Jemaat Silo Gelar Sharing Pengalaman Hidup di antara WGS
[Ambon, Jemaat GPM Silo]
Sisi kehidupan keluarga Kristen yang berkualitas adalah suasana harmonis diantara anggota keluarga yang saling mengasihi, menghormati dan mendukung satu dengan yang lain. Orang tua menaruh perhatian penuh kepada anak-anak, sebaliknya anak-anak punya keterikatan emosional terhadap orang tua. Relasi psikologis antar anggota keluarga ini, mesti terjaga dan dibangun dalam suasana kerukunan, dalam tuntunan Roh Kudus yang selalu mempersatukan. Saling memberi perhatian diantara sesama anggota keluarga menjadi sangat penting dan berarti. Namun demikian intensitas perhatian diantara keluarga kadangkala mulai memudar, tatkala anak-anak dalam keluarga sudah mandiri, hidup mapan, lalu diikuti hadirnya generasi-generasi penerus dalam keluarga : anak, cucu dan cece. Kondisi ini sering berimbas pada Warga Gereja Senior [WGS] – atau yang lasim dikenal sebagai LANSIA – kurang diperhatikan, merasa dinomor duakan, atau semacamnya. Dari sisi keilmuan memasuki usia WGS [60 tahun] secara psikologis seseorang akan makin sensitif, mudah emosional, rentan curiga, sedih dan seterusnya.

Sesungguhnya pada setiap keluarga ada memiliki romantisme cerita manis masa lalu, kisah-kisah indah tentang melahirkan, mendidik, mengajar anak-anak atau kisah manis lainnya, yang telah terabadikan dalam catatan privasi yang hanya terekam oleh keluarga itu sendiri. Menghidupkan kembali atau menyegarkan ingatan para WGS tentang cerita masa lalu itu, secara psikologis menjadi dorongan semangat hidup yang luar biasa. Moment istimewa yang sangat membekas dalam ingatan mereka, perlu “dibangkitkan” kembali. Dan itu memberi kekuatan moral sangat besar bagi para WGS, membangkitkan rasa percaya diri, menghidupkan daya juang mereka, menegaskan bahwa mereka tetap punya arti penting dalam keluarga, walau dalam kondisi apapun.
Itulah alasan penting diselenggarakannya kegiatan Pendalaman Pengalaman Hidup diantara WGS Jemaat Silo, dalam bentuk Sharing Pengalaman [27-10-2017]. Kegiatan yang menghadirkan Pdt. Ny. E. Tahapary/Pattinama sebagai fasilitator itu menjadi sangat hidup, penuh warna dan sangat bersemangat, karena berlangsung dinamis diselinggi puji-pujian dan penyembahan. Peserta juga diajak membangun dinamika kelompok, dengan terbagi dalam 4 kelompok, yaitu : Ester, Maryus [Maria-Yusuf], Ayub dan . Mereka yang berbagi pengalaman sangat antusias, bahkan cenderung emosional ketika berbagi pengalaman hidup pribadi ataukah keluarga.

Pdt. A. J. Timisela selaku Ketua Majelis Jemaat GPM Silo dalam arahan mengawali kegiatan dimaksud menegaskan bahwa, sebagai orang tua, para WGS tetap punya arti penting baik dalam keluarga, maupun konteks berjemaat. Itulah sebabnya, kegiatan berbagi pengalaman ini menjadi sangat penting sebab menjadi ajang dimana terjadi saling sharing pengalaman, yang bertujuan untuk saling menguatkan diantara sesama WGS, karena hanya dalam Kasih Karunia Bapa Sorgawi di dalam Tuhan Yesus, dalam usia yang telah lanjut namun terus memperlihatkan arti pentingnya hidup yang diberkati. WGS Silo juga mesti memberikan keteladanan hidup untuk keluarga anak-cucu, tetapi juga dalam kehidupan berjemaat, utamanya di sektor-sektor pelayanan.

