Santapan Harian Keluarga, 7 – 13 Februari 2021

jemaatgpmsilo.org

Minggu, 07 Februari 2021        

bacaan : 1 Korintus 9 : 16 – 27

16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. 17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. 18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. 19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. 20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. 21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. 23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya. 24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. 26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. 27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

BERITAKANLAH INJIL DALAM HIDUP DAN KARYA

Tugas pemberitaan Injil adalah tugas yang dipercayakan kepada semua orang percaya.  Injil itu diberitakan oleh orang-orang percaya melalui hidup dan karya yang dilakukan setiap hari. Hidup dan karya yang membawa suka-cita, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagian hidup yang dirasakan dan dialami oleh semua orang. Itulah Injil yang membebaskan dan menyelamatkan kehidupan manusia dan dunia dari ancaman kehidupan karena kejahatan manusia. Injil tersebut harus diberitakan oleh orang-orang percaya kepada Kristus dalam hidup dan karyanya secara nyata kepada siapa saja, di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Khususnya dalam kenyataan hidup bersama di tengah pandemi covid-19. Memberitakan Injil di tengah pandemi covid-9, nampak dalam hidup orang-orang percaya yang terus menjaga dan merawat kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Baik itu kehidupan sendiri maupun kehidupan bersama orang lain. Sebab kehidupan itu adalah anugerah Tuhan. Tetapi tanggungjawab manusia ialah bagaimana merawat dan menjaga kehidupan yang Tuhan berikan dari berbagai ancaman kehidupan di dunia ini, termasuk pandemi covid-19. Sedangkan memberitakan Injil melalui karya nampak dalam sikap orang-orang percaya yang peduli dengan kehidupan saudara-saudara yang terdampak covid-19. Orang percaya akan terus melakukan hal-hal yang baik demi menyelamatkan kehidupan manusia  dari ancaman kematian yang dialami bersama. Orang-orang  yang bekerja tanpa pamrih. Artinya orang-orang yang bekerja demi membela, memelihara dan merawat kehidupan tanpa didasari pada motivasi mencari keuntungan atau untuk mendapatkan sesuatu. Bukan berarti orang percaya tidak membutuhkan sesuatu/materi  untuk hidup. Tetapi materi bukan menjadi tujuan hidup dan karya orang-orang percaya. Sebab Tujuan hidup orang percaya ialah bagaimana memuliakan Tuhan melalui hidup dan karya secara nyata. Itulah panggilan hidup orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Doa:  Ya Tuhan, sertailah kami untuk terus memberitakan Injil. Amin

Senin, 08 Februari 2021     

bacaan : Zakharia 11 : 15 – 17

15 Sesudah itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Ambillah sekali lagi perkakas seorang gembala yang pandir! 16 Sebab sesungguhnya, Aku akan membangkitkan di negeri ini seorang gembala yang tidak mengindahkan yang lenyap, yang tidak mencari yang hilang, yang tidak menyembuhkan yang luka, yang tidak memelihara yang sehat, melainkan memakan daging dari yang gemuk dan mencabut kuku mereka. 17 Celakalah gembala-Ku yang pandir, yang meninggalkan domba-domba! Biarlah pedang menimpa lengannya dan menimpa mata kanannya! Biarlah lengannya kering sekering-keringnya, dan mata kanannya menjadi pudar sepudar-pudarnya!"

JADILAH GEMBALA YANG BIJAKSANA

Alkitab sering menggambarkan pemimpin bagaikan seorang gembala. Sebagai gembala, ia tidak hanya bertanggungjawab untuk menjaga domba-domba peliharaannya, tetapi juga memberi kesejahteraan bagi mereka. Namun dalam kenyataannya, tidak semua gembala dapat melakukan tugas itu dengan baik. Zakharia dalam teks ini menggambarkan tentang dua macam gembala.Ada gembala yang baik dan bertanggungjawab, tetapi ada juga gembala yang pandir, yang tidak bertanggungjawab, jahat dan hanya ingat diri sendiri.Tuhan berfirman: “Celakalah gembala-Ku yang pandir!” Ini merupakan peringatan keras yang harus disampaikan Zakharia kepada para gembala yakni para pemimpin Israel waktu itu. Peringatan ini disampaikan karena kepemimpinan mereka yang tidak bertanggungjawab, yang jahat dan tidak lagi memperhatikan umat. Mereka berlaku bodoh dan hanya ingat kepentingan diri sendiri. Terhadap gembala yang demikian, Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak hanya akan mengambil berkat melainkan juga memberikan hukuman yang  berat bagi mereka yang mengabaikan tugas-tugas penggembalaan dan meninggalkan umatNya (ay.17). Dari firman ini kita belajar untuk harus mengerjakan tugas panggilan penggembalaan atau kepemimpinan dengan baik dalam kehidupan gereja dan masyarakat.Panggilan itu adalah untuk menjaga dan mensejahterakan kehidupan umat, bukan untuk mencari kepentingan diri sendiri dan mengabaikan tanggungjawab melayani. Panggilan ini kita jalani bukan dengan sungut-sungut dan penuh perhitungan tetapi kerelaan untuk berkorban.Itu adalah model gembala yang baik.Jadi, marilah kita menjadi gembala yang baik dan bijaksana, jangan yang pander supaya hukuman Tuhan tidak berlaku atas hidup kita.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami  agar menjadi gembala yang baik, dan boijaksana, Amin.

Selasa, 09 Februari 2021                 

bacaan : Yunus 1 : 1 – 7

Yunus mengingkari panggilan TUHAN
Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: 2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." 3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. 4 Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. 5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. 6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa." 7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.

JANGAN MENGABAIKAN PANGGILAN DAN PENGUTUSAN TUHAN

Banyak kisah dalam Alkitab yang menceritakan tentang penolakan seseorang terhadap panggilan pelayanan dan pengutusan yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Yunus adalah salah satu contohnya. Ia memilih menghindar dan  lari dari panggilan dan pengutusan Tuhan karena takut menghadapi tantangan. Ia diutus Tuhan untuk menyatakan kesalahan orang-orang di Niniwe.Tetapi  panggilan dan pengutusan Tuhan baginya untuk pergi ke Niniwe itu justru diabaikan. Ia kemudian lari dari tanggung jawabnya dan pergi ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan.  Akibat lari dari panggilan dan pengutusan Tuhan ini Yunus mengalami masalah yang hebat, kapal yang ditumpanginya hampir hancur karena badai. Tidak hanya itu, Yunus pun harus mengalami peristiwa paling mengerikan yang tidak pernah dibayangkan seumur hidupnya yaitu berada dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Ini merupakan peringatan Tuhan yang luar biasa bagi Yunus.  Namun, karena kasihNya, Tuhan memberi kesempatan untuk Yunus menyadari kesalahannya lalu bertobat. Akhirnya ia kembali pergi ke Niniwe dan menjalankan tugasnya sebagai utusan Tuhan. Melalui pelayanannya orang-orang Niniwe bertobat dan seluruh penduduk kota itu diselamatkan. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak mengabaikan atau lari dari panggilan dan pengutusan Tuhan. Sebab dengan berbagai dalih atau alasan, seseorang mudah mengingkari panggilan dan pengutusan Tuhan kepadanya. Padahal tanpa kita sadari akibat atau konsekwensi dari mengingkari panggilan Tuhan selalu ada. Jadi, jika kita menerima panggilan dan pengutusan Tuhan untuk melayaniNya, terimalah dengan hati yang penuh sukacita, lalu jalanilah dalam kesetiaan dan penuh rasa tanggung jawab.  

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami untuk tidak menolak panggilan dan pengutusan dari-Mu. amin

Rabu, 10 Februari 2021      

bacaan : Hosea 4 : 4 – 6

4 Hanya janganlah ada orang mengadu, dan janganlah ada orang menegor, sebab terhadap engkaulah pengaduan-Ku itu, hai imam! 5 Engkau akan tergelincir jatuh pada siang hari, juga nabi akan tergelincir jatuh bersama-sama engkau pada malam hari; dan Aku akan membinasakan ibumu. 6 Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.

JADILAH PANUTAN DALAM KATA DAN PERBUATAN

Teks ini membicarakan tentang ketidakmampuan para imam dalam menjalankan tanggungjawabnya sesuai dengan panggilan Tuhan. Ketidakmampuan para imam itu mengakibatkan kurangnya pengetahuan umat Israel akan Tuhan Allah, sehingga muncul berbagai kejahatan, seperti mencuri, menyesatkan, membunuh, berdusta, sumpah palsu, merampok dan saling membunuh. Hal inilah yang dikritik oleh nabi Hosea. Para imam waktu itu ternyata lebih mementingkan kepentingan pribadi dan materi daripada hidup dalam kebenaran Allah. Nabi Hosea memperlihatkan bahwa para imamlah yang mempelopori sikap penolakanakan Allah dan melupakan ajaran-ajaran Tuhan (ayat 6). Akibat dari kehidupan para imam yang demikian, Tuhan akan menghukum mereka semua, baik umat maupun para imam Israel (ayat, 9-10). Apakah umat dan para pelayan sekarang ini mengulang kisah yangsama seperti yang dikisahkan ini? Tentunya, kita memiliki pengalaman masing-masing.Tetapi harus kita akui, ada umat dan para pelayan yang berusaha terus menjaga relasinya dengan Allah dan hidup menuruti ajaran-Nya. Tetapi ada pula yang tidak mampu menjaga relasinya dengan Tuhan dan melangkah keluar dari ajaran Tuhan. Itu nampak dalam kehidupan mereka. Banyak kita dapati para pelayan yang gagal menjadi contoh dan panutan bagi umat. Ada yang melakukan pelayanan bukan lagi sebagai panggilan dan pengutusan dari Tuhan tetapi hanya sebuah formalitas atau rutinitas biasa yang tidak lagi memberi dampak pada hidupnya maupun kehidupan umat. Ada juga yang melayani karena uang dan materi. Secara perlahan-lahan makna sebuah panggilan menjadi bergeser. Hari ini kita diingatkan, jagalah relasi yang intim dengan Allah dan layanilah Tuhan dengan memberikan teladan yang baik dalam kata dan perbuatan. Itulah makna panggilan dari Tuhan yang sesungguhnya.

Doa:  Ya Tuhan, kami mau menjalani panggilan dan pengutusan dariMu dengan menjadi panutan yang baik, Amin.

Kamis, 11 Februari 2021             

bacaan : Kisah Para Rasul 26 : 12 – 23

Paulus menceriterakan pertobatan dan panggilannya
12 "Dan dalam keadaan demikian, ketika aku dengan kuasa penuh dan tugas dari imam-imam kepala sedang dalam perjalanan ke Damsyik, 13 tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. 14 Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang. 15 Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. 16 Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti. 17 Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, 18 untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan. 19 Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat. 20 Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. 21 Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku. 22 Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, 23 yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain."

SAMBUTLAH PANGGILAN TUHAN DAN JADILAH BERKAT

Dalam bacaan hari ini Paulus menceritakan kisah pertobatan dan pemanggilannya oleh Tuhan dihadapan raja Agripa. Ia menyebutkan bahwa tujuan Tuhan Yesus memanggilnya adalah agar ia menjadi “pelayan dan saksi bagi banyak bangsa” (ay.16)   Ini bukanlah tugas yang  mudah, tetapi penuh tantangan dan resiko. Namun, sekali pun ia tahu tantangan dan resiko yang akan dihadapinya dari tugas sebagai pelayan dan saksi itu, ia berkata dalam ayat 19: “Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat. Ia menunjukkan bukti ketaatannya dalam melayani Tuhan itu dalam semua karya pelayanannya. Sekalipun resikonya adalah berulang-ulang kali ia ditolak, menderita bahkan hampir dibunuh, ia tetap taat dan setia menjalankan panggilan Tuhan ini  sehingga injil Tuhan semakin tersebar dan banyak orang bertobat lalu percaya kepada Tuhan. Inilah salah satu kisah dalam Alkitab yang menarik dan patut dicontohi dari orang-orang yang hidup dalam ketaatan kepada panggilan Tuhan. Mereka bersedia   berkorban menjalankan panggilan pengutusan dari Tuhan dengan taat dan setia sekalipun banyak tantangan dan resikonya. Bagaimana dengan kita? Apakah akan memilih mundur ketika tahu ada tantangan dan resiko yang besar ketika kita meresponi panggilan Tuhan dalam hidup? Firman Tuhan ini mengingatkan, jika Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi dan pelayanNya, Dia tahu siapa yang dipanggil-Nya dan untuk maksud apa. Tidak pernah akan dibiarkanNya kita menjalani panggilan itu sendirian. Dengan anugerah-Nya kita akan dilengkapi dan dikuatkan menghadapi tantangan dan resiko seberat apapun. Kerjakanlah panggilan Tuhan dengan taat dan setia dan jadilah berkat bagi banyak orang.

Doa:  Ya Tuhan, aku mau menyambut panggilanMu dan menjadi berkat bagi banyak orang, amin

Jumat, 12 Februari 2021      

bacaan : Kisah Para Rasul 27 : 14 – 44

Kapal terkandas
14 Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin "Timur Laut". 15 Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing. 16 Kemudian kami hanyut sampai ke pantai sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan di situ dengan susah payah kami dapat menguasai sekoci kapal itu. 17 Dan setelah sekoci itu dinaikkan ke atas kapal, mereka memasang alat-alat penolong dengan meliliti kapal itu dengan tali. Dan karena takut terdampar di beting Sirtis, mereka menurunkan layar dan membiarkan kapal itu terapung-apung saja. 18 Karena kami sangat hebat diombang-ambingkan angin badai, maka pada keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal ke laut. 19 Dan pada hari yang ketiga mereka membuang alat-alat kapal dengan tangan mereka sendiri. 20 Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami. 21 Dan karena mereka beberapa lamanya tidak makan, berdirilah Paulus di tengah-tengah mereka dan berkata: "Saudara-saudara, jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini! 22 Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. 23 Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, 24 dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. 25 Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. 26 Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau." 27 Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka telah dekat daratan. 28 Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan ternyata lima belas depa. 29 Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. 30 Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. 31 Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: "Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat." 32 Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut. 33 Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: "Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. 34 Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya." 35 Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. 36 Maka kuatlah hati semua orang itu, dan merekapun makan juga. 37 Jumlah kami semua yang di kapal itu dua ratus tujuh puluh enam jiwa. 38 Setelah makan kenyang, mereka membuang muatan gandum ke laut untuk meringankan kapal itu. 39 Dan ketika hari mulai siang, mereka melihat suatu teluk yang rata pantainya. Walaupun mereka tidak mengenal daratan itu, mereka memutuskan untuk sedapat mungkin mendamparkan kapal itu ke situ. 40 Mereka melepaskan tali-tali sauh, lalu meninggalkan sauh-sauh itu di dasar laut. Sementara itu mereka mengulurkan tali-tali kemudi, memasang layar topang, supaya angin meniup kapal itu menuju pantai. 41 Tetapi mereka melanggar busung pasir, dan terkandaslah kapal itu. Haluannya terpancang dan tidak dapat bergerak dan buritannya hancur dipukul oleh gelombang yang hebat. 42 Pada waktu itu prajurit-prajurit bermaksud untuk membunuh tahanan-tahanan, supaya jangan ada seorangpun yang melarikan diri dengan berenang. 43 Tetapi perwira itu ingin menyelamatkan Paulus. Karena itu ia menggagalkan maksud mereka, dan memerintahkan, supaya orang-orang yang pandai berenang lebih dahulu terjun ke laut dan naik ke darat, 44 dan supaya orang-orang lain menyusul dengan mempergunakan papan atau pecahan-pecahan kapal. Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat.

PANDEMI TAK DAPAT MEMBATASI PEMBERITAAN INJIL KRISTUS

Bacaan kita hari ini menceritakan bagaimana proses perjalanan rasul Paulus menuju Roma yang penuh dengan risiko. Paulus mengalami karam kapal karena angin badai yang mengamuk dan membuatnya hampir tenggelam. Namun, Paulus tetap melakukan tanggungjawabnya untuk memberitakan Injil, karena respon terhadap tugas dan panggilan yang ditetapkan Allah bagi-Nya. Sama seperti Paulus, kita pun harus meresponi tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan Allah dalam hidup kita dalam melakukan Amanat Agung (Mat. 28:19-20). Dalam kondisi sekarang, kita harus menjaga jarak dengan orang lain, untuk menghindari penyebaran virus Corona, tetapi tugas dan tanggung jawab kita untuk memberitakan Injil tidak boleh berhenti. Justru pada masa yang sukar dan sulit ini, banyak orang butuh kepastian, butuh dikuatkan dan butuh pengharapan dari Tuhan. Untuk itu, kita patut bersyukur bahwa kemajuan teknologi sekarang ini, dapat menolong kita untuk tetap memberitakan Injil kepada orang lain. Langkah praktis yang harus kita lakukan adalah berdoalah setiap saat, bacalah Alkitab sebagai Firman yang menuntun. Teruskanlah firman Tuhan itu kepada teman, sahabat, saudara dan orang yang membutuhkan. Bagilah juga renungan firman Tuhan dari Santapan Harian Keluarga GPM (SHK) ke media sosial, seperti grup WhatsApp, Facebook, Instagram, dll. Dari pada kita membagikan atau meneruskan berita-berita hoax yang menakutkan dan merugikan orang lain. Ingatlah bahwa, firman Tuhan yang kita bagikan tidak akan pernah kembali dengan sia-sia (Yes. 55:11). Dengan demikian, walaupun di tengah Pandemi Covid-19, maka kita tetap ambil bagian dalam memberitakan Injil yang dapat memberi pengharapan bagi orang lain.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk terus memberitakan injilMu. Amin.

Sabtu, 13 Februari 2021         

bacaan : Lukas 10 : 17 – 20

Kembalinya ketujuh puluh murid
17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." 18 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. 19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. 20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."

MENJADI KELUARGA YANG MEMBERITAKAN INJIL

Dalam ibadah minggu, 17 Januari bulan kemarin, telah ditahbiskan 126 pendeta muda dalam lingkup Gereja Protestan Maluku. Setelah sekian lama penantian itu akhirnya terjawab sudah setelah melewati masa vikariat setahun pada jemaat-jemaat sesuai SK MPH Sinode GPM. Kini, tinggal menunggu SK penempatan. Maka mulailah 126 pendeta muda ini melaksanakan tugas pengutusan mereka. Tema mingguan, “Celakalah Aku Jika Aku Tidak Memberitakan Injil”, menjadi peringatan bagi 126 pendeta muda tersebut dan juga semua warga gereja (Pribadi dan keluarga). Kita diutus ke dalam dunia ini bukan hanya sekedar hidup, bekerja dan lain sebagainya, namun ada tujuan dari setiap proses hadirnya kita di dunia ciptaan Tuhan ini. Proses memberitakan injil memang selalu dimaknai dengan tugas Pendeta, Majelis Jemaat atau Para Pelayan lainnya. Namun hakekat sebenarnya dari memberitakan injil itu adalah akta hidup kita yang sesungguhnya dengan pikiran, perkataan dan setiap tindakan-tindakan kita yang menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di dunia ini. injil itu adalah kabar baik tentang Allah di dalam Yesus Kristus. dan semua orang mesti mendengar berita tentang injil itu. Karenanya tepatlah jika dikatakan “Celakalah Aku…..” Setiap orang percaya, siapapun dia yang tidak memberitakan injil, bertanggung jawab terhadap Tuhan yang mengutusnya ke tengah-tengah dunia ini. Dan tanggung jawab memberitakan injil ini mesti di mulai dari dalam keluarga rumah tangga setiap orang percaya. Gambaran kenyataan yang sedang berkembang sekarang ini nampak jelas dalam setiap keluarga tidak banyak yang memaknai tugas memberitakan injil tersebut. Ada orang tua yang mengabaikan tanggung jawab memberitakan injil untuk anak-anaknya. Ada anak-anak juga yang mengacuhkan tuga pemberitaan injil tersebut. Bahkan yang lebih parah lagi, dalam tanggung jawab pelayanan ada beberapa orang yang dari pekerjaan pelayanannya, bukan Tuhan yang dimuliakan, namun dirinyalah yang diagungkan sehingga makna pemberitaan untuk menolong sesama yang terbelenggu dalam ikatan kuasa-kuasa dunia ini menjadi pudar. Jadi bersukacitalah jika Tuhan telah memilih kita untuk memberitakan injilNya. Itu suatu anugerah. Anugerah harus direspons dengan syukur dan semangat untuk terus memberitakan injil melalui ruang-ruang hidup kita. jika menghadapi kesulitan dan rintangan dalam langkah pemberitaan, jangan surut dan kecewa, sebaliknya belajar berserah kepada kehendak-Nya yang jadi untuk tugas tersebut.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami untuk terus memberitakan injilMu. Amin.

*sumber : SHK bulan Feb 2021, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey