fbpx

Santapan Harian Keluarga, 10- 16 Juni 2018

[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 10 Juni 2018

bacaan : 2 Samuel 13 : 1-22

Amnon dan Tamar
Sesudah itu terjadilah yang berikut. Absalom bin Daud mempunyai seorang adik perempuan yang cantik, namanya Tamar; dan Amnon bin Daud jatuh cinta kepadanya. 2 Hati Amnon sangat tergoda, sehingga ia jatuh sakit karena Tamar, saudaranya itu, sebab anak perempuan itu masih perawan dan menurut anggapan Amnon mustahil untuk melakukan sesuatu terhadap dia. 3 Amnon mempunyai seorang sahabat bernama Yonadab, anak Simea kakak Daud. Yonadab itu seorang yang sangat cerdik. 4 Katanya kepada Amnon: “Hai anak raja, mengapa engkau demikian merana setiap pagi? Tidakkah lebih baik engkau memberitahukannya kepadaku?” Kata Amnon kepadanya: “Aku cinta kepada Tamar, adik perempuan Absalom, saudaraku itu.” 5 Lalu berkatalah Yonadab kepadanya: “Berbaringlah di tempat tidurmu dan berbuat pura-pura sakit. Apabila ayahmu datang menengok engkau, maka haruslah engkau berkata kepadanya: Izinkanlah adikku Tamar datang memberi aku makan. Apabila ia menyediakan makanan di depan mataku, sehingga aku dapat melihatnya, maka aku akan memakannya dari tangannya.” 6 Sesudah itu berbaringlah Amnon dan berbuat pura-pura sakit. Ketika raja datang menengok dia, berkatalah Amnon kepada raja: “Izinkanlah adikku Tamar datang membuat barang dua kue di depan mataku, supaya aku memakannya dari tangannya.” 7 Lalu Daud menyuruh orang kepada Tamar, ke rumahnya, dengan pesan: “Pergilah ke rumah Amnon, kakakmu dan sediakanlah makanan baginya.” 8 Maka Tamar pergi ke rumah Amnon, kakaknya, yang sedang berbaring-baring, lalu anak perempuan itu mengambil adonan, meremasnya dan membuat kue di depan matanya, kemudian dibakarnya kue itu. 9 Sesudah itu gadis itu mengambil kuali dan mengeluarkan isinya di depan Amnon, tetapi ia tidak mau makan. Berkatalah Amnon: “Suruhlah setiap orang keluar meninggalkan aku.” Lalu keluarlah setiap orang meninggalkan dia. 10 Lalu berkatalah Amnon kepada Tamar: “Bawalah makanan itu ke dalam kamar, supaya aku memakannya dari tanganmu.” Tamar mengambil kue yang disediakannya itu, lalu membawanya kepada Amnon, kakaknya, ke dalam kamar. 11 Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya: “Marilah tidur dengan aku, adikku.” 12 Tetapi gadis itu berkata kepadanya: “Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu. 13 Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.” 14 Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia. 15 Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya: “Bangunlah, enyahlah!” 16 Lalu berkatalah gadis itu kepadanya: “Tidak kakakku, sebab menyuruh aku pergi adalah lebih jahat dari pada apa yang telah kaulakukan kepadaku tadi.” Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan dia. 17 Dipanggilnya orang muda yang melayani dia, katanya: “Suruhlah perempuan ini pergi dari padaku dan kuncilah pintu di belakangnya.” 18 Gadis itu memakai baju kurung yang maha indah; sebab demikianlah puteri-puteri raja yang masih perawan berpakaikan baju kurung panjang. Kemudian pelayan itu menyuruh dia keluar, lalu mengunci pintu di belakangnya. 19 Lalu Tamar menaruh abu di atas kepalanya, mengoyakkan baju kurung yang maha indah yang dipakainya, meletakkan tangannya di atas kepalanya dan pergilah ia sambil meratap dengan nyaring. 20 Bertanyalah Absalom, kakaknya, kepadanya: “Apakah Amnon, kakakmu itu, bersetubuh dengan engkau? Maka sekarang, adikku, diamlah saja, bukankah ia kakakmu, janganlah begitu memikirkan perkara itu.” Lalu Tamar tinggal di rumah Absalom, kakaknya itu, seorang diri. 21 Ketika segala perkara itu didengar raja Daud sangat marahlah ia. 22 Dan Absalom tidak berkata-kata dengan Amnon, baik tentang yang jahat maupun tentang yang baik, tetapi Absalom membenci Amnon, sebab ia telah memperkosa Tamar, adiknya.

Akan Kubawa Kemanakah Kecemaranku ini?

Mery mengalami konflik batin yang sangat luar biasa. Ia harus memilih antara perawannya atau kenikmatan seks yang menggairahkan. Sudah tiga tahun ia menjalin cinta dengan Jhony. Hubungan mereka pun telah direstui oleh pihak keluarga sehingga tak ada yang membatasi mereka untuk saling bertemu atau kemanapun mereka pergi. Bagi Jhony, Mery adalah miliknya sehingga tubuh Mery adalah milik Jhony. Sehingga, tak ada yang salah jika mereka bisa tidur bersama dan berhubungan seks, tokh pada waktunya mereka akan menikah. Jhony menawarkan perasaannya ini kepada Mery, saat mereka berdua sendiri di dalam kamar Jhony. Sebagai seorang manusia normal baik Jhony maupun Mery tentu memiliki hormon dalam tubuh yang berfungsi menggairahkan nafsu mereka. Situasi ini yang dimanfaatkan Jhony. Mery menjawab: “lebih baik kita menikah saja, sebab hubungan seks tidak bisa dilakukan kalau belum menikah. AKU MASIH PERAWAN, ITU HARGA DIRIKU. AKU MAU MEMBERINYA BAGI LELAKI YANG MENJADI SUAMIKU. Jika aku memberinya bagimu lalu tiba-tiba kau mati atau kau mencintai perempuan lain dan menikah dengannya, lalu bagaimana denganku???? Aku harus bilang apa bagi lelaki lain yang akan menjadi suamiku? Jika kau sangat mencintaiku, seharusnya kau menjagaku, juga menjaga tubuhku dari segala nafsu jahat dirimu dan nafsu jahat lelaki lain. Jagalah kepercayaan keluarga kita. Lalu Mery meninggalkan Jhony dalam kamarnya. Mery bersukacita sebab ia berani menolak perilaku seks bebas. Perempuan, Jaga Perawanmu sebab itulah harga dirimul!!!

doa : Ya Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh dan Hikmat-Mu, supaya kami tidak melakukan hubugan seks bebas, amin

Senin, 11 Juni 2018

bacaan : Kejadian 42 : 1-17

Saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir
Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: “Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?” 2 Lagi katanya: “Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati.” 3 Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. 4 Tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan saudara-saudaranya, sebab pikirnya: “Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti.” 5 Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan. 6 Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. 7 Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka dengan membentak, katanya: “Dari mana kamu?” Jawab mereka: “Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan.” 8 Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka. 9 Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: “Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.” 10 Tetapi jawab mereka: “Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan hamba-hambamu ini datang. 11 Kami ini sekalian anak dari satu ayah; kami ini orang jujur; hamba-hambamu ini bukanlah pengintai.” 12 Tetapi ia berkata kepada mereka: “Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.” 13 Lalu jawab mereka: “Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi.” 14 Lalu kata Yusuf kepada mereka: “Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai. 15 Dalam hal ini juga kamu harus diuji: demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang ke mari. 16 Suruhlah seorang dari padamu untuk menjemput adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Firaun, sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai.” 17 Dan dimasukkannyalah mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya.

Potong di Kuku Rasa di Daging : Mereka Saudaraku.!!

Kesalahpahaman yang terjadi diantara Rita dan Deky tak terelakan lagi dan mengarah kepada kebencian yang luar biasa. Masing-masing merasa yang paling benar. Rita yang adalah kakak, berharap Deky harus mengalah padanya apalagi Rita yang membantu Deky dalam segala kesulitannya sampai menikah. Sementara Deky merasa sekalipun ia adik tetapi dalam hal tersebut dia tak bersalah, kalaupun Rita pernah menolongnya itu adalah kewajibannya sebagai seorang kakak. Deky memiliki banyak uang sehingga ia tidak bergantung lama kepada kakaknya pada waktu itu. Akhimya, persoalan mereka harus di bawa ke pengadilan. Rita dan Deky saling menyangkal bahwa mereka adalah orang bersaudara. Kebencian yang kuat diantara mereka telah membuat mereka lupa bahwa mereka adalah kakak-beradik yang terlahir dari rahim seorang ibu dan ayah. Sehingga, ketika Rita sakit berat dan hampir mati, tapi situasi itu tidak sedikit pun menggugah nurani hati Deky untuk menjenguk sang kakak, padahal mereka tinggal dalam kampung yang sama. Sampai saat ini pun, berpuluh tahun lamanya mereka masih hidup dalam kebencian, sehingga kalaupun mereka bertemu di jalan atau tempat yang lain, mereka tidak saling menyapa. Apalagi masing­ masing mereka saat ini hidup dalam kelimpahan material. Berbeda dengan Yusuf, sekalipun pernah dilukai oleh kakak-kakaknya tetapi ketika bertemu, Yusuf tahu mereka adalah saudaranya, dan menanyakan tentang keberadaan adiknya Benjamin dan Yakub ayahnya. Luka batinnya terobati oleh rasa sebagai orang basudara. Yusuf merasa kesulitan mereka adalah kesulitan dirinya juga. Potong di kuku rasa di daging ale…

doa : Tuhan, kami ingin merawat hidup persaudaraan kami, amin

Selasa, 12 Juni 2018

bacaan : Kejadian 43 : 1-10

Saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir untuk kedua kalinya
Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu. 2 Dan setelah gandum yang dibawa mereka dari Mesir habis dimakan, berkatalah ayah mereka: “Pergilah pula membeli sedikit bahan makanan untuk kita.” 3 Lalu Yehuda menjawabnya: “Orang itu telah memperingatkan kami dengan sungguh-sungguh: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu. 4 Jika engkau mau membiarkan adik kami pergi bersama-sama dengan kami, maka kami mau pergi ke sana dan membeli bahan makanan bagimu. 5 Tetapi jika engkau tidak mau membiarkan dia pergi, maka kami tidak akan pergi ke sana, sebab orang itu telah berkata kepada kami: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu.” 6 Lalu berkatalah Israel: “Mengapa kamu mendatangkan malapetaka kepadaku dengan memberitahukan kepada orang itu, bahwa masih ada adikmu seorang?” 7 Jawab mereka: “Orang itu telah menanyai kami dengan seksama tentang kami sendiri dan tentang sanak saudara kita: Masih hidupkah ayahmu? Adakah adikmu lagi? Dan kami telah memberitahukan semuanya kepadanya seperti yang sebenarnya. Bagaimana kami dapat menduga bahwa ia akan berkata: Bawalah ke mari adikmu itu.” 8 Lalu berkatalah Yehuda kepada Israel, ayahnya: “Biarkanlah anak itu pergi bersama-sama dengan aku; maka kami akan bersiap dan pergi, supaya kita tetap hidup dan jangan mati, baik kami maupun engkau dan anak-anak kami. 9 Akulah yang menanggung dia; engkau boleh menuntut dia dari padaku; jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama-lamanya. 10 Jika kita tidak berlambat-lambat, maka tentulah kami sekarang sudah dua kali pulang.”

Adikku dan Keluargaku adalah Tanggung jawabku

Nyong, ini papa kasi ulu parang for nyong pameri jalan supaya ade-ade bisa jalan lai” …. Charles selalu mengingat kata-kata papanya, sehingga mendorongnya untuk bertindak. “Aku harus mengambil keputusan sekarang juga. Aku adalah kakak bagi adik-adikku, aku harus membantu orangtuaku. Aku harus memberi mereka makan, adik-adikku harus memiliki masa depan. Aku bertanggungjawab atas keluargaku. Orangtuaku semakin bertambah usia berarti tenaga mereka akan semakin berkurang, sementara aku dan adik-adikku semakin hari semakin bertambah besar dan masih kuat, tetapi kebutuhan hidup setiap hari terus meningkat. Tidak mungkin, kami harus terus bergantung kepada orangtua. Aku ingin kehidupan keluargaku berubah. Aku yang tertua dalam keluarga, jadi aku harus memulai. Aku bertanggungjawab atas orangtuaku dan adik-adiku. Aku harus membuka jalan bagi adik-adikku. Ini prinsip hidupku sampai aku menikah sekalipun” kata Charles di dalam hatinya, ketika ia diperhadapkan dengan situasi yang semakin sulit dalam kehidupan keluarganya. Charles tidak ingin hidup untuk dirinya sendiri, ia ingin turut mengambil bagian dalam seluruh proses hidup keluarganya. Charles mulai berusaha, bekerja keras untuk memenuhi keputusan hatinya. Keputusan Charles tidak berbeda dengan keputusan Yehuda yang berkata kepada ayahnya: “… supaya kita tetap hidup dan jangan mati … ” akulah yang menanggung dia, engkau boleh menuntut dia daripadaku. jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia didepanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama­ lamanya“. Jadilah Kakak yang baik untuk adikmu.

Doa : Tuhan, kami ingin bertanggung jawab bagi keluarga kami, amin

Rabu, 13 Juni 2018

bacaan : Kejadian 43 : 11-23

11 Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: “Jika demikian, perbuatlah begini: Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai persembahan: sedikit balsam dan sedikit madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam. 12 Dan bawalah uang dua kali lipat banyaknya: uang yang telah dikembalikan ke dalam mulut karung-karungmu itu haruslah kamu bawa kembali; mungkin itu suatu kekhilafan. 13 Bawalah juga adikmu itu, bersiaplah dan kembalilah pula kepada orang itu. 14 Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!” 15 Lalu orang-orang itu mengambil persembahan itu dan mengambil uang dua kali lipat banyaknya, beserta Benyamin juga; mereka bersiap dan pergi ke Mesir. Kemudian berdirilah mereka di depan Yusuf. 16 Ketika Yusuf melihat Benyamin bersama-sama dengan mereka, berkatalah ia kepada kepala rumahnya: “Bawalah orang-orang ini ke dalam rumah, sembelihlah seekor hewan dan siapkanlah itu, sebab orang-orang ini akan makan bersama-sama dengan aku pada tengah hari ini.” 17 Orang itu melakukan seperti yang dikatakan Yusuf dan dibawanyalah orang-orang itu ke dalam rumah Yusuf. 18 Lalu ketakutanlah orang-orang itu, karena mereka dibawa ke dalam rumah Yusuf. Kata mereka: “Yang menjadi sebab kita dibawa ke sini, ialah perkara uang yang dikembalikan ke dalam karung kita pada mulanya itu, supaya kita disergap dan ditangkap dan supaya kita dijadikan budak dan keledai kita diambil.” 19 Karena itu mereka mendekati kepala rumah Yusuf itu, dan berkata kepadanya di depan pintu rumah: 20 “Mohon bicara tuan! Kami dahulu datang ke mari untuk membeli bahan makanan, 21 tetapi ketika kami sampai ke tempat bermalam dan membuka karung kami, tampaklah uang kami masing-masing dengan tidak kurang jumlahnya ada di dalam mulut karung. Tetapi sekarang kami membawanya kembali. 22 Uang lain kami bawa juga ke mari untuk membeli bahan makanan; kami tidak tahu siapa yang menaruh uang kami itu ke dalam karung kami.” 23 Tetapi jawabnya: “Tenang sajalah, jangan takut; Allahmu dan Allah bapamu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima.” Kemudian dikeluarkannyalah Simeon dan dibawanya kepada mereka.

Sukacitaku : Berjumpa dengan Adikku

”Apakah adikku masih hidup? bagaimana keadaannya? apakah dia kurus atau gemuk? sakit atau sehat? bagaimana wajahnya, seperti aku atau ayahku atau ibuku? Apakah ia sudah menikah?, berapa anaknya? Apa pekerjaannya? Kapan aku bisa berbagi tentang hidup dengannya. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang menggangu pikiran dan hati bapak Samuel ketika menjalani hari hidupnya. Ia harus berpisah dari adiknya pada waktu masih anak karena adiknya, bapak Nico harus dibawa oleh tentara ke Negeri Belanda. Sekalipun bapak Samuel dikelilingi oleh berbagai materi tetapi ia merasa hidupnya belum lengkap jika belum bertemu dengan adik kandungnya. “bagaimana kalau aku mati dan aku belum bertemu dengan adik kandungku? Kakak macam apa aku ini? Kita terlahir bersama dari satu rahim, pernah menikmati hidup bersama dengan orangtua, berbagi dalam suka maupun duka  o… Tuhan tolonglah aku. Kerinduan bapak Samuel terpenuhi, di tahun 1996 ia berjumpa dengan adiknya melalui seorang saudara dari negeri Belanda. Tuhan telah menciptakan kami dari darah dan Rahim yang sama, orangtua kami selalu mendoakan kami supaya kami selalu bisa bersama saling menopang dalam suka maupun duka, demikian Tuhan juga yang telah mempertemukan kami. Aku sangat bersukacita .. Terpujilah Tuhan” kata bapak Samuel dalam ibadah syukur keluarganya. Jika saat ini kita masih kehilangan hubungan kasih dan damai dengan adik-kakak-saudara kita, segeralah berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya. Berjuanglah untuk mendapatkannya sebelum terlambat, sebelum tidak ada lagi kesempatan. sebelum menyesal. Peliharalah Kasih Persaudaraan di dalam keluargamu..!!!

doa : ya Tuhan, pulihkanlah hubungan persaudaraan kami, amin

Kamis, 14 Juni 2018

bacaan : Kejadian 45 : 1-8

Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya
Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: “Suruhlah keluar semua orang dari sini.” Maka tidak ada seorangpun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. 2 Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. 3 Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: “Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?” Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. 4 Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: “Marilah dekat-dekat.” Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. 5 Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. 6 Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. 7 Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. 8 Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

Untuk Keluarga… PASTI BISA..!!

Dalam kegiatan diskusi perempuan berprofesi yang dinamakan ‘Bastori Perempuan” menyongsong HUT ke-50 perempuan GPM, seorang perempuan papalele dari Klasis Lease menceritakan perjuangannya sebagai seorang ibu demi masa depan anak-anaknya. Ia tidak menyerah berjualan sambil berjalan dan keku (meletakkan bakul di atas kepala) barang-barang dagangannya. Ia rela melakukan supaya anak-anaknya bisa bersekolah lebih tinggi. Salah satu anaknya pun mendapatkan kesempatan menimba ilmu pada Universitas Pelita Harapan Jakarta. Hal ini menjadi kebanggaan bagi dirinya. Ia pun meresponi kasih dan kebaikan Tuhan kepada keluarganya dengan setia menjadi pelayan di gereja sebagai pengurus unit. Nilai pengorbanan begitu kuat tercermin dari sikap perempuan papalele tersebut. Nilai yang sama ini pun tergambar pada cara pandang baru dari Yusuf terhadap peristiwa dirinya dijual oleh saudaa­ saudaranya ke tanah Mesir. Yusuf mengatakan bahwa “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah..” Yusuf sungguh-sungguh memaknai perannya dalam rencana Allah untuk keselamatan keluarganya dan seluruh bangsa Israel. Karena itu, selain mengorbankan dirinya, Yusuf juga menyerahkan hidupnya dan mengandalkan Tuhan demi membela dan merawat kehidupan keluarganya. Seperti Yusuf, kehidupan kita sebagai orang Kristen haruslah juga demikian.

doa : Tuhan pakailah kami untuk mau berkorban demi membela dan merawat kehidupan keluarga, amin

Jumat, 15 Juni 2018

bacaan : Kejadian 43 : 24-34

24 Setelah orang itu membawa mereka ke dalam rumah Yusuf, diberikannyalah air, supaya mereka membasuh kaki; juga keledai mereka diberinya makan. 25 Sesudah itu mereka menyiapkan persembahannya menantikan Yusuf datang pada waktu tengah hari, sebab mereka telah mendengar, bahwa mereka akan makan di situ. 26 Ketika Yusuf telah pulang, mereka membawa persembahan yang ada pada mereka itu kepada Yusuf di dalam rumah, lalu sujud kepadanya sampai ke tanah. 27 Sesudah itu ia bertanya kepada mereka apakah mereka selamat; lagi katanya: “Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?” 28 Jawab mereka: “Hambamu, ayah kami, ada selamat; ia masih hidup.” Sesudah itu berlututlah mereka dan sujud. 29 Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia, lalu katanya: “Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?” Lagi katanya: “Allah kiranya memberikan kasih karunia kepadamu, anakku!” 30 Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ. 31 Sesudah itu dibasuhnyalah mukanya dan ia tampil ke luar. Ia menahan hatinya dan berkata: “Hidangkanlah makanan.” 32 Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir. 33 Saudara-saudaranya itu duduk di depan Yusuf, dari yang sulung sampai yang bungsu, sehingga mereka berpandang-pandangan dengan heran. 34 Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak dari pada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia.

Hidop orang Basudara

Lihatlah di beberapa ruas jalan kota ini pada waktu larut malam. Sebagian anak-anak kita masih keluyuran begadang bahkan melakukan balap liar. Apakah orang tua dari anak-anak ini tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka diluar rumah? Apakah orang tua dari anak-anak ini sementara tidur nyenyak?” ujar seorang ibu dalam kegiatan penelahaan Alkitab di ibadah unit. Realitas ini memperlihatkan bahwa tidak adanya tanggung jawab orang tua untuk memperhatikan dan membina anak-anak mereka. Sikap orang tua yang demikian juga menggambarkan kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak. Hal mana tentunya berdampak pada pembentukan karakter anak. Anak bertumbuh sebagai pribadi yang pendiam dan tidak peduli pada orang tua serta orang lain. Akibatnya, relasi antara orang tua dan anak atau relasi antar anggota keluarga menjadi kurang harmonis. Tindakan Yusuf yang berupaya untuk membangun komunikasi dengan saudara-saudaranya, sekalipun mereka pernah menyakiti dia, dengan menanyakan keadaan ayahnya dan adiknya: Benyamin, merupakan cara yang benar sebagai orang beriman dalam memaknai arti keluarga. Yusuf tidak mementingkan dirinya sendiri atau marah kepada saudara-saudaranya karena perbuatan mereka, sebaliknya kesempatan bertemu dengan saudara-saudaranya menjadi sarana baginya untuk mempererat hubungan persaudaraan yang saling memperhatikan dan mendukung. Dengan demikian, Yusuf menjadi patron atau pola bagi kita dalam tanggung jawab untuk membela dan merawat keluarga demi kemanusiaan yang bermutu.

doa : Ajarlah kami Tuhan untuk hidup saling memperhatikan sebagai keluarga dan hidup orang basudara, amin

Sabtu, 16 Juni 2018

bacaan : Kejadian 45 : 9-15

9 Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. 10 Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu. 11 Di sanalah aku memelihara engkau–sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi–supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. 12 Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. 13 Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa bapa ke mari.” 14 Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf. 15 Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia.

Kekuatan Cinta Untuk Keluarga

Seorang lelaki muda bercelana pendek selutut berjalan keluar dari pintu kamar salah satu ruangan anak di RSU Ambon. Wajahnya terlihat lelah dan tampilannya sedikit kacau. Sudah dua minggu lelaki 43 tahun ini menginap di rumah sakit untuk menjaga anaknya yang baru lahir dan harus ditangani medis di ruang inkubator. Katanya lirih, “beta akan biking apa saja, yang penting beta anak bisa sehat, Tuhan tolong beta jua”. Ungkapan yang menggugah hati ini memperlihatkan begitu kuatnya cinta kasih seorang ayah kepada anaknya. Cinta kasih ini telah memberi kekuatan untuk lelaki muda tersebut berjuang demi kesembuhan dan kehidupan anaknya. Cinta kasih seperti ini kita temukan juga dalam diri Yusuf kepada ayahnya. Yusuf memperlihatkan kepada kita bahwa bukan hanya ayah atau orang tua yang bisa melakukan segala-galanya untuk kebaikan anaknya, tapi juga anak dapat melakukan apa saja untuk kebaikan orang tua. Yusuf meminta saudara-saudaranya untuk menyampaikan kepada ayahnya tentang keberadaan diri Yusuf di Mesir dan tentang keinginannya untuk menjamin kehidupan ayahnya serta seluruh keluarganya. Perhatian dan kepedulian Yusuf kepada ayah dan keluarganya tanpa meminta persetujuan Firaun lebih dulu membuktikan cinta kasih yang tulus dan murni, bahkan mampu menghadapi segala konsekuensi demi kehidupan keluarganya. Nilai-nilai yang dimiliki oleh Yusuf ini sudah mulai menurun dalam kehidupan keluarga kita sekarang ini. Masing-masing anggota keluarga pun cenderung memikirkan dirinya sendiri, sehingga berakibat pada kurang harmonisnya hubungan keluarga. Karena itu, marilah kita belajar dari sikap Yusuf! Dengan kekuatan cinta kita dapat merawat kehidupan keluarga kita

doa : Tuntunlah kami dengan Roh-Mu yang penuh cinta kasih, supaya kami sungguh-sungguh menyayangi keluarga kami. Amin

 

*Sumber : Santapan Harian Keluarga, Penerbit LPJ – GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *