Santapan Harian Keluarga 6 – 12 Agustus 2017

Sabtu, 12 Agustus 2017

Bacaan : Hakim-Hakim 7 : 2-6

Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.
Maka sekarang, serukanlah kepada rakyat itu, demikian: Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead.” Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang.
Tetapi TUHAN berfirman kepada Gideon: “Masih terlalu banyak rakyat; suruhlah mereka turun minum air, maka Aku akan menyaring mereka bagimu di sana. Siapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, tetapi barangsiapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang tidak akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang tidak akan pergi.”
Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum.”
Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air.

TUHAN MEMBERI KEMENANGAN

Tuhan adalah Allah Yang Mahakuasa. Dialah yang mengendalikan seluruh hidup kita. Dialah yang menciptakan kita dan terus berkarya untuk menyelamatkan kita dari berbagai ancaman dengan cara yang luar biasa. Begitulah yang diceritakan dalam bacaan Alkitab hari ini. Bahwa Allah menyelamatkan umat Israel melalui kepemimpinan Gideon dan partisipasi beberapa orang saja. Tuhan memilih sedikit orang supaya Israel tidak menyombongkan diri dan mengganggap kemenangan yang mereka peroleh adalah karena kekuatan mereka sendiri. Allah mau supaya mereka melihat kuasaNYA dan memuliakan namanNya sebab DIAlah yang memberi kemenangan. Mungkin kadangkala kita juga berpikir seperti itu. Kita mengganggap kemenangan yang kita peroleh adalah hasil kerja keras kita sendiri. Kita lupa bahwa Tuhan memberi kita kekuatan dan kesehatan untuk bekerja, serta memberkati pekerjaan kita sehingga berhasil. Kalau kita sadar bahwa penghasilan kita adalah berkat dari Tuhan maka kita tidak akan salah menggunakannya. Dalam arti tidak menggunakannya untuk main judu, miras, narkoba atau juga selingkuh; sebaliknya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup semua anggota keluarga. Oleh sebab itu marilah kita bertekad untuk membangun hidup keluarga kita dengan mengandalkan kekuatan dan hikmat Allah supaya kita mampu menghadapi tantangan dan kesulitan. Niscaya Tuhan akan memberkati segala usaha dan pekerjaan kita.

DOA : Tuhan ampunilah kami kalaunkami mengira apa yang kami miliki asalah hasil kerja kami sendiri. Amin

Jumat, 11 Agustus 2017

Bacaan : Hakim-Hakim 6 : 36-40

Kemudian berkatalah Gideon kepada Allah: “Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan itu,
maka aku membentangkan guntingan bulu domba di tempat pengirikan; apabila hanya di atas guntingan bulu itu ada embun, tetapi seluruh tanah di situ tinggal kering, maka tahulah aku, bahwa Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan.”
Dan demikianlah terjadi; sebab keesokan harinya pagi-pagi ia bangun, dipulasnya guntingan bulu itu dan diperasnya air embun dari guntingan bulu itu, secawan penuh air.
Lalu berkatalah Gideon kepada Allah: “Janganlah kiranya murka-Mu bangkit terhadap aku, apabila aku berkata lagi, sekali ini saja; biarkanlah aku satu kali lagi saja mengambil percobaan dengan guntingan bulu itu: sekiranya yang kering hanya guntingan bulu itu, dan di atas seluruh tanah itu ada embun.”
Dan demikianlah diperbuat Allah pada malam itu, sebab hanya guntingan bulu itu yang kering, dan di atas seluruh tanah itu ada embun.

JADILAH AGEN PEMBEBASAN DAN PEMBARUAN

Tiap-tiap orang punya pengalaman berjumpa dengan Tuhan pada saat menghadapi kesulitan dan tantangan dalam hidup serta pekerjaan. Hal yang sama dialami Gideon. Ketika dia meminta tanda penyertaan dari Tuhan, dan Tuhan menyatakan hal itu kepadanya. Saya pun teringat pengalaman ketika bersama beberapa teman berlayar dengan kapal laut dari Tepa kembali ke Ambon. Dalam pelayaran dekat pulau Tanibar Kei, gelombang laut sangat tinggi karena angin kencang sehingga kapal hampir-hampir tenggelam.Dengan rasa cemas dan takut, sayapun berdoa lalu tertidur. Saat itulah saya bermimpi, Tuhan Yesus menampakan diri di atas awan sambil mengangkat tangan memberkati seluruh penumpang kapal. Saya bangun lalu bersyukur karena saya tau Tuhan melindungi kami. Tentu, masing-masing keluarga juga pengalaman berjumpa dengan Tuhan dalam cara yang berbeda. Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa Tuhan selalu melindungi kita siang atau pun malam di rumah atau di perjalanan, di saat yang sulit atau menyenangkan. Tuhan memberkati keluarga yang kita bangun ini untuk mewujudkan mewujudkan cinta kasih-Nya dalam hidup, pekerjaan dan pelayanan kita. Karena itu, kalau ada masalah, jangan takut! Mintalah pertolongan Tuhan. Niscay Ia akan melindungi kita. Apapun pekerjaan yang kita lakukan harus membawa kebaikan dana pembebasan bagi banyak orang. Jadilah agen pembebasan dan pembaruan.

Doa : Ya Tuhan lindungilah dan kuatkan kami agar mampu membawa pembebasan dan pembaruan. Amin

Kamis, 10 Agustus 2017

Bacaan : Hakim-Hakim 6 : 33-35

Seluruh orang Midian dan orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur telah berkumpul bersama-sama; mereka telah menyeberang dan berkemah di lembah Yizreel.
Pada waktu itu Roh TUHAN menguasai Gideon; ditiupnyalah sangkakala dan orang-orang Abiezer dikerahkan untuk mengikuti dia.
Juga dikirimnya pesan kepada seluruh suku Manasye dan orang-orang ini pun dikerahkan untuk mengikuti dia. Dikirimnya pula pesan kepada suku Asyer, Zebulon dan Naftali, dan orang-orang ini pun maju untuk menggabungkan diri dengan mereka.

KUASA YANG MEMBANGUN

Tuhan menentang kekuatan dan kekuasaan yang menindas dan merampas hak hidup orang lain. Itulah yang terjadi pada orang Midian. Ketika mereka berkumpul untuk menyerang orang Israel, Tuhan menggerakkan hati Gideon dan orang-orang Israel untuk berjuang bersama melawan kekuasaan yang kejam itu. Pengalaman Gideon dan orang Israel tersebut membuat kita sadar bahwa kita tidak boleh gunakan kekuasaan yang ada pada kita untuk menindas, merampas dan menakut-nakuti orang lain, termasuk anggota keluarga sendiri. Papa dan mama punya kuasa sebagai orang tua untuk menjaga, melindungi, merawat, memelihara, mendidik dan membimbing anak-anak dengan penuh kasih sayang, bukan dengan ancaman, makian dan kekerasan. Suami-isteri punya kuasa untuk saling menjaga relasi dan komunikasi demi merawat cinta kasih yang menjadi dasar suami-isteri dapat membina hidup keluarga yang harmonis. Anak-anak juga punya kuasa atau hak untuk didengarkan dan mendengarkan. Singkatnya, kuasa yang ada pada tiap-tiap anggota keluarga harus digunakan untuk membangun hidup yang bahagia. Oleh karena itu, hal penting lainnya yang kita pelajari disini ialah kebersamaan hidup, dalam hal bekerja dan berjuang bersama-sama untuk menghadapi masalah. Artinya, semua anggota keluarga terlibat dan dilibatkan untukmemikirkan, merencanakan, dan membangun hidup keluarga menuju masa depan yang bahagia.

Doa : Tuhan, mampukan kami menggunakan kuasa yang ada pada kami untuk membangun hidup bersama, amin

Rabu, 09 Agustus 2017

Bacaan : Hakim-hakim 6 : 25-32

Pada malam itu juga TUHAN berfirman kepadanya: “Ambillah seekor lembu jantan kepunyaan ayahmu, yakni lembu jantan yang kedua, berumur tujuh tahun, runtuhkanlah mezbah Baal kepunyaan ayahmu dan tebanglah tiang berhala yang di dekatnya.
Kemudian dirikanlah mezbah bagi TUHAN, Allahmu, di atas kubu pertahanan ini dengan disusun baik, lalu ambillah lembu jantan yang kedua dan persembahkanlah korban bakaran dengan kayu tiang berhala yang akan kautebang itu.”
Kemudian Gideon membawa sepuluh orang hambanya dan diperbuatnyalah seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya. Tetapi karena ia takut kepada kaum keluarganya dan kepada orang-orang kota itu untuk melakukan hal itu pada waktu siang, maka dilakukannyalah pada waktu malam.
Ketika orang-orang kota itu bangun pagi-pagi, tampaklah telah dirobohkan mezbah Baal itu, telah ditebang tiang berhala yang di dekatnya dan telah dikorbankan lembu jantan yang kedua di atas mezbah yang didirikan itu.
Berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Siapakah yang melakukan hal itu?” Setelah diperiksa dan ditanya-tanya, maka kata orang: “Gideon bin Yoas, dialah yang melakukan hal itu.”
Sesudah itu berkatalah orang-orang kota itu kepada Yoas: “Bawalah anakmu itu ke luar; dia harus mati, karena ia telah merobohkan mezbah Baal dan karena ia telah menebang tiang berhala yang di dekatnya.”
Tetapi jawab Yoas kepada semua orang yang mengerumuninya itu: “Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang.”
Dan pada hari itu diberikan oranglah nama Yerubaal kepada Gideon, karena kata orang: “Biarlah Baal berjuang dengan dia, setelah dirobohkannya mezbahnya itu.”

MEMBAHARUI HIDUP

Kita dapat belajar dari kiash Gideon, Anak Yoas. Ia berani melakukan pembaharuan dengan meruntuhkan mezbah baal, milik ayahnya. Tindakan Gideon itu beresiko hukuman mati. Tapi ternyata Tuhan menolong dia, sehingga ayahnya sendiri sadar dan menerima pembaharuan yang dilakukan Gideon. Belajar dari kisah tersebut, saya ingat pengalaman seorang teman [mahasiswa teologi] yang sedang bergumul dan berjuang untuk membuat ayahnya berhenti dari kebiasaan minum alcohol atau sopi. Sebab hampir setiap hari, ayahnya mabuk dan kalau sudah mabuk, ia memukuli isteri dan anak-anaknya. Ada juga seorang teman [MJ] yang berusaha membuat suaminya sadar dari kebiasaan duduk dipinggir dan mabuk ketika orang sedang beribadah. Memang upaya untuk melakukan pembaharuan bagi orang lain agak gampang, tetapi itu sulit bagi keluarga sendiri, sehingga membutuhkan keberanian yang besar. Mungkin keluarga kita juga mengalami hal yang sama. Ada upaya untuk membuat anggota keluarga yang membuat kesalahan atau kejahatan bisa sadar dan bertobat. Katakanlah, suami yang mabuk-mabukan dan melakukan kekerasan, isteri yang suka judi, anak-anak yang keluyuran di luar rumah dan malas belajar dst. Kita semua dipanggil Tuhan untuk mengubah dan membarui hidup kita, dari yang jahat menjadi baik. Kalau kita merasa tak mampu, ingatlah bahwa Tuhan menyertai dan memberi kita kekuatan. Yakin..!!

Doa : Tuhan, mampukanlah kami membarui hidup amin. !

Selasa, 08 Agustus 2017

Bacaan : Hakim-Hakim 6 : 7-10

Ketika orang Israel berseru kepada TUHAN karena orang Midian itu,
maka TUHAN mengutus seorang nabi kepada orang Israel, yang berkata kepada mereka: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang menuntun kamu keluar dari Mesir dan yang membawa kamu keluar dari rumah perbudakan.
Aku melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan semua orang yang menindas kamu, bahkan Aku menghalau mereka dari depanmu dan negeri mereka Kuberikan kepadamu.
Dan Aku telah berfirman kepadamu: Akulah TUHAN, Allahmu, maka janganlah kamu menyembah allah orang Amori, yang negerinya kamu diami ini. Tetapi kamu tidak mendengarkan firman-Ku itu.”

SETIA KEPADA TUHAN

Umat Israel memahami bahwa sejarah hidup mereka dibentuk oleh Tuhan sendiri, sehingga kalau mereka tidak setia kepada-Nya maka mereka akan menderita. Itulah yang dibicarakan dalm bacaan Alkitab hari ini. Saat Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, mereka mengalami penderitaan yang hebat. Mereka dikuasai dan ditindas oleh orang Midian,bahkan segala usaha mereka, baik itu hasil kebun maupun hasil ternak juga dirampas habis sehingga mereka hidup melarat ( ay. 1-7). Di tengah situasi seperti itu orang Israel sadar dan berseru kepada Tuhan. Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang telah menuntun mereka keluar dari tanah Mesir dan membawa mereka masuk tanah Kanaan, karena itu mereka harus hidup setia. Belajar dari pengalaman Israel seperti itu, bagaimana dengan pengalaman hidup keluarga kita sendiri? Apakah kita ini adalah orang-orang yang setia mengandalkan Tuhan atau justru percaya kepada kekuatan dan kuasa lain? Jika kita tidak setia kepada Tuhan, dengan melakukan perbuatan-perbuatan jahat, yaitu saling mengkhianati sebagai suami istri, tidak dengar-dengaran kepada papa-mama, saling membenci sebagai adik dan kakak, maka inilah saatnya kita berubah menjadi setia. Berubah menjadi anak yang dengar-dengaran, menjadi adik kakak yang saling mengasihi. Sebab keluarga kita ini dibentuk oleh Tuhan dan membangunnya dengan cinta kasih Kristus.

Doa:Tuhan, ampunilah dosa kami karena tidak setia. Amin!

Senin, 07 Agustus 2017

Bacaan : Hakim-Hakim 6 : 1-6

Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya,
dan selama itu orang Midian berkuasa atas orang Israel. Karena takutnya kepada orang Midian itu, maka orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu.
Setiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur, lalu maju mendatangi mereka;
berkemahlah orang-orang itu di daerah mereka, dan memusnahkan hasil tanah itu sampai ke dekat Gaza, dan tidak meninggalkan bahan makanan apa pun di Israel, juga domba, atau lembu atau keledai pun tidak.
Sebab orang-orang itu datang maju dengan ternaknya dan kemahnya, dan datangnya itu berbanyak-banyak seperti belalang. Orang-orangnya dan unta-untanya tidak terhitung banyaknya, sekaliannya datang ke negeri itu untuk memusnahkannya,
sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu. Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN.

Bullying dan Penindasan

Sebuah organisasi di Amerika Serikat Workplace Bullying Institute [WBI] yang membantu korban bullying di kantor. Lembaga ini melakukan survey dan menemukan ada 72% pernah mengalami penindasan di kantor. Pada tahun 2010, siswa berusia 14 tahun melakukan bunuh diri karena teman-temannya terus menerus mengejeknya gemuk. Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk mengintimidasi orang lain. Bullying membawa pada penindasan, kesusahan dan penderitaan. Apakah sebutan baru ini tepat untuk menjelaskan perbuatan orang Midian terhadap orang Israel ? Bisa saja kita melihat perbuatan orang Midian dari konteks kekerasan dan penindasan yang sementara anak-anak kita atau situasi sekitar kita alami. Jika melihat dampak/akibat dari perbuatan tersebut, maka Firman Tuhan memperingatkan kita untuk tidak melakukan perbuatan yang sama. Sebaliknya kita bertanggung jawab untuk membebaskan anak kita, lingkungan kita dari bullying bahkan dari situasi yang menindas dalam bentuk apapun. Untuk itu, kita harus memberi diri sama seperti Gideon. Supaya Tuhan melengkapi kita dengan kekuataan-NYA dan TUHAN turut bersama-sama dengan kita untuk melakukan pembebasan.

Doa : Ya Tuhan, tolonglah kami untuk tidak melakukan penindasan tapi pembebasan kepada orang lain, Amin

Minggu, 06 Agustus 2017

Bacaan : Hakim-Hakim 6: 11-24

Kemudian datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra, kepunyaan Yoas, orang Abiezer itu, sedang Gideon, anaknya, mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi bagi orang Midian.
Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”
Jawab Gideon kepada-Nya: “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.”
Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!”
Tetapi jawabnya kepada-Nya: “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.”
Berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.”
Maka jawabnya kepada-Nya: “Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku.
Janganlah kiranya pergi dari sini, sampai aku datang kepada-Mu membawa persembahanku dan meletakkannya di hadapan-Mu.” Firman-Nya: “Aku akan tinggal, sampai engkau kembali.”
Masuklah Gideon ke dalam, lalu mengolah seekor anak kambing dan roti yang tidak beragi dari seefa tepung; ditaruhnya daging itu ke dalam bakul dan kuahnya ke dalam periuk, dibawanya itu kepada-Nya ke bawah pohon tarbantin, lalu disuguhkannya.
Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: “Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya.” Maka diperbuatnya demikian.
Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya.
Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: “Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka.”
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.”
Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer.

PEMBEBASAN

E.F.E. Douwes Dekker (Multatuli) lewat bukunya yang berjudul Max Havelaar, mengkritik pemerintah kolonial yang lalim dan kejam di Jawa pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Buku ini menjadi senjata bagi kaum liberal untuk melancarkan protes membebaskan rakyat dari sistem tanam paksa. Tindakan Dekker untuk membebaskan ini tentunya berawal dari kegelisahannya melihat akibat dari tanam paksa yang terjadi. Kegelisahan terhadap realitas yang menindas dan tidak adil dimiliki juga oleh Gideon. Kegelisahan Gideon terhadap penindasan yang dialami oleh bangsa Israel telah mendorongnya untuk bertanya kepada Tuhan Allah dan meminta pertanggungjawab Tuhan terhadap segala kesusahan yang terjadi. Kegelisahan Gideon ini dilihat Tuhan sebagai bentuk dari kepedulian dan rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap kehidupan bangsa Israel. Hal ini menjadi alasan yang kuat bagi Tuhan Allah untuk menjadikannya hakim yang membebaskan Bangsa Israel. Seperti Gideon, demikian pula dengan kita sebagai orang-orang yang dipilih Tuhan Allah untuk menyaksikan nama-Nya. Kita harus gelisah dan peka terhadap kondisi sekitar kita. Jika ada penindasan dan ketidakadilan, kita harus berjuang untuk membebaskan orang-orang yang tertindas. Hal itu dapat kita lakukan apabila kita gelisah dengan masalah ketidakadilan dan penindasan di sekitar kita dan mohon Tuhan bertindak melalui kita.

Doa : Tuhan, jadikan kami alat-Mu yang membebaskan. Amin.

by : LPJ – GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *