Jelang HUT GPM, Silo Bersih-Bersih Lingkungan Gereja
Tanggal 6 September adalah tanggal yang sangat berarti dan bersejarah bagi segenap warga Gereja Protestan Maluku (GPM), sebab pada tanggal itulah ditetapkan sebagai Hari Lahirnya GPM menjadi salah satu gereja mandiri di Indonesia, khususnya di tanah Maluku. Tepatnya 6 September 1955, GPM menyatakan dirinya sebagai gereja yang mandiri dan tidak bergantung kepada indische kerk bentukan VOC Belanda (1602-1800). Pada masa itu semua biaya pelayanan yang dibutuhkan gereja menyangkut pembangunan, penerbitan bacaan serta pembiayaan gaji para pendeta dan “penghibur orang sakit” di bayar oleh VOC. Namun kemudian, GPM lalu berinisiatif memandirikan diri dan lepas dari bantuan keuangan tersebut. Banyak pihak menyatakan itu adalah “lonceng kematian” bagi GPM. Tetapi realitas menunjukkan sebaliknya, bahwa GPM masih eksis dan bertahan menjalankan misi menanam dan menyiram di bumi Maluku dan Maluku Utara sampai detik ini, menjelang usia 83 tahun.
Dalam rangka memperingati dan memeriahkannya, maka sesuai dengan Juknis yang diturunkan oleh Sinode GPM, Jemaat Silo melakukan Pencanangan Pekan Peringatan Perayaan HUT ke-83 GPM pada Ibadah Minggu 2 September 2018 Pkl.09.00 WIT, yang ditindaklanjuti dengan berbagai aktivitas dalam jemaat. Salah satunya adalah kegiatan kerja bakti bersama di lingkungan Gedung dan Halaman Gereja Silo. Kerja bakti ini dimaksudkan untuk membenahi kebersihan, memperindah dan mempercantik lingkungan Gereja Silo sebagai pencerminan umat Tuhan di Silo yang sementara berbahagia dan bersukacita.

Kerja bakti dilaksanakan pada Senin, 3 September 2018 Pkl. 16.00 WIT dengan melibatkan Majelis Jemaat, pegawai gereja, warga jemaat dan partisipasi 10 orang TNI, dari Kesatuan Kabaresi 731. Inilah bukti kemitraan dan kemanunggalan TNI bersama dengan rakyatnya. DIRGAHYU KE-83 GEREJA PROTESTAN MALUKU, dibawah sorotan TEMA : GEREJA BERSYUKUR : MENCINTAI KEBENARAN DAN DAMAI ( ZAK 8 : 19b dan I KOR 3 : 1-9)
*foto : VK & HS
*edit : BK

