Santapan Harian Keluarga, 2 s.d. 8 September 2018
Minggu, 2 September 2018
bacaan : Amsal 8 : 1-13
Wejangan hikmat
Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya? 2 Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri, 3 di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring: 4 “Hai para pria, kepadamulah aku berseru, kepada anak-anak manusia kutujukan suaraku. 5 Hai orang yang tak berpengalaman, tuntutlah kecerdasan, hai orang bebal, mengertilah dalam hatimu. 6 Dengarlah, karena aku akan mengatakan perkara-perkara yang dalam dan akan membuka bibirku tentang perkara-perkara yang tepat. 7 Karena lidahku mengatakan kebenaran, dan kefasikan adalah kekejian bagi bibirku. 8 Segala perkataan mulutku adalah adil, tidak ada yang belat-belit atau serong. 9 Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan. 10 Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. 11 Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya. 12 Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan. 13 Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.
Hikmat Adalah Harta Yang Tak Ternilai Harganya
Ada ungkapan yang berbunyi begini, “Ilmu pengetahuan adalah kunci pembuka menuju sukses”. Ungkapan ini benar adanya namun pengetahuan tanpa hikmat maka sukses yang diraih takkan sempurna. Dan memang, tidak ada orang sukses yang tidak berhikmat. Hikmat dan pengetahuan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dikejar, dikuasai, dicintai dan dimiliki. Artinya untuk menjadi sukses orang harus belajar dan bekerja keras membanting tulang, memeras keringat dan memeras otak agar apa yang dicita-citakan itu terwujud. Hal ini dialami oleh Anjali, anak seorang pemulung yang menjadi dokter spesialis penyakit kanker. Ketekunannya untuk meraih sukses ini berbuah manis karena diusianya yang ke 27 tahun dia menjadi dokter spesialis kanker dan kini bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta. Anjali yakin, bahwa ilmu dan kepandaian itu hanya bisa dimiliki anak-anak pejabat dan orang kaya saja tetapi dapat dimiliki oleh semua orang yang setia dan bergantung kepada Tuhan dan mau bekerja keras. Dia sadar bahwa ibunya hanya seorang pemulung botol plastik tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Karena itu dia tidak pernah patah semangat untuk meraih cita-citanya. Karena kepasrahannya kepada Tuhan dan kegigihannya menuntut ilmu, maka sekarang ia sukses. Alangkah bahagianya jika dalam pekan pembinaan keluarga ini para orang tua Kristen yang senantiasa hidup dalam takut akan Tuhan membimbing dan memotivasi anak-anaknya untuk mencintai hikmat dan didikan demi masa depan yang indah. Itulah tanggungjawab orangtua sebagai pendidik utama dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai hidup berdasarkan hikmat dan ajaran Tuhan kepada anak-anak sejak dini dan anak-anak wajib menaatinya demi masa depan yang cerah.
Doa: Tuhan, ajarilah kami mencintai hikmat dan didikan. Amin.
Senin, 3 September 2018
bacaan : Amsal 1 : 1-7
Tujuan Amsal ini
Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel, 2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda– 5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan– 6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. 7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.
Permulaan Hikmat Adalah Takut Akan Tuhan
Dalam sebuah ibadah keluarga (binakel) seorang anak bertanya kepada Opa-nya, setelah refleksi firman yang baru saja disampaikan oleh papanya, “Opa, mengapa semakin banyak orang pandai yang melakukan kejahatan“? Mendengar pertanyaan itu sang Opa termenung dan kemudian menjawab, “Ya sebab orang pandai itu belum tentu berhikmat”.Jawaban Opa ini singkat namun punya makna yang dalam. Inilah realita yang kita lihat setiap hari, bahwa banyak orang berilmu tetapi hanya sedikit yang mengamalkan ilmunya itu bagi kebaikan. Orang berhikmat itu adalah orang yang mampu menyatukan kualitas moral dan intelektualnya. Karena itu maka orang yang pandai mestinya mempunyai perilaku hidup yang saleh dan benar. Dan banyak orang yang mengejar kepandaian tetapi kualitas moral dan spiritualnya rendah. Akibatnya mereka mengetahui perbedaan antara yang salah dan benar namun mereka tidak dapat melakukan yang benar itu. Itulah sebabnya mengapa Alkitab senantiasa menekankan bahwa permulaan hikmat itu adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan itu tidak lain daripada menghormati Tuhan dan mengakui kedaulatan-Nya dalam segala bidang hidup. Menurut Alkitab, orang pandai tanpa Tuhan adalah seorang yang bodoh, tetapi orang yang rendah hati dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan dalam melakukan seluruh aktifitasnya adalah orang yang berhikmat. Orang bodoh adalah orang yang congkak, memegahkan diri, merasa tidak bersalah, suka berdebat, tidak dapat diperbaiki. Itulah orang yang tidak takut akan Tuhan. Alangkah indahnya hidup keluarga yang setiap orang tuanya gemar mewariskan nilai-nilai takut akan Tuhan kepada anak-anak mereka sehingga mereka selalu memulai hari-hari mereka dengan menyerahkan hidup dituntun dan dipelihara oleh-Nya.
Doa: Tuhan, berilah kami hati yang selalu taat kepada-Mu. Amin.
Selasa, 4 September 2018
bacaan : Matius 5 : 9
9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Jadilah Pembawa Damai
Ada dua orang muda yang memiliki sifat yang berbeda, mereka adalah Dama dan Dami. Dama senang bercerita dan topik ceritanya selalu berkisar pada kelemahan dan kejelekan orang lain. Dia selalu melihat sisi negatif dari setiap orang dan tidak lupa ia meneruskan kata-kata negatif itu untuk mengadu-domba mereka. Ia akan senang kalau berhasil memprovokasi orang lain dan mereka saling bertengkar. Lain halnya dengan Dami, dia mempunyai kebiasaan yang jauh berbeda dengan Dama. Dia selalu melihat sisi positif dari setiap orang. Kata-katanya seperti aliran air yang menyejukan, ketika ada yang bertikai atau konflik, ia senang mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah mereka. Ia menolong mereka untuk menyadari kesalahan dan saling mengampuni satu dengan yang lain. Disini kita belajar satu hal bahwa menjadi pembawa damai adalah berdamai dengan Allah, berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan orang lain serta menghadirkan damai dimana saja kita berada. Itulah yang mau diungkapkan bacan kita hari ini, ketika Tuhan Yesus katakan: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”. Marilah kita belajar mengendalikan setiap tutur kata bahkan seluruh tingkah laku kita yang menciptakan perselisihan dan perseteruan, sebab Tuhan menghendaki kita untuk menjadi alat pendamaian yang senantiasa memancarkan Damai Kristus melalui tutur kata dan sikap hidup kita.
Doa: Ya Tuhan Yesus, saya rindu menjadi pembawa damai-Mu, agar dimanapun saya berada, semua orang merasa tenang dan damai. Amin.
Rabu, 5 September 2018
bacaan : Matius 5 : 10
10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Kekuatan Serta Penghiburan diberikan Tuhan Padaku
Kita masih ingat kisah dua bocah Evan dan Nathan, yang menjadi korban bom di Gereja Santa Maria Surabaya beberapa waktu lalu. Ketika mereka melangkahkan kaki memasuki gedung gereja tiba-tiba tubuh mereka terpental dan ambruk karena sebuah bom bunuh diri yang mengakhiri kerinduan mereka untuk beribadah bersama kedua orangtua dan teman-teman mereka. Evan dikenal sebagai anak yang baik, rajin dan suka menolong teman-temannya. Nathan juga dikenal sebagai anak yang cerdas, baik hati dan bertanggungjawab. Tidak ada orang yang menyangka bahwa mereka harus mengalami penganiayaan seperti itu. Walaupun demikian, kedua orang tua Evan dan Nathan (Bpk Erry dan Ibu Wenny) tidak marah dan membenci siapapun, bahkan disaat yang sama, mereka juga terkena serpihan bom. Dalam kondisi demikian, mereka menyempatkan diri untuk menghadiri upacara pemakaman meski dengan bantuan alat-alat medis. Dengan jiwa besar mereka mengucapkan doa menyerahkan kedua anak mereka kepada Tuhan dan meminta pengampunan bagi pelaku bom bunuh diri yang telah merenggut nyawa kedua putra mereka. Hanya satu penghiburan dan kekuatan mereka, Evan dan Nathan sudah tenang di haribaan Bapa di Sorga. Hal itulah yang mau diungkapkan dalam bacaan kita: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.
Sebagai orang percaya, kita diingatkan bahwa setiap orang yang mengalami penderitaan oleh sebab kebenaran, Tuhan tidak pernah meninggalkannya seorang diri, Tuhan Yesus akan tetap memberi kekuatan lebih besar daripada penderitaan yang dialami sehingga kita sanggup manghadapinya.
Doa: Ya Tuhan, berilah kekuatan bagiku untuk menghadapi berbagai tantangan dan penderitaan. Amin.
Kamis, 6 September 2018
bacaan : Zakharia 8 : 14-19 & 1 Korintus 3 : 1-9
14 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: “Kalau dahulu Aku telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal, firman TUHAN semesta alam, 15 maka pada waktu ini Aku kembali bermaksud berbuat baik kepada Yerusalem dan kepada kaum Yehuda. Janganlah takut! 16 Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. 17 Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN.” 18 Datanglah firman TUHAN semesta alam kepadaku, bunyinya: 19 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!”
1 Korintus 3 : 1-9
Perselisihan
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? 4 Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? 5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. 6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. 8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. 9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.
Gereja Bersyukur: Mencintai Kebenaran Dan Damai
“Gereja takkan punah selama-lamanya, dibimbing tangan Tuhan,
dibela Kasih-Nya. Ditantang pengkhianat dan banyak musuhnya,
bertahanlah jemaat dan jaya mulia” (KJ. No. 252:2)
Nyanyian ini menggambarkan pergumulan Gereja melewati 83 tahun usianya. Sebagai warga GPM, kita patut bersyukur karena perjalanan panjang 83 tahun adalah perjalanan bersama Tuhan Yesus Sang kepala Gereja. Melewati suka-duka, jatuh-bangun, bahkan ancaman perpecahan, tetapi Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja selalu menyertai bahkan terus memimpin perjalanan ini. Syukur kita hendaklah mewarnai seluruh hidup dan aktifitas kita sebagai pelayan dan warga GPM, dan syukur itu bukanlah sekedar kegiatan ritual saja, tetapi juga harus nampak dalam seluruh gerak sosial kita, yang mencintai kebenaran dan damai. Mari sejenak kita melihat kehidupan orang-orang Korintus yang selalu bertengkar soal siapa yang terbesar, siapa yang benar dan siapa yang terbaik (1 Kor.3:1-9). Sesungguhnya sikap itu bukanlah gambaran kehidupan orang-orang yang percaya kepada Yesus. Oleh sebab itu Rasul Paulus menasehati mereka agar mereka tidak bergantung dan mengandalkan manusia dengan keberpihakan mereka, tetapi hendaklah mereka bergantung kepada Tuhan Yesus, sumber kehidupan mereka. Baik Apollos maupun Paulus, mereka hanyalah pelayan-pelayan Tuhan, hamba dan suruhan Tuhan, yang diutus untuk melakukan kebenaran dan damai bagi semua orang. Seperti ajakan Zakharia kepada orang-orang Israel, setelah Allah berbalik mengampuni dan mengasihi mereka: “Berkata benar seorang kepada yang lain dan lakukanlah keadilan yang mendatangkan damai”. Mensyukuri penyertaan Tuhan bagi GPM di usia 83, mari kita memuliakan Tuhan dengan selalu berkata benar, melakukan keadilan dan menghadirkan damai. Dirgahayu gereja-ku, gereja-mu, gereja kita…!!
Doa: Tuhan, berkatilah gereja kami, dan ajarlah kami agar menjadi pelayan dan warga gereja yang baik. Amin.
Jumat, 7 September 2018
bacaan : Mazmur 87 : 1-7
Sion, kota Allah
Mazmur bani Korah: suatu nyanyian. Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: 2 TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. 3 Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah. Sela 4 Aku menyebut Rahab dan Babel di antara orang-orang yang mengenal Aku, bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia: “Ini dilahirkan di sana.” 5 Tetapi tentang Sion dikatakan: “Seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya,” dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya. 6 TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: “Ini dilahirkan di sana.” Sela 7 Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: “Segala mata airku ada di dalammu.”
Satu Keluarga Allah
Katong samua orang sodara” adalah sebuah ungkapan filosofi orang Maluku yang menggambarkan tentang kehidupan persaudaraan ibarat hidup satu keluarga. Diharapkan ungkapan Relasi persaudaraan itu terwujud dalam sikap saling menerima, saling menghargai, saling mengasihi, saling berbagi satu dengan yang lain.
Relasi itulah yang mau digambarkan dalam Mazmur 87:1-7 dimana pemazmur menyebut Yerusalem sebagai “Sion, Kota Allah” sebab disana Allah berkenan hadir, bahkan menjadi tempat kediaman Allah atau rumah Allah. Semua suku bangsa yang datang dan berkumpul kesana adalah bagian dari keluarga Allah. Allah tidak melihat latar belakang kehidupan mereka, dalam arti asal usul mereka, bahkan mereka semua dikatakan dilahirkan di Sion. Hal itu berarti setiap orang yang datang ke pada Allah, tak akan ditolak-Nya, tetapi dirangkulnya diterima-Nya menjadi anggota keluarga-Nya, Keluarga Allah. Dan Allah pun menghendaki agar kita semua yang sudah diterima sebagai anggota Keluarga Allah akan menampakan hidup yang saling menerima, merangkul dan melayani satu dengan yang lain.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk saling menerima dan menghargai satu dengan yang lain. Amin.
Sabtu, 8 September 2018
bacaan : Amsal 8 : 32-26
32 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku. 33 Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya. 34 Berbahagialah orang yang mendengarkan daku, yang setiap hari menunggu pada pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku. 35 Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia. 36 Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut.”
Hikmat Yang Mencerdaskan
Seorang ayah yang berhikmat, hidup dengan dua orang anaknya. Sebelum meninggal, ia telah membagikan sejumlah uang kepada mereka dan berpesan: “Pakailah uang ini sebagai modal usahamu, tetapi satu hal yang harus kamu lakukan adalah, setiap kali kamu ke tempat usahamu, jangan biarkan sinar matahari menimpa kepalamu. Setelah orangtua itu meninggal, kedua anaknya menggunakan uang warisan itu untuk mendirikan usaha mereka masing-masing. Mengingat pesan ayah mereka supaya mereka berhasil, maka anak yang pertama selalu menggunakan payung untuk menutup kepalanya dari sinar matahari setiap kali ia pergi dan pulang dari tempat usahanya. Apa yang terjadi? ternyata usahanya tidak berhasil malah bangkrut. Sedangkan anak yang kedua memilih untuk berangkat kerja sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah setelah matahari terbenam. Bukan saja kepalanya terlindung dari sinar matahari tetapi kesungguhannya untuk bekerja mendatangkan kesuksesan dan keberhasilan. Bacaan hari ini mengingatkan kita tentang Hikmat yang mencerdaskan, yang harus dimaknai sebagai hidup yang bergantung dan berharap hanya pada Tuhan dan mewujudkannya dalam aktifitas keseharian kita. Kisah dua bersaudara diatas mengajak kita untuk memaknai hidup, waktu dan kerja secara kristiani yaitu menghargai waktu pemberian Tuhan, taat dan disiplin, serta kerja keras atau memiliki etos kerja yang baik, dan selalu bersyukur dalam segala hal.
Doa: Ya Tuhan, berilah kepada kami hati yang paham untuk melakukan kehendak-Mu. Amin.
*sumber : Santapan Harian Keluarga LPJ-GPM Bulan September 2018

