fbpx

Santapan Harian Keluarga, 3 – 9 Maret 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 03 Maret 2019                                   

bacaan : Lukas 4 : 1 – 13 (T)

Pencobaan di padang gurun
Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. 2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. 3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” 4 Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” 5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. 6 Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. 7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” 8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” 9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, 10 sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, 11 dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” 12 Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” 13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik. 

Tetap Setia Walau Dalam Masa – Masa Sulit

Di minggu Sengsara Tuhan Yesus yang pertama ini, kita belajar dari spiritualitas Tuhan Yesus yang tetap setia menghadapi saat-saat yang sulit. Lukas 4:1-13, mengungkapkan tiga tantangan iman yang dihadapi oleh tiap keluarga Kristen: Pertama; Makanan. Makanan dapat menjadi tantangan bagi iman kita, khususnya ketika kita lapar. Banyak orang rela menjadi budak untuk memperoleh makanan dan kesenangan lainnya. Misalnya budak uang, budak narkoba, budak seks dll. Ada orang yang rela menjadi alat kejahatan, menyebar berita bohong dan perbuatan buruk lainnya asal diberi uang.Tuhan Yesus menyadarkan kita bahwa hidup kita bersumber hanya pada-Nya. Kedua; Kekuasaan dan Kemuliaan. Terkadang demi memperoleh kekuasaan, orang mengorbankan keluarga, saudara dan sahabat. Seringkali persahabatan juga dibangun atas dasar kepentingan kekuasaan. Setelah kekuasaan diperoleh, apalagi kalau tidak, maka persahabatan akan berakhir. Padahal kekuasaan dan kemuliaan bukan untuk kenikmatan pribadi melainkan untuk membebaskan, memberdayakan dan menghidupkan banyak orang. Ketiga; Iman Kepada Tuhan Harus Dipraktekkan. Orang sering memahami iman sebagai kesuksesan, banyak rejeki, kuat dan sehat, dan mengalami hal-hal yang baik. Sebaliknya bila gagal, sakit, tidak beruntung, diartikan sebagai kurang beriman atau tidak beriman. Disini, Yesus justru menegaskan bahwa penderitaan tidak selalu berarti negatif/buruk. Malah menderita karena nama-Nya dan untuk kebaikan banyak orang, adalah jalan dari orang beriman.

Doa: Ya Tuhan, kiranya iman kami tetap setia ketika berada dalam masa sulit sekalipun. Amin.

 

Senin, 04 Maret 2019                      

bacaan : 1 Timotius 6 : 2b – 10 (T)

Mengenai penyakit bersilat kata dan mengenai cinta uang

2 Jika tuan mereka seorang percaya, janganlah ia kurang disegani karena bersaudara dalam Kristus, melainkan hendaklah ia dilayani mereka dengan lebih baik lagi, karena tuan yang menerima berkat pelayanan mereka ialah saudara yang percaya dan yang kekasih. (6-2b) Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini. 3 Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat–yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus–dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, 4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, 5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. 6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. 8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. 9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Jadikan Hidup Keluarga Kita Cinta Tuhan, Bukan Cinta Uang

Sebenarnya apa yang dikatakan rasul Paulus tepat adanya, “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”. Artinya kita lahir tidak membawa sesuatu dan kita mati juga tidak membawa apapun. Lalu mengapa dalam menjalankan kehidupan uang menjadi tujuan utama bagi banyak orang? Untuk mendapatkannya, berbagai cara dilakukan, bahkan cara terburuk sekalipun yakni, menjual kehormatan dan harga diri.

Sesungguhnya tahukah kita apa yang baik bagi kita? Kita akan memahami bahwa yang baik bagi kita adalah apa yang kita inginkan. Keinginan kita berhubungan dengan kepuasan. Ada yang sudah mempunyai kecukupan tetapi masih belum puas. Era ini yang bisa memenuhi kepuasan itu adalah uang. Uang menjadi segala-galanya. Uang menjadi sangat dicintai melebihi apapun. Putusnya hubungan kekeluargaan bisa hanya karena uang. Suami dan istri baku marah karena uang. Anak-anak marah kepada orangtua juga karena uang. Pertanggungjawaban panitia-panitia di gereja terlambat atau tidak dapat dipertanggungjawabkan juga karena uang. Uang dapat membuat seseorang menjadi sangat perhitungan terhadap Tuhan. Paulus tegas mengatakan, karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Banyak orang bilang uang bukan segala-galanya tetapi segala-galanya memerlukan uang, tetapi bagi orang kristen tidak demikian. Hidup kita tidak diatur oleh uang, sebab hidup kita jadi berarti bukan karena uang yang kita miliki. Pemanfaatan yang salah akan uang atau cara yang salah mendapatkan uang akan membuat hidup kita tidak mempunyai arti apa-apa. Orang Kristen hidup berdasarkan apa yang Tuhan karuniakan dan itu selalu cukup. Hidup kita diberkati sehingga selalu bersyukur dan mampu menjadi saluran berkat bagi orang lain dan pekerjaan Tuhan.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk firmanMu yang mengajarkan keluarga kami untuk cinta Engkau dan bukan uang. Amin.

 

Selasa, 05 Maret 2019                                     

bacaan : Ayub 2 : 1 – 10 (T)

Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. 2 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” 3 Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.” 4 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. 5 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.” 6 Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.” 7 Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. 8 Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu. 9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” 10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Iman Yang Teguh Dibangun Saat Ujian Yang Besar Datang

Seorang pengarang Skotlandia Sir Walter Scott mengalami masalah keuangan ketika usaha penerbitannya bangkrut pada tahun 1826. Ia telah menanam modal yang besar di perusahaan itu, dan tampaknya ia akan kehilangan semuanya, termasuk rumahnya yang mirip sebuah puri. Sebagai seorang Kristen yang beriman teguh, ia menulis di buku hariannya, “Keadaannya jauh lebih buruk dari yang saya kira. Saya tidak dapat menyelamatkan rumah ataupun yang lain. Dengan telanjang kita masuk ke dalam dunia dan dengan telanjang pula kita meninggalkannya. Terpujilah nama Tuhan.” Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan,

begitu juga dengan Ayub. Tetapi apa yang dilakukan oleh Ayub? Di ayat 10.b, Ayub katakan: “Apakah  kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ? Banyak dari kita sering berbicara tentang penderitaan, bahkan sering memperdebatkan mengapa hal yang buruk menimpa orang yang baik. Namun alangkah baiknya bila kita membicarakan bagaimana kita dapat menghadapi setiap pengalaman penderitaan yang menyakitkan dan mampu menyelesaikannya bersama Tuhan. Sesungguhnya apa yang kita butuhkan ketika berada di puncak penderitaan, bukanlah penjelasan yang masuk akal, melainkan kemampuan untuk bertahan dan meyakini janji penyertaan Tuhan. Kita membutuhkan keyakinan yang memampukan kita untuk mempercayai kasih dan kebijaksanaan Allah. Sebaiknya kita tetap tekun berdoa dan melakukan kebaikan, sehingga kita mampu bertahan di bawah tekanan hidup yang hebat sekalipun.

Doa: Tuhan, teguhkanlah iman keluarga kami saat mengalami situasi hidup yang sulit. Amin.

 

Rabu, 06 Maret 2019                                   

bacaan : Roma 16 : 17 – 20 (T)

Peringatan

17 Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! 18 Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. 19 Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. 20 Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu! 

Tetap Kritis dan Setia Melayani Tuhan

Bacaan hari ini mengajarkan kita, sebagai anggota keluarga Kristen untuk lebih kritis dan bijaksana dalam menerima setiap pengajaran yang berkembang di sekitar hidup kita. Jika pengajaran tersebut tidak sesuai dengan ajaran Firman Tuhan, maka kita harus segera meninggalkannya. Ciri-ciri ajaran yang menyimpang dari Firman Tuhan adalah menimbulkan perpecahan dan berbagai godaan yang dapat merusak iman dan percaya kita kepada Tuhan Yesus Kristus (17). Fokus ajaran mereka adalah untuk menguntungkan diri sendiri melalui perkataan yang muluk-muluk, dan janji-janji manis yang dapat menipu banyak orang (18).  Ketika kita sedang mengerjakan pekerjaan pelayanan Tuhan, apa yang memotivasi kita melakukan tindakan tersebut? Jika fokus kita hanya untuk menyenangkan hati manusia (diri sendiri) tentu kita akan cepat menyerah, dan melakukannya dengan secara asal-asalan. Sebaliknya, ketika fokus kita hanya untuk melayani Tuhan, maka tentunya kita akan taat, setia dan bersedia mengikuti setiap proses dengan baik. Artinya mau dibilang, jika kita melayani dalam satu team, maka kita akan tetap bersatu sebagai sebuah team yang solid, terus memperbaiki diri, dan selalu melakukan yang terbaik sesuai dengan tugas yang Tuhan percayakan kepada kita. Jadi sekecil apapun pekerjaan pelayanan yang kita lakukan jika kita setia dan terfokus kepada Tuhan, maka akan membawa dampak yang besar bagi orang lain.

Doa:  Tuhan, biarlah dalam tuntunanMu, hidup dan kerja kami hanya untuk melayaniMu dengan setia. Amin.

 

Kamis, 07 Maret 2019                           

bacaan : Kejadian 39 : 11 – 20 (T)

11 Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah. 12 Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. 13 Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar, 14 dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: “Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras. 15 Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.” 16 Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang. 17 Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: “Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku. 18 Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.” 19 Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya. 20 Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.

Tetap Setia Hadapi Pencobaan Hidup

Difitnah dan dituduh serta dikatakan sebagai seorang yang tidak jujur dan tidak benar adalah merupakan suatu hal yang tidak enak. Ada suatu upaya pembunuhan karakter dalam diri kita yang dilakukan oleh orang lain. Segala sesuatu yang kita lakukan menjadi serba salah karena akan selalu dicurigai oleh orang lain. Kita tidak dipercaya dan menjadi terkucil dalam lingkungan pergaulan. Sebagai manusia, kita marah dan ingin membalas dengan mengadukannya ke pengadilan dengan dalil pencemaran nama baik. Rasa kesal, benci dan dendam bercampur aduk di dalam hati. Seperti Yusuf pernah mengalaminya, hal yang sama pun terjadi pada ibu Lisa. Oleh suaminya sendiri, dia dituduh telah berselingkuh dan dipermalukan di lingkungan tempat tinggal mereka. Bahkan bukan itu saja, suami ibu Lisa menyebarkan tuduhan tersebut sampai ke kantor tempatnya bekerja. Ibu Lisa merasa malu terhadap tuduhan dan pencemaran nama baiknya oleh suaminya sendiri. Dari lingkungan keluarga, tempat tinggal sampai di kantor, ibu Lisa merasa tidak nyaman tetapi berusaha sabar menghadapinya. Apa yang harus ia lakukan? Mau melapor ke polisi, suaminya pasti kena masalah. Dengan tabah ia menjalani saja hari-hari yang merupakan siksaan baginya. Entah sampai kapan ia harus menanggungnya, ia serahkan semuanya kepada Tuhan karena ia merasa tidak pernah melakukan pengkhianatan kepada suami dan keluarganya. Ia tidak pernah berselingkuh dan mencemarkan dirinya serta memalukan suami dan keluarganya. Ibu Lisa hanya berdoa mohon kekuatan hati hadapi kenyataan difitnah dan dituduh atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Jika saat ini saudara merasakan hal yang sama seperti Yusuf dan ibu Lisa, serahkanlah semuanya kepada Tuhan, maka pasti Tuhan akan menguatkan hatimu hadapi semuanya dan mintalah hikmat dari Tuhan supaya tetap setia hadapi pencobaan dengan kesabaran penuh.

Doa: Tuhan, berilah Roh kesetiaan bagi kami hadapi setiap pencobaan. Amin. 

 

Jumat, 08 Maret 2019                           

bacaan : 1 Korintus 7 : 1 – 9 (T)

Tentang perkawinan
Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, 2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. 3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. 4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. 5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak. 6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah. 7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. 8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. 9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu. 

Hidup Dalam Kesetiaan Perkawinan

Sekarang ini lagi maraknya pemberitaan di berbagai media tentang kasus prostitusi online yang dilakukan oleh sebuah jaringan mucikari terhadap beberapa artis di Negara kita ini. Hal ini tentu mendatangkan keresahan tersendiri bagi masyarakat termasuk kita sebagai keluarga-keluarga Kristen. Semakin hari, dunia semakin menawarkan jalan pintas dan instan untuk mendapatkan banyak uang meskipun untuk itu diri sendiri, keluarga bahkan orang lain dikorbankan. Perilaku penyimpangan seksualitas seperti ini bukan saja terjadi pada orang yang belum menikah, namun juga bagi orang yang sudah menikah dan memiliki pasangan hidupnya. Apa yang dapat kita pelajari dari kenyataan hidup seperti ini?? Bacaan kita hari ini mengingatkan kita tentang sebuah perkawinan yang di dalamnya berbagai peraturan bagi mereka yang belum menikah, yang sudah menikah bahkan mereka yang janda. Sebagai suami dan istri yang sah dalam pernikahan yang suci dan kudus, hendaknya mematuhi kehendak Tuhan di dalam hidup perkawinan. Jangan saling menodai ranjang perkawinan dengan berkhianat melalui perselingkuhan dan perzinahan. Baiknya suami dan istri hidup saling melayani dengan penuh cinta kasih sehingga berkat Tuhan selalu tercurah dalam hidup keluarga dan keturunan anak cucu. Dan bagi orang-orang muda yang belum menikah, bahkan mereka sebagai janda-janda, hendaknya hidup selalu menjaga kesucian dan kekudusan hidup sehingga tidak mendatangkan hukuman Tuhan bagi diri. Sebab tubuh kita adalah bait Allah, tempat Allah bersemayam di dalamnya. Jangan merusak tubuh kita sesuka hati dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebaiknya mintalah dari Tuhan jodoh yang baik supaya dapat membina hidup dalam keluarga yang diberkati Tuhan.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami pribadi dan keluarga yang setia kepada firmanMu. Amin.

 

Sabtu, 09 Maret 2019                               

bacaan : Keluaran 16 : 1 – 12 (T )

Manna, Sabat
Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir. 2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; 3 dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” 4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. 5 Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.” 6 Sesudah itu berkatalah Musa dan Harun kepada seluruh orang Israel: “Petang ini kamu akan mengetahui bahwa Tuhanlah yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir. 7 Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?” 8 Lagi kata Musa: “Jika memang TUHAN yang memberi kamu makan daging pada waktu petang dan makan roti sampai kenyang pada waktu pagi, karena TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya–apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN.” 9 Kata Musa kepada Harun: “Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Marilah dekat ke hadapan TUHAN, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu.” 10 Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun–maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan. 11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 12 “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.” 

Bertahanlah Dalam Penderitaan

Bersungut-sungut adalah kecenderungan manusia ketika menghadapi persoalan, padahal sesungguhnya sungut-sungut tidak dapat menyelesaikan masalah, bahkan dapat menimbulkan masalah baru. Dalam perjalanan umat Israel di padang gurun, ketika mereka kehabisan makanan, mereka bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, mereka berkata kepada Musa bahwa lebih baik mereka mati di tanah Mesir asal mereka bisa makan roti dan daging dalam kuali sampai kenyang, daripada mati di padang gurun karena kelaparan. Umat Israel mulai meragukan penyertaan Tuhan yang memimpin perjalanan mereka. Untuk itu Musa memperingatkan mereka bahwa Tuhan Allah yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir, Dia-lah yang melindungi mereka dalam perjalanan di padang gurun, Dia-lah yang menyediakan semua kebutuhan mereka termasuk makanan. Bagaimana mungkin mereka meragukan kemahakuasaan Tuhan? Kalau kemudian Tuhan menyediakan manna dan burung puyuh, itu adalah bukti penyertaan Tuhan, bagaimana mungkin mereka bersungut-sungut? Bersungut-sungut  juga sering menjadi kecendrungan orang-orang percaya di saat ini, apalagi kalau menghadapi berbagai cobaan hidup. Ada orang yang putus asa dan hilang harapan, ada orang yang tidak mampu menghadapi penderitaan, karena selalu hidup dalam kemudahan. Keluarga sebagai tempat pewarisan nilai-nilai hidup, hendaklah dijadikan kesempatan untuk menumbuhkan kecerdasan daya tahan atau kecerdasan adversity, dimana setiap orang teristimewa anak – anak, akan bertumbuh menjadi generasi baru yang memiliki daya tahan menghadapai berbagai kesulitan dan tantangan. Mereka tidak gampang tergoda dengan rayuan dunia tetapi tetap setia serta bergantung dan berharap hanya pada Tuhan Yesus.

Doa:  Tuhan, berilah kami kemampuan untuk bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup, amin.

*sumber : SHK bulan Maret 2019 LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *