Santapan Harian Keluarga, 24 Feb – 2 Maret 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 24 Februari 2019
bacaan : Yesaya 59 : 1 – 20 (T)
Dosa adalah penghambat keselamatan
Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; 2 tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. 3 Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan. 4 Tidak ada yang mengajukan pengaduan dengan alasan benar, dan tidak ada yang menghakimi dengan alasan teguh; orang mengandalkan kesia-siaan dan mengucapkan dusta, orang mengandung bencana dan melahirkan kelaliman. 5 Mereka menetaskan telur ular beludak, dan menenun sarang laba-laba; siapa yang makan dari telurnya itu akan mati, dan apabila sebutir ditekan pecah, keluarlah seekor ular beludak. 6 Sarang yang ditenun itu tidak dapat dipergunakan sebagai pakaian, dan buatan mereka itu tidak dapat dipakai sebagai kain; perbuatan mereka adalah perbuatan kelaliman, dan yang dikerjakan tangan mereka adalah kekerasan belaka. 7 Mereka segera melakukan kejahatan, dan bersegera hendak menumpahkan darah orang yang tidak bersalah; rancangan mereka adalah rancangan kelaliman, dan ke mana saja mereka pergi mereka meninggalkan kebinasaan dan keruntuhan. 8 Mereka tidak mengenal jalan damai, dan dalam jejak mereka tidak ada keadilan; mereka mengambil jalan-jalan yang bengkok, dan setiap orang yang berjalan di situ tidaklah mengenal damai. 9 Sebab itu keadilan tetap jauh dari pada kami dan kebenaran tidak sampai kepada kami. Kami menanti-nantikan terang, tetapi hanya kegelapan belaka, menanti-nantikan cahaya, tetapi kami berjalan dalam kekelaman. 10 Kami meraba-raba dinding seperti orang buta, dan meraba-raba seolah-olah tidak punya mata; kami tersandung di waktu tengah hari seperti di waktu senja, duduk di tempat gelap seperti orang mati. 11 Kami sekalian meraung seperti beruang; suara kami redup seperti suara burung merpati; kami menanti-nantikan keadilan, tetapi tidak ada, menanti-nantikan keselamatan, tetapi tetap jauh dari kami. 12 Sungguh, dosa pemberontakan kami banyak di hadapan-Mu dan dosa kami bersaksi melawan kami; sungguh, kami menyadari pemberontakan kami dan kami mengenal kejahatan kami: 13 kami telah memberontak dan mungkir terhadap TUHAN, dan berbalik dari mengikuti Allah kami, kami merancangkan pemerasan dan penyelewengan, mengandung dusta dalam hati dan melahirkannya dalam kata-kata. 14 Hukum telah terdesak ke belakang, dan keadilan berdiri jauh-jauh, sebab kebenaran tersandung di tempat umum dan ketulusan ditolak orang. 15 Dengan demikian kebenaran telah hilang, dan siapa yang menjauhi kejahatan, ia menjadi korban rampasan. Tetapi TUHAN melihatnya, dan adalah jahat di mata-Nya bahwa tidak ada hukum. 16 Ia melihat bahwa tidak seorangpun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia. 17 Ia mengenakan keadilan sebagai baju zirah dan ketopong keselamatan ada di kepala-Nya; Ia mengenakan pakaian pembalasan dan menyelubungkan kecemburuan sebagai jubah. 18 Sesuai dengan perbuatan-perbuatan orang, demikianlah Ia memberi pembalasan: kehangatan murka kepada lawan-lawan-Nya, ganjaran kepada musuh-musuh-Nya; bahkan kepada pulau-pulau yang jauh Ia memberi ganjaran. 19 Maka orang akan takut kepada nama TUHAN di tempat matahari terbenam dan kepada kemuliaan-Nya di tempat matahari terbit, sebab Ia akan datang seperti arus dari tempat yang sempit, yang didorong oleh nafas TUHAN. 20 Dan Ia akan datang sebagai Penebus untuk Sion dan untuk orang-orang Yakub yang bertobat dari pemberontakannya, demikianlah firman TUHAN.
Kasih Allah Yang Membebaskan
Di pasal 59 ini, Yesaya melengkapi penjelasannya dengan menyatakan bahwa tidak terjawabnya doa-doa mereka bukan karena Tuhan tidak sanggup menolong mereka. Bukan juga karena Ia tidak mendengar permohonan mereka. Masalahnya terletak pada dosa-dosa mereka. Perbuatan-perbuatan semacam itu memperlihatkan dengan jelas situasi dan kondisi hati yang menjadi sumber perbuatan tersebut. Mereka telah menolak untuk berlaku adil, akibatnya mereka sendiri kemudian tidak mengalami keadilan dan kebenaran itu. Mereka mengharapkan masa depan yang cerah, tetapi kondisi mereka saat itu begitu gelap. Mereka berharap dapat berjalan dalam terang kehadiran Allah, tetapi terang itu tidak ada pada mereka. Akibatnya, mereka bagai orang buta yang meraba-raba dalam gelap. Kegelapan telah menjadi realitas dari umat yang sebenarnya telah mengenal terang. Namun umat kemudian sadar bahwa penyebab ketiadaan keadilan dan kebenaran itu adalah pelanggaran dan pemberontakan yang mereka lakukan dalam semua aspek kehidupan. Lalu bagaimana sikap Tuhan memandang semuanya? Kita melihat bahwa Tuhan memperhatikan semua itu. Roh Tuhan akan tinggal di dalam umat dan firman-Nya berdiam di mulut mereka agar mereka menjadi saksi Tuhan, yang memberitakan kebesaran-Nya. Itulah tujuan Tuhan membebaskan mereka, dan itu jugalah tujuan Tuhan membebaskan kita. Sudahkah kita menyadari panggilan ini dalam keseharian kita sehingga seluruh aspek hidup menyatakan pemberitaan kita akan Injil?(HT).
Doa: Tuhan, Jadikanlah kami hambaMu yang selalu menyenangkan hatiMu. Amin.
Senin, 25 Februari 2019
bacaan : Yesaya 30 : 15 – 17 (T)
15 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan, 16 kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi. 17 Seribu orang akan lari melihat ancaman satu orang, terhadap ancaman lima orang kamu akan lari, sampai kamu ditinggalkan seperti tonggak isyarat di atas puncak gunung dan seperti panji-panji di atas bukit.
Kelegaan di Dalam Tuhan
Di dalam tinggal tenang dan percaya, terletak kekuatanmu! (ay.15.b). Mengenai tinggal tenang ini, kita dapat belajar dari kehidupan Yesus: Ia bangun pagi-pagi benar dan pergi ke tempat yang sunyi sendirian untuk berdoa di sana (Markus 1:35)! Ia membutuhkan waktu yang tenang bersama dengan Bapa-Nya! Kita pun membutuhkannya! Kita tidak perlu mengisi jadwal kita dengan ratusan kegiatan agar hidup kita terus berjalan. Kita tidak akan menemukan kekuatan dalam kegiatan-kegiatan kita. Kita hanya akan menemukannya di dalam tinggal tenang dan percaya kepada Allah. Dosa pun kerap menjadi penghalang hubungan kita dengan Tuhan, dan membuat kita terus berada dalam kesukaran. Tetapi, Tuhan sanggup melepaskan kita! Seberat apapun, itu bukan masalah bagi Tuhan. Apa yang harus kita perhatikan adalah firman Tuhan di atas. Bertobat dan tinggal diam, tinggal tenang dan percaya. Mungkin kita pun sudah punya rencana sendiri. Mungkin kita pun ingin berkata “Bukan, karena yang saya mau…..”. kita mungkin ingin berusaha keras dan tetap khawatir sepanjang hari. Tahukah kita berapa harganya? Kelemahan, ketakutan, kekhawatiran, kekalahan. Semakin kita mempercayai “kuda tangkas” kita, semakin lemah dan kering kita. Satu-satunya cara untuk memperoleh kekuatan, kehidupan dan kelegaan adalah tinggal diam di dalam Tuhan. Tinggal tenang dan percaya di dalam Dia. Tidak khawatir tentang apa pun juga serta menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Allah. Inilah SATU-SATUNYA jalan!(HT).
Doa: Tuhan, Ajarlah kami untuk tinggal tenang dan diam dihadiratMu. Amin.
Selasa, 26 Februari 2019
bacaan : Yeremia 24 : 4 – 7 (T)
4 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: 5 “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sama seperti buah ara yang baik ini, demikianlah Aku akan memperhatikan untuk kebaikannya orang-orang Yehuda yang Kubawa dari tempat ini ke dalam pembuangan, ke negeri orang-orang Kasdim. 6 Maka Aku akan mengarahkan mata-Ku kepada mereka untuk kebaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke negeri ini. Aku akan membangun mereka, bukan meruntuhkannya; Aku akan menanam, bukan mencabutnya. 7 Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya.
Menjadi Buah Ara Yang Baik
Yeremia diberikan penglihatan oleh Tuhan bahwa terdapat dua keranjang, yang satu berisi buah ara yang sangat baik, dan yang satunya lagi berisi buah ara yang jelek. Tuhan menjelaskan kepada Yeremia bahwa keranjang yang berisi buah ara yang baik adalah seperti bangsa Yehuda yang dibawa ke pembuangan, sedangkan keranjang yang berisi buah ara yang jelek melambangkan Zedekia dan mereka yang masih tinggal di Yerusalem dan Yehuda.
Tuhan berjanji akan membawa pulang mereka yang berada di pembuangan dan memulihkan keadaan mereka sedangkan mereka yang masih tersisa di Yerusalem dan Yehuda akan menghadapi hukuman dari Tuhan. Kepada mereka yang berada di pembuangan Tuhan berjanji akan “mengarahkan mata-Nya” untuk kebaikan mereka.. Tuhan berjanji akan memberikan hati yang mengenal Tuhan, sebuah hati yang sudah diperbarui setelah penghakiman. Mereka yang ada di pembuangan akan “bertobat” dengan sepenuh hati
Sebagai umat Allah marilah kita menjadi Buah Ara yang baik yang selalu hidup dalam pertobatan kepada Allah dengan sepenuh hati kita, benar-benar menjadi orang yang taat dan setia hanya kepada Tuhan; hiduplah dalam kasih, menghargai satu dengan yang lain tanpa memandang muka, dan melakukan kehidupan yang benar di dalam Tuhan. Dalam sepanjang perjalanan kita mengikut Tuhan ingatlah: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”(HT).
Doa: Tuhan, Jadikanlah kami hambaMu yang setia dan taat sepenuh hati. Amin.
Rabu, 27 Februari 2019
bacaan : Yeremia 25 : 5 – 7 (T)
5 Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. 6 Juga janganlah kamu mengikuti allah lain untuk beribadah dan sujud menyembah kepadanya; janganlah kamu menimbulkan sakit hati-Ku dengan buatan tanganmu, supaya jangan Aku mendatangkan malapetaka kepadamu. 7 Tetapi kamu tidak mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Ku dengan buatan tanganmu untuk kemalanganmu sendiri.
Pertobatan Yang Sejati
Allah mengutus Nabi Yeremia untuk memberikan teguran selama dua puluh tiga tahun, mulai tahun ketiga belas pemerintahan Raja Yosia sampai tahun keempat pemerintahan Raja Yoyakim, tetapi rakyat Yehuda tidak mau bertobat.Apakah respon mereka terhadap panggilan pertobatan dari Allah? “tetapi kamu tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya”. Pertobatan bukan hanya masalah berapa banyak yang kita tahu tentang Allah, apa saja yang ia sukai, tetapi tentang integritas hidup. Keputusan bangsa Yehuda untuk menolak panggilan pertobatan dari Allah membuat mereka harus membayar sebuah harga yang sangat mahal. Yeremia mencatat bahwa keputusan bangsa Yehuda untuk tidak bertobat telah menimbulkan sakit hati Tuhan. Oleh karena itu, melalui Nabi Yeremia, Allah menyampaikan nubuat tentang pembuangan di Babel selama tujuh puluh tahun. Untuk menuju pertobatan sejati ada langkah-langkah yang harus kita perhatikan: Pertama, kita harus menyadari bahwa diri kita ini adalah orang berdosa. Ada banyak orang yang menganggap dirinya yang benar dan suci sehingga ia merasa bahwa dirinya tidak perlu bertobat. Pengakuan jujur sebagai orang berdosa yang memerlukan pengampunan dosa dari Tuhan Yesus adalah langkah awal pertobatan. Kedua, kita pun harus mengaku dengan mulut dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, sebab “… dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Yes.1:18). Jadi kita diselamatkan bukan karena perbuatan kita, tapi semata-mata karena anugerahNya. Tertulis: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Ef.2:8-9. (HT)
Doa: Tuhan, Tolonglah kami untuk memiliki pertobatan sejati dalam hidup. Amin.
Kamis, 28 Februari 2019
bacaan : Lukas 3 : 7 – 9 (T)
7 Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? 8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! 9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.”
Mari Bertobat
Perkataan Yohanes Pembaptis ini sangat keras untuk menegur orang banyak yang mau datang untuk dibaptis. Yohanes menyebut sebagai keturunan ular beludak. Sebuah metafora dimana orang banyak dibandingkan dengan ular beludak. Ular yang dimaksud disini adalah ular di gurun pasir yang sangat berbisa. Ular yang sering tidak dapat dibedakan dengan sepotong ranting yang kering, tetapi kalau didekati, maka ular itu tiba-tiba menyerang dan menggigit sehingga dapat mematikan mangsanya. Begitulah sifat sebagian orang yang datang kepada Yohanes, yang kelihatannya baik tetapi sebenarnya jahat dan berbahaya. Murka atau hukuman Allah pasti akan ditimpakan kepada orang-orang yang tidak mau meninggalkan dosa-dosanya, orang yang tidak mau bertobat. Peringatan Yohanes ini mempunyai makna yang mendalam, bahwa mereka yang datang berbondong-bondong untuk dibaptis tidak otomatis luput dari hukuman Allah.
Yohanes mengingatkan mereka yang mau dibaptis harus menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Yohanes mengingatkan juga agar jangan berpikir seperti pikiran orang Yahudi pada waktu itu bahwa Abraham adalah Bapa atau nenek moyangnya dengan demikian pastilah selamat. Jadi tidak otomatis keturunan Abraham akan diselamatkan Allah. Pertobatan orang percaya yang sesungguhnya adalah ketika ia menyadari bahwa hidupnya sepenuhnya milik Tuhan, dan Tuhan berhak atas hidupnya, sehingga ia akan belajar terus menerus sepanjang sisa hari hidupnya untuk mengerti pikiran dan perasaan Allah Bapa di sorga, dan menjalani hidup ini dengan mengenakan pikiran Kristus.(HT).
Doa: Tuhan, Bawalah kami pada pertobatan yang sesungguhnya di dalam Engkau. Amin.
Jumat, 1 Maret 2019
bacaan :
Sabtu, 2 Maret 2019
bacaan :
*sumber : SHK bulan Februari-Maret 2019, LPJ-GPM

