Pembinaan Keluarga : Meja Makan (Bag. 1)

AMBON, jemaatgpmsilo.org

PEMBINAAN KELUARGA
(Dr. Ny. Nancy Gasperz, M.Si)

Keluarga adalah anugerah Allah kepada manusia. Keluarga juga adalah kehendak baik manusia. Pantas jika kita mendambakan banyak hal bersemi di dalam keluarga.
Keluarga Kristen berjanji akan hidup berdasarkan kasih dan kesetiaan satu terhadap yang lain. Dari situ anggota keluarga saling mendukung supaya semua mandiri, sukses dan menjadi orang yang bertanggung jawab atau semua pengalaman hidupnya.

Turun-temurun, keluarga-keluarga para leluhur kita menyadari bahwa Pendidikan di dalam keluarga adalah harta berharga yang menolong setiap anggota keluarga menjadi manusia yang bahagia dan menjadi berkat di dalam hidupnya. Di dalam kehidupan sehari-hari, diciptakanlah tempat dan ruang untuk berbagi kehidupan dan saling mendidik. Contoh di dalam kehidupan keluarga-keluarga di Maluku, percakapan di sekitar meja Makan, Piring Natsar dan banyak lagi bentuk pendidikan di dalam keluarga itu.
Pada kesempatan itu, kita batasi pada kedua hal ini dulu.

1. Pecakapan Di Sekitar Meja Makan
Oleh karena setiap hari orang makan, maka percakapan di meja makan dapat dilakukan banyak lali. Itu sangat menguntungkan pendidikan keluarga. Sayangnya, sekarang tidak banyak lagi kesempatan makan bersama keluarga, sekalipun aktivitas makan tetap diperlukan. Hal ini tergantung pada kehendak dan kepentingan kita. Baiklah kita fokuskan untuk melihat apa fungsi Makan Bersama sehingga kita bisa lebih mendukungnya.
Makan bersama, seperti: tradisi Lesa, Makan Patita, dll., adalah budaya yang sudah sangat tua. Ketika budaya ini berkembang, manusia mulai menetapkan “rumah” sebagai pusat kebudayaan, termasuk agama. Di dalam tradisi makan bersama ternyata yang dianggap penting bkan hanya kebutuhan MAKAN. Jauh lebih banyak dari itu, tradisi Makan Bersama memiliki fungsi sebagai berikut:

a). Supaya orang menyalurkan keinginan, baik untuk MEMBAGI MAKANAN, ataupun MENERIMA MAKANAN.

b). Supaya orang memperhatikan aspek nutrisi dan kepuasan rasa makanan, karena makan bersama-sama.

c). Ketika orang makan makanan yang sama, orang terikat satu dengan yang lainnya, dalam persahabatan, keluarga dan hubungan yang saling memiliki dan berbagi (relasi yang intim)

d). Selama waktu-waktu makan bersama, orang bercerita, merasakan hubungan yang intim, saling memperhatikan, saling melayani, dll. Kemudian orang tua mengambil kesempatan untuk menunjukkan tanggung jawab memperhatikan anak-anak, begitupun sebaliknya.

Jadi Makan Bersama, merupakan bentuk pendidikan yang penting dan berharga. Tidak membutuhkan biaya besar dan akan selalu ada waktunya, jika diniatkan.

Di dalam Alkitab, Yesus memberi contoh praktik Makan Bersama yang berhasil karena menginspirasi, baik orang-orang yang makan bersama atau orang-orang lain yang saling memperhatikan. Makan Bersama lebih dari 5000 orang, makan bersama keluarga Zakheus, Makan Bersama 2 orang ke Emaus. Orang-orang mendapatkan inspirasi baru tentang hidup.

Baik dalam kehidupan orang Maluku maupun kisah-kisah Yesus, terlihat bahwa Makan Bersama itu bagian dari kebiasaan yang patut dipakai untuk kebersamaan dan kebahagiaan. Rumah tangga-rumah tangga Kristen, janglah menjauhkan diri dari Makan Bersama. Demi kepentingan anak-anak yang dibentuk oleh budaya global, kesenjangan dan jarak dengan orang tua harus dijembatani dengan terbiasa Makan Bersama. Ia menjadi ajang perjumpaan, komunikasi, menyatakan rasa kasih, saling memperhatikan, saling memberitahu, dll. Dalam perjumpaan yang sedemikian, keluarga Kristen sebenarnya sementara beribadah kepada Tuhan.

(Materi Bagian ke-2 dalam proses)

*by : Subseksi Pembinaan Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey