fbpx

Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 April 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 14 April 2019                             

bacaan : Lukas 14 : 25 35  (T)  

Segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikut Yesus

25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: 26 “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? 29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, 30 sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. 31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? 32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. 33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. 34 Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? 35 Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

 Menjadi Pengikut Yesus

 Apakah Jawabmu? “Yaa…! saya mengaku, bersedia dengan segenap hati”Hari ini, pada masa raya sengsara Kristus yang ke tujuh ini, pertanyaan dan jawaban di atas akan berkumandang di gereja-gereja yang jemaatnya melaksanakan Peneguhan Anggota Sidi Baru…  Pengakuan yang seharusnya lahir dari lubuk hati mereka yang diteguhkan karena dengan sadar ingin menjadi pengikut Yesus yang setia dan bukan karena tuntutan liturgi… Sebab jawaban sekaligus pengakuan dan janji ini sering kali hanya menjadi jawaban klise semata sehingga dengan mudah akan terlupakan begitu saja seiring berjalannya waktu.

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus dengan gamblang berkata kepada orang-orang yang mengikut Dia: “Sapa yang batul-batul mau iko beta, dia musti binci dia pung mama, papa, laki, bini, ana-ana, ade kaka deng dia pung nyawa lai?” Dengan berkata demikian apakah Yesus sedang mengajarkan kita untuk membenci keluarga lalu bunuh diri???. O o… jangan salah mengerti, karena Yesus justeru ingin kita mengasihi sampai kepada musuh sekalipun. Tetapi dengan berkata begitu, Yesus sedang menggugah orang-orang itu dan kita untuk mengikut DIA jangan dengan setengah hati, dan karena itu prioritas hati harus lebih kepada Yesus ketimbang ke hal-hal lainnya.. Selanjutnya Yesus menambahkan dua perumpaan tentang bagaimana membuat perhitungan sebelum membangun gedung ataupun pergi berperang. Karena ada harga yang harus dibayar untuk menjadi pengikut-Nya, sehingga harus diperhitungkan matang-matang. Dengan demikian yang Yesus inginkan dari kita adalah: Kasihi Yesus leboh dari keluarga sendiri, lebih dari diri sendiri dan lebih dari apapun. Sanggupkah kita? Semoga!!!

Doa: Tuhan, mampukan hamba untuk menjadi pengikut-Mu..Amin!!

Senin, 15 April 2019

bacaan :Yohanes 18 : 12 – 18 (T)  

Yesus di hadapan Hanas — Petrus menyangkal Yesus

12 Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. 13 Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar; 14 dan Kayafaslah yang telah menasihatkan orang-orang Yahudi: “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa.” 15 Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar, 16 tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk. 17 Maka kata hamba perempuan penjaga pintu kepada Petrus: “Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus: “Bukan!” 18 Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. 

Ale ni Orang Kristen to…..?

Ale ni orang Kristen to? Kalau pertanyaan ini datang untuk kita dalam keadaan “aman”, pasti dengan gamblang kita lawab: “Iyo, barang kanapa?”  Tapi jika pertanyaan ini disampaikan 16–20  tahun kemarin, pasti kita akan pikir panjang atau tagal takut nyawa melayang, bisa saja dengan spontan kita bilang: “BUKAN!!!”

Sebagai murid Yesus, Petrus ditanyai tentang statusnya di halaman istana Imam Besar, sementara di dalam istana, Yesus sedang diadili oleh Hanas, Imam Besar dan mertua Kayafas. Tanggapan Petrus? Ia tidak ingin dikenali sebagai murid Yesus, apalagi tahu-menahu tentang ajaran-Nya. Petrus sedang berbohong demi keselamatan diri sendiri. Padahal dalam keadaan “aman”, dia pernah sesumbar: “Biarpun mereka semua tergoncang… aku sekali-kali tidak (Matius 26:13)” dan “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu (Yoh. 13:37)” Petrus gagal mempertahankan pernyataan iman yang pernah dibuatnya. Karena: 1). dia membawa diri ke dalam pencobaan yang tidak sanggup dia hadapi, yaitu ke tempat “musuh” Yesus. Padahal Yesus sudah memintanya untuk pergi. 2). dia tidak berjaga-jaga di dalam doa dan terlalu mengandalkan kekuatan sendiri. 3). dia takut menghadapi risiko harus menderita sebagai Pengikut Kristus.

Saudaraku, kita juga sering melakukan hal yang sama dengan Petrus, dalam bentuk yang berbeda. Seperti: kita tutup mulut ketika seharusnya mengatakan yang benar atau menolak untuk membantu orang yang lemah demi sebuah keadilan hanya karena yang dihadapi adalah mereka yang “beruang dan berkuasa” lalu kompromi dengan keadaan. Kegagalan Petrus dalam imannya jadi pelajaran bagi kita untuk tetap setia menjadi pengikut Kristus..

Doa:  Tuhan, mampukan hamba agar kata dan tindakan hamba mencerminkan keberadaan hamba sebagai pengikut-Mu, Amin!

 

Selasa, 16 April 2017                             

bacaan : Yohanes 18 : 19 – 27 (T)  

19 Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya. 20 Jawab Yesus kepadanya: “Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. 21 Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.” 22 Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: “Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?” 23 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” 24 Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu. 25 Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya: “Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?” 26 Ia menyangkalnya, katanya: “Bukan.” Kata seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus: “Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?” 27 Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam. 

Sekali Lagi, Dia Menyangkal

Penyangkalan Petrus terhadap Yesus dalam perikop kita hari ini merupakan realisasi atas peringatan Yesus dalam perjamuan malam terakhir. Ketika itu, Petrus dengan semangat mengatakan bahwa dia mau memberikan nyawanya bagi Yesus.

Yesus, yang mengerti betul sifat Petrus yang mudah goyah, mengingatkan kembali Petrus akan kata-katanya dalam perjamuan terakhir. “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Saat ayam berkokok itu memang masih lama. Yesus masih harus dibawa ke para penguasa waktu itu dan ketika Ia sedang di hadapan Hanas,  Ia sedang menyatakan kebenaran dan mengalami siksaan, Ia ditampar, saat itu si murid sedang berbohong dan melakukan penyangkalan ganda.

Saudaraku, kita sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Petrus. Saat sedikit goncangan angin penderitaan menerpa, kita mudah menyangkal Yesus dengan mengompromikan iman kita terhadap kondisi kita. Karena itu belajarlah untuk rendah hati dan tidak sesumbar, memperlihatkan kesombongan rohani, menganggap diri paling baik dan mampu menjadi saksi Kristus yang setia tanpa bisa melakukannya dalam kata dan perbuatan. Baiklah kita melakukan apa yang mestinya kita lakukan dan biarkan Tuhan yang menilai perbuatan dan pekerjaan kita. Janganlah memberi penilaiani, yang terkadang cenderung membenarkan diri sendiri, padahal belum tentu sama dengan yang Tuhan mau.

Doa: Bapa, ampunilah kami jika kami masih menyangkalimu dengan kata dan tindakan kami…. Amin!!!

 

Rabu, 17 April 2019                                     

bacaan : Lukas 23 : 33 38 (T)

Yesus disalibkan

33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. 34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. 35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” 36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya 37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” 38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.

Mengasihi dan Mendoakan Musuh

Tuhan Yesus dalam pelayananNya selalu mengajarkan soal kasih bagi para murid dan juga kita semua sebagai para pengikutNya. Kasih mesti menjadi gaya hidup orang percaya. Kasih sebagai tanda hidup baru. Kasih bukan cuma menjadi penghias bibir alias diucapkan semata, namun mesti dilakukan dan dipraktekkan. Tuhan Yesus mengajarkan untuk mengasihi sesama bahkan musuh kita sekalipun, kita perlu mendoakan mereka (bd. Matius 5:44). Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan tetapi Ia juga mempraktekkannya melalui kesaksian bacaan firman Tuhan di hari ini. Saat dalam penderitaan yang maha berat di atas tiang kayu salib, Tuhan Yesus memohon belas kasihan dan pengampunan kepada orang-orang yang menyalibkanNya, orang-orang yang mengolok-olokkanNya, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Kasih Tuhan Yesus penuh pengampunan dan memberi keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.  Kasih Tuhan itupun memberi kekuatan bagi kita sekeluarga untuk tetap setia dan taat mengikut Tuhan. Kasih Tuhan juga memberi teladan bagi kita untuk memberi pengampunan bagi sesama yang membenci kita atau musuh kita sekalipun. Dengan melakukan hal demikian maka kita menjadi keluarga Allah yang memberi contoh dan teladan di tengah dunia yang penuh dengan permusuhan, dendam dan kebencian. 

Doa: Tuhan Yesus mampukan kami agar kami dapat mengasihi sesama kami bahkan yang membenci kami. Amin.

 

Kamis, 18 April 2019                            

bacaan :  Lukas 23 : 39 43 (T)

39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” 40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” 42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” 43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” 

Diampuni dan Diselamatkan

ita ada di minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus dan memaknainya dalam seluruh kehidupan kita semua. Pengorbanan Tuhan Yesus sekali untuk selamanya adalah bukti cinta kasih Allah yang besar bagi umat manusia ciptaanNya. Dalam kesaksian penginjil Lukas, ditengah penderitaan yang maha berat di kayu salib, Yesus masih mendoakan memohon belas kasihan dan pengampunan dari Bapa di sorga kepada orang-orang yang melakukan tindakan kekerasan kepadaNya. Sebab mereka melakukan tanpa mengetahui apa yang mereka perbuat. Bahkan seorang penjahat yang sama-sama disalibkan pun juga mendapat kasih, keampunan dan keselamatan kekal, saat dengan penuh kerendahan hati ia memohon pengampunan dari Tuhan Yesus. Sikap Tuhan Yesus ini menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga yang menikmati keampunan, kehidupan dan keselamatan sebagai anugerah untuk meneruskannya dalam kehidupan keseharian kita. Sebagai papa, mama maupun anak-anak ketika kita melakukan hal-hal baik yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kemudian kita dibenci dan dimusuhi bahkan diperlakukan dengan tidak adil dan mengalami kekerasan maka hendaknya kita memberi pengampunan, mendoakan mereka yang melakukannya. Dengan demikian kita menjadi keluarga Allah yang selalu menebarkan kasih bagi semua orang melalui sikap dan perilaku hidup yang akan mendatangkan berkat sukacita dan keselamatan kekal.

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk mendoakan dan mengampuni mereka yang membenci dan memusuhi kami . Amin.

 

Jumat, 19 April 2019                               

bacaan : Lukas 23 : 44 49 (T)

Yesus mati

44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, 45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. 46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” 48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. 49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.

Taat Sampai Mati

Hari ini seluruh umat percaya merayakan kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Kematian Yesus sebagai bukti cinta kasih Allah yang besar bagi keselamatan seluruh manusia. Seluruh karya pelayanan Tuhan Yesus dari awal sampai akhir hidupNya memberi contoh dan teladan bagi semua umat percaya bahkan kepada mereka yang melakukan tindakan kekerasan kepada Yesus, diantaranya kepala pasukan. Dengan penuh keyakinan kepala pasukan ini mengaku “ sungguh orang ini adalah orang benar“. Pengakuan kepala pasukan ini lahir dari pengalamannya dalam menyaksikan seluruh drama penyaliban yang dijalani oleh Tuhan Yesus dengan penuh ketaatan. Penderitaan Yesus dijalani tidak dengan bersungut-sungut, tidak lari atau takut, namun dengan berserah kepada Allah Bapa di Sorga. Sebuah teladan bagi kita sebagai keluarga Allah bahwa ketika kita melakukan perintah dan kehendak Tuhan, maka kita akan menghadapi banyak masalah, tantangan bahkan  penderitaan dan penganiayaan. Itu adalah resiko ketika kita telah mengaku iman dan bersedia mengikut Tuhan. Namun kita tidak perlu ragu atau takut menghadapinya sebab penyertaan dan pemeliharaan Tuhan selalu nyata dalam langkah kehidupan kita. Hal itupun menjadi kesaksian dan teladan bagi setiap orang di sekitar kita.

Doa: Tolong kami Tuhan agar kami tetap setia dan taat untuk mengikut Tuhan. Amin.

 

Sabtu, 20 April 2019                              

bacaan : Yohanes 19 : 38 – 42 (T) 

Yesus dikuburkan

38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. 40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 42 Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

Mengimani Yesus dengan Pelayanan Kasih

Hanya karena Kasih-Nya kepada manusia dan dunia ini Yesus rela mati di Tiang Kayu Salib, namun demikian masih adakah manusia yang mengasihiNya? Peristiwa Kematian Yesus yang diceriterakan dalam Yohanes 19:38-42 mengangkat kedepan perbuatan kasih dari orang-orang yang percaya kepada Yesus. Mereka adalah Jusuf dari Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang tidak setuju dengan keputusan untuk membunuh Yesus (Luk.23:51), dan Nikodemus seorang pemimpin Agama Yahudi (Yoh.3:1) yang percaya kepada Yesus. Mereka meminta persetujuan Pilatus, dan dengan diam-diam menurunkan mayat Yesus, mengapaniNya dengan rempah-rempah yang disiapkan oleh Nikodemus, antara lain mur dan minyak gaharu sesuai adat istiadat Yahudi dan menguburkan mayat Yesus di tanah milik Yusuf Arimatea (Mat.27:60). Apa yang dilakukan oleh Yusuf Arimatea dan Nikodemus adalah perbuatan kasih berdasarkan iman mereka yang sungguh kepada Yesus. Karena iman mereka percaya bahwa Yesus akan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Karena iman, mereka rela untuk melayani mayat Yesus untuk dikuburkan, walaupun risikonya sangat berat karena berhadapan dengan kekuasaan Yahudi. Karena iman mereka bersedia mempersembahkan yang terbaik bagi Yesus.Kerelaan untuk melayani dan mempersembahkan yang terbaik dari hidup kita kepada Yesus adalah sikap iman yang harus diwujudnyatakan dalam kehidupan kita. Saling melayani diantara anggota keluarga, saling memberi untuk menopang yang lemah, dan saling mendoakan dalam berbagai peristiwa. Sebagai orang percaya, peristiwa kematian Yesus hendaklah menolong kita untuk mewujudkan iman kita lewat sikap dan perbuatan kasih yang nyata, bagi semua anggota keluarga tetapi juga dalam hubungan dengan sesama dan alam ciptaan Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk mengasihi sebagai wujud iman kami, amin.

 

*sumber : SHK terbitan bulan April 2019 LPG-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *