Santapan Harian Keluarga (SHK) – Jumat, 19 Juni 2026
Pengkhotbah 5 : 7 – 19
Hidup Sederhana dengan Sukacita
Dunia saat ini sering memaksa kita untuk percaya bahwa kebahagiaan sebanding dengan tumpukan harta. Namun, perlombaan mengejar kekayaan sering kali berakhir pada kelelahan batin dan kekosongan jiwa yang tak berujung. Teks ini menyinggung “kejahatan yang menyedihkan,” yaitu harta yang disimpan justru mencelakakan pemiliknya karena melahirkan kecemasan yang merampas waktu tidur. Pesan utamanya bukan melarang kita menjadi kaya, melainkan memperingatkan agar kita tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki. Kemampuan untuk menikmati hasil kerja, makan, minum, dan bersukacita-disebut sebagai pemberian Allah. Artinya, kebahagiaan bukan hasil otomatis dari kekayaan, melainkan anugerah Tuhan atas hati yang tahu bersyukur. Di era konsumerisme ini, mari kita terapkan prinsip “ugahari.” Jangan biarkan ambisi membuat kita kehilangan waktu untuk keluarga dan persekutuan. Bekerjalah dengan tekun, namun jangan biarkan keserakahan mencuri kedamaian kita. Ingatlah bahwa kita lahir telanjang dan akan kembali telanjang; maka yang terpenting bukanlah seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa besar sukacita Tuhan yang kita rasakan dalam kesederhanaan hidup setiap hari.
Tuhan, jangan biarkan sukacita di hati kami hilang karena harta yang fana, amin
DOA

