Santapan Harian Keluarga : 26 Nov – 2 Des 2017
Sabtu, 2 Desember 2017
bacaan : Mazmur 47 : 7-12
| 47:1 | Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Mazmur. (47-2) Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! |
| 47:2 | (47-3) Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. |
| 47:3 | (47-4) Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita, |
| 47:4 | (47-5) Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita, kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya. Sela |
| 47:5 | (47-6) Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala. |
| 47:6 | (47-7) Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! |
| 47:7 | (47-8) Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! |
| 47:8 | (47-9) Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus. |
| 47:9 | (47-10) Para pemuka bangsa-bangsa berkumpul sebagai umat Allah Abraham. Sebab Allah yang empunya perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan. |
| Mengapa Engkau Tertekan Hai Jiwaku?
Menjalani masa-masa sulit tanpa harapan, ibarat sebuah sampan yang terkatung-katung tanpa arah di samudera luas. Namun berharap kepada Allah dimasa-masa sulit, kita memiliki keyakinan bahwa apa yang Allah firmankan atau janjikan akan terjadi dalam hidup kita. Harapan berkaitan dengan iman. Ketika kita percaya kepada Allah, kita memiliki harapan. Memang, berharap kepada Allah tidak berarti kesulitan-kesulitan hidup selesai. Kadang juga semakin berat. Tetapi bagi orang yang selalu berharap kepada Tuhan, dapat berjalan dalam kepastian bahwa Tuhan pasti akan menolongnya. Pemazmur dalam bagian inipun mengalami keadaan yang membuat dia menderita dan tertekan. Dia gelisah karena orang yang memusuhinya membanggakan diri. Dalam keadaan hidup yang menekan dan menggelisahkan itu, pemazmur bertanya kepada jiwanya: “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku dan gelisah dalam diriku?” Tampak jelas ada nada ketidaksenangan, tetapi ia menyadari bahwa ia tidak boleh dikendalikan oleh perasaannya sendiri. Akhirnya ia membangkitkan dalam dirinya sebuah pengharapan. Pemazmur percaya bahwa Allah adalah Penolong baginya. Oleh karena itu dia berharap kepada Allah dan mempercayakan seluruh hidupnya kepada Allah dengan selalu bersyukur kepadaNya.
Doa: Tuhan, dalam tekanan dan kegelisahan jiwa kami, pada-Mu kami tetap berharap. Amin |
Jumat, 1 Desember 2017
bacaan : Mazmur 42 : 2-6
(42-2) Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 42:2 (42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 42:3 (42-4) Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu? ” 42:4 (42-5) Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. 42:5 (42-6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
BERHARAPLAH KEPADA ALLAH
Hari ini adalah hari pertama kita menempatkan kaki pada bulan Desember. Tidak terasa 11 bulan telah berlalu dan tinggal sebulan ini kita akan meninggalkan tahun 2017. Pengalaman hidup bersama Tuhan Yesus selama 11 bulan ini selalu akan menjadi refleksi bagi kita untuk terus melangkah bersama Tuhan dalam Pengharapan yang Teguh kepadaNya. Pengharapan menjadi dasar iman kita, karena itulah pemazmur melalui bacaan Alkitab di hari ini mengingatkan kita untuk terus berharap kepada Allah. Seruan untuk berharap kepada Allah didasarkan pada keyakinan dan pengakuan bahwa Allah adalah penolong manusia. Pengakuan itu lahir dari pengalaman Iman orang percaya dengan Allah. Pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan nyata baik suka maupun duka. Keyakinan tentang kemahakuasaan Allah dan pertolonganNya mendorong orang percaya untuk selalu bersyukur kepadaNya. Keyakinan akan Pertolongan Allah ini juga yang membuat orang percaya mendapatkan kekuatan untuk menjalani hidup dalam berbagai tantangan dan persoalan yang dialami. Karena itu, bila dalam hidup kita menghadapi berbagai hal yang membawa suka dan duka, jangan pernah berhenti berharap kepadaNya. Tetaplah percaya bahwa jawaban Tuhan selalu tersedia dan pertolonganNya kepada kita selalu hadir tepat pada waktunya.
Doa : Ya Tuhan dalam seluruh pergumulan hidup Engkaulah tetap pengharapan kami amin.
Kamis, 30 November 2017
bacaan : Ibrani 7 : 26-28
7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 7:28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.
IMAN KEPADA KRISTUS MENEGUHKAN DIRI
Seorang imam besar mempunyai tempat yang penting dalam kehidupan spiritual umat Israel. Ia adalah penyambung lidah Allah dan yang memimpin persembahan kurban bakaran kepada Allah, baik kurban untuk dosa umat maupun korban untuk dosa dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa imam besar bagi umat Israel adalah seorang manusia biasa yang terikat dengan doa. Ia juga membutuhkan pengampunan dosa dan anugerah keselamatan dari Tuhan. Tetapi Yesus adalah Imam Besar yang sempurna dan tidak berdosa. Ia mengorbankan diri-Nya sendiri sebagai korban penghapusan dosa sekali untuk selama-lamanya hanya bagi keselamatan manusia dan seiris dunia ini. Karena itulah, Yesus adalah Imam Besar Agung bagi kita. Ini adalah dasar pengharapan kita selaku orang percaya untuk menjalani hidup dimasa kini maupun dimasa yang akan datang, sebab keselamatan telah dikerjakan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus bagi kita. Dia yang telah menyucikan kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Karena itu, marilah kita hidup dengan penuh pengharapan. Tersulah beriman kepada-Nya sebab iman kepada Kristus meneguhkan hati kita bahwa Ia menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang selalu menantikan Dia.
Doa : Terima kasih Tuhan atas anugerah keselamatan yang telah Kau berikan kepada kami, amin
Rabu, 29 November 2017
Bacaan : Ibrani 7 : 18 -25
7:18 Memang suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna, 7:19 –sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan–tetapi sekarang ditimbulkan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah. 7:20 Dan sama seperti hal ini tidak terjadi tanpa sumpah–memang mereka telah menjadi imam tanpa sumpah, 7:21 tetapi Ia dengan sumpah, diucapkan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: “Tuhan telah bersumpah dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya ” — 7:22 demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat. 7:23 Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam. 7:24 Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. 7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
YESUS IMAM BESAR AGUNG
Seorang imam besar menurut tradisi Yahudi bukanlah orang sembarangan, tetapi pribadi yang dipilih dan dipersiapkan Allah. Merekalah yang melakukan serangkaian peraturan ritus keagamaan yang sudah ditetapkan Allah. Tujuannya adalah untuk mendekatkan manusia kepada pencipta-Nya dan memohon kemurahan serta anugerah-Nya. Yesus, telah ditetapkan Allah sebagai Imam Besar sesuai peraturan Melkisedek. Ternyata Allah dekat dan memberikan kasih-Nya tidak hanya kepada bangsa Israel, tetapi juga kepada semua bangsa. Dia ingin kasih-Nya dikenal dan dialami oleh semua manusia. Sebab itu, Ia bersumpah untuk memberikan kasihNya dengan sempurna (ayat 21). walaupun tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, Allah menyatakan bahwa Yesus adalah jaminan dari sumpahNya. Karena itu iman kepada Yesus mengantar manusia kepada Allah. Dan ini adalah keyakinan iman yang memperkuat pengharapan kita kepadaNya. Kita bersyukur menjadi pengikut Kristus. Kita diberi identitas sebagai anak-anak Allah. Itu semua bukan karena kehebatan kita, tetapi semata-mata adalah anugerah Allah. Yesus sebagai Imam Besar telah menjadi perantara Allah dengan kita manusia demi keselamatan kekal kita miliki. Karena itu, janganlah kita merusak identitas diri kita sebagai anak-anak Allah. MArilah kita menghargai karya Imam Besar Agung kita dengan karya-karya kebaikan disepanjang hidup.
Doa : Ya Tuhan ajarilah kami untuk terus menghargai karya-Mu sebagai Imam Besar Agung bagi kami, amin
Selasa, 28 November 2017
Bacaan : Ibrani 6 : 13-20
6:13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, 6:14 kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” 6:15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 6:16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. 6:17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, 6:18 supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. 6:19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, 6:20 di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.
BERHARAPLAH PADA YESUS
Siapa yang tidak takut ketika menghadapi badai besar di tengah lautan? Angin dan ombak yang besar itu dapat membuat kapal yang kita tumpangi menjadi kandas. Pada saat seperti itulah sebuah sauh atau jangkar diturunkan ke dasar laut. Ukuran jangkar jelas sangat kecil dibandingkan dengan ukuran kapal, namun perannya sangat besar untuk menahan kapal dari terjangan ombak. Alkitab mengibaratkan pengharapan kepada Tuhan seperti jangkar. Dengan jangkar itulah orang dapat bertahan dalam badai ketidakpastian hidup. Seperti pengalaman Abraham. Ia dan isterinya sudah sangat tua, bagaimana mungkin bisa mendapatkan keturunan seperti yang dijanjikan Tuhan ? Penantian panjang ini seperti badai yang dapat menggoyahkan iman Abraham. Namun Abraham menanti dengan sabar. Mengapa ? Karena Abraham tahu kepada siapa ia meletakkan pengharapannya. Karena itu penulis kitab Ibrani mendorong jemaat Tuhan yang mulai goyah imannya untuk memiliki pengharapan yang demikian. Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu menepati janji-Nya. Dia tidak pernah berdusta. Apakah kita sungguh meletakkan pengharapan kita kepada-Nya? menanti memang adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan, tetapi menanti adalah bukti kesetiaan iman dan pengharapan kepada Yesus yang memberikan janji itu. Jangan pernah meninggalkan pengharapan kita dalam Tuhan. Karena pengharapan itulah suah yang aman bagi jiwa kita.
Doa : Tuhan Engkaulah sauh pengharapan kami yang membuat kami tetap merasa aman., amin
Senin, 27 November 2017
Bacaan : Ibrani 6 : 9-12
6:9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. 6:10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. 6:11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, 6:12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.
PENGHARAPAN SAUH YANG KUAT BAGI JIWA
Pengaharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Mengapa dikatakan sauh? Bayangkanlah diri kita sebagai kapal, dapatkah kapal tertambat apabila tidak ada sauh? Jelas tidak bisa. Sauh berfungsi untuk menambatkan kapal pada sebuah daratan atau tempat agar kapal tidak terbawa arus lautan. Persoalannya, kemanakah sauh kita akan kita labuhkan? Natis kita hari ini mengungkapkan bahwa Yesus adalah dasar pengharapan kita. Tempat kita melabuhkan sauh. Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir yaitu dirinya sendiri. Karena itu, apabila kita melabuhkan pengharapan kita kedalam kemahakuasaan Allah dalam Yesus Kristus, maka pengharapan kita akan kuat dan aman. Memang seringkali persoalan dan masalah, penderitaan dan kesulitan hidup memutuskan tali pengharapan kita kepada Yesus. Sehingga banyak yang hidup tanpa pengharapan dan akhirnya mencari labuhan kesenangan bagi dirinya sendiri. Padahal masalah, penderitaan dan kesulitan hidup yang kta alami ibarat angin ribut yang sewaktu-waktu menggoncang kapal. tetapi tidak akan menenggelamkan kita jika sauh kita tertambat kuat kepada Kristus sumber kekuatan dan pengharapan kita. Karena itulah, mari labuhkan sauh pengharapanmu di dalam Yesus dan kecangkanlah tali pengharapan itu agar hidup dan jiwa kita terus merasa aman.
Doa : Tuhan kami mau melabuhkan sauh pengharapan kami hanya didalam-Mu. amin
Minggu, 26 November 2017
Bacaan : Roma 5 : 1-11
5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar–tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati–. 5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 5:9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 5:10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! 5:11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
DIBENARKAN OLEH KARENA IMAN
Nas kita hari ini menjelaskan tentang dasar pengharapan orang kristen mengenai keselamatan, yaitu pertama, kita sudah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Sebelum kita diselamatkan oleh Tuhan Yesus, kita adalah orang-orang berdosa dan dosa itulah yang membuat makna dan tujuan hidup kita menjadi hilang. Namun, kematian Tuhan Yesus di kayu salib mengembalikan makna dan tujuan hidup kita manusia. Karena itu, keselamatan terjadi ketika kita percaya kepada-Nya. Artinya dengan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus, kita telah menerima anugerah keselamatan melalui iman kita kepada-Nya. Kedua, Paulus menyebutkan bahwa kesengsaraan merupakan salah satu berkat dari keselamatan kita dalam Kristus. Kesengsaraan itu mencakup berbagai macam pencobaan yang mungkin menekan kita dan membuat kita merasa kesulitan dan kesusahan. Ditengah kesulitan dan kesusahan kita, kasih karunia dan pertolongan Allah menhadi nyata. Ia memungkinkan kita tetap kuat mencari wajah-Nya dengan sungguh-sungguh dan membuat kita memandang melewati persoalan hidup kita kepada suatu pengharapan yang teguh, bahwa bersama Tuhan kita dapat mengatasi dan melalui segala kesulitan dan keputusasaan tetapi hidup dalam ketekunan dan tahan uji.
Doa : Ya Tuhan buatlah kami tetap tekun dan sabar menghadapi seluruh persaoalan kehidupan kami, amin
Sumber : SHK LPJ-GPM November 2017

