fbpx

Santapan Harian Keluarga, 1 – 7 Juli 2018

[ jemaatgpmsilo.org – Ambon ]

Minggu, 1 Juli 2018

bacaan : Ibrani 2 : 5 -18 & Matius 14 : 13 – 21

Yesus seketika lebih rendah dari pada malaikat-malaikat

5 Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. 6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, 8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya.” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. 9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. 10 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. 11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, 12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,” 13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.” 14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. 16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. 17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. 18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Matius 14 : 13-21

Yesus memberi makan lima ribu orang

13 Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. 14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. 15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” 16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” 17 Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” 18 Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.” 19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. 21 Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Hidup yang Peduli dengan Sesama

“Belas kasihan” inilah yang menggerakkan Yesus untuk selalu peduli dengan persoalan-persoalan hidup manusia, yang juga mesti menjadi karakter hidup orang Kristen. Yesus telah memberi teladan yang baik bagi kita. Saat Yesus menjalani hidup di bumi Dia juga mengalami masalah. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa menjadi pengikut Kristus berarti bebas dari masalah. Tapi ingat, Yesus tahu bagaimana rasanya hidup manusia di bumi. Dia memahami pergumulan kita dan sanggup memberikan apa yang kita butuhkan. Ia telah mengalami penderitaan yang hebat sampai mati disalib. Sebenarnya Dia bisa saja menghindar dari salib, tetapi tidak, Dia tetap taat melakukan kehendak Bapa. Melalui kematian-Nya, kuasa iblis dipatahkan dan membebaskan kita dari ketakutan (lbr.2: 14-15). Jadi dalam menghadapi setiap cobaan hidup, kita tidak boleh takut sebab Yesus senantiasa menyertai kita dengan kasihNya, memberikan kita kekuatan, dan harapan. Ketika Yesus bersama murid-murid, ada masalah, yaitu tidak cukup persediaan makanan untuk 5000 orang, yang ada hanya lima roti dan dua ikan (Mat.14: 17). Secara akal hal itu sangat mustahil. Karena itu, dengan berbagai alasan murid-murid hendak lari dari masalah itu dengan meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak pergi saat Yesus ingin menolong mereka. Apa yang dikatakan Yesus: ‘Kamu harus memberi mereka makan”. Yesus mengingatkan para murid akan tanggungjawab mereka untuk melayani orang banyak. Begitupun kita, sebagai keluarga Kristen diutus dengan tanggungjawab yang sama. Adakah belas kasihan kita masih terasa saat melihat sesama yang membutuhkan uluran tangan kita? Siapkah, kita meninggalkan rasa nyaman demi meneladani kasih Kristus yang adalah sumber dan pusat hidup segala perbuatan baik kita?

doa : Trimas kasih Yesus, untuk penyertaan-Mu yang penuh Kasih. Kiranya keluarga kami mengalami kehadiran-Mu, amin

Senin, 2 Juli 2018

bacaan : Mazmur 133 : 1-3

Persaudaraan yang rukun
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! 2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. 3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Hidup Rukun mendatangkan Berkat

Realita sosial yang sering terlihat, ada begitu banyak konflik, bahkan juga terjadi dalam keluarga, orang suka bertengkar, saling menyindir satu dengan yang lain. Di zaman OLD, jika anak­-anak bertengkar, orang tua akan berkata “Jangan bertengkar, malu kalau dilihat orang Kristen bertengkar.” Tapi di zaman NOW, kalau ada anak-anak bertengkar, orang tua akan berkata “Jangan bertengkar! Memalukan! Seperti bukan orang Kristen saja. Dalam bacaan hari ini, kerukunan dipandang sebagai kunci hadirnya kedamaian dalam hidup bersama, bahkan sebagai sumber berkat. Di tengah situasi yang sering muncul konflik, entah itu dalam keluarga, jemaat dan masyarakat, sebagai keluarga Kristen, kita dituntut memerankan karakter hidup rukun dan damai dengan setiap orang yang kita jumpai. Hati yang selalu penuh dengan roh kerukunan akan membuahkan hasil kerukunan pada keluarga dan dengan sendirinya akan berpengaruh dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Dengan hidup rukun, masing-masing orang akan memiliki hubungan yang dekat satu sama lain, bisa bekerja sama dan saling tolong menolong sehingga tidak ada ‘gap’. Ada pepatah mengatakan: ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Pepatah ini menggambarkan bahwa ada dampak yang luar biasa, ada kuasa, berkat dan sesuatu yang bermakna apabila ada persatuan yang rukun di antara kita. Maukah kita menjadikan keluarga kita selalu hidup dalam kerukunan dan kedamaian? lngatlah, kerukunan dan kedamaian keluarga kita akan menjadi kesaksian yang baik dan menyata bagi orang lain dalam jemaat dan masyarakat di mana pun kita berada sehingga Tuhan dimuliakan.

doa : Tuhan tolonglah keluarga kami agar bisa hidup rukun dan damai juga dengan sesama. Jadikan kami pembawa damai sejahtera-Mu, amin.

Selasa, 3 Juli 2018

bacaan : Matius 5 : 43-48

43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Berbuatlah yang Baik dan Benar

”Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang membenci kamu”. Perintah Yesus ini kedengarannya mudah tapi sulit untuk dilakukan. Bagaimana orang yang telah menyakiti dan membuat jahat terhadap kita harus dikasihi dan didoakan? Namun, di sinilah inti ajaran Yesus yang hendak mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik dan benar dihadapan­-Nya. Sebab, saat dimana kita mengasihi sesama kita, itu adalah perbuatan yang baik, namun jika kemudian membenci musuh kita itu perbuatan yang tidak benar dihadapan-Nya. Yesus ingin agar kita bisa mengasihi secara sempurna, sama seperti Bapa yang telah mengasihi kita dengan sangat sempurna. Dia memberikan matahari dan hujan tidak hanya untuk orang benar tapi juga orang jahat. Demikian pula perbuatan baik kita hendaknya terarah kepada semua orang entah mereka baik atau jahat. Sebab kalau kita hanya berbuat baik kepada oranq yang berbuat baik kepada kita, maka tidak ada nilai lebihnya karena orang yang tidak beragama pun berbuat demikian. Hal itu yang diinginkan Yesus untuk kita perbuat karena kita adalah muridNya. Kita tidak boleh membeda-bedakan sesama dalam hal kasih. Kasih itu bersifat unifersal, tidak hanya untuk orang tertentu, kelompok tertentu, apalagi untuk diri kita sendiri. Tuhan mengasihi setiap orang tanpa kecuali, Ia menginginkan kita untuk melakukan hal yang sama. Mengasihi dan mendoakan musuh pasti memberi rasa damai di hati sambil percaya bahwa Allah akan turut bekerja mengubah dan memulihkan dirinya. Persoalannya adalah, bagaimana kita bisa mengampuni, mengasihi bahkan mendoakan musuh kita? Ingatlah selalu bahwa kasih itu memaafkan, mengampuni, murah hati dll. Sadarlah, bahwa kitapun juga berdosa dihadapan Tuhan, namun Ia senantiasa mengasihi kita, pantaskah kita membalas kasihNya dengan membenci sesama?

doa : Tuhan tumbuhkan kasih-Mu selalu dalam diri keluarga kami, sehingga kamipun mengasihi-Mu dan sesama kami, amin

Rabu, 4 Juli 2018

bacaan : Imamat 19 : 32-34

32 Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

Kasihilah Sesamamu Seperti Dirimu Sendiri

Ketika orang masih merasa asing pada sebuah lingkungan, kita seharusnya mengulurkan tangan menyambut dan membuat mereka merasa nyaman dan diterima Musa dalam momen penting mengingatkan umat Israel untuk tidak menindas, melainkan harus mengasihi orang asing karena mereka pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing di Mesir. Dalam lmamat 19:33-34, tertulis: “Apabila seorang tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir, Akulah Tuhan, Allahmu”. Ini memang peraturan di Israel mengenai kekudusan hidup khusus terkait dengan hal hidup dalam kasih. Peraturan ini mengharuskan umat Israel untuk mengasihi dan memperlakukan orang asing sarna seperti yang dibuat mereka terhadap diri sendiri. lni juga yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid dan kita sekarang ini untuk harus mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri, termasuk kepada orang asing. Hindari bentuk-bentuk diskriminatif, eksploitatif, dan pemikiran bahwa kita lebih dari mereka hanya karena mereka masih merupakan orang asing dalam lingkungan kita. Sebagaimana Yesus mengasihi kita dengan sempurna, seperti itu pula kita harus mengasihi sesama orang lain, termasuk orang asing (bd. Efs. 5:2). Tuhan ingin anak­ anakNya tampil beda, tidak serupa dengan dunia ini, sambil kita tetap berkomitmen melakukan apa yang baik dan berkenan bagi Allah. Maka, ketika ada orang asing atau pendatang baru yang masuk kedalam kehidupan kita, mungkin juga ada pembantu di rumah kita sapalah mereka dengan penuh kasih, ucapkan selamat datang dan bantulah mereka untuk bisa merasa nyaman.

doa : Tuhan ajarilah keluarga kami agar tidak menindas, tetapi mengasihi orang lain, amin

Kamis, 5 Juli 2018

bacaan : Kejadian 27 : 41-46

Yakub lari ke Mesopotamia

41 Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: “Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.” 42 Ketika diberitahukan perkataan Esau, anak sulungnya itu kepada Ribka, maka disuruhnyalah memanggil Yakub, anak bungsunya, lalu berkata kepadanya: “Esau, kakakmu, bermaksud membalas dendam membunuh engkau. 43 Jadi sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku, bersiaplah engkau dan larilah kepada Laban, saudaraku, ke Haran, 44 dan tinggallah padanya beberapa waktu lamanya, sampai kegeraman 45 dan kemarahan kakakmu itu surut dari padamu, dan ia lupa apa yang telah engkau perbuat kepadanya; kemudian aku akan menyuruh orang menjemput engkau dari situ. Mengapa aku akan kehilangan kamu berdua pada satu hari juga?” 46 Kemudian Ribka berkata kepada Ishak: “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?”

Dendam adalah persembahan yang Menyenangkan Iblis.!

Bukan hal yang aneh kalau adik dan kakak berantem. Dari hal yang sepele, mereka bisa saling membunuh dan mereka lupa bahwa mereka dilahirkan dari rahim yang sama. Tetapi api dendam itu sepertinya tidak bisa dipadamkan lagi. Apakah kita sedang menghadapi kasus yang sama dengan Esau dan Yakub : saling bertikai di antara sesama keluarga? Melalui renungan ini Allah merindukan adanya perdamaian dan jabat tangan yang erat antara orang bersaudara. Kalau api dendam itu masih membakar hati kita, selama itu pula kita tidak dipenuhi dengan damai sejahtera. Padahal Yesus sendiri berkata, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau ” (Mat.5:23, 24). Tuhan Yesus memberikan peringatan serius akan kebencian yang masih tersimpan di dalam hati. Setiap persembahan yang diberikan kepada Allah namun masih menyimpan bara api dendam, maka persembahan itu tidak berkenan kepada Allah. Persembahan itu menjadi persembahan yang cacat. Begitu seriuskah sampai­ sampai ada istilah “persembahan cacat”. Ya! Selama ini kita kehilangan berkat yang seharusnya menjadi milik kita, namun kebencian dalam hati kita telah meleburkan berkat itu menjadi abu yang tiada berguna. Hidup dalam perdamaian dengan semua orang itu sungguh nikmat. Kita bisa tidur dengan nyenyak, bisa makan dengan nikmat, dan apa saja yang dilakukan akan menyebabkan rasa tenteram, sebab hidup penuh dengan kasih. Persoalannya, bukanlah beratnya kesalahan saudara kita, tetapi maukah kita mengampuninya? Selebihnya Roh Kudus yang akan mengambil alih.

doa : Tuhan kami mau hidup saling mengampuni, namun berikan kami kekuatan untuk melakukannya, amin

Jumat, 6 Juli 2018

bacaan : Kejadian 33 : 1-14

Yakub berbaik kembali dengan Esau

Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. 2 Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. 3 Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. 4 Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. 5 Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: “Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?” Jawab Yakub: “Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini.” 6 Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud. 7 Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud. 8 Berkatalah Esau: “Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?” Jawabnya: “Untuk mendapat kasih tuanku.” 9 Tetapi kata Esau: “Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu.” 10 Tetapi kata Yakub: “Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku. 11 Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya.” Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya. 12 Kata Esau: “Baiklah kita berangkat berjalan terus; aku akan menyertai engkau.” 13 Tetapi Yakub berkata kepadanya: “Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati. 14 Biarlah kiranya tuanku berjalan lebih dahulu dari hambamu ini dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir.”

Saling Memandang dan Memancarkan Wajah Tuhan

Perseteruan dan dendam telah mengakibatkan Yakub sungguh sangat takut berjumpa dengan Esau. Hal tersebut membuatnya merasa tidak tenang. Memang, pertentangan dan pertikaian yang terjadi sering membuat hidup menjadi tidak tenang dan tidak adanya damai. Dan kalau masing-masing pihak hanya mementingkan kepentingannya saja sehingga tidak diatasi dengan cepat, maka akan sulit terselesaikan. Namun hubungan persaudaraan apapun dan bagaimanapun keadaannya, satu kali kelak, pasti ada pemulihan. Dan itu juga terjadi pada hubungan persaudaraan Yakub dan Esau yang tadi-tadinya bertikai namun pada akhimya terjadi perdamaian. Bagaimana bisa terjadi? Pertama, ayat 1, Yakub melayangkan pandangannya ke Esau, dan Esau berlari mendapatkan Yakub (ay. 4). Proses perdamaian sulit terwujud kalau saling “membuang muka” dan tidak lagi berusaha menjumpai. Kedua, Yakub memandang wajah Esau terasa baginya melihat wajah Allah. Yakub tidak melihat wajah yang menyeramkan, penuh kebencian dan nafsu membunuh, namun justru ia melihat wajah Allah yang memberi damai sejahtera (bd. Bilangan 6:25-26). Dari kisah hubungan dua bersaudara ini, keluarga kita mendapat pesan rohani; pertama, jika terjadi konflik dalam hubungan hubungan persaudaraan adik dan kakak, maka kita harus berusaha untuk saling menjumpai sehingga terjadi rekonsiliasi. Kedua, kita berusaha dalam memandang wajah adik atau kaka kita atau pun anggota keluarga yang lain adalah seperti kita memandang wajah Tuhan, sekaligus saling memancarkan wajah Tuhan bagi yang lain sehingga ada sukacita dan damai sejahtera nampak dalam hidup persaudaraan yang sejati.

doa : mampukan kami ya Tuhan, agar masing-masing anggota keluarga kami dapat memancarkan wajah Tuhan yang memberi damai itu, amin

Sabtu, 7 Juli 2018

bacaan : Kejadian 33 : 15-20

15 Lalu kata Esau: “Kalau begitu, baiklah kutinggalkan padamu beberapa orang dari pengiringku.” Tetapi Yakub berkata: “Tidak usah demikian! Biarlah aku mendapat kasih tuanku saja.” 16 Jadi pulanglah Esau pada hari itu berjalan ke Seir. 17 Tetapi Yakub berangkat ke Sukot, lalu mendirikan rumah, dan untuk ternaknya dibuatnya gubuk-gubuk. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Sukot. 18 Dalam perjalanannya dari Padan-Aram sampailah Yakub dengan selamat ke Sikhem, di tanah Kanaan, lalu ia berkemah di sebelah timur kota itu. 19 Kemudian dibelinyalah dari anak-anak Hemor, bapa Sikhem, sebidang tanah, tempat ia memasang kemahnya, dengan harga seratus kesita. 20 Ia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: “Allah Israel ialah Allah.”

 

Cara Yang Efektif dan Terhormat untuk Membalas Dendam adalah Dengan Mengampuni

Bisakah kita bertindak seperti Esau, melupakan perselisihan kita dengan saudara kita, baik saudara kandung maupun saudara seiman? Tentu sulit bagi Esau melupakan begitu saja peristiwa pahit itu. Tetapi, tampaknya Esau belajar memahami kesalahannya. Ia belajar bahwa menyimpan dendam dan kebencian justru akan memberikan dampak buruk baginya. Esau pun belajar mengampuni! Dan, menurut saya, Tuhan menghargai tindakannya, yang bersedia berjalan menurut firmanNya. Kita mungkin punya pengalaman sama seperti Esau. Kita melakukan kesalahan, ditipu dan dikhianati, bahkan oleh orang yang terdekat dengan kita. Jujur, ada perasaan marah, bahkan dendam. Tetapi, Roh Kudus menghendaki kita membereskan hati dan mengampuni. Tidak mudah dan perlu proses panjang. Tetapi, kita perlu melakukannya! Kita dapat belajar dari Esau. Tuhan-tahun sakit hatinya telah diganti Tuhan dengan tangis sukacita kemenangan saat ia melepaskan pengampunan untuk Yakub. Pengampunan bukanlah suatu kasus lupa ingatan yang dapat menghapus luka masa lalu dengan sekejap. Sebaliknya, pengampunan adalah proses penyembuhan dengan mengeluarkan  racun dari luka hati tersebut. Dengan demikian, hati kita pun dibebaskan dan dipulihkan. Walau tidak mudah melupakan sakit hati, tapi berusahalah dan biarlah Tuhan memulihkan perasaan hati kita sesuai berjalannya waktu. Jangan kita katakanan “saya bukan orang sempurna. Saya bukan orang-orang kudus seperti dalam Alkitab.” Kuncinya adalah “mau atau tidak kita berubah’? Biarlah Tuhan melalui waktu merubah kita menjadi orang yang lebih baik.

doa : Ya Tuhan, kuasailah hati kami agar selalutersedia pengampunan bagi saudara atau sesama kami. Amin.

 

*sumber : SHK LPJ-GPM bulan Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *