Tingkatkan Kualitas Ibadah, GPM Silo Gelar Pembinaan Pendukung Liturgi dan Musik Gereja
Upaya meningkatkan kualitas pelayanan Ibadah terus dilakukan Jemaat GPM Silo Ambon. Melalui pertemuan Majelis Sub Seksi Musik Gereja (MUGER), pendukung liturgi peribadahan, dan Pelayan Harian Majelis Jemaat (PHMJ), para pelayan liturgis diajak memperkuat komitmen pelayanan yang tulus, tertib, dan bertanggung jawab demi kemuliaan Tuhan.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Serbaguna Gereja Silo, Selasa (16/6/2026) pukul 17.00 WIT itu merupakan bagian dari pembinaan lanjutan kapasitas pendukung peribadahan dengan tema “Melayani Tuhan dengan Tulus, Tertib dan Bertanggung Jawab.”

Ketua Majelis Jemaat GPM Silo, Pdt. M. Timisela, dalam arahannya menegaskan bahwa pelayanan liturgi bukan sekadar menjalankan tugas rutin di Gereja, melainkan panggilan langsung dari Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Pekerjaan ini adalah pekerjaan Tuhan. Tuhan sendiri yang memilih hamba-hamba-Nya untuk melayani. Karena itu setiap pelayan liturgis harus menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, tertib, serta terus berlatih agar ibadah berjalan dengan baik, Tuhan dimuliakan, dan umat bertumbuh dalam iman,” kata Timisela.
Landasan pelayanan yang diangkat dalam kegiatan tersebut berasal dari 1 Petrus 4:10, yakni “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

Pertemuan itu bertujuan membina kapasitas para pendukung peribadahan sekaligus menyamakan persepsi antara pendukung liturgi dan pelayan khusus dalam menjalankan tugas pelayanan di Jemaat.
Dalam diskusi yang berlangsung, peserta membahas sejumlah hal penting, mulai dari hakikat pendukung peribadahan sebagai panggilan untuk memuliakan Tuhan, pentingnya persiapan dan latihan rutin setiap Jumat setelah ibadah unit, hingga persoalan rangkap tugas yang kerap menyebabkan benturan jadwal pelayanan.
Selain itu, dibahas pula tugas pokok dan tanggung jawab masing-masing unsur pendukung liturgi agar pelayanan dapat berjalan lebih teratur dan profesional.

Salah satu warga Jemaat GPM Silo yang hadir dalam pertemuan tersebut, Ken Suitela, memberikan masukan terkait aspek teknis pelayanan musik Gereja. Menurutnya, masih terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, khususnya dalam pelayanan Singers dan pengaturan perangkat suara saat Ibadah berlangsung.
“Saya beberapa kali memperhatikan saat Singers bertugas ada empat Orang, tetapi satu atau dua suara tidak terdengar. Hal ini pernah saya sampaikan kepada pemain orgen. Dari sisi teknis, volume pedal orgen perlu diatur agar ketika ada penyanyi solo, suaranya bisa terdengar dengan jelas,” ujarnya. Ia juga menyoroti penempatan mikrofon yang dinilai sering tidak sesuai urutan sehingga mengganggu aspek teknis pelayanan.
“Sering kali setelah pelayanan selesai saya harus merapikan kembali posisi mikrofon karena tidak ditempatkan sesuai urutan yang benar. Hal-hal kecil seperti ini ternyata sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Sub Seksi MUGER Jemaat GPM Silo, Pnt. Ny. N. Wattimury, mengakui masih ditemukan berbagai kesalahan teknis dalam pelaksanaan Ibadah yang kerap menjadi perhatian Jemaat.
“Sering terjadi kesalahan-kesalahan saat Ibadah yang meresahkan Umat. Karena itu kami terus mengajak seluruh pendukung liturgi untuk wajib mengikuti latihan dengan baik. Pertemuan ini juga menjadi sarana membangun kesadaran bahwa pelayanan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan untuk nama Gereja semata, tetapi demi kemuliaan nama Tuhan,” katanya.

Melalui kegiatan pembinaan tersebut, Jemaat GPM Silo berharap seluruh unsur pendukung peribadahan semakin memahami tugas dan tanggung jawabnya sehingga pelayanan Ibadah dapat berlangsung lebih tertib, berkualitas, serta membawa berkat bagi jemaat dan kemuliaan bagi Tuhan. (MCP)

