Santapan Harian Keluarga, 20 – 26 Januari 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 20 Januari 2019                        

bacaan : Keluaran 2 : 23 – 3 : 14

Musa diutus TUHAN

23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. 24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. 25 Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.
Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” 5 Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” 6 Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” 11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” 12 Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” 13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?” 14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Di Utus untuk Pergi

Senang rasanya jika di dalam sebuah pekerjaan, kita mendapatkan mandat dari atasan untuk melakukan sebuah perjalanan dinas di suatu tempat, khususnya ke daerah-daerah yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Namun yang pasti, perjalanan dinas yang dipercayakan kepada pegawai, harus disertai dengan laporan pertanggung jawaban demi kepentingan sebuah perusahaan. Kita menerima dengan senang hati, tugas yang diberikan pimpinan, apalagi bila Yesus Kristus yang mengutus manusia untuk bersaksi di tengah-tengah dunia. Dunia manusia begitu dipenuhi dengan keinginan daging yang membuat banyak orang mengalami penderitaan. Benar, Yesus juga mengutus kita adalah untuk kepentingan-Nya. Tapi kepentingan Yesus adalah juga demi kepentingan manusia, khususnya bagi mereka yang banyak mengalami penderitaan. Pengutusan Allah kepada kita begitu berbeda dengan utusan lain di dunia ini, Ia mempercayakan kita untuk melayani dan membebaskan sesama manusia yang sedang mengalami kesusahan, penderitaan, dan kesengsaraan. Dengan kata lain, menjadikan orang-orang yang terpinggirkan memiliki hak yang sama dengan semua umat. Tentu kita tidak sendiri, sebab Allah akan selalu menyertai kita terhadap “perjalanan dinas” yang diembankan dan tidak pernah meninggalkan kita.

Doa : Tuhan, mampukan kami memperhatikan orang-orang yang terpinggirkan. Amin.

 

Senin, 21 Januari 2019                                   

bacaan : Keluaran 6 : 1 – 10

2 (6-1) Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN. 3 (6-2) Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. 4 (6-3) Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, 5 (6-4) tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. 6 (6-5) Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. 7 (6-6) Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. 8 (6-7) Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN.” 9 (6-8) Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu. 10 (6-9) Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: 11 (6-10) “Pergilah menghadap, katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, bahwa ia harus membiarkan orang Israel pergi dari negerinya.”

Pilih Yang Mana ?

Kehidupan manusia semakin berubah, apalagi kehidupan di kota. Orang yang dahulu hidup saling berinteraksi secara langsung, kini sudah mulai beralih pada sosial media (HP) sebagai alat berkomunikasi. Sungguh disayangkan, tidak sedikit orang yang saling bersaing menunjukkan “kekiniannya” walaupun kehidupan dalam sosial media jauh berbeda terhadap realita yang dialami. Orang ingin terlihat kaya, makan di restoran mahal setiap harinya atau berlibur di tempat-tempat terkenal, walaupun ekonomi keluarganya hanya pas-pasan. Bahkan orang saling mengejek  melalui berbagai status yang diunggah. Yang penting, saya harus mendapat banyak likes atau love agar mendapat pengakuan di dunia maya. Sayangnya tidak semua orang begitu suka dengan apa yang telah kita tampilkan di dunia maya, sehingga timbul kecemburuan satu terhadap yang lainnya. Masing-masing orang pun berusaha menjadi lebih dari yang lain. Manusia seolah-olah telah diperbudak oleh persaingan yang hanya menghasilkan kesia-siaan dan kebencian. Allah tidak menghendaki perbuatan manusia yang demikian. Ia menginginkan kita agar terbebas dari budak dosa, artinya menekan segala “kekinian” yang mengorbankan diri sendiri dan orang orang lain. Sebaliknya Allah menghendaki manusia mampu mewartakan kasih Allah di tengah-tengah dunia yang semakin berubah.

Doa : Ya Bapa, bebaskan kami dari segala godaan zaman,amin.

 

Selasa, 22 Januari 2019                                

bacaan :  Yeremia 34 : 8 – 11

Janji kepada budak-budak Ibrani tidak ditepati

8 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan, 9 supaya setiap orang melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya. 10 Maka semua pemuka dan segenap rakyat yang ikut serta dalam perjanjian itu menyetujui, bahwa setiap orang akan melepaskan budaknya laki-laki dan budaknya perempuan sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada lagi yang memperbudak mereka. Orang-orang itu menyetujuinya, lalu melepaskan mereka. 11 Tetapi sesudah itu mereka berbalik pikiran, lalu mengambil kembali budak-budak lelaki dan perempuan yang telah mereka lepaskan sebagai orang merdeka itu dan menundukkan mereka menjadi budak laki-laki dan budak perempuan lagi.

Hidup yang sesuai dengan Kehendak Allah

Sebagai seorang warga negara Indonesia, yang menjadikan Pancasila sebagai dasar Negara, maka setiap kehidupan manusia Indonesia harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang di dalamnya mengharuskan seseorang saling menghormati satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan karena, Pancasila memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Sikap merendahkan orang lain yang memiliki perbedaan apa pun bentuknya sangatlah bertolak belakang dengan nilai-nilai Pancasila. Manusia adalah makhluk hidup yang sempurna karena ia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Artinya hidup manusia harus menggambarkan kehadiran Allah. Dengan demikian, sikap hidup yang merendahkan sesama adalah sikap yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa di Sorga. Merendahkan orang lain yang berujung pada penindasan sama saja dengan melecehkan Allah Sang Pencipta. Dalam menjaga keharmonisan hidup seluruh ciptaan Allah, sikap menghormati dan menopang satu sama lain sepantasnya tercermin dalam setiap perilaku kita, tidak sebatas kata-kata semata. Orang Kristen yang sudah diselamatkan oleh Allah dalam Yesus Kristus, sepatutnya  mau merendahkan hatinya memahami orang lain, serta memberi tempat bagi mereka untuk saling berinteraksi dan membangun kepercayaan.

Doa : Tuhan, tolonglah kami agar hidup kami saling menghormati dan tidak merendahkan orang lain. Amin. 

 

Rabu, 23 Januari 2019                                

bacaan : Yeremia 34 : 12 – 15

12 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: 13 “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku sendiri telah mengikat perjanjian dengan nenek moyangmu pada waktu Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, isinya: 14 Pada akhir tujuh tahun haruslah kamu masing-masing melepaskan saudaranya bangsa Ibrani yang sudah menjual dirinya kepadamu; ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, kemudian haruslah engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka. Tetapi nenek moyangmu tidak mendengarkan Aku dan tidak memperhatikan Aku. 15 Hari ini kamu telah bertobat dan melakukan apa yang benar di mata-Ku karena setiap orang memaklumkan pembebasan kepada saudaranya, dan kamu telah mengikat perjanjian di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan.

Berdamai dengan Sesama adalah wujud Perjanjian dengan Allah

Tak terasa, kita telah membangun perdamaian di bumi Maluku, setelah konflik kemanusiaan Januari 1999 dan upaya itu terus dilakukan hingga sekarang ini. Perjanjian untuk berdamai terjadi atas dasar banyaknya isak tangis dan derita masyarakat Maluku, termasuk juga saudara-saudari kita yang beragama lain. Namun satu hal yang pasti, perjanjian untuk selalu membangun perdamaian dengan umat yang berbeda agama adalah juga bagian dari perjanjian kita dengan Allah. Menjaga bumi Maluku agar tetap hidup berdampingan antaragama adalah bagian dari kesadaran manusia untuk bertobat di hadapan-Nya. Sebaliknya, melanggar perjanjian menunjukkan sikap ketidakdewasaan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Allah menginginkan kita agar tidak memandang manusia berdasarkan perbedaan dalam bentuk apa pun; suku, ras, bahkan agama. Sebaliknya, kewajiban kita di mata Tuhan adalah melihat sesama kita sebagai manusia seutuhnya, yang bebas, yang memiliki hak untuk hidup damai, yang hidup berdampingan satu sama lain, dan tidak berada dalam sebuah penindasan atau kekerasan yang dapat mendatangkan kehancuran di bumi Maluku. Maka dari itu, tetaplah jaga perjanjian itu dengan terus membangun perdamaian di bumi Maluku.

Doa : Kami mengucap syukur kepada-Mu, yang terus menjaga kami untuk membangun perdamaian di Bumi Raja-raja. Amin.

 

Kamis, 24 Januari 2019                                 

bacaan : Yeremia 34 : 16 – 22

16 Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku; kamu masing-masing telah mengambil kembali budaknya laki-laki dan budaknya perempuan, yang telah kamu lepaskan sebagai orang merdeka menurut keinginannya, dan telah menundukkan mereka, supaya mereka menjadi budakmu laki-laki dan budakmu perempuan lagi. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. 18 Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya; 19 pemuka-pemuka Yehuda, pemuka-pemuka Yerusalem, pegawai-pegawai istana, imam-imam dan segenap rakyat negeri yang telah berjalan di antara belahan-belahan anak lembu jantan itu, 20 mereka akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka, sehingga mayat mereka menjadi makanan burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi. 21 Juga Zedekia, raja Yehuda, beserta para pemukanya akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh mereka dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka dan ke dalam tangan tentara raja Babel yang sekarang telah berangkat dari pada kamu. 22 Sesungguhnya, demikianlah firman TUHAN, Aku memberi perintah dan membawa mereka kembali ke kota ini untuk memeranginya, merebutnya dan menghanguskannya dengan api. Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi ketandusan tanpa penduduk.”

Membangun Damai di Rumah Bersama

Maluku yang diberi gelar bumi raja-raja, adalah “rumah bersama” bagi semua orang. Sudah banyak golongan yang tinggal dan mencari sesuap nasi di bumi Nunusaku ini, sehingga Maluku sudah dihuni oleh manusia dari berbagai golongan. Perbedaan adalah sebuah anugerah Allah yang harus dijaga. Oleh karena itu, rasa persaudaraan yang di dalamnya terdapat sikap menghargai satu sama lain patut dijunjung tinggi oleh setiap individu agar tidak terjadi sebuah perpecahan. Allah memberi peringatan agar kita selalu hidup harmonis satu dengan yang lain. Allah tidak pernah menghendaki manusia hidup dalam kekacauan. Jika terjadi perselisihan, hal itu disebabkan karena manusia sendiri yang menganggap dirinya lebih benar dan berkuasa daripada “yang lain”, sehingga “yang lain” berada pada status yang lebih rendah. Pada kenyataannya, dalam sebuah perselisihan tidak ada yang menang atau pun kalah. Perselisihan hanya mendatangkan keputusasaan; anak-anak sulit mengecap dunia pendidikan dan kelaparan dimana-mana. Kehidupan sesama kita menjadi porak-poranda. Padahal merusak perbedaan adalah juga merusak karya Allah. Oleh karena itu, menjadikan Maluku sebagai rumah bersama, berarti setiap orang harus menjadikan sesamanya sebagai seorang saudara yang tidak hanya terbatas dalam garis keturunan, melainkan sebagai saudara sepenanggungan.

Doa : Tolonglah kami untuk membangun hidup orang bersaudara, Amin 

 

Jumat, 25 Januari 2019                               

bacaan : 2 Raja-Raja 8 : 1 – 6

Raja menolong perempuan Sunem
Elisa telah berbicara kepada perempuan yang anaknya dihidupkannya kembali, katanya: “Berkemaslah dan pergilah bersama-sama dengan keluargamu, dan tinggallah di mana saja engkau dapat menetap sebagai pendatang, sebab TUHAN telah mendatangkan kelaparan, yang pasti menimpa negeri ini tujuh tahun lamanya.” 2 Lalu berkemaslah perempuan itu dan dilakukannyalah seperti perkataan abdi Allah itu. Ia pergi bersama-sama dengan keluarganya, lalu tinggal menetap sebagai pendatang di negeri orang Filistin tujuh tahun lamanya. 3 Dan setelah lewat ketujuh tahun itu, pulanglah perempuan itu dari negeri orang Filistin. Kemudian ia pergi mengadukan perihal rumahnya dan ladangnya kepada raja. 4 Raja sedang berbicara kepada Gehazi, bujang abdi Allah itu, katanya: “Cobalah ceritakan kepadaku tentang segala perbuatan besar yang dilakukan Elisa.” 5 Sedang ia menceritakan kepada raja tentang Elisa menghidupkan anak yang sudah mati itu, tampaklah perempuan yang anaknya dihidupkan itu datang mengadukan perihal rumahnya dan ladangnya kepada raja. Lalu berkatalah Gehazi: “Ya tuanku raja! Inilah perempuan itu dan inilah anaknya yang dihidupkan Elisa.” 6 Lalu raja bertanya-tanya, dan perempuan itu menceritakan semuanya kepadanya. Kemudian raja menugaskan seorang pegawai istana menyertai perempuan itu dengan pesan: “Pulangkanlah segala miliknya dan segala hasil ladang itu sejak ia meninggalkan negeri ini sampai sekarang.” 

Setia Kepada Allah

Tidak sedikit orang yang berpikir bahwa mengabarkan Injil untuk melaksanakan karya pembebasan Allah hanya dapat dilakukan dengan khotbah yang tentunya diberitakan oleh pendeta. Padahal mewartakan Injil adalah bagian dari seluruh umat manusia yang setia kepada-Nya. Belajar dari perempuan Sunem yang mengikuti perintah Allah dengan setia, meninggalkan tempatnya dan pergi ke suatu negeri yang asing selama tujuh tahun, kembali ke tempat asalnya namun kehilangan seluruh harta bendanya tanpa bersungut-sungut kepada Tuhan tentang apa yang dialaminya. Tanpa disadari, kesetiaannya kepada Tuhan telah menjadi bagian pekabaran Injilnya bagi orang lain. Sementara orang yang melihat kesetian perempuan Sunem kepada Allah secara tidak langsung juga melakukan perintah-Nya menolong orang lain. Kesetiaan kepada Allah sangat dibutuhkan untuk terus menebarkan karya-Nya bagi dunia. Ada waktu dimana Allah akan menunjukan kekuasaan-Nya di bumi, dan kita sebagai manusia tidak dapat menentukan kapan Allah dapat melaksanakan karya pembebasan-Nya. Tugas kita adalah setia melakukan kehendak Tuhan.

Doa : Kami selaku anak-Mu akan selalu berusaha untuk tetap setia bagi-Mu. Amin.

 

Sabtu, 26 Januari 2019                                

bacaan : Yesaya 41 : 17 – 20

17 Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. 18 Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. 19 Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, 20 supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya. 

Allah tidak pernah Meninggalkan Kita

Kita harus selalu bersyukur karena memiliki Allah yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya, yang selalu membuat mujizat, dan yang menunjukkan kekuasaan-Nya atas keterbatasan manusia.Tidak ada alasan bagi kita untuk takut menghadapi segala rintangan dunia. Sekalipun kita berada di dalam keputusasaan, yakinlah bahwa Allah selalu menyertai umat-Nya. Sebab Ia begitu mengenal keadaan kita, seburuk apa pun itu; memiliki beban hidup yang berat, sedang sakit, atau bahkan kehilangan seseorang yang kita kasihi. Jangan menganggap bahwa Allah tidak pernah peduli terhadap kita. Dia selalu mengetahui apa yang akan terjadi. Hadirnya mujizat Allah di dalam kehidupan kita memperlihatkan bahwa Ia bertakhta di atas seluruh kehidupan manusia. Memang kehidupan dunia semakin lama semakin mencekam dan tidak sedikit orang yang hidup dalam keputusasaan. Namun Matius 19:26b menyatakan, “…bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Orang yang masih takut menghadapi berbagai tantangan adalah orang yang tidak menaruh harapannya kepada Allah Sang Pembebas.

Doa : Ya Bapa, terima kasih atas penyertaan-Mu yang senantiasa hadir di dalam hidup kami. Amin.

 

*sumber : Santapan Harian Keluarga, bulan Januari 2019, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey