Santapan Harian Keluarga, 19-25 Agustus 2018

[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 19 Agustus 2018

Bacaan : Yohanes 8 : 30-36

Kebenaran yang memerdekakan

30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. 31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” 33 Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” 34 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

Ulangan 15 : 12-18

Memerdekakan budak Ibrani

12 “Apabila seorang saudaramu menjual dirinya kepadamu, baik seorang laki-laki Ibrani ataupun seorang perempuan Ibrani, maka ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh engkau harus melepaskan dia sebagai orang merdeka. 13 Dan apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, maka janganlah engkau melepaskan dia dengan tangan hampa, 14 engkau harus dengan limpahnya memberi bekal kepadanya dari kambing dombamu, dari tempat pengirikanmu dan dari tempat pemerasanmu, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kauberikan kepadanya. 15 Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu; itulah sebabnya aku memberi perintah itu kepadamu pada hari ini. 16 Tetapi apabila dia berkata kepadamu: Aku tidak mau keluar meninggalkan engkau, karena ia mengasihi engkau dan keluargamu, sebab baik keadaannya padamu, 17 maka engkau harus mengambil sebuah penusuk dan menindik telinganya pada pintu, sehingga ia menjadi budakmu untuk selama-lamanya. Demikian juga kauperbuat kepada budakmu perempuan. 18 Janganlah merasa susah, apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, sebab enam tahun lamanya ia telah bekerja padamu dengan jasa dua kali upah seorang pekerja harian. Maka TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala sesuatu yang kaukerjakan.”

Bebaskan diri dari Perbudakan Modern

MERDEKA…. !!! satu kata yang mengambarkan sebuah suasana yang hidup bebas .. !! Bebas dari perbudakan .. !! Namun walau secara resmi perbudakan itu tidak ada lagi, praktik-praktik perbudakan itu masih ada dalam bentuk lain, yaitu ketika kita merendahkan orang lain, melecehkan orang lain atas dasar perbedaan suku, agama dan status sosial., termasuk praktik bullying dan ujaran kebencian dan hoax. Perbudakan juga bisa terjadi ketika kita berjam-jam asyik dengan diri sendiri dengan smartphone dan media sosial dan lupa pada keluaga, jemaat, kerja dan pelayanan serta jeritan kemanusiaan. Pada sisi lain, kita juga bisa menjadi budak pekerjaan. Kita memang cenderung mencari untung, tidak tega merelakan sesuatu yang sudah dimiliki. Sebab ada banyak kemudahan dan kenyamanan yang kita peroleh darinya. Kita tidak rela melepaskan kelekatan kita kepada materi dan kuasa untuk membuat orang lain bebas atau merdeka. Kita tidak rela berbagi dari apa yang kita miliki, atau kita tidak mau sama sekali kehilangan harta dan hak-hak istimewa kita. Sebab kita bisa menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan kuasa, memperoleh kekayaan dan kenikmatan dan ujung­-ujungnya menyusahkan bahkan memperbudak orang lain. Pengakuan tentang kemerdekaan di dalam Kristus dan juga kemerdekaan sebagai bangsa, mesti berubah menjadi tindakan konkrit yar1g menolong orang lain untuk sama-sama menikmati kesejahteraan dan keadilan. Di dalam Kristus Sang Kebenaran itu kita telah bebas dari dosa, perbudakan, ambisi, egoisme, kemarahan, sakit hati, dendam, dst dan pada saat yang sama kia bebas untuk saling menginspirasi dan memotivasi, saling menyembuhkan dan menumbuhkan, saling menguatkan dan melengkapi serta menghidupkan. Bukan sebaliknya, saling melukai, menjatuhkan dan menggigit apalagi saling mematikan.

doa : Tuhan, tolonglah kami lepas dari perbudakan modern, amin

Senin, 20 Agustus 2018

Bacaan : Mazmur 10 : 12-15

12 Bangkitlah, TUHAN! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah lupakan orang-orang yang tertindas. 13 Mengapa orang fasik menista Allah, sambil berkata dalam hatinya: “Engkau tidak menuntut?” 14 Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong. 15 Patahkanlah lengan orang fasik dan orang jahat, tuntutlah kefasikannya, sampai Engkau tidak menemuinya lagi.

Keluarga adalah Alat Keadilan Tuhan

Sampai saat ini kejahatan semakin merajalela. · Orang-orang fasik bermunculan dan menindas kaum lemah dan umat Allah. Dalam kenyataannya keadilan dikalahkan oleh ketidakadilan, kejujuran dikalahkan oleh ragam penipuan, kasih dikalahkan oleh kebencian dan amarah. Dalam kehidupan ini, seolah tidak ada tempat bagi orang yang jujur dan takut akan Allah. Jika mereka tidak mengkuti arus zaman maka hidupnya akan terlempar ke dalam jurang kesengsaraan, benarkah demikian? Benarkah Allah membiarkan orang fasik dan kelakuannya yang jahat bertindak semena-mena? Dimanakah Allah ketika kejahatan itu semakin meningkat? Allah kita Allah yang berdiam diri melihat kejahatan merajela. Dia adalah Allah yang hidup dan Allah yang bertindak menentang segala bentuk kejahatan. Allah berada di sekitar kita dan memakai kita baik secara langsung ataupun tidak langsung sebagai alat-Nya untuk menegakkan keadilan dan kasih-Nya di muka bumi ini. Sebagai papa, mama dan anak-anak, kita terpanggil untuk membawa keadilan: kedamaian, dan sukacita mulai dari dalam keluarga kita. Kita berperang melawan segala bentuk kefasikan dan kejahatan di muka bumi ini. Sebagai keluarga Kristen, kita dipakai untuk menunjukkan kuasa dan kemuliaan-Nya. Tentu tugas yang kita emban itu sangat berat bahkan mungkin kita menganggap kita tidak berdaya. Namun Allah kita yang hidup itu akan menolong dan meneguhkan kita. Kita harus yakin dan percaya, sama seperti pemazmur bahwa Allah adalah raja yang berkuasa dan sanggup menegakkan keadilan-Nya. Kita juga harus menyadari, bahwa tanpa campur tangan Allah mustahil kita bisa, tapi dengan campur tangan Allah kita pasti bisa melakukannya. Tetaplah berdoa agar Allah tetap memakai keluarga kita menjadi alat-Nya, sebab banyak sekali umat Allah yang tadinya dipakai sebagai alat-Nya justru berbalik menjadi alat dunia.

doa : Ya Tuhan, pakailah keluarga kami menjadi alat Mu, amin

Selasa, 21 Agustus 2018

Bacaan : Mazmur 12 : 1-6

Doa minta tolong terhadap orang yang curang
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud. (12-2) Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia. 2 (12-3) Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. 3 (12-4) Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar, 4 (12-5) dari mereka yang berkata: “Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?” 5 (12-6) Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya

Satu Tindakan dan Doa, Mampu Mengubah Banyak Hal

Zoltan Kubinyi bertanggung jawab menjaga camp pekerja yang otomatis membuatnya mesti berlaku kejam. Namun, setelah tujuh hari bertugas di camp tersebut, ia malah menolak untuk menyiksa para tahanan. Ia bahkan memberi jatah makanan tambahan kepada para tahanan dan mengijinkan mereka merelakan hari libur. Suatu hari, turun perintah untuk membawa seluruh tahanan menuju ke camp “kematian”, namun Zoltan menolak melakukannya. Ia malah membawa rombongan tahanan yang semuanya laki-laki menuju Hongaria. Ia juga membantu para tahanan meloloskan diri dengan cara membuat mabuk tentara Nazi yang berjaga dan kabur saat semua pekerja tak sadarkan diri. Ia kemudian memimpin seluruh tahanan itu menuju sebuah kota di Rusia yang dirasa aman bagi mereka. Sayang, Zoltan kemudian ditangkap dan meninggal dunia di Ziberia. Zoltan berpihak kepada para tahanan, karena ia menyadari bahwa Allah pun berpihak kepada orang yang diperlakukan secara sepihak dan semena-mena. Ia mau menjadi alat di tangan Tuhan, untuk membebaskan para tahanan Nazi yang kejam walaupun ia sadar bahwa taruhannya adalah nyawanya sendiri. Dalam doa pemazmur berteriak minta tolong kepada Tuhan terhadap berbagai kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang jahat yang menindas orang-orang lemah dan miskin. Sadarkah kita bahwa masih banyak orang-orang yang mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dan bisa jadi mereka itu ada disekitar kita. Mereka adalah korban KDRT, kekerasan Anak, pelecehan seksual, para penderita HIV/AIDS, yang miskin dan terlantar. Kita bisa menolong mereka dengan selalu mendoakan keadaan hidup mereka kepada Tuhan sebab doa bisa mengubah situasi yang buruk menjadi baik. Namun lebih dari itu, Tuhan ingin agar kitapun memberi diri untuk menjadi agen yang dapat membebaskan mereka, agar kasih Allah yang menyelamatkan itu dapat mereka nikmati.

doa : inilah hidup kami, jadilah alat di dalam tanganMU, amin

Rabu, 22 Agustus 2018

Bacaan : Mazmur 12 : 7-9

6 (12-7) Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. 7 (12-8) Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini. 8 (12-9) Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia.

Kemurnian Janji Tuhan

Setiap pemilu berlangsung kita pasti mengingat banyak calon-calon yang menyampaikan program-programnya dalam kampanye yang dilakukan. Sering kali mereka menyatakan berbagai janji-janji, yang terkadang terkesan muluk-muluk. Sayangnya, ketika terpilih menduduki jabatannya, banyak dari mereka yang tidak menepati janjinya. Ketika kampanye bilang akan mernberantas korupsi, tetapi akhimya malah terlibat korupsi, dll. Bagi para pejabat seperti itu, seringkali rakyat mengumandangkan potongan syair dari sebuah lagu lama yang berbunyi, “Janji janji … tinggal janji … “. Banyak orang kecewa karena janji-janji palsu. Menurut saya, di dunia ini, hanya janji Tuhan yang 100% pasti digenapi. Kita memiliki Allah yang tidak pernah berdusta! Tetapi mengapa masih ada banyak orang Kristen yang belum mengalami janji Tuhan? Penyebabnya ada dua hal. Pertama, ada orang yang merasa Tuhan pernah berjanji padanya, padahal tidak. Mereka hanya berharap akan sebuah keinginan pribadi yang dianggap sebagai janji Tuhan. Akibatnya, tentu janji itu tidak terpenuhi, akhirnya kecewa, mengganggap Tuhan tidak adil dan meninggalkan-Nya. Kedua, ada juga orang yang yakin akan janji Tuhan, tetapi tidak sabar menunggu waktunya untuk menggenapi janji itu, atau tidak mau bayar harga dan tidak mau memenuhi persyaratan untuk penggenapan janji itu, sesuai firman-Nya. Akhimya menjadi marah dan meninggalkan Tuhan. Kasih Tuhan memang tidak bersyarat tetapi penggenapan janji Tuhan, bersyarat. Adakah janji Tuhan yang belum digenapi dalam hidup kita? Adakah syarat yang belum kita lakukan? Sudahkah kita membayar harganya untuk penggenapan janji itu? Lakukanlah syaratnya dan bayarlah harganya, maka janji Tuhan pasti digenapi dalam hidup kita! Mintalah Roh kudus menghidupkan firman Tuhan sesuai janji-janji-Nya datam Alkitab. Pegang janji-Nya dan nantikan peggenapannya!

doa : Kami percaya kemurnian janjiMU ya Tuhan, amin

Kamis, 23 Agustus 2018

Bacaan : Yesaya 32 : 1-8

Raja yang adil
Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan, 2 dan mereka masing-masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus. 3 Mata orang-orang yang melihat tidak lagi akan tertutup, dan telinga orang-orang yang mendengar akan memperhatikan. 4 Hati orang-orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang-nimbang, dan lidah orang-orang yang gagap akan dapat berbicara jelas. 5 Orang bebal tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur, dan orang penipu tidak akan dikatakan terhormat. 6 Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu bermaksud murtad dan mengatakan yang menyesatkan tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman. 7 Kalau penipu, akal-akalnya adalah jahat, ia merancang perbuatan-perbuatan keji untuk mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta, sekalipun orang miskin itu membela haknya. 8 Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian.

Keadilan Hanya Ada Pada Tuhan

Bentuk kejahatan dan ketidakadilan di muka bumi ini bukanlah cuma produk di jaman millennium atau jaman now ini saja. Namun jauh sebelumnya kejahatan sudah terjadi dimana-mana. Dunia sudah dipenuhi dengan kekerasan, pertikaian penindasan, ketidakadilan. Saat ini uanglah yang berbicara. Dengan uang, orang bisa membeli jabatan, kekuasaan dan keadilan. Dengan uang, orang bisa memberlakukan orang lain dengan semena­-mena, menindas yang lemah dan miskin. Sungguh … tidak ada keadilan yang hakiki di belahan bumi mana pun! Dan mendambakan sebuah kehidupan yang aman, tenteram, damai dan adil di segala sisi, mesti menjadi perjuangan dari semua pihak. Nubuatan nabi Yesaya mengenai Raja adil yang adalah Yesus, yang kedatangan-Nya ke dunia juga sudah diberitahukan sebelumnya (Yes.7:14). Karena Tuhan Yesus adalah Raja yang adil, maka Dia tidak seperti raja-raja atau pemimpin-pemimpin dunia yang seringkali berpihak kepada orang kaya, sedangkan orang miskin ditindasnya habis-habisan. Kita dapat melihatnya dalam Yesaya 11:2-4, yang menggambarkan Tuhan itu sebagai hakim yang adil yang akan menghakimi dan mengadili perbuatan orang-orang yang menindas orang lemah dan tak berdaya dengan kekuasaan yang ada pada mereka. Hal ini tentunya memberikan pengharapan bagi kita bahwa Tuhan adalah naungan dan tempat perteduhan orang-orang miskin, lemah, tak berdaya, rendah, yang diperlakukan semena-mena dan tidak adil. “Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras­ pemeras“· (Maz.72:4).

doa : Ya Tuhan, Engkau tempat perteduhan kami, amin

Jumat, 24 Agustus 2018

Bacaan : Kejadian 50 : 15-21

Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya

15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.” 16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” 19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Belajar dari Pola Pikir Yusuf

piring jua bisa tatoki, picah di meja makan, bukan cuma sakali saja … Sama deng hidop ade kaka, biar laeng marah laeng maar busu-busu orang sudara jua..

Syair refrein dari lagu ini menggambarkan bagaimana situasi hidup orang basudara ade dan kaka. Ya.. , Kehidupan keluarga adalah ibarat piring bahkan bisa juga telur-telur dalam sebuah keranjang. Artinya bahwa yg namanya gesekan, benturan bahkan keretakan adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Dan semua itu dapat menimbulkan sakit hati dan dendam yang mungkin sulit untuk bisa saling memaafkan. Tentu hubungan keluarga yang seperti itu tidak nyaman untuk dijalani. Hal inilah yang terjadi dalam kehidupan keluarga Yakub, khususnya hubungan anak­ anaknya, antara Yusuf dan saudara-saudaranya. Namun Yusuf adalah contoh orang yang mampu mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kita pasti tahu kisah perjalanan hidup Yusuf yang tercatat dalam Alkitab. Yusuf harus melewati perjalanan hidup yang cukup dramatis, penderitaan demi penderitaan harus ia alami sebagai akibat perbuatan jahat yang dilakukan saudara­-saudaranya sendiri. Kalau orang lain yang melakukan kejahatan mungkin kita masih bisa memakluminya, tapi tindakan ini dilakukan oleh saudara kandung Yusuf sendiri. Ini sungguh menyakitkan! Andai kita berada di posisi Yusuf mungkin kita tidak akan menerima hal itu dan akan membalas sakit hati akibat rasa dendam. Namun hal ini tidak dilakukan Yusuf. Ia mampu mengambil sisi positif dari setiap peristiwa kelam yang terjadi di masa lalunya. Yusuf sadar bahwa semua itu adalah bagian dari proses yang diijinkan Tuhan, yang semuanya mendatangkan kebaikan demi kebaikan dalam hidupnya sehingga ia pun dapat berkata, “kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku .. (Kej 50:20). Patutlah setiap keluarga Kristen belajar dari pola pikir Yusuf.

doa : Tuhan, bentuklah pola pikir kami seperti Yusuf, amin

Sabtu, 25 Agustus 2018

Bacaan : Yesaya 33 : 14-16

14 Orang-orang yang berdosa terkejut di Sion orang-orang murtad diliputi kegentaran. Mereka berkata: “Siapakah di antara kita yang dapat tinggal dalam api yang menghabiskan ini? Siapakah di antara kita yang dapat tinggal di perapian yang abadi ini?” 15 Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, 16 dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.

Berkata dan Bertindak Jujur

Dewasa ini kita sering kali diperhadapkan dengan suatu semboyan baru yakni “Orang jujur sulit dicari”. Dengan situasi dan kondisi bangsa dan Negara kita yang sedang “sakit”, sangatlah gampang untuk menemukan berita-berita di mass media (cetak maupun elektronik) tentang rendahnya nilai-nilai moral dan kejujuran serta keluhuran. Berita tentang kriminalitas yang tinggi, korupsi yang merajalela, adalah “makanan rutin” yang selalu terhidang di hadapan kehidupan kita. Lalu apakah sudah sedemikian sulitnya menemukan orang-orang yang memiliki prinsip kebenaran dan budi pekerti yang luhur di negeri ini? Apakah hal ini juga berkembang dalam kehidupan bergereja dan beriman kita? Rasanya terlalu dini untuk kita katakan bahwa kita sudah kehilangan semua ini. Dan inilah yang mau kita perjelas kali ini. Inilah yang hendak kita pertegas bahwa masih belum terlambat untuk keluarga-keluarga Kristen berjalan dalam kebenaran dan memiliki budi pekerti yang luhur. Kita bisa memulainya dari dalam keluarga kita masing-masing. Papa dan mama hendaknya mulai berkata jujur seorang terhadap yang lain dalam segala hal. Dan saya percaya ini akan turut berpengaruh pada anak-anak sehingga mereka juga akan selalu berkata jujur dan tidak menyimpan kebohongan yang pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan mereka. Berkata jujur, apa adanya akan menentukan kualitas didikan yang baik dari kita orang tua ketika anak-anak kita telah beranjak dewasa kelak. Dan dalam segala tanggung jawab yang dipercayakan kepada mereka dikemudian hari, maka akan terbukti ketika mereka mampu melakukannya dengan bukan saja dengan perkataan namun juga dengan perbuatan yang jujur dan benar.

doa : Ya Tuhan, mampukanlah kami sebagai orang tua untuk selalu hidup jujur. Amin

 

*sumber : SHK dari LPJ-GPM bulan Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey