Santapan Harian Keluarga, 8 – 14 September 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 08 September 2019
bacaan : Kolose 3 : 5 – 17
Manusia baru
5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). 7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. 8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. 12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. 16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. 17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Kasih Kristus Sebagai Dasar Membangun Relasi Harmonis
Hidup dalam masyarakat dengan keragaman suku, ras, agama, dan budaya adalah kekayaan tetapi pada pihak lain merupakan tantangan dan ancaman. Pertanyaanya, sulitkah kita mengasihi sesama yang berbeda hingga disharmoni lebih menonjol dalam hidup bersama? Sebuah pertanyaan yang perlu digumuli dan dikritisi dengan iman dan kearifan, mengingat konflik terjadi dimana-mana. Kepada Kolose, Rasul Paulus memberi nasehat untuk membangun relasi persekutuan yang harmonis. Perbedaan tidak menjadi sumber konflik tetapi tetapi kekayaan untuk membangun harmonisasi hidup. Jemaat Kolose diharapkan meletakkan dasar persekutuan yang dewasa dan sempurna melalui beberapa karakteristik moral yakni: Hati yang berbelas kasih, kemurahan, kebaikan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (12) dan diatas semuanya itu, kasih dan damai menjadi perekat persekutuan. Berpedoman pada kasih Kristus sebagai dasar membangun relasi yang harmonis, warga gereja berkontribusi penuh dalam menciptakan kahidupan masyarakat yang rukun, damai dan harmonis. Kasih Kristus yang mengatasi segala perbedaan dan permusuhan harus menjadi realitas konkrit dalam hidup warga gereja. Gereja harus menjadi tempat pertama kasih Kristus digenapi, supaya gereja menjadi kesaksian terdepan dalam membangun relasi yang harmonis. Keharmonisan dalam persekutuan membutuhkan kesadaran dan itikad untuk membangun relasi baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk membangun hidup yang harmonis dengan yang lain, Amin.
Senin, 09 September 2019
bacaan : Kisah Para Rasul 15 : 1 – 11
Sidang di Yerusalem
Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” 2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. 3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. 4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. 5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.” 6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. 7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: “Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. 8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, 9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. 10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? 11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.”
Kita Sama di Mata Tuhan
Ada peribahasa yang bunyinya, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Itu berarti di mana kita berada, di situ juga kita patut menunjukkan rasa hormat. Dengan kata lain, kita harus mampu menunjukkan sikap adaptasi yang baik di tempat mana kita berada. Kita tidak bisa semena-mena membawa kebiasaan di tempat asal kita untuk dipaksakan pada orang di tempat lain. Jika itu dipaksakan, maka yang terjadi adalah konflik, yang kalau tidak teratasi, bisa menimbulkan kekacauan dan perpecahan.
Namun tak dapat disangkal bahwa masih cukup banyak orang yang cenderung memaksakan kehendak kepada orang lain tanpa memikirkan dampaknya. Ada banyak informasi yang memberitakan tentang bentuk-bentuk kekerasan dan pemaksaan kehendak atas nama budaya, agama, atau keyakinan. Siapa saja bisa terjebak dalam situasi merasa diri lebih dominan dibandingkan oleh orang lain. Di dalam keluarga, hal itu bisa terjadi antara orang tua dan anak, suami-isteri, kakak-adik. Oleh sebab itu, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk mengerti bahwa kasih karunia dan anugerah Tuhan Yesus berlaku bagi semua orang, terlebih khusus orang percaya, tanpa diskriminasi. Maka pandanglah mereka “yang lain” bukan sebagai musuh atau tak layak hanya karena perbedaan; sebaliknya lihatlah mereka sebagai saudara karena kita semua sama-sama hidup oleh anugerah Tuhan.
Doa: Ya Tuhan Allah, berikanlah kami pengertian bahwa semua ciptaanMu baik dan berharga di mataMu.. Jauhkanlah kami dari sifat merendahkan sesama kami karena olehMu mereka pun memperoleh keselamatan. Amin.
Selasa, 10 September 2019
bacaan : Kisah Para Rasul 15 : 12 – 21
12 Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. 13 Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: “Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: 14 Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. 15 Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: 16 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, 17 supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, 18 yang telah diketahui dari sejak semula. 19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, 20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. 21 Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.”
Jangan Menyulitkan Orang Lain
Terkadang orang bisa merasa diri besar dan bertindak semena-mena kepada orang lain sehingga yang kuat selalu menindas yang lemah, lalu yang lemah menjadi tak berdaya atau malah balik memberi perlawanan. Konflik dapat terjadi karena perbedaan pendapat yang sulit diatasi dan dapat terjadi antarsesama teman bahkan dalam keluarga. Konflik atas dasar keyakinan sangat sering terjadi di mana kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah. Semua berakar dari sama-sama tidak saling memahami dan mengerti, tidak mau mengalah sehingga berujung konflik.
Cara yang efektif untuk mencegah konflik adalah saling mengerti dan memahami. Para Rasul mampu bersikap menerima keberadaan jemaat yang berbeda latarbelakang. Mereka memilih untuk tidak menimbulkan kesulitan atau menghambat mereka dengan segala persayaratan yang memberatkan, melainkan hanya sekedar mengingatkan agar ada kesatuan pemahaman yang sama-sama dimengerti demi persekutuan yang kokoh.
Itulah cara terbaik yang bisa membuat kita tidak terjebak menciptakan konflik dengan sesama saudara, sahabat, rekan seiman, atau bahkan dengan siapa saja. Pelajaran bagi kita adalah janganlah menimbulkan kesulitan kepada orang lain, melainkan mendekatlah dan ucapkanlah kata-kata yang mampu melunakkan hati serta membawa kedamaian.
Doa: Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh Kudus agar kami tidak menyebabkan kesulitan pada orang lain, melainkan mampu menjadi pembawa damai di dalam kasih Kristus. Amin.
Rabu, 11 September 2019
bacaan : 1 Timotius 3 : 14 – 16
Jemaat Allah, dasar dan penopang kebenaran
14 Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. 15 Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. 16 Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.”
Hidup Sebagai Keluarga Allah
Kita semua punya keluarga. Keluarga tidak sebatas ayah, ibu, anak tapi juga melibatkan mereka yang terikat hubungan darah. Mulai dari opa, oma, om, tante, sepupu, keponakan, hingga kategori keluarga jauh dan dekat. Kita pun bisa menganggap orang lain sebagai keluarga lantaran kedekatan emosional. Sesama orang Kristen pun disebut keluarga yang diikat dalam satu persekutuan yakni gereja. Keluarga Kristen bukan berarti keluarga yang beragama Kristen, melainkan lebih dari itu yakni keluarga yang dipersatukan oleh Yesus Kristus. Di dalam Yesus kita memperoleh kebahagiaan untuk disebut anak-anak Allah (Matius 5:9), yang hidup untuk saling, membantu, menopang dan menghidupkan. Jemaat adalah keluarga kita, warga GPM adalah keluarga kita, tapi juga setiap orang yang percaya pada Kristus sebagai Kepala Gereja, yang tidak seiman, bahkan segala makhluk ciptaan Tuhan, adalah keluarga kita, Keluarga Allah. Sebagai anggota keluarga Allah, diharapkan kita dapat merajut hubungan yang saling menghidupkan.
Doa: Tuhan Allah, di dalam Yesus Kepala Gereja, tuntunlah kami dengan Roh Kudus agar sebagai tubuh Kristus yang banyak anggotanya, kami mampu mewujudkan hidup sebagai keluarga Allah. Amin.
Kamis, 12 September 2019
bacaan : 2 Korintus 9 : 1 – 5
Pengumpulan uang untuk Yerusalem
Tentang pelayanan kepada orang-orang kudus tidak perlu lagi aku menuliskannya kepada kamu. 2 Aku telah tahu kerelaan hatimu tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang Makedonia. Kataku: “Akhaya sudah siap sedia sejak tahun yang lampau.” Dan kegiatanmu telah menjadi perangsang bagi banyak orang. 3 Aku mengutus saudara-saudara itu, agar kemegahan kami dalam hal ini atas kamu jangan ternyata menjadi sia-sia, tetapi supaya kamu benar-benar siap sedia seperti yang telah kukatakan, 4 supaya, apabila orang-orang Makedonia datang bersama-sama dengan aku, jangan mereka mendapati kamu belum siap sedia, sehingga kami–untuk tidak mengatakan kamu–merasa malu atas keyakinan kami itu. 5 Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan.
Janji Yang Ditepati, Menghidupkan Orang Lain
Hidup serba kekurangan menjadi beban tersendiri bagi keluarga ibu Rosa. Suaminya hanyalah seorang kuli bangunan yang menunggu panggilan kerja. Sehari-hari ibu Rosa berjualan beraneka gorengan di depan rumahnya. 4 orang anak yang dikaruniakan Tuhan dalam keluarga ibu Rosa, turut membantu berjualan keliling kampung. Keluarga ini telah dijanjikan akan menerima bantuan pelayanan Diakona Karikatif dari pihak gereja asal mereka. Namun bantuan tersebut tak kunjung sampai kepada mereka. Padahal ibu Rosa sudah berencana akan membuka warung kecil guna mengembangkan usaha tersebut. Alhasilnya, ia hanya mampu bertahan dengan usaha kecilnya. Berjanji untuk melakukan suatu kebaikan, jelas baik. Namun, adalah lebih baik lagi jika kita ingat untuk melaksanakan apa yang telah kita janjikan itu, terutama bila hal itu berkaitan dengan perjuangan hidup orang lain. Bukan tidak mungkin, jika orang itu sedang menanti-nantikan perbuatan baik kita karena mereka sangat membutuhkan pertolongan kita. Dan hal tersebut pasti telah menjadi impian dalam hidup mereka yang segera berlari menuju kenyataan. Dan tentu akan membuahkan kebahagiaan tersendiri sebab janji yang ditepati mendatangkan kehidupan bagi orang lain. Dan sikap kita terhadap janji adalah cerminan dari integritas diri kita di hadapan Allah dan manusia. Oleh karena itu, tepatilah apa yang kita janjikan, jangan tunda untuk menepatinya. Belajarlah dari kebenaran firman Tuhan di hari ini bagi hidup pribadi dan keluarga kita.
Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk selalu menepati apa yang kami janjikan kepada orang lain. Amin.
Jumat, 13 September 2019
bacaan : Yohanes 17 : 1 – 26
Doa Yesus untuk murid-murid-Nya
Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. 2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. 3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. 4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. 5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. 6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. 7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. 8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu 10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. 11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. 13 Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. 14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. 15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. 16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. 17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. 18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; 19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. 20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: 23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. 24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. 25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; 26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”
Kesatuan Keluarga Terletak Pada Doa
Saya mengamati dengan seksama sosok perempuan paruh baya bermata sayu namun terpancar kebahagiaan dan sukacita ketika ia bercerita tentang keluarganya. Oma Dik, itulah sapaannya sehari-hari. Ia berusia sekitar 60-an. Rajin beribadah dan suka bernyanyi. Satu hal yang saya pelajari dari ceritanya dan menjadi nilai berharga bagi saya dan juga saudara yang membaca renungan ini, adalah bahwa Oma Dik tidak pernah lupa mendoakan keutuhan keluarga anak cucunya kepada Tuhan. Ia mengatakan kekuatan terbesar untuk kesatuan keluarga hanyalah doa, sehingga apapun situasi yang dialami, mampu ditanggulangi secara bersama. Karena itu, Oma Dik selalu mengajarkan anak cucunya bahkan orang-orang disekitarnya untuk membangun jaringan doa sehingga tetap kuat hadapi tantangan, hambatan bahkan ancaman di hidup ini. Ia juga mengatakan bahwa tidak mudah mengajak keluarganya dan semua orang untuk bersikap demikian, sebab masing-masing orang berbeda pikirannya, gaya hidupnya juga berbeda dengan berbagai kesukaan-kesukaan di dalamnya. Jika kita tidak jeli, maka hal-hal inilah yang justru akan menghancurkan tatanan hidup bersama baik di dalam keluarga, gereja dan juga masyarakat. Karena itulah, maka saling mendoakan untuk satu kesatuan hidup itu penting sekali. Mendengar kalimat-kalimat yang mengalir dari bibir mulut Oma Dik, saya lalu teringat Yohanes 17:1-26, tentang doa Tuhan Yesus untuk murid-muridnya. Begitu pentingnya kesatuan, sehingga untuk hal inipun Yesus berdoa kepada BapaNya agar murid-muridNya menjadi satu. Demikian juga saat ini Yesus berdoa agar gereja Tuhan bersatu dan tidak terpecah-pecah. Sebab pada saat gereja Tuhan bersatu, maka disitulah kemuliaan dan kuasa Tuhan akan dinyatakan secara luar biasa. Pastikan kesatuan yang sama juga berlaku di dalam hidup keluarga kita jika kita ingin mengalami terobosan yang luar biasa untuk dunia ini.
Doa: Tuhan, tolong jadikanlah kami satu seperti Engkau dan Bapa. Amin.
Sabtu, 14 September 2019
bacaan : Galatia 3 : 15 – 29
Hukum Taurat atau janji
15 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorangpun. 16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: “dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus. 17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. 18 Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. 19 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran–sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu–dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. 20 Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. 21 Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. 22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. 23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
Kita Sama Di Dalam Yesus
Kebijakan Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan untuk menerapkan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau penerimaan siswa baru berbasis zonasi pada awal tahun ajaran baru, menuai polemik dikalangan masyarakat menengah ke atas. Padahal sistem zonasi ini bertujuan untuk meningkatkan akses layanan pendidikan di Sekolah Negeri tanpa memandang kelas ekonomi orang tua siswa dan menghapus predikat sekolah favorit. Dengan demikian setiap anak berhak mendapat layanan pendidikan dengan adil, walaupun dengan kemampuan rendah dan berasal dari keluarga tidak mampu. Sesungguhnya keadilan dan kesetaraan merupakan nilai-nilai injili yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, ketika mereka memahami keselamatan berdasarkan Hukum Taurat yang hanya berlaku bagi orang Yahudi. Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan yang dianugerahkan oleh Yesus Kristus berdasarkan Janji-Nya kepada semua orang, baik Yahudi maupun Yunani termasuk kita semua yang percaya kepadaNya. Memberlakukan nilai hidup yang adil dan setara, sepatutnya harus dimulai dari keluarga, dimana perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anak-anak harus merata sehingga tidak ada “anak emas” atau “anak nakal” tetapi setiap anak berhak mendapat perlakuan yang sama agar mereka dapat dibimbing dan dituntun menikmati masa depan yang lebih baik.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk berlaku adil kepada semua orang. Amin.
*sumber : SHK bulan September 2019 oleh LPJ-GPM

