Santapan Harian Keluarga, 6 – 12 Oktober 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 06 Oktober 2019                       

bacaan : 2 Korintus 4 : 1 – 12

Harta rohani dalam bejana tanah
Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. 2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah. 3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, 4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. 5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. 6 Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Dunia Mesti Mengenal Kristus

Saya tertarik ketika membaca sebuah kisah di internet tentang motivasi melayani memberitakan Kristus sebagai Tuhan dan Jurus’lamat, dari seorang perempuan yang bernama Gladys Aylward. Awalnya, ia berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di London. Suatu ketika ia memiliki kerinduan untuk menjadi misionaris di Cina, tetapi ketika mengajukan diri kepada lembaga missi, ia ditolak dengan alasan tidak memenuhi syarat. Karena ditolak, maka pada usia 28 tahun, ia pergi sendiri ke Cina, dan ia menghabiskan seluruh uang tabungannya untuk membeli tiket ke daerah terpencil di Cina yang bernama Yangcheng. Ia mendirikan penginapan untuk pedagang keliling dan membagikan Alkitab kepada mereka. Selain itu, ia pun melayani desa-desa di sekelilingnya. Dan oleh penduduk sekitar, ia dipanggil “Ai-Weh-Deh” (Pribadi yang baik hati; dalam bahasa Mandarin).

Paulus juga dalam kisah pelayanannya, ia mengabarkan Injil ke berbagai jemaat. Dan ia menempatkan dirinya sebagai hamba Kristus Yesus, untuk melayani orang lain sebagai wujud pelayanan kepada Yesus Kristus. Inilah yang dikatakannya tentang pelayanannya: “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba karena kehendak Yesus”. Kristus adalah pusat pemberitaan kita. Dan kita terpanggil seperti rasul Paulus dan Gladys untuk memberitakan Kristus melalui tugas pengutusan dan pelayanan kita. Walau disadari sungguh bahwa pasti akan ada banyak tantangan, hambatan bahkan ancaman yang ditemui dalam pemberitaan tersebut, namun Allah akan menganugerahkan kekuatan bagi kita, dan itulah harta terbesar dalam diri kita yang adalah bejana tanah liat. Dia yang memanggil dan mengutus, maka Dia pula yang akan melengkapi dan menopang kita.

Doa: Tuhan, kami hanyalah bejana tanah liat. Namun kami bersyukur Kau menopang semua tugas pengutusan kami. Amin.

Selasa 8 Oktober 2019                          

bacaan : 2 Korintus  4:13-15

13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. 14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. 15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Beritakanlah Kristus Dalam Kata dan Perbuatan

Hidup ini dikelilingi oleh kata – kata. Setiap hari kita mendengar ribuan bahkan mungkin jutaan kata-kata yang diucapkan. Tanpa merasa jenuh, kita jadi terbawa pada kekuatan kata – kata yang dapat menghibur tapi juga menyakiti; dapat memuji tapi juga menghina; dan dapat menipu tanpa kita sadari. Kata – kata manis belum tentu berbuah baik karena bisa saja menipu; sebaliknya kata-kata pedas dan tegas bisa jadi dilandasi kasih sayang. Rasul Paulus memberi kesaksian bahwa dalam pelayanannya ia dituntun oleh kuasa Roh Kudus untuk berkata – kata, menyampaikan berita Injil Yesus Kristus dalam segala kelemahannya. Sikap kerendahan hati untuk berkata – kata dengan penuh kasih, akan mengantarkan banyak orang untuk percaya kepada Yesus. Dalam upaya membangun komunikasi keluarga, orang tua dapat menggunakan kata – kata didikan berupa nasihat dan teguran. Janganlah menggunakan kata – kata yang menyakitkan berupa cacian dan hinaan, karena selain sia-sia, hal itu tidak lahir dari pekerjaan Roh Kudus. Kata – kata yang penuh kasih, menuntun setiap anggota keluarga teristimewa anak – anak agar mereka saling menyapa dan berbicara dengan sopan dan manis, sehingga suasana keluarga menjadi harmonis. Memulai hari baru dengan kata-kata yang indah dan manis penuh pujian kepada Tuhan, akan menjadikan hidup kita lebih baik dan keluarga semakin diberkati. Bila semua anggota keluarga dapat mempraktikkan kata-kata yang lahir dari tuntunan Roh Kudus, maka di situlah kita pun turut memberitakan kasih Kristus.

Doa : Tuhan Yesus, tuntunlah kami dengan Roh-Mu, untuk memberitakan  kasihMu lewat tutur kata, tingkah laku dan teladan.  Amin.

Rabu 9 Oktober 2019                     

bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 4 -12

Saulus dan Barnabas di pulau Siprus

4 Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. 5 Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Dan Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka. 6 Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos. Di situ mereka bertemu dengan seorang Yahudi bernama Baryesus. Ia seorang tukang sihir dan nabi palsu. 7 Ia adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah. 8 Tetapi Elimas–demikianlah namanya dalam bahasa Yunani–,tukang sihir itu, menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya. 9 Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, 10 dan berkata: “Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu? 11 Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari.” Dan seketika itu juga orang itu merasa diliputi kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus mencari orang untuk menuntun dia. 12 Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan.

Jangan Meragukan Kuasa Roh Kudus

Banyak orang kristen yang mengaku percaya Yesus, namun masih tetap diliputi kekuatiran serta rasa takut pada ancaman kuasa – kuasa “lain”. Ada orang yang masih percaya bahwa, bila anggota keluarganya yang sakit dan sulit disembuhkan secara medis, dianggap sebagai akibat dari kuasa lain atau “orang biking.” Padahal sebenarnya justru karena kekuatiran dan rasa takut yang berlebihan, menjadi penyebab utama yang menghambat upaya kesembuhan. Rasul Paulus dan Barnabas memberi kita pelajaran berharga bahwa jika kita benar – benar percaya dan memberi diri dikuasai oleh Roh Kudus, maka tidak ada satupun kuasa sihir atau “kuasa lain” yang sanggup mengalahkan kuasa kesembuhan Allah. Jika Roh Kudus bekerja, tidak ada satupun kuasa yang sanggup menghalangiNya. Oleh sebab itu, jangan pernah meragukan kuasa Roh Kudus Allah dan yakinlah bahwa keluarga kita tetap dilindungi dan diselamatkan dari segala ancaman “kuasa lain”. Memang pekerjaan Roh Kudus, selalu diperhadapkan dengan tantangan dan ancaman, namun  bila Tuhan berkehendak maka segala tindakan apapun yang menghambat pekerjaan-Nya pasti akan dihancurkan. Jadi ingatlah bahwa kita hanyalah alat yang kecil di dalam tangan Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaanNya yang besar dan janganlah menjadi orang-orang yang menghalangi pekerjaan-Nya.

Doa :        Tuhan jadikanlah kami kuat di dalam kuasa Roh Kudus-Mu, agar kami mampu menghadapi tantangan dan ancaman “kuasa lain”, Amin.

Kamis, 10 Oktober 2019                      

bacaan : I Yohanes 3 : 19 – 24

Keyakinan di hadapan Allah

19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, 20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. 21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, 22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. 23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. 24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Kasih Yesus Membarui Hidup Kita

Pernahkan kita merasa berdosa atau bersalah? Sulit  untuk  menyangkal bahwa kita berbuat salah pada sesama kita lalu merasa bersalah atau berdosa, baik pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Bersyukurlah kalau kita masih memiliki rasa bersalah atas apa yang kita lakukan, dibandingkan bila kita tak pernah merasa bersalah sedikitpun. Namun kenyataannya, ada orang yang terus merasa bersalah atas apa yang dilakukannya  hingga sulit untuk move on, bahkan menjadi larut dalam kesedihannya. Memang jujur harus kita akui bahwa manusia adalah “pendosa yang unik”. Kadang kita “lupa” atau tidak sadar bahwa kita telah berbuat dosa, tapi terkadang pula, kita larut dalam  rasa bersalah yang berkepanjangan.

Jika demikian, bagaimana melepaskan diri dari dosa dan rasa bersalah itu? Firman Tuhan mengatakan: “…Allah adalah lebih besar dari pada hati kita, serta mengetahui segala sesuatu” (ay.20.b). Oleh karena itu, tinggallah di dalam Yesus! Bukalah hatimu untuk menerima Yesus yang berkuasa untuk mengampuni dan membaharui hidupmu. Menemukan kedamaian dalam Kasih Yesus  adalah jawaban atas segala bentuk pergolakan hati kita, baik hati yang keras karena dosa, maupun hati yang terpenjara oleh rasa bersalah. Berilah tempat bagi KASIH Yesus di dalam hatimu, agar hidupmu menjadi lebih baik dan lebih berarti. Hanya dengan demikian, Nama Yesus terus dipermuliakan.

Doa :   Tuhan Yesus, penuhilah hati kami dengan kasih-Mu yang mengampuni dan membaharui, supaya kami tidak terpenjara oleh kekerasan hati dan rasa bersalah yang berlarut-larut. Amin.

Jumat, 11 Oktober 2019                        

bacaan : 2 Korintus 10 : 12 – 18

Pendapat Paulus tentang dirinya

12 Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka! 13 Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga. 14 Sebab dalam memberitakan Injil Kristus kami telah sampai kepada kamu, sehingga kami tidak melewati batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu. 15 Kami tidak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami. Tetapi kami berharap, bahwa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami. 16 Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka. 17 “Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” 18 Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.

Hendaklah Hidupmu Menjadi Pujian Bagi Tuhan

Kita pasti senang dan bahagia ketika apa yang kita kerjakan dan usahakan berhasil. Keberhasilan itu mesti menyemangati kita untuk terus mengembangkannya bukan untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang lain. Hal ini penting agar kita tidak terjebak dalam kesombongan dan kepentingan diri. Sebab semua yang kita peroleh dan capai bukan hanya karena kemampuan dan kekuatan kita semata, namun berkat dan anugerah Tuhan bagi kita. Hal ini yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat di Korintus. Ia menjelaskan tentang siapa dirinya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan oleh Tuhan. Paulus tegaskan bahwa semua yang ia lakukan dengan baik, bukanlah karena kemampuannya sendiri, tetapi karena kekuatan dan campur tangan Tuhan yang menuntun, menyertai dan memberkatinya. Paulus tidak mau terjebak dan mengikuti sikap orang – orang yang selalu menyombongkan diri dengan berbagai keberhasilan mereka. Bagi Paulus baiklah masing-masing orang melakukan tanggung jawabnya dengan setia dan menyerahkan semua kerjanya dalam penilaian Tuhan. Menurut Paulus lebih baik mencari kepujian dari Tuhan daripada mencari kepujian manusia. Nasehat ini sangat berharga bagi kita sebagai orang percaya dalam melaksanakan tugas dan kerja kita, teristimewa sebagai keluarga kristen. Apapun yang kita kerjakan, lakukanlah dengan sungguh – sungguh seperti kepada Tuhan dan bukan kepada manusia.  Lakukanlah dengan penuh kasih untuk saling menguatkan satu dengan yang lain, saling menopang dalam susah dan senang, tanpa mengharapkan pujian dan imbalan. Sebab pada akhirnya Tuhan-lah yang menilai dan memberkati pekerjaan kita.

Doa :  Tuhan Yesus, biarlah melalui seluruh aktivitas kehidupan kami, Nama-Mu dipuji dan dipermuliakan, Amin.

Sabtu, 12 Oktober 2019                         

bacaan :  Efesus 3 : 14 – 21

Doa Paulus

14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Jadikanlah Keluargamu Sebagai Rumah Doa

Orang kristen selalu meyakini bahwa doa adalah nafas hidup, hal itu berarti bahwa doa memegang peranan yang sangat penting. Doa menampakkan ketergantungan kita dengan Tuhan dan penyerahan diri seutuhnya dalam pemeliharaan dan pengendalian Tuhan, sebab tanpa doa, segala sesuatu yang dilakukan akan menjadi sia-sia. Dalam bacaan kita, Efesus 3:14-21, Rasul Paulus menyadari bahwa pekerjaan Pemberitaan Injil yang ia lakukan kepada jemaat di Efesus, haruslah disertai dengan Doa agar Injil Kristus dapat diterima dan tetap berakar dalam kehidupan orang percaya. Bahkan ketika ia berada di Penjara, terpisah dari jemaat Efesus yang ia layani, ia tetap mendoakan mereka. Paulus berdoa agar jemaat di Efesus tetap berakar dalam kasih Kristus, mereka dapat memahami dan mengenal kasih Kristus, dan hidup mereka menjadi kemuliaan bagi Nama-Nya. Doa Rasul Paulus hendaklah menjadi contoh bagi keluarga-keluarga Kristen, ditengah berbagai persoalan yang dihadapi saat ini. Jadikanlah keluarga sebagai “rumah doa” yaitu menjadikan doa sebagai gaya hidup setiap anggota keluarga. Hal ini tidak berarti bahwa mereka hanya berdoa dan tidak usah bekerja, tetapi yang harus menjadi gaya hidup keluarga adalah: doakanlah apa yang dikerjakan dan kerjakanlah apa yang didoakan. Yakinilah bahwa seberapa banyak kita berlutut dan berdoa dihadapan Tuhan akan menentukan seberapa kuatnya kita berdiri dihadapan siapapun dan dalam peristiwa seberat apapun.

Doa :  Tuhan, jadikan keluarga kami sebagai Rumah Doa. Amin.

*sumber : SHK bulan Oktober 2019, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey