Santapan Harian Keluarga, 10-16 November 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 10 November 2019
bacaan : Yakobus 2 : 1 – 9
Jangan memandang muka
Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. 2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, 3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: “Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”, 4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat? 5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? 6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan? 7 Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah? 8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik. 9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
Jangan Memandang Muka Dalam Pelayanan
Realitas orang kaya dan orang miskin (secara material) di dalam masyarakat telah membentuk strata/kelas sosial. Dalam perspektif penulis Yakobus situasi tersebut menjadi semakin sulit ketika cara pandang dan perlakuan masyarakat terhadap sesamanya didasarkan pada perbedaan kelas sosial. Masyarakat pada zaman itu mengalami kesenjangan ekonomi yang amat menyolok diantara kaya dan miskin, yang menyebabkan sikap memandang muka menjadi sesuatu yang lazim. Tindakan memandang muka memperlihatkan isi hati orang tersebut yakni: Pertama, orang ini lebih menghargai kekayaan daripada menghormati moralitas. Kedua, ia bertindak sebagai hakim yang berprasangka buruk terhadap orang miskin sementara ia sendiri bukan seorang hakim.Memandang muka adalah sikap yang hina dan tidak sesuai dengan iman kepada Yesus Kristus. Sebab, Yesus Kristus tidak pernah mempraktekan sikap memandang muka. IA mengasihi semua orang dan semua mendapat perhatian yang sama dihadapanNya. Memandang muka berpotensi menimbulkan ketegangan di dalam gereja dan masyarakat. Bukankah situasi ini juga sementara terjadi dalam kehidupan masyarakat Maluku dan Indonesia, juga dalam kehidupan persekutuan Kristen. Sikap memandang muka sangat tidak berkontribusi bagi pembangunan perdamaian di Maluku pasca konflik yang sementara bergumul untuk memulihkan masyarakatnya dari traumatik, rasa curiga satu terhadap yang lain. Yesus menghendaki kita memperlakukan semua orang dengan kasih yang sama.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk melayani dengan tidak memandang muka. Amin.
Senin, 11 November 2019
bacaan : Amsal 24 : 23 – 25
23 Juga ini adalah amsal-amsal dari orang bijak. Memandang bulu dalam pengadilan tidaklah baik. 24 Siapa berkata kepada orang fasik: “Engkau tidak bersalah”, akan dikutuki bangsa-bangsa, dilaknatkan suku-suku bangsa. 25 Tetapi mereka yang memberi peringatan akan berbahagia, mereka akan mendapat ganjaran berkat.
Gunakan Standart Positif Dalam Hidup Bersama
Anak kita bertengkar dengan anak tetangga saat bermain. Kita lalu memarahi anak tetangga dan membela anak kita, padahal ketika nantinya diselidiki, ternyata anak kita yang salah. Kita lebih memprioritaskan anak kita tanpa lebih dulu mengecek duduk persoalannya dengan baik dan benar. Itu berarti kita telah mempraktikkan keberpihakan yang ”memandang bulu”. “…Memandang bulu dalam pengadilan tidaklah baik” (Ams.24:23.b).
Memandang bulu atau memandang muka, dapat terjadi karena kepentingan kita sendiri. Akibatnya kita banyak membuat pilihan berdasarkan suka atau tidak suka. Syukur kalau standar yang kita buat masih tergolong positif, misalnya: Jangan bergaul dengan pembohong. Namun akan menjadi negatif bila standar kita adalah jangan bergaul dengan orang miskin, cacat, atau lemah. Itu berarti kita telah merampas kasih Allah kepada ciptaan-Nya dengan standar yang kita buat. Jadi berhati-hatilah dalam hal memandang muka karena mungkin saja orang yang tidak kita anggap, justru berharga di mata Tuhan.
Doa: Tuhan, ajarilah keluarga kami agar tidak memandang muka dalam hidup bersama orang lain. Amin.
Senin 12 November 2019
bacaan : Maleakhi 2 : 1 – 9
Murka TUHAN terhadap para Imam
Maka sekarang, kepada kamulah tertuju perintah ini, hai para imam! 2 Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati nama-Ku, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan. 3 Sesungguhnya, Aku akan mematahkan lenganmu dan akan melemparkan kotoran ke mukamu, yakni kotoran korban dari hari-hari rayamu, dan orang akan menyeret kamu ke kotoran itu. 4 Maka kamu akan sadar, bahwa Kukirimkan perintah ini kepadamu, supaya perjanjian-Ku dengan Lewi tetap dipegang, firman TUHAN semesta alam. 5 Perjanjian-Ku dengan dia pada satu pihak ialah kehidupan dan sejahtera dan itu Kuberikan kepadanya–pada pihak lain ketakutan–dan ia takut kepada-Ku dan gentar terhadap nama-Ku. 6 Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan. 7 Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam. 8 Tetapi kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu; kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN semesta alam. 9 Maka Akupun akan membuat kamu hina dan rendah bagi seluruh umat ini, oleh karena kamu tidak mengikuti jalan yang Kutunjukkan, tetapi memandang bulu dalam pengajaranmu.
Tempatkanlah Tuhan Di Atas Segalanya
Tuhan murka kepada para Imam Israel. Apa penyebabnya? Ternyata gara-gara mereka tidak menghormati Tuhan dan mempersembahkan persembahan yang najis di mata Tuhan. Mereka telah menyimpang dari Tuhan dan tak menunjukkan teladan yang baik. Dengan kata lain, mereka melayani Tuhan dengan setengah hati dan menganggap Tuhan tidak akan murka, padahal mereka tak tahu bahwa sebenarnya Tuhan tahu sampai ke dalam hati dan pikiran mereka.
Kita pun terkadang demikian. Kita bisa merencanakan jahat kepada orang lain tanpa sepengetahuan mereka, padahal sebenarnya ada yang mengetahui rencana kita, yakni Tuhan. Kita pun kerap tidak jujur di hadapan Tuhan bahkan seringkali menyimpang dari kehendak-Nya, padahal Tuhan sebenarnya tahu apa yang kita lakukan. Kita mungkin lupa bahwa identitas sebagai orang percaya yang beriman kepada Yesus Kristus, melekat pada diri kita sehingga setiap pikiran yang kotor dan perbuatan yang jahat, curang, serta mendatangkan kekacauan, itu berarti turut pula mempermalukan nama Tuhan. Oleh sebab itu, mulailah menjaga hati, pikiran, dan langkah kita. Dahulukan Tuhan di atas segala kepentingan kita karena di situlah berkat-Nya hadir dan jauhilah kecurangan sebelum Tuhan memperingatkan kita dengan keras.
Doa: Tuhan, kami bersyukur Engkau segalanya dalam hidup keluarga kami. Amin.
Selasa 13 November 2019
bacaan : Amsal 22 : 22 – 23
22 Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang yang berkesusahan di pintu gerbang. 23 Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka.
Kita, Manusia Terbatas
Orang yang merasa diri kuat, biasanya terlihat sombong; sebaliknya orang yang merasa lemah, sering diliputi kekuatiran, ketakutan dan rasa tidak percaya diri. Soal yang kuat selalu menindas yang lemah sudah menjadi hukum rimba manusia dan biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk di dalam keluarga. Saling menghormati adalah hal yang lebih indah tanpa memandang siapa yang kuat atau lemah karena di situlah yang kuat bisa menopang yang lemah dan yang lemah merasa dikuatkan. Di dunia tak ada yang fana, karena siapapun yang merasa kuat, kenyataannya ia terbatas dan saatnya akan tunduk pada kehendak Tuhan, Sang Pemberi Hidup. Kelemahan pun bukan akhir dari segalanya, karena justru di tengah-tengah kelemahanlah, kuasa Tuhan menjadi sempurna. Jadi kita yang merasa lemah dan tak berdaya, apalagi karena ditindas, Tuhan yang akan bertindak menjadi pembela dan mengubah kelemahan menjadi harapan dan kekuatan dengan kuasa-Nya.
Doa: Tuhan, kami sadari bahwa kami adalah manusia yang terbatas dan Kau maha Sempurna adanya. Amin.
Rabu 14 November 2019
bacaan : Ulangan 16 : 18 – 20
Pengadilan yang adil
18 “Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kauangkat di segala tempat yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu; mereka harus menghakimi bangsa itu dengan pengadilan yang adil. 19 Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. 20 Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.”
Keluarga Belajar Mengendalikan Diri
Bicara soal keadilan, selalu tidak kunjung habisnya. Sehari-hari kita bisa mendengar banyak persungutan gara-gara perlakuan yang tidak adil. Anak bisa merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tua; sebaliknya orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik. Titik temunya selalu sulit dicari karena masing-masing punya pandangan sendiri-sendiri dengan berbagai alasannya. Sebenarnya pengendalian diri adalah kunci untuk menutup rapat-rapat pintu keinginan yang tak bisa kita kendalikan dan sebaliknya membuka “ruang” hati kita untuk menerima segala perkara dengan ucapan syukur. Pengendalian diri yang sempurna adalah wujud iman yang akan membuat mata dan hati kita tidak tergoda untuk mencurangi Tuhan dengan standar dan ukuran keadilan menurut versi kita. Tuhan itu adil dan selalu menghendaki keadilan bagi umat-Nya, maka kita pun harus bertindak adil dalam hidup dengan cara menerapkannya mulai dari dalam keluarga dan selanjutnya di mana saja kita berada.
Doa: Tuhan, ajarilah keluarga kami agar mampu mengendalikan diri dalam segala situasi. Amin.
Jumat,15 November 2019
bacaan : Galatia 2 : 1 – 10
Paulus diakui oleh para rasul
Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga. 2 Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi–dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang–,supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha. 3 Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya. 4 Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita. 5 Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu. 6 Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu–bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka–bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku. 7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat 8 –karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. 9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; 10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.
Allah Tidak Memandang Muka
Dihadapan Allah semua manusia sama, tidak ada yang lebih atau kurang, yang kaya atau miskin, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Untuk hal ini mandat Allah kepada manusia adalah suatu kerja yang melahirkan kebersamaan, saling menghargai dan menghormati. Memaknai akan hal itu kewajiban orang percaya yang Tuhan pakai adalah menjadikan orang lain mitra kerja yang baik. Suatu keluarga yang harmonis akan berbahagia karena anggota-anggota keluarganya dapat berfungsi, dan saling menghargai dan menghormati. Paulus dalam tugas pemberitaan injil merangkul teman temannya, dan melihat mereka sebagai saudara seiman, bekerja bersama, tanpa pandang bulu. Disini Paulus merangkul sesama untuk memahami lebih dalam makna kasih karunia Allah bagi manusia. Manusia boleh berbeda dalam usia, karakter dan latar belakang, tetapi dihadapan Allah yang menciptakan manusia itu, menjadikan manusia itu sama. Jangan kita berbangga atas kelebihan kita dan merendahkan sesama yang dianggap rendah, jangan menjauhi orang-orang lemah karena sedikit uang mereka. Marilah, kita jadikan mereka kawan sekerja Allah, pakailah kekurangan mereka sebagai motivasi besar untuk membangun. Demikianlah akan diberkati pelayanan dan pekerjaan yang dilakukan dengan murni tanpa pandang muka. Begitupun dalam keluarga, jadikanlah semua anggota keluarga sebagai mitra yang baik, tulus menerima kekuarangan dan kelebihan mereka dan bantulahlah jika mereka lemah. Allah sumber kekuatan akan mengaruniakan segala yang baik.
Doa: Tuhan, tolong kami untuk menghargai semua orang, Amin.
Sabtu, 16 November 2019
bacaan : Efesus 6 : 5 – 8
5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. 8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.
Jadilah Keluarga Yang Saling Melayani
Rody adalah seorang suami yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani sang istri terkasih yang tengah menderita sakit akibat kanker payudara. Lena, sang istri yang terkulai lemas hanya memasrahkan hidupnya pada Tuhan. Namun kesetiaan Rody untuk mendampingi dan melayani istrinya dengan penuh kasih sayang, bagaikan air sejuk yang memberi kekuatan pada Lena. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Rody memandikan, memberi makan dan obat-obatan kepada Lena, pada saat istirahat siang Rody pulang lagi ke rumah untuk menyiapkan makan siang bagi istrinya. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang saling melayani, bukan saja pada saat senang, sehat dan tanpa masalah tetapi justru ketika ada yang sakit atau bermasalah, kesetiaan untuk tetap melayani adalah upaya untuk terus merawat cinta kasih dalam keluarga. Hal itulah yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus, teristimewa fs 6:5-8 yang menasehati jemaat untuk hidup dalam ketaatan dan kasih yang mau menjadi ‘hamba’, yang bersedia melayani dengan tulus hati, dengan rela dan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. Selama Tuhan masih memberi kehidupan, layanilah satu dengan yang lain, baik suami dan istri, orang tua dan anak, adik dan kakak. Apapun sikap mereka bukanlah menjadi alasan untuk tidak saling melayani. Kerelaan untuk saling melayani adalah wujud cinta kasih yang harus terus dirawat, seperti: saling mendoakan, saling mengasihi, saling menguatkan, saling membangun, saling mengingatkan, saling mendukung, saling memaafkan, tolong menolong, peduli satu sama lain. Hal ini akan membuat kita bisa tetap kuat menghadapi hari-hari yang berat sekalipun. Sebab Yesus lebih dulu sudah melayani kita dengan kasihNya yang Agung di Kalvari.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk saling melayani dalam cinta kasih. Amin.
*sumber : SHK terbitan bulan November 2019 oleh LPJ-GPM

