Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Februari 2021

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Lebih Baik Menderita Karena Berbuat Baik

Minggu, 21 Februari 2021        

bacaan : 1 Petrus 3 : 13 – 17

Menderita dengan sabar
13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? 14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. 15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, 16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. 17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

MENDERITA KARENA BERBUAT BAIK

Kenyataan membuktikan bahwa tidak biasanya orang menderita karena ia berbuat kebaikan. Pada dasarnya, seseorang itu mengalami penderitaan, karena ia melakukan jahat. Begitulah kenyataan yang kita hadapi sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus. Kita menderita dikarenakan berbuat kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan kehendak Tuhan di dalam ajaran Alkitab dan hal ini tentunya tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh orang dunia dengan keyakinan mereka.

Sebagai keluarga Kristen terkadang kita mengalami kesusahan, karena bersaksi tentang kebenaran, bahwa kita tidak diselamatkan Allah berdasarkan perbuatan baik, melainkan karena belas kasihan Allah semata. Sementara orang dunia berpendapat, manusia diselamatkan oleh perbuatan baik, dan oleh karena melakukan hukum Taurat. Alkitab mengatakan bahwa orang-orang itu lebih besar jumlahnya dan lebih kuat dalam masyarakat, makanya mereka memfitnah pengikut Yesus.

Disinilah terletak sumber persoalan utama. Fitnah itu telah membuat kekristenan kita disudutkan, bahwa pengikutnya dikejar hendak dibantai. Melihat keadaan itu Petrus menghibur dan menguatkan umat Kristen, bahwa kita tidak usah membalas kejahatan dengan kejahatan. Justru kita dipanggil melawan kejahatan dengan kebaikan. Sebab dengan berbuat baik kepada yang membuat kita menderita, maka kita sedang menelanjangi mereka, bahkan mempermalukan mereka. Dengan cara demikian, semua orang akan mengetahui serta menjadi mengerti akan makna salib Kristus di dalam penderitaan Kekristenan kita saat ini. Di minggu sengsara Tuhan Yesus ke – II ini, Petrus menyarankan, sekalipun kita diperlakukan secara tidak adil, tidak benar, kita tidak usah membalaskannya; sebaliknya teruslah mengaktakan kebaikan kita melalui perilaku kita seluruh ruang-ruang hidup dan juga. disitulah kita sudah melayankan berkat buat mereka. Kita wajib mendoakan para pemfitnah dan penyesah, supaya Allah membuat hati mereka bertobat dan diselamatkan. Itulah tugas kita di dalam dunia ini.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk terus melakukan kebaikan. Amin.

Senin, 22 Februari 2021           

bacaan : Kisah Para Rasul 7 : 54 – 60

Stefanus dibunuh -- Saulus hadir
54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. 55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. 56 Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." 57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. 58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. 59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." 60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

BERBUAT BAIK HINGGA AJAL MENJEMPUT

Kita sedang dalam masa perayaaan minggu sengsara Tuhan Yesus yang ke – II. Kisah tentang Stefanus menegaskan bahwa penderitaan karena berbuat baik tidak hanya dialami oleh Yesus, tetapi juga oleh mereka yang memberitakan tentang Yesus. Stefanus dipilih menjadi Syamas karena penuh iman dan roh (Kisah 6:5). Ia adalah seorang pemimpin yang berani dan dibunuh karena berkhotbah tentang Yesus. Orang banyak yang membunuh Yesus, melempari Stefanus dengan batu sampai mati. Yesus menderita dan mati karena berbuat baik, Stefanus pun demikian. Kisah Stefanus menyaksikan bahwa orang yang melakukan perbuatan baik dapat mengalami akibat buruk. Fakta seperti ini sukar dihindari dan tidak mudah untuk dipahami. Karena itu adalah baik untuk menerimanya sebagai bagian dari kenyataan kehidupan. Kenyataan kehidupan selalu silih berganti. Ada suka, ada duka, ada tawa ada tangis, ada sukses ada gagal, dan ada jatuh ada pula bangun. Kesukaran atau penderitaan tak pernah pandang muka. Orang baik dan orang jahat, sama-sama mengalaminya. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah merancang kejahatan atau keburukan. Tuhan selalu merancang kebaikan dan damai sejahtera. Stefanus menderita dan mati karena orang lain yang salah menggunakan kekuasaan dan kebebasannya. Ia diperlakukan dengan tidak semestinya, namun ia tetap beriman. Lihatlah bahwa ia masih dapat berdoa dan melihat kemuliaan Allah dalam penderitaannya. Penderitaan tidak mampu membuat Stefanus berhenti berbuat baik. Penderitaan bukanlah alasan untuk membalas dendam. Stefanus memberikan teladan iman yang patut diteladani. Ia menaggapi kejahatan dengan kebaikan. Perbuatan baik dilakukannya hingga ajal menjemput. Panggilan pelayanan diakhirinya dengan berdoa: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’. Perbuatan Stefanus menginspirasi kita juga untuk terus berbuat baik walaupun sering kita menghadapi realitas yang kurang baik. Rasul Paulus pun mengingatkan kita : “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21).

Doa:  Ya Tuhan, mampukan kami agar tetap beriman pada saat mengalami penderitaan, amin

Selasa, 23 Februari 2021         

bacaan : Kisah Para Rsaul 12 : 1 – 5

Yakobus mati -- Petrus dilepaskan dari penjara

Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. 2 Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. 3 Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. 4 Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. 5 Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

PENDERITAAN BUKANLAH ALASAN UNTUK BERHENTI BUAT BAIK

Kematian Yakobus tidak dikisahkan secara rinci. Kisah ini sekalipun singkat, namun dituturkan untuk menjelaskan bahwa penganiayaan dan kematian tidak dapat menghentikan pemberitaan tentang Yesus. Penganiayaan dan penderitaan justru mendorong para murid untuk pergi ke wilayah lain dan memberitakan injil tentang Yesus. Penderitaan tidak membuat mereka takut, namun menjadikan mereka berani. Ketika Herodes menghambat dan menganiaya para murid di Yerusalam, kita belajar bahwa kekuasaan itu baik, tetapi kalau salah dipergunakan, akan menjadi malapetaka bagi orang lain. Kisah penganiayaan orang Kristen di Yerusalem dan kematian Yakobus memberi inspirasi iman. Penderitaan dan kematian tidak boleh melumpuhkan apa lagi mematikan semangat orang percaya untuk berbuat baik. Berbuat baik adalah panggilan iman bagi orang percaya. Atas dasar itu, orang percaya harus belajar untuk berani menghadapi penderitaan. Kesukaran atau penderitaan harus dihadapi bukan dihindari atau disangkali, dan jangan pula lari darinya. Penderitaan bukanlah alasan untuk berhenti berusaha menemukan jalan dan kemungkinan lain. Pintu kehidupan yang satu dapat tertutup, tetapi masih ada pintu yang lain, karena itu jadilah orang cerdik. Orang cerdik adalah mereka yang tidak putus asa ketika mengalami penderitaan, tetapi selalu memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Berusahalah  agar pengharapan tidak hilang di tengah penderitaan. Sebab, pengharapan adalah kekuatan menemukan jalan dan kemungkinan baru. Karena itu hadapilah masa hidup yang sulit dengan tetap beriman dan jangan pula berhenti berbuat baik. Tuhan pemilk kehidupan ini pasti menolong dan memberkati kita.

Doa: Terima kasih Tuhan buat tindakan penyelamatan-Mu. Amin.

Rabu, 24 Februari 2021    

bacaan : Matius 14 : 1 – 12

Yohanes Pembaptis dibunuh

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. 2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." 3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" 5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." 9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

BERANI MENYATAKAN KESALAHAN, WALAU BERAT RISIKONYA

Kisah kematian Yohanes pembaptis menyajikan pesan iman yang menarik. Kematian adalah resiko yang ditanggungnya karena berani menyatakan kesalahan Herodes, raja wilayah. Yohanes pembaptis menegor Herodes, karena mengambil Herodias isteri saudaranya. Herodias, adalah cucu perempuan Herodes Agung. Ia menikah dengan Filipus, anak Herodes, yang adalah pamannya. Ketika Herodes Antipas mengunjungi rumah Filipus di Roma, ia membujuk Herodias untuk meningggalkan Filipus dan menikah dengannya. Hukum Taurat tidak mengijinkan seorang laki-laki menikahi isteri saudaranya ketika saudaranya itu masih hidup (Imamat 18:16, 20:21). Itulah sebabnya Yohanes pembaptis menegor Herodes Antipas, sebab yang dilakukannya adalah perbuatan yang terlarang. Yohanes pembaptis harus mengalami kematian karena menegor Herodes yang adalah seorang raja. Tegoran Yohanes pembaptis ternyata tidak dapat diterima juga oleh Herodias. Herodes dan Herodias tidak bersedia ditegor atau dikritik. Selain itu, karena Herodes sudah berjanji kepada anak perempuan Herodias, maka Yohanes pembaptis pun dibunuh. Ia mati dengan dipenggal kepala, karena kelaliman seorang penguasa yang bernama Herodes.

Menyatakan kesalahan adalah wujud perbuatan baik. Yohanes pembaptis memberikan teladan iman karena berani menanggung kematian sebagai akibat perbuatan baik yang dilakukannya. Menyatakan kesalahan adalah wujud perbuatan baik. Kesalahan dapat dilihat dan dijumpai kapan dan di manapun, dan panggilan iman orang percaya adalah berani menegor atau menyatakan kesalahan, termasuk yang dilakukan oleh mereka yang memegang kekuasan atas hidup orang banyak. Kesalahan tidak boleh didiamkan atau disembunyikan tetapi harus dinyatakan atau diungkap. Kita tak perlu takut akibat buruk yang dapat dialami karena berani menyatakan kesalahan. Karena kematian karena berbuat baik tak pernah sia-sia.

Doa: Tuhan, berikanlah kepada kami keberanian untuk menyatakan kesalahan. Amin.

Kamis, 25 Februari 2021     

bacaan : Matius 5 : 10 – 11

10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

BAHAGIANYA ORANG BENAR

Seorang filsuf terkenal, Socrates, pernah mengatakan “ingat, tidak ada kondisi manusia yang permanen, maka kamu tidak boleh terlalu senang dengan nasib baik atau terlalu bersedih dalam nasib buruk”. Pernyataan Socrates ini hendak menegaskan bahwa kesenangan hidup atau kesuksesan hidup bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Begitu pun kesusahan hidup atau kegagalan hidup bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Itu berarti dibalik penderitaan yang diakibatkan oleh penganiayaan karena kebahagiaan, di dalamnya ada kebahagiaan. Bahkan lebih dari itu ada jaminan Kerajaan Sorga. Yesus menegaskan hal tersebut ketika mengucapkan hal-hal tentang bahagia. Bagi Yesus, yang terpenting di sini bukanlah kebahagiaan atau Kerajaan Sorga, melainkan soal kebenaran. Selama orang percaya melakukan kebenaran meskipun untuk itu akan dicela dan dianiaya sehingga menimbulkan penderitaan, menurut Yesus kebahagiaan itu akan menjadi bagian dari kehidupannya. Karena itu, sebagai keluarga Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus selaku Tuhan dan Juruselamat, maka kita harus selalu melakukan kebenaran. Kebenaran yang dimaksudkan adalah kebenaran akan Injil Yesus Kristus. Banggalah menjadi Umat Kristen yang bahagia atau bernasib baik karena melakukan kebenaran, bukan yang bahagia atau bernasib baik karena melakukan ketidakadilan dan ketidakjujuran.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk melakukan kebenaran dan mempertahankan kebenaran itu meskipun kami dianiaya. Amin.

Jumat, 26 Februari 2021      

bacaan : Lukas 6 : 27 – 36

Kasihilah musuhmu
27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. 29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. 30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. 31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. 32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. 34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. 35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. 36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

TETAPLAH BERBUAT BAIK UNTUK SEMUA ORANG

Setiap manusia pasti tidak ingin mempunyai musuh dalam hidup. Namun, pada kenyataannya dalam hidup ini selalu saja ada orang yang memusuhi kita atau mungkin juga kita yang bermusuhan dengan orang lain. Jika hidup manusia sudah dipenuhi dengan permusuhan dengan sesama manusia maka tentunya hidup manusia tersebut tidak akan sesempurna kehidupan manusia yang tanpa musuh. Sering kehidupan manusia yang bermusuhan mengalami ancaman, ketidakbebasan dalam melangkah, merasa dibuntuti, dan lain sebagainya. Dan dalam kondisi tersebut, apabila orang yang bermusuhan saling membalas cacian dengan cacian, pukulan dengan pukulan, fitnahan dengan fitnahan, dan seterusnya, maka permasalahan antar orang yang bermusuhan tidak akan terselesaikan.

Dalam bacaan Firman Tuhan hari ini, Yesus memberikan cara terbaik mengatasi masalah tanpa masalah. Sederhana saja, yaitu jika ada orang yang bermusuhan dengan kita, berbuat baiklah dengan orang itu; mengasihi musuh, berdoa bagi orang yang memusuhi kita. Point terpenting dari cara memperlakukan orang yang memusuhi kita adalah menghilangkan permusuhan dengan perbuatan baik. Bagi Yesus, jika kita berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, itu tidak ada artinya, tidak ada manfaatnya, dan tidak bernilai. Sebaliknya, jika kita berbuat baik kepada orang yang memusuhi kita dan kepada orang yang memperlakukan kita dengan tidak baik, maka perbuatan baik kita itu sangat berarti, bermanfaat, dan bernilai, bahkan lebih dari itu perbuatan baik kita pasti menghasilkan upah yang besar dari Tuhan kepada kita.

Doa: Ya Tuhan, berikanlah kami Roh KudusMu untuk berbuat baik kepada semua orang, terlebih kepada orang yang memusuhi kami. Amin.

Sabtu, 27 Februari 2021      

bacaan : Kolose 1: 24 – 29

Pelayanan dan penderitaan Paulus
24 Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. 25 Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, 26 yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. 27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! 28 Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. 29 Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

BERJUANG DI DALAM TUHAN

Umumnya rasa bangga selalu ada pada seseorang jika orang tersebut telah mandapatkan sesuatu yang ia inginkan atau dambakan. Jika seseorang telah mendapatkan jabatan atau kekayaan, maka ia akan merasa bangga karena usaha dan perjuangannya memberikan hasil. Sebaliknya, orang akan merasa tidak bernilai, tidak merasa bangga dengan dirinya, apabila apa yang diusahakan dan diperjuangkan tidak memberikan kesuksesan secara jasmani, apalagi jika usahanya tersebut mengakibatkan penderitaan, maka tidak ada sukacita dan kebanggaan pada orang tersebut.

Dalam bacaan Firman Tuhan ini, Rasul Paulus justru menyampaikan pandangan yang berbeda. Rasul Paulus merasa bangga dengan semua yang telah diupayakan meskipun hasilnya adalah penderitaan. Dia justru  bersukacita dengan penderitaan yang dialaminya. Sebab bagi Paulus, yang terpenting dalam hidup ini bukan hasil tetapi proses. Proses hidup yang dijalani Paulus selama ini adalah pelayanan tentang Firman Tuhan dalam perkataan dan perbuatan. Meskipun akibat dari pelayanan Paulus ini adalah penderitaan, namun ia tetap bangga dan bersukacita atas semuanya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa putus asa dan jangan pernah merasa gagal dengan hasil sepanjang usaha yang kita lakukan itu dengan kebenaran dan keadilan, dan juga sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab Tuhan tidak memandang dan menilai hasil, namun Tuhan justru memandang dan menilai proses atau usaha kita.

Doa: Ya Tuhan, berkatilah setiap proses hidup yang kami usahakan dan perjuangkan. Amin.

*sumber : SHK bulan Februari 2021, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey