Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Agustus 2018
jemaatgpmsilo.org – AMBON
Minggu, 12 Agustus 2018
bacaan : Nehemia 2 : 11-20
Tekad untuk membangun kembali tembok Yerusalem
11 Maka tibalah aku di Yerusalem. Sesudah tiga hari aku di sana, 12 bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapapun rencana yang akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Allahku dalam hatiku. Juga tak ada lain binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi. 13 Demikian pada malam hari aku keluar melalui pintu gerbang Lebak, ke jurusan mata air Ular Naga dan pintu gerbang Sampah. Aku menyelidiki dengan seksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api. 14 Lalu aku meneruskan perjalananku ke pintu gerbang Mata Air dan ke kolam Raja. Karena binatang yang kutunggangi tidak dapat lalu di tempat itu, 15 aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki dengan seksama tembok itu. Kemudian aku kembali, lalu masuk melalui pintu gerbang Lebak. Demikianlah aku pulang. 16 Para penguasa tidak tahu ke mana aku telah pergi dan apa yang telah kulakukan, karena sampai kini aku belum memberitahukan apa-apa kepada orang Yahudi, baik kepada para imam, maupun kepada para pemuka, kepada para penguasa dan para petugas lainnya. 17 Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” 18 Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. 19 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mendengar itu, mereka mengolok-olokkan dan menghina kami. Kata mereka: “Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak terhadap raja?” 20 Aku menjawab mereka, kataku: “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!”
Semangat x Harapan + Perlindungan Allah = … ???
Karena tragedi kemanusiaan yang melanda Maluku termasuk daerah Kei pada 1999, kurang lebih satu tahun orang Elaar Lamagorang berada di pengungsian. Saat mereka menyampaikan keingingan untuk pulang ke kampung asal yang sudah menjadi puing, ada rasa kuatir dari banyak pihak, termasuk pimpinan Gereja di Klasis Kei kecil maupun Muspida Maluku Tenggara pada waktu itu (tahun 2000). Apalagi kondisi di kota Ambon dan sekitar masih “panas”. Namun tekad untuk pulang dan membangun kembali kampung mereka sangat kuat dan tidak dapat dibendung. Akhirnya setelah tim yang terdiri dari Majelis Jemaat, perangkat desa dan tua-tua adat yang dikawal aparat melakukan survei dan ada keyakinan bahwa bersama Tuhan mereka “aman” untuk “membangun kembali” negeri Elaar. Maka pada tanggal 04 April 2000, masyarakat Elaar Lamagorang “pulang kampung” dan menjadi pengungsi pertama yang kembali. Dari atas “tungku” mimbar gereja yang sudah menjadi puing, penguatan, semangat, dan harapan diberikan kepada umat pada hari itu dengan mengacu pada perikop Nehemia 2 ini. Saudara, menyatukan diri dengan umat dalam pergumulan dan berjuang bersama adalah hal yang dilakukan para pemimpin umat Elaar. Bukan cuma itu, iman umat juga dikobarkan dan mereka diyakinkan bahwa kemurahan Allah yang telah menolong mereka dari tangan perusuh dan menopang mereka selama berada di pengungsian akan terus menyertai mereka untuk membangun kembah kehidupan yang bermartabat di negeri sendiri. Semangat, harapan dan perlindungan Allah menjadi kunci untuk mencapai semua itu. Untuk menjadi pemimpin yang berhasil, belajarlah dari pengalaman Nehemia dan israel, juga umat di Elaar Lamagorang.
doa : mampukan kami tuk selalu mempunyai semangat dan harapan !!
Senin, 13 Agustus 2018
bacaan : Yesaya 16 : 1-5
Mereka mengirim anak domba kepada pemerintah negeri, dari Sela melalui padang gurun ke gunung puteri Sion. 2 Seperti burung yang lari terbang, dan isi sarang yang diusir, demikianlah anak-anak perempuan Moab di tempat-tempat penyeberangan sungai Arnon. 3 “Berilah nasihat, pertahankanlah hak, jadilah naungan yang teduh di waktu rembang tengah hari; sembunyikanlah orang-orang yang terbuang, janganlah khianati orang-orang pelarian! 4 Biarkanlah orang-orang yang terbuang dari Moab menumpang padamu, jadilah tempat persembunyian baginya terhadap si pembinasa! Apabila penggagahan sudah berakhir, pembinasaan sudah lewat dan orang lalim sudah habis lenyap dari negeri, 5 maka suatu takhta akan ditegakkan dalam kasih setia dan di atasnya, dalam kemah Daud, akan duduk senantiasa seorang hakim yang menegakkan keadilan, dan yang segera melakukan kebenaran.”
Pertolongan Datang Bukan Karena Upeti
Seorang ibu memberi kesaksian tentang petaka yang melanda keluarganya saat tragedi kemanusian di kota T, Waktu itu mereka memakai jasa aparat untuk mengantarkan mereka ke pelabuhan, agar dapat naik kapal yang akan berangkat ke kota A. Namun ketika sampai di dermaga, aparat yang hanya 2 orang tak mampu menghalau perusuh yang jumlahnya sangat banyak sehingga mereka disuruh berbalik arah untuk pulang. Namun baru, beberapa meter, mobil mereka diserbu dan mereka dipaksa keluar, lalu laki-laki dewasa yang ada di mobil itu dibantai sementara perempuan dan anak-anak dimasukan ke mesjid. Ada keingingan dari perusuh agar mereka juga dibantai, namun seorang tua yang ada di situ menyembunyikan mereka pada satu bilik di mesjid sampai mereka dijemput aparat dalam jumlah yang lebih banyak. Menurut sang ibu, saat itu ia berdoa, sekalipun hanya dalam hati tanpa henti kepada Allah dan ia sangat yakin bahwa Tuhanlah yang telah menggugah hati sang orang tua untuk menolong dia dan anaknya. Saudaraku, Bangsa Moab mencoba menawarkan upeti agar mendapat perlindungan dari Israel. Namun Israel memberi syarat bahwa mereka harus tunduk kepada kedaulatan Allah lsrael, karena pertolongan hanya bisa datang dari Allah. Saat mengalami masalah, banyak di antara kita yang mencoba untuk mendapatkan jalan keluar dengan memberi “upeti” kepada orang yang dianggap dapat menolong. Kadang kita juga mencoba memberi upeti kepada Tuhan dengan sumbangan yang besar ke Gereja. Namun bukan itu yang Tuhan minta, Ia akan memberikan perlindungan dan menolong setiap orang yang tunduk pada kedaulatan-Nya. Yang mau bertobat dan melakukan kehendaknya.
doa : Tuhan, ajar kami untuk selalu tunduk pada Kedaulatan-Mu. Amin
Selasa, 14 Agustus 2018
bacaan : Mazmur 101 : 1-5
Mazmur Daud. Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN. 2 Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. 3 Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku. 4 Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku, kejahatan aku tidak mau tahu. 5 Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya, dia akan kubinasakan. Orang yang sombong dan tinggi hati, aku tidak suka.
Jangan Cuma Tekad, tapi Lakukan..!!
Waktu dilantik jadi kepala Unit pada sebuah instansi. Jere menyampaikan tekad untuk melakukan tugasnya dengan baik. Dalam pidatonya ia berkata bahwa ia akan membuat program yang bisa memajukan instansi yang ia pimpin. Ia akan membangun kerja sama dengan berbagai pihak, baik yang di atas maupun yang di bawah kepemimpinannya agar semua program yang dirancangkan bisa diterima dan “gol”. Pendeta Yeri yang mendampingi Jere pada saat pengambilan sumpah, diminta untuk berdoa dalam acara pelantikan itu. Dalam doanya Pdt Yeri meminta kepada Tuhan supaya memampukan Jere agar semua yang sudah diungkapkan dalam pidatonya itu dapat dikerjakan sehingga tidak hanya menjadi tekad semata. .. Saudaraku! Bacaan kita hari ini juga mengungkapkan bahwa dengan semangat dan keinginan yang menggebu. Daud bertekad untuk hidup benar di hadapan Tuhan dengan cara: Menghindari perkara-perkara yang jahat menghindari para pemfitnah dan tidak sombong. Di sisi lain Daud sadar bahwa tidak gampang mewujudkan tekadnya ini, karena itu ia sangat mengharapkan pertolongan Tuhan untuk membantu dia melakukan tekadnya itu. Saudaraku, seringkali kita juga mengungkapkan tekad kita untuk melakukan ini dan itu. Baik yang terucap maupun hanya terkandung dalam hati dan itu dilakukan saat kita baru memulai sebuah jabatan, atau saat beralih tahun, atau bulan dan sebagainya. Tapi jangan lupa menyertakan Tuhan dalam setiap tekad kita itu, karena hanya dengan pertolongan-Nya kita mampu mewujudkan tekad itu.
doa : Tuhan kami punya tekad untuk melakukan yang baik dalam hidup ini, namun tak mampu berbuat apapun tanpa pertolonganMu ya Tuhan, amin
Rabu, 15 Agustus 2018
bacaan : Mazmur 101 : 6-8
6 Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku. 7 Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku. 8 Setiap pagi akan kubinasakan semua orang fasik di negeri; akan kulenyapkan dari kota TUHAN, semua orang yang melakukan kejahatan.
Basmi Yang Jahat, Belalah yang Baik
Saudaraku, sebagai orang Kristen, kita harus menyadari bahwa dalam batas tertentu kita adalah pemimpin. Setiap kita terpanggil untuk memberikan pelayanan kepada orang lain. Entah orang lain itu adalah keluarga kita, rekan kerja kita, teman kita, ataupun orang yang tidak kita kenal, namun mereka menggunakan jasa kita untuk kebutuhan tertentu mereka. Melayani adalah pekerjaan seorang pemimpin. Karena itu anda dan beta adalah pemimpin. Untuk menjadi pemimpin yang baik, kita belajar pada pemazmur, yang notabene adalah seorang raja. Raja yang menunjukan kepedulian terhadap sikap dan perbuatan orang-orang di sekitarnya. Raja yang menjalankan kepemimpinannya secara berintegritas, sehingga ia akan memilih orang-orang yang bersih kejahatan untuk mendampingi dia dalam pemerintahannya. Sebagai pemimpin yang baik, raja juga bertekad untuk menegakkan keadilan dan kebenaran sehingga segala kefasikan mesti dibasmi dan mereka yang hidup jujur dan benar akan dibela. Sebagaimana pemazmur, hendaknya kita juga tidak kompromi dengan yang jahat, tetapi dengan berani memeranginya, apapun resiko yang akan kita hadapi. Yang jelas tangan Tuhan tetap terulur untuk menopang kita saat kita memerangi kejahatan. Jangan karena kedudukan dan jabatan atau harta, kita tega menindas orang benar dan jujur karena mereka tidak berpihak pada kita. Tapi belalah yang baik agar mereka terus berbuat baik. Dan Tuhan akan bersukacita melihat perbuatan baik kita dan kita semakin diberkati.
doa : Tuhan, tolonglah kami melakukan kehendakMu, untuk membela mereka yang jujur dan benar, amin
Kamis, 16 Agustus 2018
bacaan : I Timotius 4 : 11-16
11 Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. 12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. 13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. 14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. 15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Jaga Hidup Bae-Bae Menjadi Teladan
”Ade-ade, jang cuma bisa bikin kegiatan yang wah-wah, unju diri hebat, tapi dong pung hidop jua musti bisa jaga akang bae-bae. Dong pung tugas jadi garam deng tarang. Itu berarti harus jadi teladan. Mar sampe sakarang beta liat ada saparo ade-ade yang masih suka minom-minom, mabuk lalu bataria tengah tengah malam“, nasihat seorang senior AMGPM sekaligus majelis/pembina fungsional kepada civitas AMGPM ketika memberi sambutan pada perayaan ulang tahun ranting. Penegasan tentang hal menjaga hidup sebagai orang muda juga dinasihati oleh Rasul Paulus kepada Timotius. Paulus menyebut Timotius: Anakku yang sah di dalam iman (1 Tim. 1:2). Timotius dipandang sebagai orang muda yang hidupnya setia pada ajaran Kristus (Bnd. Kis 16:1-3), hal mana telah meneguhkan Paulus untuk memilih dan menugaskan Timotius melayani Jemaat di Efesus. Namun keberadaan Timotius yang masih muda membuat Rasul Paulus merasa perlu untuk tetap menasihatinya. Rasul Paulus mengingatkan Timotius untuk tetap bertekun dalam membaca Kitab Suci karena itu adalah kekuatan dan pengarah bagi jalan hidupnya supaya ia tidak dicemooh karena kemudaannya, dan tugas pelayanan serta pemberitaan yang ia lakukan juga tidak diremehkan atau tidak dipercayai oleh jemaat saat itu. Untuk itu, perkataan atau pengajaran Timotius dan perbuatannya harus mencerminkan integritas pelayan Tuhan dan ia harus menjadi teladan. Teladai (tupos) artinya model, gambar, ideal atau pola dan Timotius bertanggung jawab menjadi model bagi jemaat karena dengan begitu proses membangun jemaat Tuhan yang beriman dan memiliki kualitas spiritualitas pun dapat berwujud. Seperti Timotius, hendaklah orang tua juga menjadi teladan bagi anak-anak supaya kita dapat membangun keluarga bahkan jemaat Tuhan yang bermartabat.
doa : Tuhan Yesus, mampukanlah kami menjadi teladan untuk membangun keluarga yang bermartabat, amin
Jumat, 17 Agustus 2018
bacaan : Nehemia 7 : 1-3 & Yakobus 2 : 10-13
(Nehemia 7 : 1-3)
Tindakan-tindakan untuk melindungi kota
Setelah tembok selesai dibangun, aku memasang pintu-pintu. Lalu diangkatlah penunggu-penunggu pintu gerbang, para penyanyi dan orang-orang Lewi. 2 Pengawasan atas Yerusalem aku serahkan kepada Hanani, saudaraku, dan kepada Hananya, panglima benteng, karena dia seorang yang dapat dipercaya dan yang takut akan Allah lebih dari pada orang-orang lain. 3 Berkatalah aku kepada mereka: “Pintu-pintu gerbang Yerusalem jangan dibuka sampai matahari panas terik. Dan pintu-pintunya harus ditutup dan dipalangi, sementara orang masih bertugas di tempatnya. Tempatkanlah penjaga-penjaga dari antara penduduk Yerusalem, masing-masing pada tempat-tempat penjagaan dan di depan rumahnya.”
(Yakobus 2 : 10-13)
10 Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. 11 Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga. 12 Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang. 13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.
Membangun Bangsa Indonesia di 73 Tahun
Menyebutkan namanya selalu mengingatkan kita pada sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia. Soekarno, Bapak Proklamator, mempunyai anak-anak yang memiliki spirit sama dengannya yakni untuk membangun Indonesia. Guntur Soekarno Putra dan Megawati Soekarno Putri, nama-nama ini tak asing di telinga kita, namun ada satu lagi anak Soekarno yang jarang terdengar, tapi mempunyai segudang prestasi dan peduli untuk membangun Indonesia. Kartika Sari Dewi, anak Soekarno dengan istrinya, Ratna Sari Dewi merupakan salah satu pendiri dari Kartika Sari Foundation. Melalui yayasan inilah, Kartika menyalurkan dana dari seluruh penjuru dunia untuk anak-anak serta pendidikan anak lndooesia. Semangat untuk membangun bangsa atau tempat asal dalam sejarah kembalinya Bangsa Israel dari Babilonia ke Yerusalem, telah ditunjukkan pula oleh Nehemia bagi kita. Tanggung jawab membangun Kota Yerusalem bahkan mefindunginya merupakan penugasan Tuhan kepada Nehemia (2:4), karena itu Nehemia melakukannya dengan sunggh-sungguh sekalipun ia harus berhadapan dengan tantangan bahkan ancaman dibunuh. Ia pun tidak menjalankan tugas tersebut seorang diri, melainkan melibatkan orang lain dengan melakukan pembagian tugas bagi mereka. Hal ini memberi pesan kepada kita bahwa setiap orang di Bangsa tercinta ini bertanggung jawab untuk melakukan pembangunan. Surat Yakobus memperlihatkan kepada kita bahwa tugas pembangunan tersebut harus dilakukan dengan penuh komitmen dan integritas diri. Aspek ketaatan terhadap hukum, peraturan, norma-norma dalam hidup bersama mesti kita lakukan dengan benar. Hari ini, kita memperingati 73 tahun Republik ini memperoleh kemerdekaannya, marilah kita membangun bangsa ini dengan bertanggung jawab.
doa : Berkatilah kami untuk membangun bangsa ini Tuhan, amin
Sabtu, 18 Agustus 2018
bacaan : Kejadian 6 : 9-22
Riwayat Nuh
9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. 10 Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. 11 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. 12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. 13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. 14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. 15 Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. 16 Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas. 17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. 18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. 19 Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. 20 Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. 21 Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.” 22 Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.
Membangun Masa Depan Baru
Hari ini, 73 tahun, 1 (satu) hari usia kemerdekaan Bangsa Indonesia, dan saya ingin menyebutnya sebagai suatu masa depan baru bangsa ini. Masa yang mana saya yakin bahwa kemajuan, keamanan, kedamaian dan kesejahteraan bangsa ini akan lebih baik dari waktu sebelumnya. Saya teringat pada pernyataan Bung Karno: Bersamaan dengan kelahiranku, menyisinglah fajar dari suatu hari yang baru dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru. Soekarno melihat dirinya sebagai pembawa keadaan baru bahkan masa depan baru bagi Bangsa Indonesia. Masa depan baru yang dimaksud adalah kemerdekaan Indonesia. Dalam cerita tentang Nuh, masa depan baru juga ditegaskan oleh Tuhan Allah dalam rencanaNya untuk membaharui bumi dari kejahatan dan dosa manusia. Tuhan Allah memulai maksud tersebut dengan menugaskan Nuh membuat bahtera, kemudian memerintahkan Nuh dan keluarganya serta setiap pasang makhluk hidup lainnya masuk ke dalam bahtera. Nuh pun melakukan semuanya itu, tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. Nuh menyatakan ketaatannya kepada Tuhan Allah bukan sekedar ia mendukung tindakan Allah memusnahkan, yang mungkin bisa membuat kita beranggapan bahwa Nuh adalah orang yang tidak berbela rasa dan tidak peduli, tapi sebenarnya ketaatan Nuh menunjukkan dukungannya terhadap rencana Allah untuk membangun kehidupan baru atau masa depan yang lebih baik. Seperti Nuh, kita juga bertanggung jawab untuk membangun masa depan baru sebagai orang-orang beriman. Kita memulainya dari keluarga dengan membangun kehidupan sebagai orang-orang yang membenci kejahatan dan hidup jauh dari tindakan ketidakbenaran.
doa : Tuhan, ajarkan kami untuk hidup taat kepadaMu dan mampu membangun masa depan sebagai orang beriman. Amin
*sumber : SHK LPJ-GPM bulan Agustus 2018

