjuangan yang berat. Terkadang harus bertarung nyawa. Hal inilah yang dialami dan diperjuangkan Yesus seorang diri dalam hari-hari penderitaanNya sampai berkorban nyawa di kayu salib. Itulah harga yang harus Ia bayar demi menyelamatkan seisi dunia ini. Menghadap pengadilan Pilatus, Yesus lebih mengambil sikap berdiam diri, sebab selain Pilatus, Yesus juga berhadapan dengan umatNya sendiri dan para pemimpinnya. Sebab itu berdiam diri adalah sikap yang berhikmat, karena apapun yang  mau Ia katakan, pada akhirnya Ia harus mati sesuai kesaksian para Nabi Dan Barabas si Penjahat kelas kakap itulah yang bebas. Walaupun Pilatus mencuci tangan tanda Yesus tidak bersalah, tetapi kebijakannya pun dikalahkan oleh pengadilan jalanan. Akhirnya Yesus mati tersalib sebagai harga sebuah perjuangan yang harus Ia bayar, mahal dan lunas.  Berikanlah Keadilan sesuai tema mingguan kita adalah jeritan masyarakat banyak saat ini untuk mendapatkan keadilan dan diakui sebagai warga masyarakat yang setara dihadapan hukum. Di dalam kenyataan seperti itulah  setiap pribadi dan keluarga Kristen hidup dan berkarya, di tempat pengabdian masing-masing. Adalah panggilan dan kewajiban kita semua untuk tidak tinggal diam, melainkan turut berjuang menegakkan keadilan dan menyuarakan kebenaran, mulailah dari setiap keluarga, kita mendidik anak-anak kita supaya sejak dini, mereka belajar menegakkan keadilan, mulai dari hal-hal yang paling kecil dan mudah/sederhana. Tuhan menolong kita.

Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk mencintai keadilan dan menghidupi kebenaran, sekalipun dunia membencinya. Amin.

Senin, 30 Maret 2020                             

bacaan : Matius 26 : 17 – 25

Yesus makan Paskah dengan murid-murid-Nya
17 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" 18 Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku." 19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. 20 Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. 21 Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." 22 Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?" 23 Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. 24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." 25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

BELAJARLAH UNTUK BERLAKU ADIL

Di malam Perjamuan terakhir bersama para murid, Yesus menggunakan kesempatan  untuk menyatakan siapa murid yang akan menyerahkan Dia ke tangan para Imam dan ahli Taurat untuk dibunuh. Dengan sedih muri-murid lain berkata, bukan aku ya Tuhan? Yesus menjawab, dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tanganya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Ketika Yudas mencoba menyangkal bukan aku ya Tuhan, secara diplomatis Yesus menjawab: “Engkau telah mengatakannya”. Penyangkalan dan persekongkolan bahkan rencana pembunuhan bukanlah sesustu yang indah melainkan sesuatu yang licik dan kejam. Masihkah ada rasa kasih seorang murid terhadap Gurunya? Masihkah ada rasa keadilan seorang murid kepada Gurunya?  Apapun kenyataannya, Yesus setia menghadapi semuanya, seperti yang sudah dinubuatkan para nabi. Yudas akan memiliki nasib akhir yang tragis. Itulah hasil dari sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan ada di mana-mana di dunia ini. Untuk sebuah pengkhianatan, orang rela melakukan apa saja termasuk membunuh demi segepok uang. Sebagai keluarga Kristen, menghadapi berbagai realitas pengkhianatan yang marak terjadi sekarang ini, kita wajib mempersiapkan dan menyadarkan anak-anak kita agar menjauhi bentuk-bentuk pergaulan dan pertemanan yang mengarah pada tindak kekerasan dan kebrutalan yang membabi-buta. Didiklah mereka dengan ajaran-ajaran yang benar, agar kelak mereka menjadi anak-anak yang kritis dan selektif dalam memilih dan memilah, mana yang baik dan mana yang buruk. Waspadalah!!!

Doa: Tuhan, jangan biarkan kami larut dengan paham dan ajaran yang menyesatkan dan merugikn diri sendiri dan orang lain. Amin.

Selasa, 31 Maret 2020                          

bacaan : Lukas 22 : 1 – 6

Rencana untuk membunuh Yesus
Hari raya Roti Tidak Beragi, yang disebut Paskah, sudah dekat. 2 Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan, bagaimana mereka dapat membunuh Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak.
Yudas mengkhianati Yesus
3 Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu. 4 Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka. 5 Mereka sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya. 6 Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.

HINDARILAH ROH PENGKHIANATAN

Penyangkalan, penganiayaan, penolakan bahkan sampai pada pembunuhan sudah menjadi sikap dan watak segelintir orang untuk mencapai tujuan mereka. Mereka tega melakukannya baik untuk sejumlah uang dan terlebih atas nama agama. Hal inilah yang dilakukan oleh Yudas Iskariot salah seorang murid Yesus yang bersekongkol dengan para pemuka agama Yahudi dan imam-imam kepala unuk mencari waktu dan cara yang tepat untuk membunuh Yesus. Tidak ada belas kasihan dan rasa keadilan di hati nurani sang murid, dan inilah pengkhianatan yang berujung pembunuhan. Realitas kehidupn seperti ini bukan saja terjadi di zaman Yudas Iskariot ribuan tahun yang lampau, tetapi juga semakin trend sekarang ini demi dan atas nama agama. Bagaimana sikap kita sebagai orang-orang Kristen? Setiap keluarga Kristen perlu membekali diri dengan sikap hidup yang penuh hikmat dan kearifan dalam membaca setiap tanda-tanda zaman agar tidak mudah goyah, dan tidak juga bersikap pasrah. Kita perlu melawan, tetapi tidak dengan tindak-tindak kekerasan melainkan dengan ajaran kasih Kristus. Sebagai orang tua sudah sejak dini memperlengkapi anak-anak memperdalam ajaran-ajaran yang benar, membaca Alkitab secara rutin dan serius dan hal itu yang mesti diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan membalas kejahatan dengan kejahataan; kekerasan dengan kekerasan tetapi terus berupaya melakukan kebaikan-kebaikan yang bermotifkan kasih Kristus. mulailah dari sekarang ini dan mulailah dari dalam rumah sendiri.

Doa : Hindarilah kami dari roh-roh pengkhianatan ya Tuhan dan ajarlah kami untuk mengasihi dengan tulus. Amin.

Rabu, 01 April 2020                                 

bacaan : Lukas 22 : 47 – 53

Yesus ditangkap
47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya. 48 Maka kata Yesus kepadanya: "Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?" 49 Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: "Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?" 50 Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya. 51 Tetapi Yesus berkata: "Sudahlah itu." Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya. 52 Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? 53 Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu."

Jangan Menghianati Yesus Karena Uang

Ciuman adalah ungkapan perasaan kasih sayang di  antara orang-orang yang saling menyayangi. Hal ini biasanya dilakukan antar orangtua dan anak-anak, antar anggota keluarga, antar teman atau antar orang-orang yang saling mencintai. Bila orang-orang yang saling menyayangi bertemu satu dengan yang lain, maka kasih sayang di antara mereka diungkapkan dalam bentuk berciuman. Apalagi orang-orang yang saling menyayangi tetapi sudah lama baru bertemu satu dengan yang lain. Itulah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yudas. Yudas adalah seorang murid yang dikasihi oleh Tuhan Yesus. Tetapi dia dimanfaatkan oleh orang-orang yang membenci dan memusuhi Tuhan Yesus untuk melaksanakan rencana mereka, yaitu menangkap dan membunuh Tuhan Yesus. Nampaknya orang-orang yang disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi untuk menangkap Yesus tidak mengenal Tuhan Yesus. Karena itu tanda yang diberikan oleh Yudas ialah mencium Yesus. Disini, tanda cium sudah dipakai sebagai tanda pengkhianatan. Yudas melakukan tugas yang diminta dengan bayaran 30 uang perak (Mt. 26: 15). Dari cerita ini kita dapat belajar bahwa, jangan karena uang atau berbagai kepentingan, kita mengingkari iman kita dengan melakukan kejahatan. Tetapi lakukanlah segala sesuatu dengan cara yang baik dan benar, penuh kasih sayang.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami dari godaan uang agar kami tidak mengkhianati-MU, Amin

Kamis, 02 April 2020                               

bacaan : Lukas 23 : 8 – 12

Yesus di hadapan Herodes
8 Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda. 9 Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apapun. 10 Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. 11 Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia, ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. 12 Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan.

Jangan Menista dan Mengolok-olok Orang Tanpa Bersalah

Seringkali kita jumpai dalam masyarakat, orang saling menista dan mengolok-olok satu dengan lain. Terkadang orang yang dinista dan diolok-olok itu tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi karena rasa kebencian dan permusuhan, akibat perbedaan agama, suku dan ras serta persaingan di dalam dunia kerja, menyebabkan seseorang dinista dan dolok-olok oleh orang lain. Apa yang terjadi dalam masyarakat ini, juga dialami oleh Tuhan Yesus. Ia dinista dan diolok-olok oleh Herodes dan pasukannya, sekalipun mereka tidak menemukan kesalahan apapun dalam diri Tuhan Yesus. Tetapi mereka menista dan mengolok-olok Dia, karena mendengar tuduhan yang diberikan oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat. Herodes dan pasukannya hanya ingin mempermalukan Tuhan Yesus di hadapan orang banyak untuk mendapat simpati dan dukungan. Tetapi tidak berani menjatuhkan hukuman mati kepada Tuhan Yesus karena tidak menemukan kesalahan apapun dalam diri Tuhan Yesus. Bacaan ini mau mengingatkan kita, agar jangan  menista, mengolok-olok, mempermalukan dan menghina orang yang belum tentu bersalah di depan banyak orang, hanya untuk menyenangkan hati  orang banyak, agar tetap mendapat dukungan dan simpati. Sebab perbuatan yang demikian tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk tidak menghakimi orang yang tidak bersalah. Amin.

Jumat, 03 April 2020                              

bacaan : Matius 26 : 57 – 68

Yesus di hadapan Mahkamah Agama
57 Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua. 58 Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu. 59 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, 60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, 61 yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." 62 Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak." 64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." 65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. 66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" 67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, 68 dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"

Beriman Kepada Yesus, Banyak Tantangannya

Pengakuan tentang siapa itu Tuhan Yesus sering berdampak penolakan oleh orang-orang dalam suatu lingkungan yang  beragama mayoritas. Hal ini nampak dalam usaha membangun gedung gereja atau melakukan ibadah ritual di rumah-rumah keluarga kristen di lingkungan masyarakat mayoritas yang berbeda agama. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus menghadapi kenyataan itu dengan kekuatan iman, bahwa apa yang mereka alami adalah bagian dari apa yang dialami oleh Tuhan Yesus. Dalam bacaan kita dikatakan bahwa ketika Tuhan Yesus diadili oleh Mahkama Agama, mereka tidak menemukan kesalahan apapun seperti yang dituduhkan. Tetapi ketika Tuhan Yesus mengakui bahwa Dialah Mesias yang datang dari Allah sesuai pertanyaan Imam Besar, maka Dia dijatuhkan hukuman mati. Hal ini disebabkan karena orang Yahudi menolak mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Manusia yang datang dari Allah. Apa yang terjadi dan dialami oleh Tuhan Yesus, itulah yang sering dialami oleh orang-orang percaya. Oleh karena itu, kita diminta harus kuat dalam iman menghadapi semua tantangan hidup yang kita alami karena iman kita. Apakah itu di lingkungan di mana kita bekerja atau berdiam. Percayalah bahwa Yesus pasti menyertai dan memberi kekuatan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk, tetap mengakui nama-Mu dalam hidup kami. Amin. 

Sabtu, 04 April 2020                            

bacaan : Matius 27 : 27 – 31

Yesus diolok-olokkan
27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" 30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. 31 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Berlakulah Adil

Paul seorang pengusaha kaya yang sukses, akhirnya menceraikan isterinya Atta dan kawin dengan perempuan lain yang adalah relasi bisnisnya. Atta hanya dapat menerima kenyataan ini dengan mencucurkan air mata, padahal kesuksesan Paul berawal dari kerja keras Paul dan Atta, sejak menjadi suami isteri. Usaha mereka dimulai dengan berjualan bahan kebutuhan pokok dan kemudian mereka mendirikan beberapa PT dan inilah kesuksesan bersama, namun sayangnya setelah sukses, Paul menceraikan Atta tanpa santunan apapun, anak-anaknya juga dipisahkan dari Atta, tinggallah Atta seorang diri di tempat Kost dengan berjualan kecil untuk bertahan hidup. Inilah realita ketidakadilan yang marak terjadi dalam kehidupan keluarga Kristen. Ketika Yesus dijatuhi hukuman mati walaupun IA tidak bersalah, para serdadu Romawi membawa Yesus ke gedung Pengadilan, tempat dimana orang ingin mendapat keadilan. Tetapi di sana mereka melakukan perbuatan yang tidak adil bahkan tidak manusiawi. Mereka menanggalkan pakaian Yesus, memasang mahkota duri, memukul dan mengolok-olok DIA, setelah itu barulah mereka mengantar-Nya untuk disalibkan. Banyak orang menyikapi perlakuan tidak adil dengan marah, protes dan juga balas dendam. Hari ini kita belajar dari sikap Yesus, yang menghadapi perilaku tidak adil dalam penderitaan-Nya dengan bersikap tenang dan tidak membalas dengan perbuatan yang jahat, tetapi menyerahkan semuanya kepada Allah yang berhak melakukan pembalasan. Memasuki minggu Sengsara Tuhan Yesus yang ke-VI, kita diajak untuk terus merawat hidup yang saling menghargai dan berlaku adil satu dengan yang lain. 

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk berlaku adil. Amin.

*sumber : SHK bulan Maret-April 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey