Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 Februari 2021

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Mengikut Yesus: Menyangkal Diri Dan Pikul Salib

Minggu, 14 Februari 2021                

bacaan : Markus 8 : 31 – 38

Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia
31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. 32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. 33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." 34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. 36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. 37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? 38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."

MENGIKUT YESUS: MENYANGKAL DIRI DAN PIKUL SALIB

Hari ini kita memasuki Minggu Sengsara Tuhan Yesus yang I sekaligus kita mensyukuri persidangan Sinode GPM yang telah berlangsung seminggu kemarin dalam tuntunan karya keselamatan kuasa Roh Kudus. Memaknai hidup di minggu sengsara Tuhan Yesus ini, kita diingatkan bahwa, apapun situasi hidup kita, kita tetap setia berada pada Jalan Yesus, yakni jalan derita sebagai murid-murid-Nya.Sebab menjadi murid Yesus berarti tetap berada dibelakang Yesus dan berjalan mengikuti-Nya, menyangkal diri dan pikul Salib. Jika Yesus menempuh jalan derita untuk menyelamatkan dunia ini termasuk kita dan memberikan pemulihan dan pembebasan bagi kita dari dosa dan maut, maka kitapun harus menempuh jalan Yesus yaitu jalan derita tetapi bukan menderita karena melakukan dosa atau melakukan kejahatan tetapi sebaliknya menderita karena melakukan hal yang baik dan benar sesuai kehendak-Nya. Dalam kenyataannya sekarang ini banyak orang telah menjadi murid Yesus dan beriman kepada-Nya, tetapi menghindari jalan Salib. Ada yang berlindung pada harta dan kekuasaan atau pengetahuan yang dapat menyelamatkan hidup mereka dan membawa mereka dalam kesenangan dan kebahagiaan padahal justru semua itu tidak dapat menyelamatkan dan memberikan hidup yang kekal. Apa gunanya memiliki dunia tetapi kehilangan hidup yang kekal? Karena itu sama seperti Yesus, demi karya kebaikan dan pembebasan bagi orang-orang yang hidupnya bagaikan buluh yang patah terkulai dan pudar nyalanya, Ia harus menjalani penderitaan, maka kita pun harus melihat jalan penderitaan itu sebagai jalan kehidupan. Kita dapat memberikan kehidupan bagi orang lain dari karya-karya kebaikan kita. Kendatipun untuk menghadirkan kebaikan itu, penderitaan harus kita alami. Ini memang bukan sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi apakah dengan begitu kita akan menghindari jalan Yesus? Ingatlah, tetaplah mengikut Yesus, sangkalilah diri dan setia memikul salib, hidup kita kelak berkemenangan dalam kekekalan.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami agar tetap berada pada jalanMu. Amin!

Senin, 15 Februari 2021    

bacaan : Matius 10 : 34 – 42

Yesus membawa pemisahan Bagaimana mengikut Yesus
34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. 41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. 42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

PILIHAN MENGIKUT YESUS

Kita telah memasuki minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus. Setiap kali kita ada di minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus ini, pertanyaannya adalah, apa makna pengorbanan Tuhan Yesus bagi kita selaku pribadi maupun keluarga. Ayat fokus dari bagian Firman Tuhan di saat ini, Tuhan Yesus tegaskan bahwa, barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Yesus mengingatkan para murid dan kita semua tentang risiko memikul salib sebagai lambang penderitaan ketika seseorang menyatakan dirinya untuk mengikut Tuhan. Penderitaan yang sungguh berat adalah saat keputusan untuk mengikut Yesus dan melayani-Nya melalui seluruh kehidupan kita, namun tidak mendapat dukungan dari orang-orang yang sangat dekat dengan kita yakni keluarga. Ketika kita telah menyatakan komitmen untuk mengikut dan melayani Tuhan, namun terkadang mendapat penolakan, perlawanan dari dalam keluarga. Demikianpun karena keyakinan iman seringkali kita tidak disukai dan dibenci tempat kerja. Kenyataan ini hendaknya tidak membuat kita mundur atau menyerah, namun kita tetap bersemangat dan selalu berdoa dan berserah kepada Tuhan Yesus yang telah menjanjikan bagi setiap orang yang telah menentukan pilihan untuk mengikut Tuhan bahwa akan menerima upah yakni mahkota kehidupan. Kita harus tetap mewujudkan kebaikan Tuhan melalui seluruh sikap dan perilaku hidup sebagai sarana kesaksian akan cinta kasih Tuhan Yesus yang menderita, mati dan bangkit untuk keselamatan semua orang percaya.

Doa:  Tuhan Yesus tolonglah kami agar tetap setia dalam keputusan untuk berjalan  bersama Tuhan. Amin.-

Selasa, 16 Februari 2021    

bacaan : Matius 26 : 30 – 35

Petrus akan menyangkal Yesus
30 Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun. 31 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. 32 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." 33 Petrus menjawab-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." 34 Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." 35 Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lainpun berkata demikian juga.

MENGIKUT TUHAN DENGAN KERENDAHAN HATI

Mengikut Yesus dengan menyangkal diri dan memikul salib menjadi tema kita di minggu ini. Tema ini mudah untuk kita ucapkan namun tidak mudah untuk kita lakukan dan wujudkan. Hal ini membutuhkan kerelaan hati yang sungguh sebagai bentuk penyangkalan diri untuk mengikut dan menjadi murid Yesus yang setia. Kesaksian firman Tuhan di hari ini menampilkan sosok Petrus yang sangat percaya diri dengan pernyataannya kepada Tuhan Yesus dan para murid yang lain bahwa dia tetap setia mengikut Tuhan bahkan mati sekalipun. Namun Tuhan Yesus mengingatkan Petrus, bahwa sebelum ayam berkokok, ia telah menyangkal Tuhan Yesus 3 kali. Hal ini penting bagi Petrus untuk menyadari nasehat dan peringatan Tuhan Yesus kepadanya, agar ia tidak jatuh dalam dosa penyangkalan. Kesaksian inipun menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Allah, papa, mama dan anak-anak untuk selalu mengingat pesan dan peringatan Tuhan Yesus melalui FirmanNya agar kita tidak melakukan penyangkalan terhadap Tuhan Yesus ketika berhadapan dengan tantangan dan godaan dalam kehidupan ditengah dunia ini. Saling mengingatkan antara suami dan istri dalam tugas dan tanggung jawab ditengah keluarga adalah juga hal penting yang mesti dilakukan.  Nasehat serta peringatan orang tua kepada anak-anak agar mereka tidak melakukan hal-hal yang salah namun yang baik dan benar sehingga bermanfaat untuk masa depan mereka. Kita harus mampu mewujudkan keteladanan Tuhan Yesus melalui sikap dan perilaku hidup kita, sekalipun dibenci dan mendapat banyak tantangan dan ancaman, namun dengan rendah hati kita selalu memohon tuntunan dan penyertaan Tuhan bagi kita agar tetap setia kepada panggilan untuk mengikut Yesus.

Doa:    Tuhan Yesus tuntun kami dengan kasihMu agar kami selalu rendah hati untuk selalu mengikut Tuhan. Amin.-

Rabu, 17 Februari 2021     

bacaan : Matius 26 : 69 – 75

Petrus menyangkal Yesus
69 Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu." 70 Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud." 71 Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu." 72 Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." 73 Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." 74 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. 75 Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

BELAJAR DARI KEGAGALAN

Masih tentang sosok Petrus bahwa ternyata peringatan Tuhan Yesus kepadanya (bacaan di hari kemarin) tidak disimak secara mendalam dan sungguh-sungguh sehingga selang beberapa saat saja kejadian Petrus menyangkal Tuhan Yesus selama 3 kali terjadi. Apa yang dilakukan Petrus berbeda dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya kepada Tuhan Yesus dan para murid yang lain. Disini, Petrus bilang lain, dia bikin lain. Petrus tidak mampu mempertanggungjawabkan sikapnya ketika dia ditanya apakah dia benar-benar murid Tuhan Yesus. Petrus menyangkal kebenaran itu sebagai bentuk ketakutannya atas risiko yang akan dialami dan diterimanya yakni penderitaan. Ketakutan Petrus membuatnya tidak siap untuk menderita dan lebih memilih menyangkal untuk keselamatan dirinya. Ketika ayam berkokok, Petrus akhirnya sadar akan peringatan Tuhan Yesus kepadanya. Petrus sedih dan menangis, merasa tidak layak untuk menjadi murid Tuhan Yesus yang setia dan taat kepada-Nya. Petrus sadar akan sikap percaya diri yang berlebihan sehingga membuatnya gagal dan jatuh. Namun cinta kasih Tuhan Yesus yang penuh belas kasihan kembali memulihkan dan membarui Petrus dan sesuai dengan namanya yakni Batu Karang yang akan didirikan jemaat Tuhan. Kesaksian inipun menjadi keteladan bagi kita semua untuk menjadi keluarga Allah yang setia dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan apa yang kita ucapkan.  Kita juga menjadi anak-anak Tuhan yang selalu rendah hati mengakui segala kemampuan dan keterbatasan kita sebagai manusia. Kita memohon penyertaan dan tuntunan serta belas kasihan Tuhan dalam seluruh kehidupan kita, sehingga apapun tantangan, persoalan serta godaan dalam kehidupan di dunia ini, kita tidak takut dan mudah menyangkali Tuhan, namun selalu setia dan taat kepada Tuhan.  

Doa: Tuhan Yesus ampuni kami dan tuntun kami dengan kasihMu agar selalu setia dan taat kepadaMu. Amin.-  

Kamis, 18 Februari 2021        

bacaan : Ibrani 12 : 1 – 6

Nasihat supaya bertekun dalam iman

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. 3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. 4 Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. 5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."

SETIA DALAM PENDERITAAN

Sebagai manusia, siapapun dia, pasti tidak ingin hidupnya menderita. Kita semua berupaya menghindari penderitaan. Namun penderitaan itu sebagai bentuk cara Tuhan untuk mendidik kita bertumbuh dalam iman dan keyakinan kepada Tuhan Yesus, maka kita mesti bersyukur. Hal ini sesuai dengan panggilan dan ajakan Tuhan Yesus untuk mengikutNya. Mengikut Tuhan dengan segala resiko yang dihadapi anak-anak Tuhan sebagai saksi-saksi iman, disaksikan penulisa surat Ibrani yang memberi keteladan bagi kita sebagai keluarga Allah untuk tetap setia dan taat berjalan bersama Tuhan dengan mata yang tertuju kepadaNya. Dengan memandang kepada Tuhan Yesus dan tidak pada yang lain dalam hidup ini, memampukan kita untuk selalu bersyukur dan bersukacita kepada semua kenyaaan hidup, baik suka maupun duka. Kita percaya bahwa dalam penderitaan, sakit, kemalangan maupun duka sekalipun, Tuhan tetap memakai dan menginjinkannya terjadi dalam kehidupan kita sebagai cara membentuk kita menjadi anak-anak Tuhan yang setia dan taat kepada Tuhan. Sebab Tuhan selalu menghajar orang yang dikasihiNya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Sebagai manusia yang punya kelemahan dan keterbatasan tentu kita tidak mampu untuk menghadapi dan menjalaninya. Untuk itu kita selalu memohon belas kasihan Tuhan dalam tuntunan dan penyertaanNya sehingga kita mampu untuk selalu setia dan taat berjalan bersama dengan Tuhan sambil memikul salib dengan penuh sukacita.

Doa:  Tuhan Yesus mampukan agar kami kuat menghadapi tantangan iman dalam seluruh kehidupan kami. Amin.-  

Jumat, 19 Februari 2021       

bacaan : Lukas 22 : 24 – 34

Percakapan waktu Perjamuan Malam
24 Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. 25 Yesus berkata kepada mereka: "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. 26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. 27 Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. 28 Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. 29 Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, 30 bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. 31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." 33 Jawab Petrus: "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" 34 Tetapi Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku."

KEHEBATAN DITENTUKAN OLEH PELAYANAN

Menurut Marthin Luther King, tidak semua orang bisa menjadi pemimpin yang terkenal, namun semua orang bisa menjadi hebat, karena kehebatan ditentukan oleh Pelayanan. Pikiran hebat dari Sang Reformator ini, mengingatkan kita bahwa kebesaran seseorang bukan saja dilihat dari kedudukan dan kuasa yang dimilikinya tetapi dari hidup dan pelayanannya kepada sesama. Kedudukan dan kuasa bukanlah kesempatan untuk menerima hak istimewa, tetapi sebagai tanggungjawab pelayanan yang harus dilakukan dengan penuh kerendahan hati di hadapan Allah. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup-Nya, bahwa Ia ada ditengah-tengah para murid sebagai pelayan (ay.27). Dia datang kedalam dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.Perkataan Yesus ini sekaligus menanggapi perdebatan para murid yang sedang membandingkan siapa yang terbesar dan terhebat diantara mereka dan mengabaikan tugas utama yakni melayani sesama.Dan disayangkan juga bahwa Hal ini terjadi di saat Yesus sedang bergumul untuk menghadapi “Salib” sebaliknya para murid justeru sedang mencari pupularitas, kedudukan dan kuasa.Situasi ini juga yang sedang marak terjadi dalam dunia pelayanan (termasuk pelayanan gereja). Ada kecenderungan untuk saling membandingkan satu dengan yang lain yang sudah menjurus kepada persaingan, juga ada kecenderungan untuk memperoleh jabatan dan kuasa dengan tujuan untuk dilayani dan memperkaya diri bukan untuk melayani Tuhan dan sesama dengan baik, ada juga untuk mengejar pujian diri sendiri dan bukan pujian dan kemuliaan bagi Allah. Hal-hal ini menggambarkan bahwa kita belum memahami dengan baik prinsip pelayanan Tuhan, kita masih memiliki motivasi yang salah dalam mengikuti Dia. Salib Kristus bukan saja sumber keselamatan bagi kita tetapi juga memperlihatkan Pola Hidup dan Prinsip Pelayanan yang membuat kita merendahkan diri dan menyangkal diri.. oleh sebab itu, kita diingatkan bahwa memperingati minggu-minggu Sengsara Tuhan Yesus, maka segenap hidup kita (kuasa, jabatan, harta, pengetahuan) hendaknya dipakai untuk melayani Tuhan dan sesama.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami  untuk menjadi pelayan yang baik, Amin.

Sabtu, 20 Februari 2021     

bacaan : Lukas 22 : 35 – 38

35 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?" 36 Jawab mereka: "Suatupun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. 37 Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi." 38 Kata mereka: "Tuhan, ini dua pedang." Jawab-Nya: "Sudah cukup."

BERHARAP DITENGAH KRISIS

Perjalanan hidup di tahun 2021 memang masih menjadi tahun yang berat bagi masyarakat dunia maupun kita di sini karena masih menghadapi pandemi covid 19 yang semakin mengganas. Keganasan covid-19 ini berimbas bagi seluruh aspek hidup, termasuk ekonomi keluarga; misalnya semakin beratnya biaya sekolah dan kuliah, bertambah orang yang menganggur, kesulitan mendapatkan pekerjaan serta sulit memenuhi kebutuhan hidup menjadi potret yang sangat memprihatinkan dan mengkuatirkan semua orang termasuk orang percaya.Menghadapi situasi hidup yang sulit ini, maka bacaan hari ini membangun pengharapan kita di dalam Tuhan Yesus. Bahwa menjadi pengikut Yesus tidak akan mengalami kekurangan apa-apa seperti yang dialami oleh para murid ketika mereka melakukan tugas pengutusan yang diberikan Yesus kepada mereka. Dengan demikian, menghadapi berbagai persoalan termasuk persoalan ekonomi saat ini, maka kita diingatkan untuk tidak kuatir tetapi menaruh percaya dan pengharapan hanya pada Tuhan. Di sisi lain, ajakan Tuhan Yesus kepada para murid untuk menghadapi tantangan dan ancaman yakni membuat persiapan dengan baik (baca ay.36)  Dengan demikian dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini. Maka kita perlu membuat persiapan agar kebutuhan hidup kita tetap terpenuhi, Seperti yang pernah diperlihatkan oleh Yusuf di Mesir dengan membuat persiapan dan penyimpanan agar negeri itu tidak binasa karena kelaparan (band.Kejadian 41). Kita melakukan persiapan melalui cara berhemat, hidup ugahari (sederhana), memanfaatkan pekarangan rumah atau lahan kosong untuk bertanam.

Doa: Tuhan, pimpin kami menghadapi berbagai krisis hidup, Amin.

*sumber : SHK bulan Feb 2021, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey