Peneguhan 80 Orang SIDI Baru dalam Jemaat GPM Silo
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Setelah melewati proses pembelajaran, pembekalan, pastoralia, dan pendampingan selama kurang lebih 1 tahun ajaran, maka ke-80 anak kateketsan kemudian menjalani Peneguhan Sidi Baru di lingkup Jemaat GPM Silo pada Minggu (14/4).

Pelaksanaan Peneguhan Sidi Gereja tersebut terjadwal berlangsung di seluruh jemaat-jemaat dalam lingkupGereja Protestan Maluku, yakni kurang lebih 725 jemaat, sehingga diperkirakana kurang lebih 18.000 orang yang menjalani Peneguhan Sidi Gereja secara serentak. Pdt. Jan Z. Matatula dalam khotbahnya menegaskan 4 hal penting yang mesti menjadi pegangan bagi para Sidi Baru.
Pertama : Setiap orang yang hendak menjadi murid Yesus harus bersedia melepaskan ikatan dengan keluarganya.
Yesus dengan tegas berkata : “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (ayat 26).
Kedua ; Setiap orang yang hendak menjadi murid Yesus harus mengorbankan hidupnya.
Jelasnya dikatakan ; “Barang siapa yang tidak membenci……… nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridku”. (ayat 26) Bukan Cuma itu, tetapi juga Ia berkata dengan tegas ; “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (ayat 27). Memikul salib. Dalam hukum Romawi, bila seorang penjahat di bawa ketempat penghukumannya, ia sendiri yang harus memikul salibnya bukan orang lain, sekaligus mengingatkan bahwa ia tunduk kepada Romawi, tetapi juga mengingatkan orang-orang yang menonton supaya mereka lebih baik tunduk juga.
Ketiga ; Setiap orang yang hendak menjadi murid Yesus harus mengorbankan harta kekayaannya.
Tegasnya dikatakan ; “Demikian pula tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu” (ayat 33). “Melepaskan diri dari segala miliknya”…!!! Hal itu dijelaskan Yesus dalam dua perumpaan yang kita baca dalam teks kita pada ayat 28 s/d 32. Dalam perumpamaan Pertama Ayat 28-30 berisikan perumpamaan tentang orang yang mendirikan sebuah menara. Orang itu harus membuat perhitungan yang tepat bila tidak akan dicemooh orang karena gagal menyelesaikan pembangunan menara tersebut.
Tantangan keempat adalah setiap orang harus menjaga konsistensi sebagai murid Yesus.
Pada bagian terakhir dari periko ini Yesus kemudian berkata ; Garam memang baik, tetapi jika garam jiga menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan ??? Tidak ada lagi gunanya…. (ayat 34). Bicara tentang garam, maka garam berfungsi sebagai penyedap rasa, tetapi juga sebagai pengawet. Karena itu peranan garam menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia. Nah, Kalau kemudian fungsi garam ini kita tempatkan dalam posisi orang Kristen sebagai murid Yesus, maka sebetulnya Yesus hendak menegaskan bahwa selain murid-muridNya harus memberi rasa aman, damai, sukacita bagi orang lain, tetapi mereka juga harus membuat kehidupan itu tetap bermutu dan bertahan lama. Hidup mereka tidak boleh hambar. Sebab kalau hidup mereka menjadi hambar, maka ini menunjukan mereka gagal menjadi murid Yesus. Karena itu kalau mau menjadi murid Yesus maka kamu harus menjaga agar garam itu tidak boleh menjadi hambar, ungkap Matatula.

Dalam ibadah peneguhan Sidi tersebut, dilaksanakan pula Baptisan Dewasa kepada 2 orang Dewasa yang diteguhkan saat itu yakni, Sdr Semy Ratusehaka dan Nono Krisna Pattikawa. Keseluruhan jalannya liturgis ibadah Peneguhan Sidi Gereja di Jemaat Silo berlangsung penuh hikmat, sebab Majelis menyiapkan fotografer dan kameramen tersendiri, sehingga para kerabat keluarga yang mengabadikan foto dapat diatur secara lebih tertib.
Setelah seluruh rangkaian ibadah ritual berlangsung, maka kepada ke-80 Sidi Baru dibagikan sertifikat dan buku kenangan yang diterima oleh masing-maisng orang dengan didampingi orang tua. Acara dilanjutkan di ruang serba guna yakni syukuran bersama ke-80 Sidi Baru dengan Majelis Jemaat, Keluarga serta Warga Jemaat yang hadir. [BK]

