Santapan Harian Keluarga, 9-15 Juni 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 09 Juni 2019     

bacaan I : Bil. 11 : 31 – 35

Burung puyuh

31 Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi. 32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu–setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer–,kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan. 33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. 34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus. 35 Dari Kibrot-Taawa berangkatlah bangsa itu ke Hazerot dan mereka tinggal di situ.

bacaan II : Kisah 2 : 41 – 47 (T)

Cara hidup jemaat yang pertama

41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Roh Kudus Menggerakan Manusia Agar Tidak Serakah Terhadap Alam

Hari ini kita merayakan pencurahan Roh Kudus atau Pentakosta yang terjadi di kota Yerusalem, 50 hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Kekuatan Roh Kudus yang memberikan semangat baru kepada  para rasul untuk melanjutkan misi kesalamatan Kristus bagi dunia dan manusia untuk keselamatan kekal. Pelayanan para rasul untuk menyadarkan orang percaya dan semua umat manusia untuk bertobat dan berbalik dari sikap dan perilaku hidup yang lama. Salah satunya adalah sikap keserakahan yaitu sikap kepentingan diri dari manusia. Hal ini disaksikan melalui perilaku umat Israel saat mereka dalam perjalanan menuju Kanaan. Dalam situasi yang menantang, mereka bersungut-sungut kepada Musa soal keinginan mereka untuk makan daging. Persungutan umat Israel ini dijawab Tuhan dengan mengirimkan burung puyuh dan kemudian Tuhan menghukum mereka karena keserakahan mereka. Situasi ini berbeda dengan situasi hidup para rasul di tengah persekutuan jemaat mula-mula dimana mereka hidup sehati dengan saling berbagi berkat di antara satu dengan yang lainnya. Dalam tuntunan Roh Kudus, persekutuan hidup jemaat menunjukkan tidak ada sikap keserakahan atau mementingkan diri sendiri. Walaupun ada yang mencoba-coba tetapi toh penghukumannya adalah maut (bd. KPR. 5: Ananias dan Safira). Nasehat ini juga penting bagi kita terkait tanggung jawab kepada alam semesta tempat kita hidup, baik dengan sesama maupun dengan semua makhluk hidup yang lain. Sebagai keluarga Allah hendaknya kita selalu memohon tuntunan Roh Kudus agar  kita mampu mewujudkan sikap hidup saling berbagi, menjaga dan merawat kehidupan bersama dengan semua ciptaan  demi keselamatan kekal dalam Kristus Yesus.

Doa: Roh Kudus tuntun kami agar tidak serakah terhadap sesama dan semua ciptaan yang lain, Amin.

Senin, 10 Juni 2019                                   

bacaan : Yesaya 44 : 1 – 8 (T)  

TUHAN satu-satunya Allah
“Tetapi sekarang, dengarlah, hai Yakub, hamba-Ku, dan hai Israel, yang telah Kupilih! 2 Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau: Janganlah takut, hai hamba-Ku Yakub, dan hai Yesyurun, yang telah Kupilih! 3 Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. 4 Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai. 5 Yang satu akan berkata: Aku kepunyaan TUHAN, yang lain akan menyebut dirinya dengan nama Yakub, dan yang ketiga akan menuliskan pada tangannya: Kepunyaan TUHAN, dan akan menggelari dirinya dengan nama Israel.” 6 Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. 7 Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami! 8 Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!”

Roh Kudus Menggerakan Manusia Untuk Merawat Alam

Hari ini dalam syukur Pentakosta atau pencurahan Roh Kudus, kesaksian firman Tuhan bagi kita semua menceritakan tentang cinta kasih Allah kepada umat pilihanNya Israel yang tidak pernah berubah. Sekalipun umat menunjukkan sikap dan perilaku hidup yang melawan Allah, namun Allah tetap mengasihi mereka, dimana Allah akan mencurahkan air ke tanah yang haus dan hujan lebat ke atas tanah yang kering. Gambaran tanah yang haus dan kering menggambarkan kondisi hidup umat yang terpuruk karena dosa dan pelanggaran mereka. Namun kondisi itu akan berubah, dimana umat akan dipulihkan oleh Allah melalui tuntunan kuasa Roh Kudus sehingga mereka menikmati berkat dan sukacita sebagai bangsa pilihan Allah. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air dan seperti pohon dandarusa ditepi sungai. Inilah berita sukacita bagi umat untuk mereka berbalik dan bertobat dari kehidupan yang lama serta menyambut hidup baru dengan bergantung sepenuh pada Allah sebagai sumber hidup.Hal inipun juga menjadi teladan bagi kita semua sebagai Israel-Israel masa kini yang mengalami karya keselamatan Tuhan Yesus melalui Penolong Roh Kudus yang menuntun dan membarui kehidupan kita.Membarui sikap serakah terhadap alam dengan menjaga, merawat dan memeliharanya untuk kehidupan bersama serta untuk generasi mendatang. Tentu kita yakin akan kuasa Tuhan melalui Roh Kudus untuk melaksanakan tanggung jawab terhadap alam yang dimulai dari dalam kehidupan keluarga, persekutuan umat dan masyarakat.   

Doa: Ya Roh Kudus, tuntun kami agar dapat menjaga dan merawat alam dengan baik. Amin.

Selasa, 11 Juni 2019                                

bacaan : Yesaya 32 : 9 – 20 (T)

Peringatan kepada perempuan-perempuan Yerusalem

9 Hai perempuan-perempuan yang hidup aman, bangunlah, dengarkanlah suaraku, hai anak-anak perempuan yang hidup tenteram, perhatikanlah perkataanku! 10 Dalam waktu setahun lebih kamu akan gemetar, hai orang-orang yang hidup tenteram, sebab panen buah anggur sudah habis binasa, dan panen buah-buah lain juga tidak ada. 11 Gentarlah, hai perempuan-perempuan yang hidup aman, gemetarlah, hai perempuan-perempuan yang hidup tenteram, tanggalkanlah dan bukalah pakaianmu, kenakanlah kain kabung pada pinggangmu! 12 Ratapilah ladangmu yang permai, dan pohon anggurmu yang selalu berbuah lebat, 13 ratapilah tanah bangsaku yang ditumbuhi semak duri dan puteri malu, bahkan juga segala rumahmu tempat bergirang-girang di kota yang penuh keriaan. 14 Sebab purimu sudah ditinggalkan dan keramaian kotamu sudah berubah menjadi kesepian. Bukit dan Menara sudah menjadi tanah rata untuk selama-lamanya, menjadi tempat kegirangan bagi keledai hutan dan tempat makan rumput bagi kawanan binatang. 15 Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas: Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan. 16 Di padang gurun selalu akan berlaku keadilan dan di kebun buah-buahan akan tetap ada kebenaran. 17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. 18 Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman. 19 Hutan akan runtuh seluruhnya dan kota akan direndahkan serendah-rendahnya 20 Berbahagialah kamu yang boleh menabur di segala tempat di mana terdapat air, yang dapat membiarkan sapi dan keledainya pergi ke mana-mana!

Ya Roh Kudus, Baruilah Hati Kami

Saat ini ada orang yang senang melihat sesamanya menderita, tertindas, diperlakukan tidak adil, dsb.Orang seperti itu ada disekitar kita, dalam keluarga kita, teman sekerja, sahabat, dsb.Mereka dapat menghalalkan segala cara untuk menikmati kemewahan dan kenikmatan, walaupun orang lain harus dikorbankan. Padahal mereka lupa bahwa kemewahan dan kenikmataan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal itu bersifat sementara. Gambaran seperti ini juga yang mau ditegaskan dalam ayat renungan hari ini.Penulis memakai ungkapan “Perempuan-perempuan yang hidup aman”, sebagai simbolik yang menggambarkan orang-orang yang hidup dalam kemewahan dan selalu mencari kesenangan sendiri.Adajuga ungkapan “Anak perempuan yang hidup tentram”, yang menunjuk kepada mereka yang hidupnya suka berfoya-foya dan tidak mau tahu, kurang peka dan peduli terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain. Yesaya mengecam keras gaya hidup seperti ini. Ia menegaskan bahwa kemewahan dan kesenangan duniawi itu hanya bersifat sementara saja. Bahkan mereka akan menjadi gemetar dan meratap nasib mereka. Karena sesudah itu, mereka akan mengalami kegagalan dalam usaha dan kehilangan harta milik. Situasi mereka akan berubah menjadi situasi duka, tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Untuk merubah situasi buruk menjadi baik, harus ada pertobatan, maka Allah akan bertindak dengan mencurahkan Roh Kudus untuk memulihkan. Roh Kuduslah adalah sumber kekuatan untuk melawan kekuatan iblis yang ingin menghancurkan dan membinasakan hidup manusia. Karena itu, sebagai keluarga Kristen, bukalah hati bagi  Roh Kudus, untuk memulihkan keadaan kita. tapi juga menjadikan kita peduli dan peka terhadap sesama dan lingkungan.

Doa: Roh Kudus, baruilah hati kami sekeluarga untuk selalu peka dengan alam dan penderitaan sesama. Amin.

Rabu, 12 Juni 2019                                  

bacaan : Imamat 19 : 9 – 10 (T)

9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

Hiduplah dalam Kekudusan, Sebab Allah adalah Kudus

Kata kunci dalam kitab Imamat adalah: “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus” (19:2). Bahkan ayat ini justru dijadikan kunci untuk memahami seluruh kitab Imamat yang sangat kaya dengan “hukum kesucian” (17-26). Kuduslah kamu sebenarnya merupakan sebuah pernyataan, berkaitan dengansifat Allah yang kudus. Karena Allah itu kudus, maka umat-Nya harus hidup kudus. Namun untuk hidup kudus tidaklah gampang, untuk berproses menjadi kudus itu,  umat harus dituntun oleh Tuhan melalui Roh Kudus. Sebab hidup seseorang bisa menjadi kudus bukan merupakan usahanya sebagai manusia semata, melainkan anugerah Tuhan. Dan proses ini merupakan sebuah proses “pembaruan budi” seperti yang ditegaskan Paulus dalam Roma 12:1-2. Nah, sebagai umat Tuhan yang percaya bahwa Allah yang kita sembah di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang kudus maka haruslah meyakini bahwa hidup kita pun senantiasa disertai Tuhan yang kudus. Karena itu, tidak ada pilihan lain, selain daripada kita mau memberi diri kita untuk diproses menjadi kudus dalam segala aspek kehidupan, terutama dalam membangun relasi dengan Tuhan. Di mana, kudus di sini berarti melakukan apa saja yang menyenangkan hati Tuhan. Kudus juga dipahami dalam relasi dengan sesama manusia. Maksudnya, kita dituntut untuk mewujudkan relasi dengan Tuhan dalam membangun relasi dengan sesama dan alam melalui berbagai perbuatan baik yang kita lakukan sesuai dengan sifat dan karakter Tuhan. Atas anugerah Tuhan, kita telah diampuni dan dibaharui, serta dituntun dalam kehidupan sehari-hari untuk hidup kudus. Oleh karena itu, serahkanlah dirimu  dalam segala aspek kehidupan kepada Tuhan agar dimampukan untuk hidup kudus.

Doa: Ya Tuhan, bentuklah kehidupan kami sekeluarga menjadihidup yang kudus seperti Tuhan adalah kudus. Amin.

Kamis, 13 Juni 2019                            

bacaan : Imamat 19 : 23 – 25 (T)

23 Apabila kamu sudah masuk ke negeri itu dan menanam bermacam-macam pohon buah-buahan, janganlah kamu memetik buahnya selama tiga tahun dan jangan memakannya. 24 Tetapi pada tahun yang keempat haruslah segala buahnya menjadi persembahan kudus sebagai puji-pujian bagi TUHAN. 25 Barulah pada tahun yang kelima kamu boleh memakan buahnya, supaya hasilnya ditambah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu.

Buatlah Bumi Tetap Hijau

Seperti yang kita ketahui, hari demi hari bumi kita semakin rusak. Semakin banyak orang yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Bumi kita semakin banyak polusi dan terjadi global warming. Walaupun banyak orang yang tidak peduli terhadap sehatnya bumi kita, namun tak jarang pula masih ada yang pedui terhadap bumi dengan melakukan gerakan penghijauan. Sebuah upaya untuk menjaga keindahan lingkungan, melindungi lingkungan dari polusi dan memberi udara yang segar bagi manusia. Karena itu,  penghijauan sangat penting bagi bumi kita ini. Dalam kitab Imamat, bagian bacaan kita hari ini, umat Israel   diingatkan untuk menjaga kelestarian lingkungan, dengan jalan mengambil bagian dalam gerakan penghijauan, menanam pohon kembali dan tidak serakah untuk mengambil hasil tanaman tersebut sebelum waktunya. Mereka diminta untuk memberi waktu kepada tumbuh-tumbuhan dan pohon buah-buahan agar dapat berproduksi dengan baik. Ini adalah salah satu tindakan merawat dan menjaga kelanjutan hidup makhluk ciptaan Tuhan   yang lain. Sebuah tindakan yang baik untuk diteladani. Mari kita memulainya dengan melakukan penghijauan dari  yang paling mudah, yaitu menanam dan menjaga tanaman disekitar lingkungan kita, mengajak orang lain untuk melakukannya juga  disekitar lingkungan tempat tinggal bersama dan teruslah peduli terhadap bumi yang kita tinggali  demi kepentingan dan kebaikan kita bersama.

Doa:  Tuhan, tuntunlah kami untuk terus menjaga alam ciptaanMu dengan baik dan tidak merusaknya. Amin!

Jumat, 14 Juni 2019                                

bacaan : Keluaran 23 : 10 – 12 (T)

10 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya, 11 tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu. 12 Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.

Muliakanlah Sang Pencipta Dengan Memelihara Alam Ciptaan-Nya

Ada sejenis ikan besar berwarna coklat yang suka bersarang dan bertelur di sepanjang sungai Owyhee, Oregon pada musim gugur. Ikan-ikan itu menggali dasar sungai yang dangkal dan berbatu untuk membuat sarang disana. Biasanya, para pemancing yang cerdas mengetahui kapan ikan-ikan itu akan bertelur dan berusaha tidak mengganggu proses itu. Mereka tidak akan berjalan diambang sungai agar telur-telur ikan itu tidak terinjak. Mereka juga tidak akan mengarungi sungai kearah hulu agar tidak ada serpihan sampah yang mengalir dan menghancurkan sarang telur Ikan tersebut. Mereka pun tidak akan memancing sekalipun sangat mudah untuk melakukannya karena ikan-ikan itu terhampar di dekat sarangnya. Semua tindakan pencegahan ini merupakan bagian dari etika yang mengatur kegiatan memancing secara bertanggunjawab tetapi sekaligus juga ikut memelihara keberlanjutan hidup makhluk lain sebagai ciptaan Tuhan. Alkitab menegaskan fakta bahwa Tuhan telah memberikan bumi ini kepada manusia untuk dikelola dengan penuh rasa tanggungjawab. Seperti misalnya perintah yang disampaikan Tuhan kepada Israel untuk merawat tanah. Sebagaimana Tuhan memerintahkan umatNya untuk beristirahat pada hari ketujuh, tanah mereka juga harus memiliki tahun istirahat agar nutrisi dalam tanah itu terisi kembali dan kesuburannya dipulihkan. Jika Allah kita sangat peduli kepada bumi ini dan setiap makhluk ciptaanNya. Bagaimana dengan kita? Marilah kita merawat dan mengelola alam ini dengan baik.

Doa: Tuhan, kiranya segala sesuatu yang telah Kau ciptakan mengingatkan kami pada kasih dan pemeliharaanMu. Amin!

Sabtu, 15 Juni 2018                            

bacaan : Kejadian 2 : 15 – 17 (T)   

15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Merawat Alam adalah Tanggungjawab Manusia

Kehidupan manusia tidak lepas dari tanggungjawab, baik di keluarga, gereja dan masyarakat. Soalnya adalah bagaimana tangungjwab itu dilaksanakan, apakah dilakukan dengan setia, atau berhenti di tengah jalan dan melempar tanggunjawab itu kepada orang lain? Sejak dunia ini diciptakan, Allah telah memberi tanggungjawab kepada manusia yaitu mengusahakan dan memelihara seluruh ciptaan Tuhan yang lain agar manusia bisa hidup. Untuk melaksanakan tanggungjawab ini, Allah meminta manusia untuk setia dan tidak melakukan apa yang di larang oleh Allah. Hal ini berarti bahwa tanggungjawab yang diberikan kepada manusia menjadi sangat penting dan tetap dipercayakan kepada kita sampai saat ini, apalagi ketika bumi ini semakin tua dan membutuhkan perhatian kita yang menghuninya? Bagaimana keluarga-keluarga Kristen melaksanakan tanggungjawab merawat alam itu dalam kehidupannya? Tidak lain hanya dengan mewariskan nilai-nilai hidup bertanggungjawab dalam pertumbuhan iman generasi yang baru yaitu anak-anak kita. Mulailah dengan hal-hal yang sederhana seperti: tanggungjawab membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan rumah, halaman dan lingkungan tempat tinggal, menjaga kebersihan tubuh, makan makanan yang sehat dan alami. Selain itu tanggungjawab untuk merawat tanah, air, tumbuhan dan hewan, menyayanginya seperti sesama ciptaan Tuhan. Semua itu diciptakan dan dianugerahkan  oleh Tuhan untuk dinikmati oleh manusia bagi kelangsungan hidupnya.

Doa:  Tuhan, tumbuhan, hewan dan alam ini adalah sesama kami, ajarlah kami untuk mengasihi dan merawatnya, amin.

*sumber : SHKterbitan bulan Juni 2019 LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *